Bu Riska memindahkan posisi duduknya lebih dekat ke sampingku, pahanya yang hangat menempel di pahaku yang langsung tegang. "Nih, lihat ke bawah lagi," bisiknya sambil jarinya menunjuk ke layar ponselnya yang penuh foto-foto Bu Amelia di masa lalu. Aku menggeser layar perlahan, mataku terpaku pada gambar Bu Amelia muda dengan rambut sebahu bergelombang, mengenakan tank top hitam ketat yang memperlihatkan tali bra merah di bahunya.
Pipiku panas melihat foto-foto itu, tapi aku tidak bisa berpaling, Bu Amelia dulu jauh lebih berani berpakaian daripada sekarang yang selalu pakai kebaya longgar. "Dia kan dulu model sampul majalah kampus," kata Bu Riska bangga, seperti sedang memamerkan koleksi perhiasannya. Tangannya tanpa sadar menepuk pahaku ketika aku berhenti lama di satu foto di mana Bu Amelia sedang tersenyum genit dengan bibir merah menyala, mengenakan rok mini yang membuatku menelan ludah.
Aku terus menggeser layar, menemukan lebih banyak foto-foto yang bikin jantung berdegup kencang. Ada satu foto Bu Amelia sedang berdiri di pantai dengan bikini merah kecil, tangannya memegang pinggang sambil melirik ke kamera dengan mata berbinar nakal.
"Waktu itu kita liburan ke Bali sebelum dia nikah," kenang Bu Riska sambil tersenyum kecil, matanya memperhatikan setiap perubahan ekspresi wajahku. Aku mencoba bersikap biasa saja, tapi jari-jariku gemetar memegang ponsel itu, seperti memegang sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat. Bu Riska pasti sadar reaksiku karena dia tiba-tiba mengambil ponselnya kembali dan menggulir ke album lain. "Nih lihat ini, waktu kita clubbing berlima," katanya sambil menunjukkan foto Bu Amelia dengan gaun hitam super pendek, sedang menari di atas meja dengan sebotol bir di tangan.
"Gimana, cantik kan Bu Amelia dulu?" Bu Riska bertanya sambil jari manisnya menggeser foto-foto di ponsel. Aku tanpa sadar mengangguk, mata susah berpaling dari gambar Bu Amelia dengan gaun hitam ketat itu. Tiba-tiba wajah Bu Riska mendekat sampai aku bisa menghitung bulu matanya yang lentik.
Wow, wanginya, campuran vanilla dan sesuatu yang lebih tajam, seperti aroma buah yang terlalu matang. Matanya berbinar terlalu dekat, membuat lututku lemas seperti biasa setiap dia melakukan ini. "Cantikkan mana sama aku?" bisiknya sambil bibirnya nyaris menyentuh telingaku. Aku tercekat, tidak bisa menjawab jujur karena keduanya memang cantik tapi dengan cara yang berlawanan.
Dalam pikiranku, Bu Amelia itu cantiknya seperti lukisan, anggun dengan senyum kecil yang selalu terkontrol, gerakannya pelan seperti punya ritme sendiri. Kalau Bu Riska cantiknya seperti api unggun, berisik, hangat, dan membuatmu ingin mendekat meski tahu bisa terbakar. Bu Amelia punya cara diam-diam memerhatikanmu dari balik matanya yang teduh, sementara Bu Riska akan menatapmu langsung sampai kamu tersipu. Keduanya membuat jantungku berdebar, tapi dengan rasa yang berbeda, satu seperti teh manis hangat, satu seperti soda yang menggigit lidah.
Bu Riska menghela nafas dramatis saat aku diam terlalu lama. "Yah, kamu nggak bisa milih ya?" godanya sambil jarinya memutar-mutar rambutku yang pendek. Aku merasakan panas menjalar dari tempat sentuhannya, tapi tetap diam seperti patung. "Aku tahu kamu suka Bu Amelia," bisiknya tiba-tiba, membuatku tersentak.
Matanya menyipit seperti detektif yang baru memecahkan kasus besar. "Dia lebih mirip ibumu dulu kan? Rambut lurus, kulit putih, kalem gitu..." Lanjutannya membuat dadaku sesak, ternyata dia tahu itu, tahu bahwa kadang aku melihat Bu Amelia dan tanpa sadar mencari bayangan ibuku di sana.
Tapi Bu Riska tidak selesai. "Tapi aku..." Tangannya tiba-tiba menempel di dadaku, tepat di atas jantung yang berdegup kencang. "...aku yang bikin kamu ngerasa jadi lelaki seutuhnya." Napasku tercekat saat dia tertawa kecil, suaranya seperti dering bel kecil yang sengaja digoyang-goyangkan di depan kucing.
Aku tidak bisa membantah, Bu Riska memang punya cara membuatku sadar tubuhku sendiri, cara dia memandangiku dari kepala sampai kaki seperti sedang menaksir barang antik.
Aku langsung menelan ludah keras-keras, tangan berkeringat mencengkeram pinggiran kursi plastik. "Aku... aku nggak bisa milih," akhirnya aku keluarkan dengan suara serak, mata menatap lantai yang tiba-tiba jadi sangat menarik. "Kamu cantik dengan caramu sendiri, Bu Riska. Rambut bergelombangmu itu... seperti ombak dan matamu selalu berbinar kayak lampu neon waktu malam."
Kata-kata itu keluar sendiri seperti air bah yang nggak bisa ditahan lagi. Tiba-tiba lidahku jadi lancar sekali, padahal biasanya aku selalu kebanyakan mikir. "Tapi Bu Amelia juga... dia itu kayak lukisan klasik, selalu anggun dan kalem. Aku suka cara dia nyenyim senyum kecil gitu." Pipiku terasa panas sekali, tapi aku terus saja bicara. "Kadang aku nggak berani ngeliat kalian terlalu lama, karena bikin jantungku berdebar kayak habis lari maraton."
Bu Riska diam mendengarkan, matanya semakin berbinar seperti anak kecil dapat mainan baru. Tangannya yang hangat tiba-tiba menutupi mulutku, tapi aku masih bisa lanjut bicara di antara jari-jarinya. "Aku nggak pernah ngomong begini ke siapa-siapa, tapi kalian berdua bikin aku ngerasa... ngerasa jadi lelaki." Suaraku hampir pecah di akhir kalimat itu. Aku baru sadar betapa bodohnya aku ngomong seperti ini, tapi semuanya sudah terlanjur keluar.
Tangan Bu Riska perlahan turun dari mulutku, wajahnya menunjukkan ekspresi yang aku nggak bisa baca, antara terkejut, senang, dan sesuatu yang lebih dalam. "Jadi selama ini kamu diam-diam memperhatikan kami ya?" bisiknya pelan, jarinya sekarang menggambar pola kecil di atas pahaku. Aku mengangguk pelan, merasa seperti baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci.
"Nggak cuma memperhatikan," aku terus mengaku, seperti orang mabuk yang nggak bisa berhenti bicara. "Aku sering kepikiran kalian berdua waktu sendiri di kamar. Terutama waktu kalian pake baju ketat atau kebaya transparan." Tiba-tiba aku sadar betapa berbahayanya pengakuan ini, tapi Bu Riska malah tersenyum lebar, matanya berbinar nakal.
Dia menghela napas panjang sebelum berkata, "Aduh, kamu ini..." Tangannya tiba-tiba meraih pipiku yang panas. "Baru pertama kali aku dengar cowok ngomong jujur kayak gini." Suaranya lembut tapi ada getar aneh di dalamnya. Aku nggak tahu harus bereaksi gimana, jadi cuma diam sambil merasakan jarinya yang halus menyentuh daguku.
Aku sadar, sepertinya pengakuanku tadi bikin Bu Riska jadi malu, meski dia pura-pura masih genit seperti biasa. Tangannya yang tadi menggambar pola di pahaku sekarang berhenti mendadak, matanya melirik ke samping kayak nggak tau mau ngeliat apa. Pipinya merah merona samar, tapi dia cepat-cepat mengusapnya pake punggung tangan sambil terkekeh palsu.
"Dasar kamu ini," bisiknya. Aku nggak pernah liat Bu Riska kayak gini, biasa dia yang bikin aku salah tingkah, sekarang malah terbalik. Dadaku berdebar campur aduk antara bangga udah bisa bikin dia malu sama rasa bersalah karena udah ngomong terlalu blak-blakan.
Bu Riska berdiri mendadak, pake alesan mau ngambil minuman padahal gelasnya masih penuh di meja.
Aku liat dia ngeloyor ke dapur sambil ngeberesin rambutnya yang emang nggak ada masalah, kayak cari alesan buat ngumpet sebentar. Suara gelas berdenting keras di dapur, kayak dia sengaja bikin ribut biar suasana nggak awkward. "Nih, minum dulu," katanya waktu balik, suaranya lebih tinggi dari biasa sambil nyodorin aku jus jeruk yang agak terlalu banyak gulanya. Aku tau ini jus kesukaanku, berarti dia ingat, tapi biasanya dia bakal komentar "biar gemuk" atau apa, sekarang malah diam aja.
Duduknya sekarang agak jauh dikit dariku, padahal tadi hampir nyempil di kursi yang sama. Matanya ngeliatin aku dari balik pinggiran gelas, tapi kalo ketemu tatapan aku langsung ngelirik ke jendela. "Kamu emang suka ngeliatin aku pake baju apa sih?" tanyanya tiba-tiba sambil mainin ujung rambutnya, suaranya kecil kayak anak SD nanya ke gebetannya.
Aku tersedak jus, nggak nyangka dia bakal nanya langsung gitu. Selama ini Bu Riska selalu pede banget, sekarang kok jadi penuh keraguan gini ya? Aku garuk-garuk kepala, ngerasa keringetan padahal AC di ruangan ini dingin banget.
Aku jawab pelan, "Aku suka liat kamu pake tank top warna biru itu... yang strap-nya agak turun gitu." Belum selesai ngomong, Bu Riska langsung narik tali tanktopnya ke atas padahal nggak ada yang turun. Dia tersenyum kecut sambil ngedumel,
"Dasar mata jail." Tapi aku liat dia nyimpen senyum kecil di pojok bibirnya, kayak dapat pujian rahasia. Tiba-tiba dia nyolek bahuku keras, "Kalau Bu Amelia? Kamu suka liat dia pake apa?" Nada suaranya berusaha santai tapi gagal banget, kedengeran penasaran banget.
Aku mau jawab jujur tapi takut dia ngambek, akhirnya cuma bilang, "Aku suka waktu dia pake dress ungu... yang transparan dikit itu." Bu Riska langsung nyeletuk, "Oh yang belahan dadanya keliatan itu ya!" sambil mukanya merah padam. Tiba-tiba dia nutup muka pake tangan, "Aduh aku ini ngomong apa sih." Gelagatnya kayak cewek ABG yang keceplosan ngomong vulgar, padahal kan dia yang selalu pede ngomongin hal-hal gitu. Aku jadi penasaran, apa selama ini pedenya cuma pura-pura ya? Atau mungkin karena aku yang biasanya cuma diam sekarang malah jadi jujur banget?
ns216.73.216.208da2


