Hujan badai mengguyur tanpa ampun sejak sore, seolah langit ikut menumpahkan kesedihan yang tak sanggup lagi ditampung oleh dada Wulan. Suara guruh yang bersahutan di kejauhan mengiringi langkah gontai para pelayat yang satu per satu mulai meninggalkan rumah duka.
Di ruang tengah yang kini terasa begitu luas, kosong, dan dingin, aroma bunga melati dan kapur barus masih menggenang pekat di udara. Wangi kematian itu bercampur dengan bau tanah basah yang menempel pada sepatu lars rekan-rekan prajurit mendiang suaminya.
Wulan duduk bersimpuh di atas karpet tipis. Tatapannya kosong, menembus lantai ubin yang dingin. Matanya bengkak, merah menyala, dan telah benar-benar kehabisan air mata. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun usia di mana wanita lain mungkin sedang merajut mimpi atau menikmati masa muda Wulan dipaksa menelan realitas paling brutal yang bisa dialami seorang istri. Ia resmi menjadi janda, karena suaminya pulang bukan dengan senyuman, melainkan dalam peti mati kaku berselimut bendera merah putih.
Di pangkuannya, Rendy, jagoan kecilnya yang baru berusia empat tahun, tertidur lelap karena kelelahan menangis berjam-jam. Balita itu sesekali sesenggukan dalam tidurnya, tangannya yang mungil meremas ujung daster Wulan. Rendy sama sekali tidak memahami bahwa sosok ayah yang berbau keringat matahari, yang selalu menggendongnya tinggi-tinggi ke udara, kini telah terbaring bisu di bawah liang lahat yang gelap. Wulan mendekap putranya erat-erat, menempelkan pipinya ke puncak kepala Rendy. Anak ini adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak ikut terseret dalam pusaran kegilaan malam ini.
Dalam keheningan yang menyayat hati itu, ingatan Wulan tiba-tiba terlempar mundur. Jauh sebelum awan hitam kematian ini menaungi hidupnya. Tujuh tahun yang lalu, di bawah terik matahari Kota Tasikmalaya.
Saat itu, Wulan hanyalah seorang gadis SMA berusia tujuh belas tahun yang naif, polos, dan penuh mimpi. Ia sedang mengikuti ujian masuk terbuka sebuah universitas favorit di alun-alun kota. Lautan manusia berdesakan memperebutkan kursi yang terbatas. Udara begitu pengap, dan sengatan matahari siang itu terasa membakar kulit putihnya. Wulan yang tidak terbiasa dengan kerumunan ekstrem mulai merasakan pandangannya mengabur. Napasnya sesak, keringat dingin membasahi pelipis lehernya, dan dalam hitungan detik, kegelapan menyergapnya. Ia jatuh pingsan di tengah desak-desakan.
Ketika Wulan perlahan membuka mata, hal pertama yang dilihatnya bukanlah langit panas Tasikmalaya, melainkan raut wajah tegas namun sangat lembut dari seorang pria berseragam loreng. Pria itu, yang usianya terpaut tujuh tahun lebih tua darinya, adalah seorang prajurit TNI yang ditugaskan untuk menjaga keamanan ujian tersebut. Pria itu menyodorkan sebotol air mineral dan menatapnya dengan kekhawatiran yang begitu tulus. Tangan kasarnya yang terbiasa memegang senjata dingin, terasa begitu hangat dan hati-hati saat memapah tubuh lemah Wulan untuk duduk.
Dari pertemuan tak disengaja di bawah tenda medis itulah, takdir mereka terajut. Perkenalan canggung berubah menjadi pertukaran nomor, dan bermuara pada kisah cinta yang manis melalui pesan-pesan singkat di BlackBerry Messenger. Bagi Wulan yang masih belia, perhatian seorang abdi negara yang gagah, dewasa, dan melindunginya adalah sesuatu yang memabukkan akal sehatnya.
Sang prajurit tidak main-main. Hanya butuh waktu tiga bulan untuk memantapkan hati. Ia membawa keluarga besarnya dari seberang kota untuk melamar Wulan. Namun, di hari yang seharusnya penuh bunga dan tawa itu, Wulan untuk pertama kalinya merasakan tamparan keras dari kenyataan sosial.
Keluarga besar suaminya, terutama sang ibu mertua, menatap Wulan dari atas ke bawah dengan sorot mata merendahkan yang menguliti harga dirinya. Di mata wanita paruh baya bermulut tajam itu, Wulan tak lebih dari gadis desa bau kencur yang tak pantas bersanding dengan pahlawan keluarga mereka.
"Anakku itu abdi negara," desis calon ibu mertuanya kala itu di dapur, sengaja menaikkan volume suaranya agar Wulan mendengarnya. "Harusnya dia dapat yang setara. Perawat kek, bidan, atau paling tidak sarjana! Lah ini? Cuma gadis SMA yang baru lulus. Paling juga cuma modal wajah cantik sama kulit mulus buat menggoda anak saya. Apa yang bisa dia banggakan untuk mendampingi prajurit?"
Kata-kata itu menyayat ulu hati Wulan hingga berdarah. Namun, cinta suaminya terlalu besar untuk dirobohkan. Pria itu mengabaikan semua pertentangan, pasang badan bagaikan perisai, dan tetap menikahi Wulan. Karena penolakan mentah-mentah dari keluarganya, sang suami langsung memboyong Wulan ke rumah dinas asrama militer di kota lain. Di sanalah Wulan pertama kali diperkenalkan dengan atasan suaminya seorang Komandan yang sejak tatapan pertama sudah membuat bulu kuduk Wulan meremang karena auranya yang terlalu mengintimidasi. Komandan itulah yang kelak akan menjadi malaikat pencabut nyawanya dalam bentuk yang jauh lebih mengerikan.
Kini, semua kenangan tentang pelindungnya itu telah hancur menjadi debu.
Tiga bulan lalu, di stasiun kereta yang bising, sang suami mencium kening Wulan lekat-lekat dan mengusap rambut Rendy sebelum berangkat ke pedalaman Papua.
"Tunggu Mas pulang, Dek. Uang tabungan kita sudah hampir cukup. Nanti setelah Mas pulang, kita langsung survei rumah baru kita di luar asrama. Supaya kamu dan Rendy bisa hidup lebih tenang, tidak perlu lagi direndahkan siapa-siapa," janjinya kala itu, diiringi senyum kerinduan yang kini hanya tinggal bayangan.
Namun, rumah baru yang dijanjikan sang pelindung nyatanya adalah gundukan tanah merah yang basah, dengan nisan kayu bertuliskan namanya. Sebuah peluru di medan konflik merenggut nyawa suaminya, menghempaskan Wulan ke dasar jurang trauma terdalam.
Seolah kehilangan belahan jiwa belum cukup menjadi neraka, sore tadi di ruangan ini, tepat di depan jenazah sang anak, ibu mertuanya kembali menjatuhkan talak emosional. Tangis histeris mertuanya bukanlah tangis keibuan yang mencari pelukan sang menantu untuk saling menguatkan, melainkan tangis kemarahan yang buta dan kejam.
"Ini semua gara-gara kamu!" jerit ibu mertuanya, telunjuk keriputnya menunjuk tepat ke depan wajah Wulan yang pucat pasi. "Dari awal aku sudah bilang, kamu itu perempuan pembawa sial! Anakku satu-satunya, anak kebanggaanku, mati muda karena harus banting tulang mengurus perempuan tidak berguna sepertimu!"
Wulan tidak menjawab. Lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat. Hatinya hancur sehancur-hancurnya. Apakah pengabdiannya selama tujuh tahun, melayani suami tanpa satu pun keluhan, mencuci seragamnya dengan tangan sendiri, dan membesarkan anak mereka dalam kesederhanaan, tidak ada harganya sama sekali?
Di titik itu, Wulan hampir menggugat keadilan Tuhan di dalam batinnya. Tuhan, inikah balasan untuk seorang istri yang tak pernah sedetik pun menodai sumpah pernikahannya? Inikah upah dari sebuah kesetiaan yang buta?
Malamnya, saat hujan badai mulai mereda menjadi rintik gerimis yang menyayat hati, kekejaman keluarga mendiang suaminya mencapai klimaks. Sebelum kembali ke kota asal, ayah mertuanya mengumpulkan seluruh dokumen penting milik suaminya. Dengan wajah sedingin es, ia menjatuhkan vonis mati bagi masa depan Wulan.
"Mulai besok, kami yang akan mengurus seluruh berkas kematian anak kami. Dan perlu kamu tahu, Wulan... semua harta peninggalannya, termasuk uang tabungan di bank dan uang santunan pensiunannya, akan kami ambil alih sepenuhnya. Itu hak kami sebagai orang tua yang telah susah payah melahirkan dan membesarkannya. Kamu masih muda, kamu masih cantik, kamu bisa cari uang sendiri. Berhentilah menggantungkan hidup pada keluarga kami."
Detik itu juga, dunia Wulan runtuh dalam sunyi. Ia dirampok dari segala arah. Dirampok kebahagiaannya, dirampok pelindungnya, dan kini dirampok hak atas masa depan anaknya. Di tengah rumah dinas yang peraturannya mengharuskan seorang janda angkat kaki dalam waktu kurang dari sebulan setelah suaminya gugur, Wulan resmi sebatang kara. Tanpa uang sepeser pun, tanpa ijazah tinggi, tanpa tempat bernaung.
Jam dinding di ruang tengah berdetak memecah kesunyian, menunjuk tepat pada pukul 10.00 malam.
Rumah asrama itu kini sunyi senyap bak kuburan. Wulan baru saja membaringkan Rendy di atas kasur di dalam kamar. Ia memandangi wajah polos putranya di bawah cahaya lampu lima watt, lalu mengecup kening yang hangat itu.
Maafkan Ibu, Nak... Ibu tidak tahu harus membawa kita ke mana besok, bisiknya dalam hati, membiarkan satu tetes air mata terakhir jatuh membasahi pipi putranya.
Wulan beranjak keluar kamar. Tubuhnya terasa seringan kapas, nyaris ambruk. Ia masih mengenakan daster rumahan berlengan pendek berwarna pudar. Kain rayon tipis itu lecek dan sedikit lembap oleh keringat dan air mata, mencetak siluet tubuhnya yang kurus namun tetap menyimpan lekuk keindahan seorang wanita dua puluh tiga tahun.
Ia duduk di tepi ranjang kamarnya sendiri. Menatap kosong ke arah lemari kayu yang pintunya sedikit terbuka, memperlihatkan seragam loreng suaminya yang masih tergantung rapi, menyisakan aroma tubuh pria itu. Psikologis Wulan benar-benar berada di bibir jurang kehancuran.
Tok... Tok... Tok...
Tiga ketukan pelan namun sangat berwibawa di pintu depan membuat bahu Wulan tersentak.
Di tengah malam buta yang basah dan dingin ini, siapa yang datang? Mengira itu adalah tetangga asrama atau rekan suaminya yang mungkin ingin mengantarkan sisa makanan atau bantuan, Wulan bangkit. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, merapikan sedikit rambutnya yang berantakan, dan berjalan menuju ruang tamu.
Tangan gemetarnya memutar kunci, lalu menarik gagang pintu perlahan.
Udara malam yang dingin langsung menerobos masuk, namun bukan itu yang membuat napas Wulan seketika terhenti.
Di ambang pintu, berdiri menjulang sesosok pria bertubuh besar dan tegap. Pria itu masih mengenakan seragam dinas malam lapangan yang melekat pas di tubuh berototnya. Pangkat di kerahnya berkilat memantulkan cahaya lampu teras. Sang Komandan. Atasan tertinggi mendiang suaminya.
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu malam-malam begini, Wulan," suara bariton yang sangat berat, dalam, dan berkuasa itu memecah heningnya malam. Matanya yang tajam bak elang menatap Wulan lekat-lekat. "Ada beberapa hal birokrasi sangat penting terkait statusmu dan uang santunan di asrama ini yang harus kita bicarakan sekarang."
Wulan, dengan sisa-sisa kepolosan dan rasa hormat yang tertanam di kepalanya terhadap atasan suaminya, menundukkan pandangan. "S-silakan masuk, Ndan. Mohon maaf rumahnya berantakan."
Wulan melangkah mundur, membiarkan pria bertubuh raksasa itu melangkah masuk. Ia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang memancarkan aura kepemimpinan ini bukanlah dewa penolong yang dikirim Tuhan untuk mengurai keputusasaannya.
Di ruang tamu yang pencahayaannya remang itu, sang Komandan duduk di sofa. Wulan duduk di kursi seberangnya, merapatkan lututnya, merasa sangat kerdil. Pembicaraan yang awalnya terdengar seperti simpati seorang komandan atas nasib janda prajuritnya, perlahan merayap berubah menjadi jerat psikologis yang mematikan.
Komandan itu tahu segalanya. Ia tahu tentang mertua Wulan yang merampas tabungannya. Ia tahu tentang tenggat waktu Wulan yang harus segera angkat kaki dari asrama tanpa tempat tujuan. Dan ia tahu betul keputusasaan seorang ibu yang tak punya uang untuk memberi makan anaknya.
Sang Komandan mencondongkan tubuhnya ke depan. Sorot matanya tiba-tiba berubah. Bukan lagi tatapan seorang atasan yang berduka, melainkan tatapan telanjang seorang predator jantan yang sedang menilai mangsanya. Tatapan itu menyusuri wajah pucat Wulan, turun ke leher jenjangnya, hingga menembus daster tipis yang membalut tubuh ringkih namun menggoda itu.
"Aku bisa mengurus semua berkas itu, Wulan. Aku bisa menahan mertuamu, memastikan uang pensiun dan tabungan suamimu jatuh ke tanganmu seutuhnya. Aku bahkan bisa membelikanmu rumah yang layak di luar sana besok pagi juga," suara Komandan itu merendah, berubah menjadi bisikan yang menggetarkan udara di ruangan itu.
Mata Wulan melebar, ada secercah harapan yang dipaksakan menyala. "B-benarkah, Ndan? Saya mohon... bantu saya dan Rendy..."
Sang Komandan tersenyum miring. Ia bangkit dari sofa, melangkah pelan mendekati Wulan. Hawa panas dari tubuh besarnya langsung mengurung wanita itu.
"Tentu," bisiknya, berdiri menjulang tepat di depan Wulan. Tangan besarnya turun, mengangkat dagu Wulan dengan sentuhan yang membuat darah janda muda itu membeku. "Tapi di dunia ini, perlindungan sebesar itu memiliki harga, Wulan. Dan aku tahu, satu-satunya harta berharga yang masih kamu miliki malam ini... hanyalah dirimu sendiri."
Udara di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sedingin es, mencekik leher Wulan hingga ia tak bisa bernapas.
Mata Wulan terbelalak ngeri saat menangkap maksud dari 'harga' yang ditawarkan. Di malam yang sama saat tanah kuburan pahlawannya masih basah tersiram hujan, atasan suaminya sendiri bersiap untuk merampas paksa satu-satunya kesucian yang tersisa dari dirinya.
Saat sebelah tangan Komandan itu bergerak mundur menuju pintu utama dan memutar kunci deadbolt hingga berbunyi klik yang memekakkan telinga, Wulan menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam kandang singa. Tidak ada jalan mundur. Malam itu, bayangan hitam sang Komandan yang memanjang di dinding rumah dinas perlahan menelan siluet rapuh Wulan, menjadi saksi bisu bagaimana sebuah kepolosan akan dipaksa mati tersedak oleh realitas yang paling kotor, dan dari abunya, sebuah takdir yang jauh lebih gelap bersiap untuk dilahirkan kembali.
ns216.73.216.208da2


