Minggu pagi yang biasanya aku habiskan dengan tidur seharian karena memang kampus libur. Tapi kali ini baru saja aku rebahan setelah sarapan segelas kopi tubruk dan roti tawar, ponselku bergetar dengan pesan dari Bu Riska: "Yudi, kamu libur kan hari ini? Aku masak sop ayam, mau makan di sini?" Aku tahu ini bukan sekadar undangan makan biasa. 544Please respect copyright.PENANAyrgpicU1pV
Aku mengenal Bu Riska sejak kecil, wanita 34 tahun berkulit sawo matang yang tubuhnya seperti hasil pahatan dewa. Rambutnya yang hitam bergelombang selalu terurai bebas sampai pinggang, kadang aku bisa mencium wangi shamponya yang manis dari jarak satu meter. Matanya besar seperti kijang, selalu berkilau dengan sesuatu yang membuatku tidak berani menatap terlalu lama. Payudaranya, Tuhan, payudaranya, begitu besar sampai kadang aku heran bagaimana lehernya bisa menopangnya. Aku sering melihat tetangga lain meliriknya saat dia lewat dengan celana pendek ketat dan tank top yang nyaris tidak cukup menutupi apapun. Pinggulnya lebar seperti jam pasir, berayun kiri kanan setiap kali dia berjalan, membuat celana yoga yang selalu dipakainya seolah ingin menyerah.
Aku berdiri di depan rumah Bu Riska dengan jantung berdebar kencang. Aku mengetuk pintu tiga kali sebelum mendengar suaranya dari dalam: "Yudi? Masuk saja, pintunya tidak dikunci!" Aku mendorong pintu perlahan dan langsung disambut aroma sop ayam yang menggoda. Bu Riska berdiri di dapur dengan apron kecil yang justru membuat tubuhnya semakin terlihat, apron itu terlalu pendek untuk menutupi apapun. Dia memakai tank top putih transparan yang memperlihatkan bentuk bra hitamnya, dan celana pendek yang meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Duduk dulu ya, aku sedang menghangatkan makanannya," katanya sambil tersenyum, matanya berkedip-kedip seperti punya rahasia. Aku mencoba fokus pada kursi di depanku, tapi pandanganku terus tertarik pada lekuk tubuhnya yang sempurna saat dia membungkuk mengambil panci dari kompor.
"Sengaja aku masak banyak karena tahu kamu pasti lapar," ujarnya sambil menuangkan sop ke mangkuk besar. Tangannya yang halus dengan kuku dicat merah menyentuh tanganku saat memberikan mangkuk, sentuhannya hangat dan bertahan lebih lama dari seharusnya. Aku bisa melihat tetesan keringat di lehernya yang mengalir perlahan ke belahan dada yang terbuka. "Kamu sering lihat aku seperti itu ya?" tiba-tiba Bu Riska bertanya sambil menyipitkan matanya yang berbinar. Aku tersedak sop, kepanasan bukan karena makanannya. "N-nnggak, Bu. Aku cuma... bingung sop ini pakai bumbu apa, enak banget," jawabku sambil menunduk, tapi Bu Riska hanya tertawa renyah dan duduk terlalu dekat di sebelahku.
Dia menyenderkan tubuhnya, sengaja membuat lengannya bersentuhan dengan lenganku. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya, wangi parfumnya yang menggoda, dan sesuatu yang lebih berbahaya, keinginannya yang jelas terpancar dari tatapannya. "Kamu sudah besar sekarang, Yudi. Tidak perlu panggil aku Bu lagi," bisiknya sambil tangannya 'tidak sengaja' menyentuh pahaku. Aku ingin menjauh, tapi tubuhku seperti membeku. "Aku suka melihatmu jadi pria dewasa," lanjutnya sambil mendekatkan wajahnya, sampai aku bisa merasakan napasnya di pipiku. Tiba-tiba bel pintu berbunyi, membuat kami berdua terkejut. "Tunggu di sini," kata Bu Riska dengan wajah kesal sebelum berjalan ke pintu, dan aku bisa bersumpah dia sengaja mengayunkan pinggulnya lebih dari biasanya.
Aku mendengar suara Bu Riska berbicara dengan seseorang di depan rumah, lalu pintu ditutup dengan agak keras. Dia kembali ke dapur sambil membawa paket kecil, wajahnya masih merah seperti habis berdebat dengan kurir tadi. "Cuma paket kosmetik," ujarnya sambil melempar bungkusan itu ke sofa, lalu duduk lagi tepat di sampingku, lebih dekat dari sebelumnya. Aku mencoba basa-basi, "Apa Om-nya nggak di rumah?" Bu Riska cuma menggeleng sambil menyendokkan sop ayam ke mangkukku, "Si Om kan kerja terus..." katanya dengan nada datar seperti membahas cuaca. Aku sudah sarapan roti tadi, tapi saat dia menyodorkan mangkuk penuh dengan sayap ayam dan wortel, aku mulai makan lagi.
Kami makan dalam suasana yang aneh, seperti ibu dan anak, tapi ibunya kali ini terlalu cantik dengan tank top yang memperlihatkan sebagian besar kulit halusnya, dan terlalu sering menyentuh lenganku setiap kali bertanya. "Enak nggak?" tanyanya untuk ketiga kalinya, sambil jarinya mencubit perlahan otot lenganku. Aku mengangguk sambil menelan kuah gurih itu, "Enak, Bu." Dia tersenyum puas, lalu tiba-tiba menggeser kursinya sampai pahanya menempel di pahaku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya melalui celana pendek tipis itu. "Kamu aja yang masak pasti lebih enak," bisiknya sambil menyisir rambutku yang pendek dengan ujung jarinya, sentuhannya membuat kulit kepalaku bergidik.
Aku mencoba fokus pada makanan, tapi Bu Riska sibuk mengisi gelasku dengan es teh tanpa kuminta, lalu berdiri terlalu lama di belakangku sehingga aku bisa mencium campuran wangi shampoo dan keringatnya. "Kamu kan masih muda, harus banyak makan," katanya sambil tangannya 'tidak sengaja' meraih pundakku dari belakang, jempolnya menggosok perlahan tulang selangkaku. Aku jadi nggak bisa bedakan ini perhatian ibu-ibuan atau godaan yang disengaja.
Aku menelan kuah sop yang tiba-tiba terasa lebih panas dari seharusnya, mencoba mengalihkan perhatian dari tangan Bu Riska yang sekarang mengelus-elus pahaku. "Bu, biasanya kan kamu pakai hijab dan gamis syar'i kalau keluar," aku mulai dengan suara agak serak, "apa nggak apa-apa begini, undang aku ke rumah sepi-sepi? Aku khawatir orang-orang salah paham." Jantungku berdebar kencang sambil mataku terus menatap mangkuk sop yang mulai berkurang isinya. Bu Riska hanya tertawa kecil, lalu menyenderkan tubuhnya lebih dekat sampai aku bisa mencium wangi minyak wangi yang melekat di lehernya.
"Aduh, sama kamu mah gapapa lah," ujarnya sambil menyisir rambutku dengan jari-jarinya yang lentik, "Aku udah sering lihat kamu dari kecil, kamu juga sering lihat aku tanpa hijab kan?" Aku mengangguk pelan, mengingat memang sejak ibuku masih hidup, Bu Riska sering datang ke rumah pakai daster longgar. Bedanya dulu aku nggak merasakan getaran aneh setiap kali mataku nyasar ke lekuk tubuhnya. Tiba-tiba Bu Riska memiringkan kepalanya seperti punya ide nakal, "Ngomong-ngomong, kamu lebih suka lihat aku pakai hijab atau kayak gini?" Suaranya manja sekali sambil tangannya sibuk mengatur tank topnya yang sudah cukup minim itu.
Aku merasa keringat dingin mulai mengucur di punggung, mulutku terasa kering meski baru minum es teh. "A-apapun yang Bu Riska pakai pasti cantik kok," jawabku diplomatis sambil mencoba tersenyum kecut. Bu Riska terkikik senang, lalu tanpa peringatan memegang daguku dan memaksa aku menatap matanya yang berkilau. "Jawaban yang aman ya?" bisiknya sambil bibirnya mendekat ke telingaku, "Tapi aku bisa lihat ke mana matamu melirik tadi." Aku langsung menunduk malu, merasa ketahuan seperti anak kecil yang ketahuan ngambil kue tanpa izin.
Aku merasa tenggorokanku mengering, jantung berdebar kencang seperti mesin motorku yang mau mogok. "Aku... aku suka lihat kamu kayak gini," akhirnya aku mengaku dengan suara kecil, mata menunduk ke mangkuk sop yang sudah hampir kosong. "Pakaiannya minim, cantik, seksi, dan kamu manja banget kayak gini." Bu Riska tersenyum puas, tapi aku cepat-cepat menambahkan, "Tapi pas pakai hijab sama gamis juga anggun banget, tetep seksi kok." Pipiku terasa panas saat mengucapkan itu.
Tangannya mencubit pipiku tiba-tiba, membuatku terkejut. "Iih, yang mana nih yang beneran kamu suka?" godanya sambil mendekatkan wajahnya sampai aku bisa menghitung bulu matanya yang lentik. Aku menghela napas, menyerah. "Aku... aku lebih suka kamu yang gak pakai hijab," bisikku malu-malu, rasanya seperti mengakui dosa besar. "Yang pakai baju minim kayak sekarang." Bu Riska langsung melepas senyum kemenangan, matanya berbinar seperti dapat hadiah.
Dia tidak memberi waktu untuk malu, langsung menempelkan bibirnya ke pipiku. Ciuman pertama terasa hangat dan lembut, diikuti yang kedua di tempat yang sama, lalu yang ketiga agak ke arah sudut bibirku. Aku kaku, tidak berani bergerak. Ini bukan ciuman pertama darinya, sejak aku kecil, Bu Riska memang sering mencium pipiku, tapi dulu rasanya seperti ciuman tante biasa. Sekarang... sekarang berbeda. Aku bisa merasakan bibirnya lebih lama menempel, napasnya lebih berat, dan tangannya yang tadi di dagu sekarang merayap ke belakang leherku.
"Kamu manis banget kalau malu," bisiknya di telingaku sambil jarinya memainkan rambut belakangku. Aku tidak bisa menjawab, mulutku terasa kering. Sop ayam di depanku sudah dingin, tapi tubuhku terasa panas sekali. Bu Riska memandangku dengan tatapan yang membuatku gelisah, seperti predator yang sedang mengamati mangsanya. "Dari dulu aku suka lihat kamu tumbuh jadi pria tampan," ujarnya sambil tangannya turun perlahan menyentuh bahuku, lalu lengan bajuku. Sentuhannya seperti sengaja membuatku gugup.
ns216.73.216.69da2


