Aku masih sibuk ngeliatin Bu Riska yang tiba-tiba jadi malu-malu itu, tiba-tiba pintu depan diketok tiga kali. "Tetap duduk ya," bisik Bu Riska sambil buru-buru berdiri, tangannya ngeberesin rambut yang sebenernya nggak ada yang acak-acakan. Aku liat dia jalan ke pintu sambil narik-narik tank topnya ke atas, padahal tadi emang nggak turun-turun amat.
Suara Bu Amelia langsung aku dengar dari depan, "Ris, aku bawa kue lapis..." tapi langsung berhenti pas liat aku di sofa. Bu Amelia berdiri di pintu pake gamis santai warna ungu yang agak tipis, hijabnya cuma nutup kepala doang. Payudaranya yang gede banget keliatan bentuknya jelas banget di balik bahan gamis itu, sampai aku harus paksa ngeliat ke arah lain. Mukanya kaget banget liat aku di sini, tangannya yang megang kotak kue agak gemetar dikit.
"Yudi lagi makan siang di sini," kata Bu Riska sambil buat suara biasa aja, tapi aku bisa liat dari belakang kalo dia lagi ngeberesin rambut lagi. Bu Amelia masuk pelan-pelan, matanya bolak-balik liat aku sama Bu Riska kayak lagi nebak-nebak sesuatu.
"Aku nggak tau kamu ada tamu," bisiknya ke Bu Riska sambil mukanya merah dikit. Aku langsung berdiri, ngerasa nggak enak udah bikin suasana jadi aneh. "Aku udah mau pulang sih, Bu," aku bilang sambil ngeliatin jam tangan yang sebenernya nggak ada. Bu Amelia cuma manggut, tapi Bu Riska malah nyolek lenganku. "Nggak usah buru-buru, kan kue lapisnya enak nih," katanya sambil maksa aku duduk lagi.
Bu Amelia ikut duduk di kursi sebelahku, kotak kue masih di pangkuannya. Aku bisa ngerasin panas tubuhnya, wanginya yang khas campuran bunga sama sesuatu yang manis. Hijabnya agak melorot dikit, nunjukin lehernya yang putih banget.
Bu Riska duduk di sebelahku lagi, sekarang jaraknya lebih dekat dari tadi, kayak sengaja pengen tunjukin sesuatu ke Bu Amelia. "Kamu pake baju ungu lagi ya?" tiba-tiba Bu Riska nyeletuk sambil senyum-senyum aneh. Bu Amelia langsung narik-narik gamisnya, mukanya merah padam. Aku jadi ngeh kalo ini baju ungu yang tadi aku bilang suka, jantungku langsung berdebar kenceng.
Suasana jadi awkward banget, aku cuma bisa ngeliatin kue lapis di kotak itu biar nggak perlu ngomong. Bu Riska malah nyerocos soal foto-foto jaman dulu mereka yang tadi aku liat, Bu Amelia mukanya makin merah aja. "Itu kan jaman kita masih ABG," protes Bu Amelia sambil nutupin muka pake tangan. Bu Riska ketawa-ketawa sambil nuding-nudingin aku, "Yudi suka liat foto-foto itu lho." Sekarang giliran aku yang pengen ngumpet, rasanya kayak dikerjain habis-habisan. Bu Amelia ngeliatin aku pake mata berbinar aneh, bibirnya kayak mau senyum tapi ditahan. "Kamu... kamu ngeliat foto-foto kita jaman dulu?" tanyanya pelan.
Aku cuma bisa manggut, ngerasa keringetan padahal AC di ruangan ini dingin banget. Bu Riska sekarang kayak tukang gosip kampung yang lagi asik ngerjain orang, "Iya dong, dia sampe nggak bisa berkedip liat fotomu pake bikini merah itu." Bu Amelia langsung ngehantam pundak Bu Riska pake bantal sofa, mukanya merah kayak habis lari marathon. "Dasar kamu ini!" bentaknya sambil nutupin muka lagi. 17Please respect copyright.PENANAVxaxVVklDW
--
Bu Riska langsung mengambil pisau kue dan memotong kue lapis itu dengan gerakan cepat, seolah ingin mengalihkan perhatian dari suasana canggung tadi. "Nih, makan dulu biar nggak pada diam kayak patung," katanya sambil menyodorkan piring kecil ke arahku. Aku menerimanya dengan hati masih berdebar, tapi aroma kue yang manis memang membantu menenangkan sarafku yang tegang.
Bu Amelia yang tadinya masih menutupi wajahnya perlahan menurunkan tangan, lalu dengan gerakan santai melepas hijabnya yang melorot tadi. Rambutnya yang hitam lurus seperti sutera tiba-tiba terurai jatuh ke bahu, bergerak perlahan seperti dalam gerak lambat. Padahal sudah berkali-kali aku melihatnya tanpa hijab, tapi baru kali ini menyaksikan saat tepat ketika dia melepasnya, seperti melihat durian dibelah untuk pertama kalinya, tahu akan isinya tapi tetap terpana oleh prosesnya.
"Cieee...cieee..." Bu Riska langsung menyeringai melihat ekspresiku, jarinya menunjuk-nunjuk sambil matanya berbinar nakal. "Si Yudi sampe lupa ngunyah nih liat rambut Amelia," godanya sambil mendorong piring kue lebih dekat ke tanganku. Bu Amelia tersipu malu tapi tidak berusaha menutupi rambutnya, malah menyisirnya perlahan dengan jemari yang lentik. Aku cepat-cepat memasukkan kue ke mulut untuk mengalihkan perhatian, tapi lidahku seperti kehilangan rasa, semua inderaku masih terpaku pada kilauan rambut Bu Amelia yang terkena sinar matahari dari jendela.
Bu Riska tidak berhenti menggoda, "Kamu tahu nggak, waktu SMA dulu Amelia sering dijuluki Putri Disney karena rambutnya ini." Tangannya tiba-tiba meraih selembar rambut Bu Amelia dan mengelusnya dengan berlebihan. "Beneran kayak iklan shampo, nggak ada ujung pecah-pecah sama sekali!" Bu Amelia mendorong tangan Bu Riska sambil terkikik, tapi aku bisa melihat dia senang dapat pujian, matanya melirik ke arahku seolah mengecek reaksiku.
Aku meminum jus jerukku yang terlalu manis itu untuk mengembalikan suara yang tiba-tiba hilang. "Memang cantik," aku berhasil mengeluarkan kata-kata itu dengan suara serak, langsung membuat Bu Amelia tersenyum kecil sambil menunduk. Bu Riska malah tertawa keras dan memukul pahaku, "Dasar bocah jujur!" Suaranya terdengar senang tapi ada sedikit getar aneh, seperti iri tapi tidak ingin mengakuinya. Dia kemudian menyambar sepotong kue dan memakannya dengan agresif, seolah ingin menghancurkan suasana romantis yang tiba-tiba tercipta.
"Kamu juga cantik, Bu Riska," aku cepat-cepat menambahkan, tahu betapa dia sensitif soal ini. Matanya yang tadi sempat muram langsung berbinar lagi, "Nah, baru tau rasa!" Dia menyentil bahuku sebelum mengambil potongan kue berikutnya. Bu Amelia sekarang sudah lebih santai, rambutnya yang panjang kadang menyentuh lenganku saat dia bergerak mengambil jus. Aku menyipratkan sedikit jus jeruk tanpa sengaja ke bajuku saat Bu Riska membuat lelucon kasar tentang tetangga sebelah, membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Aku baru aja ngelap sisa jus jeruk di bajuku pas Bu Riska tiba-tiba melompat berdiri kayak kena setrum. "Aduh aku lupa!" teriaknya sambil buru-buru lari ke kamar, ninggalin aku sama Bu Amelia yang saling pandeng awkward.
Belum sempet nanya apa, Bu Riska udah balik sambil bawa bungkusan kecil warna pink. "Tadi mau kubuka pas kamu belum datang," katanya sambil buka plastik dengan girang kayak anak kecil dapet mainan baru. Plastiknya dibuka, keluarlah sepasang lingerie putih yang bahannya keliatan tipis banget, lebih tipis dari tisu toilet.
"Nih liat, bahannya adem banget katanya," Bu Riska bilang sambil geleng-gelengin lingerie itu di depan muka kami. Bu Amelia yang tadi malu-malu malah langsung nyamperin dan megang ujung bahannya. "Wah bahan satin ya? Bagus nih," dia komentar sambil jarinya mengusap-usap kainnya kayak lagi ngecek kualitas. Aku cuma bisa nundukin muka, ngerasa panas di kuping tapi mata tetep pengen liatin lingerie yang bergoyang-goyang di tangan Bu Riska itu.
"Cantik nggak kalau aku pake ini?" tanya Bu Riska tiba-tiba, sambil ngedeketin lingerie ke dadanya buat ngibayangin bentuknya.
Bu Amelia cuma ketawa kecil sambil geleng-geleng kepala, "Dasar kamu ini." Tapi matanya tetep ngincer lingerie itu, kayak penasaran gimana bentuknya kalau dipake. Bu Riska malah tambah semangat, "Ayo kita berdua pake ini, biar Yudi yang nilai siapa yang lebih cantik!" Suaranya kayak lagi ngajak main game, tapi aku tau ini bukan permainan biasa.
Bu Amelia langsung nutupin muka pake tangan, tapi dari celah jarinya aku bisa liat dia tersipu. "Dasar Riska gila!" bentaknya, tapi nada suaranya nggak marah sama sekali. Aku yang jadi sasaran empuk malah ngerasa kayak lagi diinterogasi, jantung berdebar kenceng kayak drum band. "A-aku yakin kalian berdua bakal cantik pake apa aja," jawabku diplomatis sambil maksa diri buat liatin kue lapis yang udah lembek di piring.
Tiba-tiba Bu Amelia nanya dengan suara kecil, "Kamu beneran mau liat Bu Riska pake ini?" Matanya berbinar aneh, kayak setengah nggak percaya setengah pengen tau reaksiku. Pipinya merah merona samar, tapi dia nggak nutupin muka lagi. Tangannya masih sibuk mainin ujung lingerie yang dijulurin Bu Riska, jari-jarinya halus banget waktu megang kain tipis itu. Aku nelen ludah, ngerasa tenggorokan kering banget.17Please respect copyright.PENANAHik8i8Z76a
17Please respect copyright.PENANAdHL9fyW4PD


