Malam itu hujan deras mengguyur kota kecil di pinggiran Jakarta. Rumah dua lantai milik keluarga kecil itu terasa semakin sepi. Dita, seorang wanita berusia 42 tahun, duduk di ruang tamu sambil memegang secangkir teh hangat. Tubuhnya masih terjaga dengan baik meski sudah melewati masa-masa muda. Payudaranya yang besar dan montok, pinggul yang lebar, serta kulitnya yang kuning langsat masih membuat banyak pria di lingkungan memandangnya dengan nafsu tersembunyi. Rambutnya yang hitam panjang tergerai sampai punggung, dan malam ini ia hanya mengenakan daster tipis berwarna merah maroon yang longgar, tanpa bra di dalamnya karena ia merasa nyaman di rumah sendiri.
Dita sudah tujuh tahun menjadi janda. Suaminya meninggal karena kecelakaan, meninggalkannya dengan Nino, putra tunggalnya yang kini berusia 20 tahun. Nino baru saja pulang dari kosannya di Bandung karena libur semester panjang. Anak itu tumbuh menjadi pemuda tinggi, berbadan atletis karena rutin main basket, kulit sawo matang, dan wajah tampan yang mirip ayahnya dulu.
Dita mendengar suara pintu kamar Nino terbuka. Ia menoleh dan tersenyum lembut.
"Nino, belum tidur sayang? Sudah malam loh, besok kan mau bantu Mama bersih-bersih rumah," kata Dita dengan suara lembutnya yang selalu penuh kasih.
Nino turun dari tangga dengan hanya memakai celana pendek basket hitam dan kaos oblong longgar. Otot lengannya terlihat jelas saat ia menggaruk kepala. "Belum ngantuk, Ma. Hujan deras gini enaknya dengerin suara hujan sambil... ya gitu lah." Ia duduk di sofa sebelah ibunya, cukup dekat hingga aroma sabun mandi Dita tercium olehnya.
Dita tertawa kecil. "Kamu ini sudah besar tapi masih suka begadang. Mama khawatir kamu capek. Kuliah di Bandung pasti berat ya?"
Mereka berdua mulai mengobrol ringan tentang kuliah Nino, teman-temannya, dan rencana liburan. Tapi malam itu ada sesuatu yang berbeda. Nino sesekali melirik ke arah dada ibunya yang naik turun pelan di balik daster tipis itu. Puting Dita samar-samar terlihat karena kainnya basah sedikit oleh uap teh. Dita sendiri tidak sadar, atau mungkin ia pura-pura tidak sadar.
"Ma... Nino boleh tanya sesuatu yang agak pribadi nggak?" tanya Nino tiba-tiba, suaranya agak ragu.
Dita menoleh, alisnya terangkat. "Tentu sayang. Kita kan cuma berdua di rumah ini. Nggak ada rahasia di antara kita."
Nino menelan ludah. "Ma... Mama pernah... punya pacar lagi setelah Papa meninggal? Atau... maksudnya, Mama nggak kesepian?"
Pertanyaan itu membuat Dita terdiam sejenak. Ia meletakkan cangkir tehnya dan menatap putranya dalam-dalam. Matanya yang indah itu sedikit berkaca-kaca mengingat masa lalu.
"Mama... ya, kesepian kadang-kadang, Nino. Tapi Mama nggak mau sembarangan. Mama cuma punya kamu. Kamu adalah segalanya buat Mama." Tangannya terulur menyentuh lengan Nino, hangat dan lembut.
Sentuhan itu membuat Nino merasakan getaran aneh di tubuhnya. Darahnya mulai mengalir lebih cepat. Ia sudah bukan anak kecil lagi. Sudah dua tahun ini ia sering masturbasi sambil membayangkan tubuh ibunya yang selalu terlihat seksi di rumah. Tapi malam ini, kedekatan mereka terasa berbeda.
"Mama cantik banget. Nino sering lihat Mama... dan mikir, kenapa Mama nggak cari yang lain," bisik Nino pelan.
Dita tersenyum tipis, pipinya sedikit merona. "Kamu ini... sudah mulai bisa gombal ya? Mama tua kok, Nino. Kamu yang muda dan tampan, pasti banyak cewek di kampus yang ngejar."
Mereka terus mengobrol hingga larut. Hujan semakin deras. Dita mulai merasa panas di dalam dasternya. Ia menggeser posisi duduknya, tanpa sengaja pahanya yang mulus tersingkap sedikit. Nino melihatnya dan langsung merasakan kejantanannya mulai mengeras di balik celana pendeknya.
"Ma, Nino ke kamar dulu ya... haus," kata Nino buru-buru berdiri, berusaha menyembunyikan tonjolan di celananya.
Dita memperhatikan itu. Matanya sempat tertuju ke bawah, tapi ia cepat mengalihkan pandangan. "Iya sayang. Jangan lupa minum air putih."
Nino naik ke kamarnya dengan hati berdegup kencang. Ia langsung mengunci pintu, membuka celana, dan menggenggam batangnya yang sudah keras penuh. Bayangan dada ibunya, pahanya yang putih, dan aroma tubuh Dita membuatnya mengocoknya dengan cepat. "Ahh... Mama..." desahnya pelan.
Sementara itu di bawah, Dita juga merasa gelisah. Ia masuk ke kamarnya, membuka daster, dan berdiri di depan cermin. Tubuhnya telanjang, payudaranya yang besar bergoyang lembut, bulu halus di kewanitaannya yang sudah agak basah. Ia mengusap putingnya sendiri sambil menggigit bibir. "Nino... anak Mama sudah besar sekali..."
Malam itu adalah awal dari segalanya. Keduanya tidur dengan pikiran yang penuh gejolak, tanpa tahu bahwa batas antara ibu dan anak akan segera runtuh.
Pagi berikutnya menyapa rumah kecil itu dengan sinar matahari yang malu-malu menyusup melalui celah gorden kamar Dita. Jam menunjukkan pukul 07.30, tapi Dita sudah terbangun sejak subuh. Malam tadi tidurnya gelisah. Bayangan Nino yang berdiri di depannya dengan celana pendek yang tak mampu menyembunyikan tonjolan besar itu terus berputar di kepalanya. Ia bangun dari tempat tidur, tubuh telanjangnya yang masih hangat dari mimpi basah terasa lengket. Dita berjalan ke kamar mandi dalam kamarnya, berdiri di depan cermin besar yang sudah agak berkabut karena uap air hangat.
Payudaranya yang berukuran 36D bergoyang lembut saat ia mengusap wajahnya. Putingnya yang cokelat muda sudah mengeras hanya karena mengingat sentuhan tangan Nino di lengannya semalam. Perutnya yang rata meski sudah dua kali melahirkan (Nino dan keguguran dulu), pinggul lebar yang menggoda, dan paha mulus yang bertemu di celah kewanitaannya yang sudah mulai basah lagi. Bulu halus hitam tipis di sana terasa lembab. Dita menggigit bibir bawahnya, tangan kanannya turun pelan, menyentuh klitorisnya yang sensitif.
"Ahh... Nino... anak Mama..." desahnya pelan sambil memejamkan mata. Jari tengahnya menggosok perlahan, membayangkan itu adalah lidah putranya. Ia memasukkan satu jari ke dalam liang vaginanya yang masih sempit meski sudah lama tak disentuh pria. Gerakannya semakin cepat, payudaranya bergoyang-goyang mengikuti irama. Orgasme kecil datang dalam hitungan menit, membuat lututnya lemas. Ia mencengkeram pinggir wastafel, napasnya tersengal. "Ini salah... tapi kenapa rasanya enak sekali..."
Setelah mandi dan memakai daster rumah berwarna biru muda yang sedikit lebih pendek dari biasanya, Dita turun ke dapur. Aroma kopi dan telur goreng memenuhi ruangan. Nino sudah duduk di meja makan, masih memakai kaos oblong dan celana pendek yang sama seperti semalam. Rambutnya acak-acakan, matanya masih sedikit mengantuk, tapi saat melihat ibunya masuk, pupilnya melebar.
"Ma... pagi," sapa Nino, suaranya agak serak. Pandangannya tak bisa lepas dari lekuk tubuh Dita di balik daster tipis itu. Payudaranya yang bebas bra bergoyang lembut setiap langkah, dan ujung daster yang pendek memperlihatkan sebagian paha putihnya.
Dita tersenyum manis, berusaha bersikap normal meski hatinya berdegup kencang. "Pagi sayang. Mama buatin sarapan kesukaan kamu. Telur mata sapi setengah matang, sambel, sama tempe goreng. Duduk dulu, Mama ambilin."
Ia membungkuk sedikit saat mengambil piring dari rak bawah, membuat bagian belakang daster naik dan memperlihatkan garis celana dalam hitam tipis yang membungkus bokongnya yang bulat sempurna. Nino menelan ludah kuat-kuat. Kejantanannya langsung bereaksi, mengeras di balik celana pendeknya. Ia buru-buru menyilangkan kaki di bawah meja.
Mereka makan bersama dalam diam yang penuh ketegangan. Sesekali Dita bertanya tentang rencana hari ini, Nino menjawab pendek sambil mencuri pandang. Setelah sarapan, Dita membersihkan meja. Nino membantu mencuci piring. Di depan wastafel sempit itu, tubuh mereka tak sengaja bersentuhan. Lengan Nino menyenggol sisi payudara Dita saat ia meraih spons.
"Maaf Ma..." kata Nino cepat, tapi tangannya tak langsung menjauh. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat Dita merinding.
"Tidak apa-apa sayang. Rumah ini kecil, kita sering begini kan dulu waktu kamu kecil," jawab Dita, suaranya agak gemetar. Ia bisa merasakan panas tubuh Nino di belakangnya. Bau sabun mandi putranya yang maskulin membuat kepalanya pusing.
Hari itu mereka menghabiskan waktu membersihkan rumah. Dita menyapu lantai bawah, Nino membersihkan lantai atas. Tapi pikiran keduanya tak tenang. Nino di kamarnya, sambil membersihkan, menemukan majalah lama ayahnya yang tersembunyi di balik lemari. Isinya foto-foto wanita dewasa telanjang. Tapi yang membuatnya lebih bergairah adalah saat ia membayangkan wajah ibunya di tubuh-tubuh itu.
Sore harinya, hujan kembali turun. Listrik padam sebentar, membuat rumah gelap. Dita menyalakan lilin di ruang tamu. Mereka duduk berdua di sofa panjang, lebih dekat dari biasanya karena hanya ada satu lilin besar.
"Ma, Nino takut gelap loh masih," goda Nino mencoba mencairkan suasana, tapi matanya serius.
Dita tertawa pelan. "Kamu sudah 20 tahun, Nino. Tapi Mama senang kalau kamu masih manja sama Mama." Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, bahu mereka bersentuhan. Daster Dita sedikit terbuka di bagian dada karena gerakan itu, memperlihatkan belahan payudara yang dalam dan puting yang samar.
Nino tak tahan lagi. "Ma... semalam Nino mikir terus tentang pertanyaan Nino. Mama beneran nggak pernah... melakukan itu lagi setelah Papa pergi?"
Dita menatapnya lama. Cahaya lilin membuat wajahnya terlihat semakin cantik dan menggoda. "Mama... pernah coba pacaran sekali, Nino. Tapi nggak berhasil. Pria itu kasar, dan Mama nggak bisa lupain Papa. Akhirnya Mama memutuskan untuk fokus sama kamu saja. Tapi ya... kadang Mama juga manusia biasa. Mama punya kebutuhan."
Kata-kata itu seperti pintu yang terbuka. Nino memberanikan diri. Tangannya pelan menyentuh paha Dita yang terbuka. Kulitnya halus dan hangat.
"Ma... Nino juga sering mikirin Mama. Bukan mikir sebagai anak... tapi sebagai... wanita. Mama cantik banget. Tubuh Mama... sempurna. Nino malu ngomong ini, tapi... Nino sering... ngocok sambil bayangin Mama."
Pengakuan itu membuat Dita terkejut, tapi bukan marah. Pipinya memerah hebat, napasnya memburu. Tangan Nino masih di pahanya, semakin naik perlahan.
"Nino... itu salah. Kita ibu dan anak. Ini... dosa besar," bisik Dita, tapi suaranya tak meyakinkan. Matanya malah melirik ke tonjolan besar di celana Nino yang sudah sangat jelas.
"Tapi Mama juga merasa kan? Semalam Mama lihat Nino... dan Mama nggak langsung lari ke kamar. Malah Mama... sentuh diri sendiri?" tebak Nino berani.
Dita terdiam lama. Akhirnya ia mengangguk pelan. "Iya... Mama lakukan itu. Mama bayangin tangan kamu yang besar ini... menyentuh Mama di tempat yang nggak boleh."
Suasana semakin panas. Hujan deras di luar seperti musik latar. Nino memindahkan tangannya lebih tinggi, sampai ke ujung daster. Jarinya menyentuh celana dalam Dita yang sudah basah.
"Ma... boleh Nino lihat? Cuma lihat aja..." pinta Nino dengan suara parau.
Dita ragu, tapi nafsu yang sudah bertahun-tahun terpendam mengalahkan akal sehatnya. Ia pelan membuka kancing atas dasternya, satu per satu. Payudaranya yang besar dan montok akhirnya terbebas, bergoyang bebas di depan wajah putranya. Putingnya mengeras sempurna.
"Ya Tuhan... Mama..." Nino terpana. Tangannya gemetar menyentuh payudara kiri Dita, meremas lembut. Rasanya lebih empuk dan hangat dari yang ia bayangkan.
Dita mendesah panjang. "Pelan sayang... Mama sensitif di situ." Ia memegang tangan Nino, mengajarinya cara meremas yang enak. Jempol Nino memainkan putingnya, membuat Dita menggelinjang.
Mereka berciuman untuk pertama kali. Bukan ciuman anak-ibu, tapi ciuman penuh nafsu. Lidah Nino menyusup masuk, menari dengan lidah Dita. Tangan Dita turun, menyentuh tonjolan di celana Nino.
"Ini... besar sekali Nino. Lebih besar dari Papa dulu," bisik Dita di sela ciuman, suaranya penuh kekaguman.
Ia menurunkan celana pendek Nino. Batang kejantanan putranya melompat keluar, panjang sekitar 18 cm, tebal, dengan kepala yang mengkilap precum. Dita membelainya pelan, naik turun.
"Nino... ini milik Mama sekarang ya? Mama yang ajarin kamu cara memuaskan wanita... tapi pelan-pelan. Kita nggak boleh buru-buru."
Nino hanya bisa mengangguk, kepalanya pusing kenikmatan. Dita membungkuk, lidahnya menjilat ujung batang Nino. Rasa asin precum membuatnya semakin bergairah. Ia memasukkan separuh ke mulutnya, mengisap lembut sambil tangannya memainkan bola-bola di bawahnya.
"Ahh... Mama... enak sekali... jangan berhenti..." erang Nino sambil memegang rambut ibunya.
Dita mengulumnya dengan ahli, kepalanya naik turun dalam irama lambat tapi dalam. Air liurnya menetes membasahi batang Nino. Sesekali ia melepaskan untuk menjilat seluruh permukaan, lalu kembali mengisap.
Setelah hampir sepuluh menit, Nino tak tahan. "Ma... Nino mau keluar..."
Dita mempercepat gerakan. Nino menyemburkan sperma panas ke dalam mulut ibunya. Dita menelan sebagian, sisanya menetes di dagunya dan payudaranya. Ia tersenyum nakal sambil membersihkan dengan jarinya.
"Itu baru permulaan sayang. Mama masih mau ajarin banyak hal. Tapi hari ini cukup dulu. Kita mandi bareng ya, biar bersih."
Mereka naik ke kamar mandi bersama. Di bawah shower air hangat, tubuh telanjang mereka saling bersentuhan. Nino sabun tubuh Dita, tangannya meremas payudara, pantat, dan akhirnya menyentuh vagina ibunya untuk pertama kali. Jarinya masuk pelan ke dalam lubang yang basah dan hangat.
"Di situ titik G-nya sayang... gosok pelan... iya seperti itu... ahh!" Dita mengajari sambil mendesah. Ia orgasme di jari Nino, cairannya mengalir ke paha.
Malam itu mereka tidur bersama di kamar Dita. Tubuh telanjang saling peluk. Nino tidur dengan muka di antara payudara ibunya, sementara Dita mengelus rambutnya dengan perasaan bercampur: cinta, dosa, dan nafsu yang semakin membara.
Tapi ini baru awal. Besok, pelajaran akan semakin dalam.
ns216.73.216.254da2


