576Please respect copyright.PENANAKyEaxevw9w
Setelah ronde kedua yang melelahkan, Angga dan Endang masih berpelukan di sofa selama beberapa menit. Keringat mereka bercampur, napas masih tersengal. Endang sesekali mengecup dada Angga sambil mengusap kontolnya yang sudah lemas tapi masih basah oleh sisa cairan mereka.
576Please respect copyright.PENANA2D1OIDIiG3
Akhirnya Endang mengangkat kepalanya, tersenyum manja. “Sudah larut malam, Angga. Lampu di rumahku kayaknya sudah nyala lagi. Aku pulang dulu ya, takut ada yang curiga kalau aku lama di sini.”
576Please respect copyright.PENANAS7JBD9ZBRB
Angga mengangguk, meski tangannya masih enggan melepaskan pinggul Endang yang montok. “Iya, hati-hati. Pintu rumahmu sudah kebuka?”
576Please respect copyright.PENANA31Q6E2R5AO
Endang bangkit perlahan, memeknya yang masih bengkak meneteskan sisa mani Angga ke lantai. Ia tidak buru-buru membersihkan diri. Malah ia mengambil handuk dan menyeka tubuhnya dengan santai di depan Angga, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang indah.
576Please respect copyright.PENANAM3wqi6mcYg
“Sudah, tadi aku cek lewat jendela. Generator tetangga sebelah sana nyala,” jawabnya sambil memakai kembali daster tipisnya yang masih agak lembab. Bra dan celana dalamnya ia masukkan ke saku daster.
576Please respect copyright.PENANABcZFV7aFYp
“Besok malam aku tunggu kamu di rumahku ya. Jangan lupa, aku pakai lingerie merah yang seksi.”
576Please respect copyright.PENANALNGkrp3knZ
Sebelum pergi, Endang mendekat lagi, mencium bibir Angga dalam-dalam, lidahnya menari sebentar. “Terima kasih malam ini, Angga. Kamu bikin istri tetangga ini puas banget. Jangan mikir macam-macam, ini rahasia kita berdua.”
576Please respect copyright.PENANAbn76LWqrIX
Angga mengantarnya sampai teras. Hujan sudah mulai reda menjadi gerimis. Endang berjalan cepat ke rumah sebelah, bokongnya bergoyang di balik daster tipis. Ia sempat menoleh, melambai genit sebelum masuk ke rumahnya.
576Please respect copyright.PENANAqgOsXEerE1
Angga menutup pintu, mengunci, dan bersandar di sana sejenak. Ruangan tamu masih beraroma seks — campuran keringat, cairan tubuh, dan parfum Endang. Sofa masih acak-acakan.
576Please respect copyright.PENANAdv67XOe8ef
Ia berjalan ke kamar tidur, membersihkan diri sebentar di kamar mandi, lalu merebahkan diri di tempat tidur. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tidak bisa tenang.
576Please respect copyright.PENANAzJUIDLtL6D
“Endang…” gumamnya dalam hati.
Angga menatap langit-langit kamar. Baru beberapa jam lalu, istri tetangga yang selama ini ia anggap anggun dan terhormat itu berlutut di depannya, mengisap kontolnya dengan rakus. Wanita yang payudaranya besar dan bokongnya montok itu sekarang sudah dua kali ia isi dengan maninya.
576Please respect copyright.PENANAKVbozxT3w6
Ia teringat suara Endang yang binal tadi — “Fuck istri tetangga kamu lebih keras!” — dan betapa basah serta ketat memeknya. Angga merasa kontolnya kembali berdenyut meski sudah dua ronde.
576Please respect copyright.PENANAacpxQ07BTr
“Dia istri orang… istri Pak Andi yang kaya dan sering bepergian,” pikir Angga sambil tersenyum sendiri. “Tapi dia haus banget. Sudah lama nggak diladenin, dan sekarang dia pilih aku.”
576Please respect copyright.PENANAwmAxMpk3oR
Bayangan Endang menggoyang pinggulnya liar di atas tubuhnya, payudaranya bergoyang-goyang, erangannya yang kotor, dan janjinya untuk besok malam dengan lingerie merah membuat Angga sulit tidur.
576Please respect copyright.PENANARNXDc6xU8e
Ia membayangkan besok masuk ke rumah Endang, mungkin langsung menidurinya di ranjang suaminya, atau di dapur sambil Endang memasak.
576Please respect copyright.PENANADhGU9trylh
“Gila… ini baru malam pertama,” bisik Angga sambil menggenggam kontolnya yang mulai setengah tegang lagi. “Kalau begini terus, aku bisa ketagihan sama istri tetangga yang binal ini.”
576Please respect copyright.PENANAD95K5bx0n5
Pagi harinya Angga terbangun dengan kontol setengah tegang. Bayangan tubuh Endang yang montok, erangannya yang binal, dan memeknya yang basah serta ketat masih begitu jelas di kepalanya. Ia melirik jam — baru pukul 08.30. Masih hampir 12 jam lagi sebelum malam tiba.
576Please respect copyright.PENANAnFwV0bdCnt
“Fuck… aku sudah nggak sabar,” gumamnya sambil menggenggam kontolnya yang mengeras sepenuhnya. Ia mencoba mengocok pelan, tapi langsung berhenti. “Nggak. Aku mau simpan tenaga buat Endang malam ini.”
576Please respect copyright.PENANAmzoQ21N0j3
Sepanjang hari Angga sulit konsentrasi. Kerjaannya sebagai desainer freelance mandek total. Setiap kali ia mencoba fokus di laptop, pikirannya melayang ke Endang. Bayangan wanita itu memakai lingerie merah, membungkuk di depannya, dan memohon “genjot aku lebih keras” membuatnya gelisah.
576Please respect copyright.PENANAWD1vF3ss76
Siang hari, Angga keluar ke teras depan dengan alasan merokok. Ia melirik rumah sebelah. Endang sedang menyiram tanaman di halaman depan, memakai tanktop ketat berwarna putih dan celana pendek jeans yang memperlihatkan pahanya yang mulus. Payudaranya yang besar terlihat menonjol jelas, putingnya samar terlihat karena tidak memakai bra.
576Please respect copyright.PENANAOe9mpXqRDd
Endang menoleh, melihat Angga, lalu tersenyum nakal. Ia sengaja membungkuk lebih dalam saat menyiram bunga, sehingga celana pendeknya naik dan memperlihatkan garis bokongnya yang montok. Lalu ia melambaikan tangan seolah biasa saja, tapi matanya penuh godaan.
576Please respect copyright.PENANAO2HNFOvrWB
Angga merasa kontolnya langsung tegang di balik celana pendek. “Sialan… dia sengaja,” pikirnya sambil tersenyum sendiri.
576Please respect copyright.PENANAsri2LlaDwu
Sepanjang sore Angga mondar-mandir di rumah. Ia mandi dua kali, tapi tetap tidak tenang. Di kepalanya terus berputar skenario malam nanti:
576Please respect copyright.PENANAqSjZh6eX1y
Endang membuka pintu dengan lingerie merah transparan.
Ia langsung mendorong Endang ke dinding dan menggenjotnya berdiri.
Atau di ranjang suaminya, menghantam memek Endang sambil wanita itu berteriak menyebut namanya.
576Please respect copyright.PENANABV7OYzbyzC
“Besok malam… aku mau isi memeknya lagi sampai penuh,” bisik Angga sambil menatap rumah Endang dari jendela kamar. “Aku mau bikin dia susah jalan besok paginya.”
576Please respect copyright.PENANASRxP2MeIzO
Jam menunjukkan pukul 18.00. Angga sudah mandi, memakai kaos hitam ketat dan celana pendek santai. Ia mondar-mandir di ruang tamu, sesekali melirik jam dinding. Nafsunya sudah memuncak. Kontolnya berdenyut-denyut setiap kali teringat suara Endang kemarin malam: “Penuhin memek istri tetangga ini…”
576Please respect copyright.PENANAxUJpiq5ELQ
Pukul 19.30, Angga tidak tahan lagi. Langit sudah gelap. Ia mengirim pesan singkat ke nomor Endang yang sempat ditukar kemarin malam:
576Please respect copyright.PENANArB7IYEO5Yp
Angga: Aku sudah nggak sabar. Rumahmu sudah sepi? Aku mau ke sana sekarang.
576Please respect copyright.PENANARKlon4CFix
Beberapa detik kemudian balasan masuk:
Endang: Hehe… sabar sayang. Suami baru telepon tadi, bilang dia meeting sampai larut. Aku sudah pakai lingerie merahnya. Basah dari tadi nunggu kontol kamu. Pintu belakang nggak dikunci. Masuk pelan-pelan ya… aku tunggu di kamar utama.
576Please respect copyright.PENANApOmPN0C39m
KELANJUTANNYA KLIK LINK DI BAWAH🔗👇
https://lynk.id/besfrindkita576Please respect copyright.PENANAavWh4TAkgb


