Aku Yudi, umur 21 tahun, tinggal di sebuah rumah kecil di ujung gang sempit. Rumah ini dulu milik orang tuaku, tapi sekarang hanya aku yang menghuninya. Orang tuaku meninggal waktu aku masih SD, kecelakaan motor waktu pulang dari pasar. Aku ingat betul hari itu, pagi masih sarapan bareng, siangnya sudah dapat kabar mereka nggak pulang lagi. Sejak itu, hidupku bergantung pada sedekah tetangga. Nasi bungkus dari Pak RT, uang saku dari Bu Lurah, sampai seragam bekas anaknya Bu Darmin.
Aku nggak pernah ngeluh sih, tapi kadang pengen banget rasanya masih punya orang tua kayak teman-temanku. Lihat mereka diantar jemput kuliah, dikirimin makan siang, atau sekadar ditanyain "udah makan belum?", hal-hal kecil yang buat aku iri diam-diam. Tapi ya sudahlah, nasib sudah nggak bisa diubah. Yang penting aku bisa lanjut kuliah, meski kadang harus nebeng wifi tetangga buat ngerjain tugas.
Kadang setiap malam aku masih menangis, diam-diam di bawah selimut butut yang sudah bolong di beberapa bagian. Air matanya panas dan rasanya asin di lidah, tapi aku selalu berusaha menahannya sampai hanya keluar sedikit. Aku marah, tapi bukan marah seperti orang biasa, lebih seperti marah yang sudah terlalu lelah untuk berteriak. Kenapa Tuhan ambil mereka waktu aku masih kecil? Kenapa nggak bisa nunggu sampai aku cukup dewasa, sampai aku bisa mengingat lebih banyak tentang wajah mereka, tentang suara mereka? Aku bahkan sudah mulai lupa bagaimana aroma bedak ibuku waktu mau tidur, atau bagaimana ayahku selalu ketawa kecil waktu ngeliat aku tersandung sendiri. Di kamar kosong ini, kadang aku berbisik ke udara, "Kalian ada di mana sih? Aku butuh kalian." Tapi yang jawab cuma derit pintu kayu yang kendor karena angin malam.
Pagi-pagi aku selalu bangun dengan mata yang agak bengkak, tapi untungnya nggak ada yang pernah nanya. Mungkin tetangga-tetangga sudah terlalu biasa melihat anak yatim dengan wajah lesu. Aku mandi pakai air dingin dari bak mandi yang bocor, lalu berangkat kuliah dengan motor tua peninggalan ayah, mesinnya sering ngebul dan suaranya berisik kayak mesin jahit rusak. Di jalan, aku lihat anak-anak diantar orang tuanya ke sekolah, ada yang masih digendong, ada yang dicium keningnya sebelum turun dari mobil. Aku pengen bilang ke mereka, "Jangan ganggu orang tuamu, nanti kamu nyesel," tapi ya sudahlah, mereka nggak akan ngerti. Mereka masih punya waktu yang aku nggak punya lagi.
Kuliah sebenarnya lumayan mengalihkan pikiran. Aku suka duduk di deretan depan, biar nggak kepikiran hal-hal lain. Tapi pas jam kosong, ketika teman-teman pada ngobrol tentang rencana liburan sama keluarga atau minta uang tambahan ke orang tua, aku biasanya ngumpet di perpustakaan. Aku pinjem buku-buku tebal yang bikin pusing, biar otakku sibuk mikirin rumus-rumus aneh ketimbang ngeliat temen sekelas yang lagi video call sama ibunya. Kadang aku ngerasa kayak alien, hidup di dunia yang sama, tapi nggak pernah benar-benar ngerti bagaimana rasanya punya tempat untuk pulang.
Aku selalu bersyukur teman-teman kampus nggak pernah memperlakukan aku berbeda. Mereka tahu aku kadang menghindar saat obrolan mulai bahas keluarga, dan mereka cukup paham untuk nggak memaksa. Justru waktu di lapangan basket, semua terasa lebih mudah, suara bola memantul, teriakan strategi, dan tepuk tangan yang membuat aku lupa sejenak tentang kesepian. Aku cukup jago di posisi shooting guard, dan itu bukan basa-basi teman-teman. Beberapa kali aku jadi penentu kemenangan tim dengan tiga-pointers di detik-detik akhir. "Yudi, keren banget!" teriak Rizal sambil menepuk punggungku keras-keras setelah salah satu pertandingan. Aku cuma tersenyum kecut, tapi dalam hati hangat karena di sini, aku diterima apa adanya.978Please respect copyright.PENANA0XjCdWRn9Q
--------
Suatu sore sepulang kuliah, Bu Amelia menyapaku di depan rumahnya yang persis bersebelahan dengan rumahku. "Yudi, kamu kurusan lagi. Aku masak sop buntut banyak, mau?" katanya sambil memegang piring besar yang masih mengepul. Aroma kuahnya yang gurih langsung membuat perutku keroncongan. Aku tahu ini bukan kali pertama dia memberiku makanan, tapi matanya yang selalu menatap terlalu lama membuatku sedikit gelisah. "Terima kasih, Bu," jawabku sambil menerima piring itu dengan kedua tangan, berhati-hati agar jangan sampai menyentuh jarinya yang sengaja bergerak pelan di bawah piring.
Dua hari kemudian giliran Bu Riska yang "kebetulan" bertemu di depan warung dekat rumah. "Kamu pulang kuliah? Aku baru beli es kelapa muda, kebanyakan nih..." ujarnya sambil mengangguk ke arah dua gelas plastik di tangannya. Aku hampir menolak, tapi melihat tetangga lain yang lalu-lalang, aku khawatir dia tersinggung. "Yang ini untuk kamu," bisiknya sambil mendekatkan gelas, bibirnya nyaris menyentuh telingaku. Esnya manis, tapi mulutku terasa kering.
—-----
Kejadian-kejadian kecil seperti itu mulai sering terjadi. Kadang Bu Amelia "lupa" membawa kunci dan minta tolong masuk lewat jendela kamarku yang rendah. Kadang Bu Riska "kebetulan" lewat depan rumah saat aku sedang memperbaiki motor dengan baju tanpa lengan. Aku tahu ini bukan sekadar kebaikan hati, tapi aku juga nggak mau kehilangan bantuan mereka. Di tengah semua itu, ada satu hal yang selalu aku ingat, nasihat almarhum ayahku: "Hidupmu mungkin susah, Nak, tapi jangan pernah jadi orang yang mudah dibeli."
Aku masih ingat dulu waktu kecil, Bu Riska dan Bu Amelia sering datang ke rumah bawa makanan buat ibuku. Mereka bertiga sering ngobrol di teras sambil aku main mobil-mobilan di lantai. Bu Riska waktu itu masih suka pakai daster longgar, tapi sekarang kayaknya lebih suka pakai baju ketat yang bikin aku nggak berani lama-lama ngeliat. Mereka berdua memang tetanggaku yang paling perhatian, dari aku kecil sampai sekarang. Bedanya dulu mereka ngasih perhatian ke ibuku, sekarang lebih ke aku.
Masih jelas di ingatanku, Bu Amelia pernah jemput aku dari sekolah waktu ibuku sakit demam. Aku nangis sepanjang jalan karena takut ibuku meninggal, tapi Bu Amelia tepuk pundakku pelan sambil bilang, "Ibu kamu kuat, nggak semudah itu dikalahkan penyakit." Ironisnya beberapa tahun kemudian ibuku justru pergi karena kecelakaan yang nggak ada hubungannya dengan sakit. Bu Riska juga sering datang bawa kue buatanku waktu ulang tahun, meskipun kadang rasanya aneh karena kebanyakan margarin. Mereka tahu aku suka kue bolu, jadi selalu buatkan yang itu meskipun jelas-jelas nggak sebagus buatan ibuku.
Setelah orang tuaku meninggal, mereka malah lebih sering datang. Awalnya cuma bawa makanan, tapi lama-lama mulai sering "kebetulan" ketemu aku di tempat-tempat tertentu. Bu Riska suka banget bilang, "Kamu tumbuh jadi pria tampan ya," sambil senyum yang bikin aku ngerasa aneh. Bu Amelia lebih sering ngasih perhatian dengan alasan macam-macam, dari baju yang katanya kebesaran sampai makanan yang katanya kebanyakan. Aku tahu mereka berdua bukan cuma sekedar baik hati, tapi aku juga nggak bisa menolak bantuan mereka. Hidupku sudah cukup susah tanpa harus ngejauhin orang-orang yang mau membantuku.
Tapi ada sesuatu yang berbeda akhir-akhir ini. Kalau dulu mereka cuma ngasih makanan atau nanya kabar, sekarang kontak fisiknya jadi lebih sering. Bu Amelia sekarang suka "tidak sengaja" nyentuh tanganku waktu ngasih piring, atau berdiri terlalu dekat sampai aku bisa ngerasa panas tubuhnya. Bu Riska lebih suka pura-pura tersandung biar bisa pegangan ke bahuku, atau pura-pura nggak dengar apa yang aku ucapin sampai mukanya harus dekat banget sama telingaku. Aku nggak bodoh, aku tahu apa yang mereka mau, tapi aku juga nggak mau kehilangan bantuan mereka.
Yang paling bikin aku bingung, mereka berdua kayaknya saling tau tapi pura-pura nggak tau. Pernah suatu hari Bu Amelia bawa martabak ke rumahku, besoknya Bu Riska langsung bawa martabak juga tapi versi lebih mahal. Atau waktu Bu Amelia beliin aku kaos bekas anaknya, dua hari kemudian Bu Riska muncul dengan kaos baru bermerek. Seperti ada perlombaan diam-diam antara mereka berdua, dan aku adalah hadiahnya. Aku pengen marah, tapi di sisi lain... rasanya agak enak juga diperhatikan kayak gini. Setelah bertahun-tahun merasa nggak punya siapa-siapa, sekarang ada orang yang rela berebut untukku. Tapi nasihat ayahku selalu bergema di kepalaku setiap kali aku mulai merasa nyaman dengan situasi ini.
Aku tahu ini salah, tapi entah kenapa hatiku berdebar setiap kali Bu Riska atau Bu Amelia memanggilku dengan suara manja itu. "Yudi, kemari dulu..." atau "Yudi, kamu kok makin ganteng aja sih?" Kalimat-kalimat sederhana itu selalu bikin dadaku sesak antara rasa malu dan semacam kepuasan aneh. Mereka berdua selalu punya cara untuk membuatku merasa istimewa, Bu Amelia dengan caranya yang halus menyisipkan pujian sambil mengelus punggungku, Bu Riska yang lebih berani menatapku lama-lama sampai aku yang menunduk. Aku sering berpura-pura tidak nyaman, menggeser tubuh atau membuat jarak, tapi dalam hati... aku menikmati setiap detiknya.
—------
Kemarin Bu Amelia "tidak sengaja" menyentuh tanganku saat menyerahkan kotak makan siang, jarinya hangat dan lembut, bergerak pelan seperti sengaja memperpanjang kontak itu. Aku bisa merasakan getaran aneh mengalir dari titik sentuhannya, menjalar ke seluruh tubuhku. "Kamu harus makan lebih banyak, lihat nih badanmu semakin kurus," bisiknya sambil matanya berkedip-kedip. Padahal aku tahu berat badanku justru naik sejak mereka rajin memberiku makanan. Aku hanya manggut, takut suaraku akan terdengar bergetar kalau berbicara.
Tidak ketinggalan Bu Riska yang semakin kreatif mencari alasan untuk mendekat. Minggu lalu dia pura-pura kakinya kram saat lewat depan rumahku, langsung memegang bahuku erat-erat. Aku bisa mencium wangi shamponya yang manis, campur dengan sedikit keringat, bau yang seharusnya tidak seharusnya membuatku tegang. "Aduh maaf, kamu kuat ya pegangin aku sebentar..." katanya sambil mendesah. Tangannya tidak berhenti di bahuku, melainkan turun perlahan menyentuh lenganku, seolah mengukur otot-ototku yang sebenarnya biasa saja. Aku tahu ini permainan, tapi kenapa aku tidak bisa menolaknya?
Kadang di malam hari, sambil berbaring di kasur yang berderit, aku memikirkan mereka berdua. Aku merasa bersalah, tapi juga tidak bisa menahan mlihat wajah Bu Amelia tersenyum. Aku tahu mereka sudah bersuami, tahu ini semua salah, tapi... untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada yang benar-benar memperhatikanku bukan karena kasihan. Mereka melihatku sebagai Yudi, bukan si anak yatim piatu yang patut dikasihani, melainkan seorang lelaki yang membuat mereka tergoda.
Dan bagian terburuknya? Aku mulai menunggu. Menunggu pintu rumahnya terbuka setiap pulang kuliah, menunggu "kebetulan-kebetulan" yang sudah jelas direncanakan. Aku bahkan mulai memilih baju yang sedikit lebih ketat, mandi lebih bersih, atau berdiri lebih tegak saat berjalan melewati rumah mereka. Rasanya seperti permainan berbahaya yang tidak akan pernah aku akui kepada siapapun, bahkan kepada diriku sendiri. Ayah pasti akan kecewa, tapi... Tuhan, betapa nikmatnya merasa diinginkan setelah bertahun-tahun merasa tidak punya tempat.978Please respect copyright.PENANAk6BclqmGqV
978Please respect copyright.PENANAnuOw2yTtcE


