Pagi ketiga liburan Nino dimulai dengan cahaya matahari yang hangat menyusup melalui tirai tipis kamar utama. Dita terbangun lebih dulu, tubuh telanjangnya masih terpeluk erat oleh lengan kekar putranya. Nino tidur pulas dengan wajah tertanam di antara kedua payudara besar ibunya, napasnya yang hangat menyapu puting Dita yang mengeras karena sentuhan malam sebelumnya. Bau tubuh mereka bercampur — aroma sabun mandi, keringat, dan sisa cairan cinta dari malam tadi masih menempel di kulit.
Dita memandang wajah Nino yang damai. Hatinya campur aduk: rasa bersalah yang dalam sebagai seorang ibu, tapi juga gelombang nafsu yang sudah lama terkubur. “Ini salah… tapi kenapa rasanya begitu benar?” gumamnya dalam hati. Tangan halusnya mengelus rambut Nino pelan, turun ke punggung lebarnya yang berotot. Ia merasakan kejantanan putranya yang setengah tegang menekan paha dalamnya. Bahkan dalam tidur, Nino masih menginginkannya.
Perlahan Dita bergeser, mencoba bangun tanpa membangunkan Nino. Tapi gerakannya justru membuat Nino terbangun. Matanya yang masih mengantuk langsung terbuka lebar saat melihat tubuh telanjang ibunya yang sempurna di depan mata.
“Ma… pagi,” bisik Nino dengan suara serak penuh gairah. Tangannya langsung meraih pinggang Dita, menariknya kembali ke pelukan. “Jangan pergi dulu. Nino masih mau peluk Mama.”
Dita tersenyum lembut, meski pipinya memerah. “Kamu ini… sudah bangun langsung nakal ya? Kemarin malam Mama bilang kita harus pelan-pelan. Ini baru permulaan, sayang. Mama nggak mau kamu buru-buru dan nanti menyesal.”
Nino mengangguk, tapi tangannya tak diam. Ia meremas payudara kanan Dita dengan lembut, jempolnya memainkan puting yang sudah keras. “Mama… ajarin Nino lebih banyak hari ini. Nino mau belajar beneran. Mau tahu cara bikin Mama senang, cara yang bikin Mama… keluar berkali-kali.”
Kata-kata itu membuat Dita menggigit bibir bawahnya. Vaginanya langsung bereaksi, terasa lembab lagi. Ia bangun duduk, payudaranya bergoyang indah di depan wajah Nino. “Baiklah. Hari ini Mama akan ajarin kamu pelajaran pertama yang sesungguhnya. Tapi ingat, Nino… ini rahasia kita berdua. Tidak ada yang boleh tahu. Dan kita harus tetap saling menghormati di luar kamar ini.”
Mereka berdua turun ke dapur untuk sarapan, tapi suasana sudah berbeda. Dita hanya memakai daster tipis tanpa apa-apa di dalamnya, sementara Nino memakai celana pendek longgar tanpa kaos. Setiap gerakan Dita membuat payudaranya bergoyang, dan Nino tak bisa berhenti memandang. Saat Dita membungkuk mengambil gelas di rak bawah, Nino mendekat dari belakang. Batangnya yang sudah setengah mengeras menekan bokong Dita.
“Nino… sabar,” tegur Dita sambil tertawa kecil, tapi ia malah menggesekkan pinggulnya pelan ke belakang. “Makan dulu. Tenaga kamu harus banyak untuk pelajaran nanti.”
Setelah sarapan, mereka membersihkan rumah seperti biasa, tapi sentuhan-sentuhan kecil semakin sering. Nino “tak sengaja” menyentuh payudara Dita saat membantu mengangkat keranjang cucian. Dita membalas dengan mengusap punggung Nino lama-lama saat melewatinya. Ketegangan seksual di udara terasa semakin tebal.
Siang menjelang, hujan ringan turun lagi. Dita mengajak Nino ke kamar utamanya. “Sekarang waktunya pelajaran, sayang. Tutup pintu dan kunci.”
Kamar itu terasa intim dengan aroma parfum Dita yang manis. Mereka berdiri di depan cermin besar di samping tempat tidur. Dita melepaskan dasternya perlahan, membiarkannya jatuh ke lantai. Tubuhnya yang telanjang sempurna terpantul di cermin: payudara besar yang masih kencang, pinggang ramping, bokong bulat, dan kewanitaannya yang sudah basah dengan bulu halus rapi.
“Lihat Mama baik-baik, Nino. Ini tubuh yang akan kamu pelajari setiap hari selama liburan ini,” kata Dita dengan suara lembut tapi penuh wibawa.
Nino berdiri di belakangnya, tangannya memeluk dari belakang. Ia meremas kedua payudara Dita sambil mencium lehernya. “Mama… ajarin Nino cara meremas yang enak.”
Dita memegang tangan Nino, mengajarinya tekanan yang tepat — kadang lembut, kadang lebih kuat di bagian samping. “Puting Mama sangat sensitif. Jangan langsung cubit. Putar pelan dulu… iya, seperti itu… ahh!” desah Dita saat Nino menurut. Tubuhnya menggelinjang, punggungnya melengkung sehingga bokongnya semakin menekan kejantan Nino yang sudah keras penuh.
Setelah hampir lima belas menit bermain dengan payudara, Dita berbalik. Ia menarik Nino ke tempat tidur. “Sekarang giliran kamu telanjang, sayang. Mama mau lihat alat kamu dengan jelas.”
Nino melepaskan celananya. Batangnya melompat keluar — panjang, tebal, dengan urat-urat menonjol dan kepala yang mengkilap precum. Bola-bolanya penuh dan berat. Dita duduk di tepi tempat tidur, kakinya terbuka lebar sehingga Nino bisa melihat liang vaginanya yang merah muda dan sudah banjir cairan.
“Dekat sini,” perintah Dita. Nino berdiri di depannya. Dita memegang batang Nino dengan kedua tangan, membelainya naik turun perlahan. “Ini namanya foreplay, Nino. Jangan langsung masuk. Wanita butuh pemanasan lama.”
Ia menjilat ujung kepala Nino, mengecap precum yang asin-manis. Lidahnya berputar di sekitar kepala, lalu menurun ke batang, menjilat seluruh permukaan hingga basah oleh air liur. Nino mengerang keras, tangannya memegang rambut ibunya. Dita memasukkan batang itu ke mulutnya dalam-dalam, mengulum sampai tenggorokan. Kepalanya naik turun dengan irama sempurna, sesekali berhenti untuk menjilat bola-bola Nino dan mengisapnya lembut.
“Ahh… Mama… enak banget… Nino nggak tahan…” erang Nino.
Dita melepaskan sebentar, tersenyum nakal sambil mengocok batang Nino dengan tangan yang licin air liur. “Belum boleh keluar. Mama belum selesai ajarin. Sekarang giliran kamu belajar memuaskan Mama dengan mulut.”
Ia berbaring di tengah tempat tidur, kakinya terbuka lebar. “Dekatkan wajah kamu ke sini, Nino. Lihat dulu dengan baik.”
Nino berlutut di antara paha Dita. Aroma kewanitaannya yang manis dan musky memenuhi hidungnya. Ia melihat klitoris yang kecil tapi sudah membengkak, bibir vagina yang basah, dan lubang yang berkedut minta diisi.
“Mulai dari paha dalam dulu… cium pelan… naik ke atas,” ajar Dita sambil mengelus rambut Nino. Nino menurut, mencium dan menjilat paha Dita yang halus. Bau dan rasa kulit ibunya membuatnya semakin bergairah.
“Bagus… sekarang lidah kamu ke klitoris Mama. Gosok pelan dulu… iya… lingkaran kecil… ahh ya Tuhan, Nino pintar…” Dita mendesah panjang saat lidah Nino menyentuh titik paling sensitifnya. Ia mengajari putranya cara menjilat, menghisap, dan memasukkan lidah ke dalam lubang vaginanya. Nino belajar cepat. Ia menjilat dengan antusias, tangannya meremas payudara Dita dari bawah.
Dita orgasme pertama datang dengan hebat. Tubuhnya kejang, cairan beningnya menyembur ke mulut Nino. “Minum Mama sayang… itu cairan cinta Mama…”
Nino menelan dengan lahap, wajahnya basah. Tapi Dita belum puas. “Sekarang masukkan jari kamu. Satu dulu… pelan… rasakan dinding dalam Mama.”
Nino memasukkan jari tengahnya. Hangat, basah, dan sempit. Dita mengajarinya menemukan titik G — bagian kasar sedikit di depan. Saat Nino menggosoknya sambil terus menjilat klitoris, Dita orgasme kedua yang lebih kuat. Ia berteriak nama Nino, pinggulnya naik turun menggesek wajah putranya.
Setelah dua orgasme, Dita menarik Nino naik. Mereka berciuman dalam, saling mengecap rasa tubuh masing-masing. “Sekarang Mama mau ajarin posisi missionary dulu. Tapi jangan langsung masuk dalam. Gosok dulu batang kamu di luar… gesek klitoris Mama.”
Nino menindih ibunya. Batangnya yang besar terletak di antara bibir vagina Dita. Ia menggesek naik turun, kepala batangnya menyentuh klitoris Dita berulang kali. Dita mendesah liar, kuku-kukunya mencengkeram punggung Nino.
“Masuk pelan sekarang… cuma kepalanya dulu… ahh… besar sekali… pelan sayang… iya… seperti itu…”
Nino merasakan kehangatan luar biasa saat kepala batangnya masuk ke dalam vagina ibunya. Dita mengajarinya gerakan pelan, dalam-dalam tapi tidak kasar. Mereka bercinta dalam irama lambat yang penuh kasih. Dita memeluk Nino erat, kakinya melingkar di pinggang putranya.
“Lebih dalam Nino… dorong… iya… Mama milik kamu sekarang… ahh… lebih cepat sedikit…”
Gerakan mereka semakin sinkron. Keringat membasahi tubuh mereka. Suara bedebum daging bertemu daging dan desahan mereka memenuhi kamar. Dita orgasme ketiga saat Nino menggosok titik G-nya dengan batang tebalnya. Tak lama kemudian, Nino juga mencapai puncak.
“Ma… Nino mau keluar… di dalam boleh?”
“Iya sayang… isi Mama… berikan semuanya ke Mama…”
Nino menyemburkan sperma panas dan banyak ke dalam rahim Dita. Mereka berpelukan erat sambil orgasme bersama, tubuh saling bergetar.
Setelah itu, mereka berbaring saling peluk, saling mengelus. Dita mencium kening Nino. “Kamu murid yang cepat pintar. Tapi masih banyak pelajaran lain: doggy style, cowgirl, oral lebih dalam, main di kamar mandi… besok kita lanjut. Sekarang istirahat dulu.”
Malam harinya mereka mandi bersama lagi, saling sabun, saling sentuh, tapi tidak bercinta penuh. Hanya foreplay ringan yang membuat mereka semakin dekat secara emosional dan fisik.
Dita tahu ini baru permulaan dari hubungan terlarang mereka. Nino, di sisi lain, sudah ketagihan sepenuhnya pada tubuh dan pengajaran ibunya.
Versi PDF: lynk.id/bande41/v3kvodwroz95
ns216.73.216.254da2


