717Please respect copyright.PENANARHKYiU9Ug7
Aku sedang berdiri di teras depan sambil merokok, mencoba menenangkan pikiran, ketika pintu rumah sebelah terbuka. Seorang wanita keluar tergesa-gesa, hanya memakai daster tipis yang basah kuyup karena hujan. Rambutnya yang panjang hitam legam menempel di kulit bahunya yang putih mulus. Ia membawa payung tapi angin kencang membuatnya hampir terbang.
717Please respect copyright.PENANASEKutTEBiK
“Shit…” gumamnya kesal.
Aku langsung mengenalinya. Itu Bu Endang, istri Pak Andi yang tinggal di sebelah. Pak Andi adalah seorang pengusaha yang sering bepergian ke luar kota. Usianya mungkin sekitar 45 tahun, sedangkan Endang baru 32 tahun. Tubuhnya yang montok, payudara besar yang selalu terlihat menonjol di balik baju, dan pinggul lebarnya sering menjadi bahan gosip ibu-ibu kompleks.
717Please respect copyright.PENANA9AGdJG5Rbs
“Mas Angga, tolongin ya… pintu rumah ke kunci sendiri, suami saya lagi di Singapura,” katanya sambil mendekat ke terasku. Suaranya lembut, tapi ada nada menggoda yang tak biasa.
717Please respect copyright.PENANAjN4ZBEkmX9
Aku buru-buru mematikan rokok. “Masuk dulu, Bu. Basah kuyup gitu nanti sakit.”
717Please respect copyright.PENANAxzOLPnVCQB
Endang tersenyum tipis, matanya yang sipit dan bibirnya yang tebal basah oleh air hujan. Daster tipisnya menempel sempurna di tubuhnya, memperlihatkan garis bra hitam dan celana dalamnya yang tipis. Putingnya terlihat menonjol karena dingin. Aku berusaha tidak menatap, tapi susah.
717Please respect copyright.PENANAPERmGB68jI
“Kamu sendirian ya di sini?” tanyanya sambil duduk di sofa ruang tamuku, kakinya yang panjang dan mulus disilangkan.
“Iya, Bu. Baru pindah dua minggu lalu.”
717Please respect copyright.PENANA7izD87uzyF
“Panggil Endang aja. Bu-bu an bikin aku merasa tua,” katanya sambil tertawa kecil. Ia mengambil handuk yang aku berikan dan mengusap lehernya perlahan. Gerakannya lambat, sengaja, seolah tahu aku sedang memperhatikan.
717Please respect copyright.PENANAw0AyAC2RfI
Kami ngobrol ringan. Ia bilang suaminya jarang pulang, sibuk bisnis. Anak mereka sudah kuliah di luar negeri. Rumah besar itu terasa sepi untuknya. Matanya sesekali melirik ke arahku dengan tatapan yang tak biasa—penuh nafsu yang tertahan.
717Please respect copyright.PENANAGKpzamlkYl
“Angga… kamu ganteng juga ya. Masih muda, pasti banyak yang ngejar,” ujarnya tiba-tiba, suaranya agak serak.
Aku tertawa gugup. “Biasa aja, Endang.”
717Please respect copyright.PENANAwcpHNBW3nw
Tiba-tiba lampu rumahnya mati karena korsleting akibat hujan deras. Endang menghela napas panjang. “Lagi-lagi begini. Generatornya rusak kemarin.”
“Kalau mau nunggu di sini dulu boleh,” tawarku.
717Please respect copyright.PENANAqDAQqMYTAg
Endang memandangku lama. Senyumnya berubah nakal. “Boleh… tapi aku takut dingin sendirian. Boleh aku pinjem baju kamu dulu? Daster ini basah banget.”
717Please respect copyright.PENANA206SGGiZ8z
Tanpa menunggu jawaban, ia berdiri dan melepas dasternya di depanku begitu saja. Tubuhnya yang telanjang hanya tinggal bra hitam dan celana dalam string yang hampir tak menutupi apa-apa. Payudaranya yang besar dan kencang bergoyang pelan saat ia berjalan mendekatiku. Kulitnya halus, perutnya rata, dan pinggulnya lebar menggoda.
717Please respect copyright.PENANAFbjrYcArk7
Aku membeku. Jantungku berdegup kencang.
Ia mengambil kaos oversize milikku dari kursi dan memakainya perlahan, tapi tidak buru-buru menutup bagian bawahnya. Aroma tubuhnya yang wangi bercampur feromon wanita dewasa memenuhi ruangan.
717Please respect copyright.PENANAOBUJurOAFP
“Angga…” bisiknya mendekat, tangannya menyentuh dada ku. “Suami aku sudah lama nggak kasih aku yang aku butuhin. Kamu… mau nemenin aku malam ini?”
717Please respect copyright.PENANATz7EB1U38L
“Angga… jangan cuma diam aja,” bisiknya tepat di telingaku. Napasnya hangat, suaranya sudah parau penuh nafsu. “Aku tahu kamu dari pertama liat aku sudah pengen. Matamu nggak bisa bohong.”
717Please respect copyright.PENANAGvkt93xbSl
Tangan Endang yang halus langsung merayap ke bawah, meremas kejantanan ku yang sudah mengeras di balik celana pendek. Ia menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum nakal.
717Please respect copyright.PENANAMndvkt2XHb
“Wah… gede juga ya punya kamu. Lebih gede dari suamiku,” katanya sambil tertawa kecil, suaranya genit. Tanpa basa-basi, ia menarik turun celana ku hingga ke lantai. Kontol ku yang sudah tegang langsung melompat keluar, ujungnya sudah basah oleh precum.
717Please respect copyright.PENANAfncmeX8X1v
Endang berlutut di depanku dengan cepat. Matanya bersinar penuh nafsu melihat batangku. “Enak juga punya tetangga muda yang segar begini,” gumamnya sebelum langsung membuka mulutnya yang merah dan mengulum kepala kontol ku dalam satu gerakan.
717Please respect copyright.PENANANUdiOc1N9I
“Aaahh… Endang…” erangku tanpa sadar.
Ia mahir sekali. Lidahnya berputar-putar di kepala kontol, menghisap kuat sambil tangannya memompa batang yang tak muat masuk semua ke mulutnya.
717Please respect copyright.PENANAwZuln0lfY4
Suara kecap-kecap basah memenuhi ruangan tamu yang hanya diterangi lampu redup. Endang sesekali memandang ke atas, matanya nakal seolah menantang aku untuk menguasainya.
717Please respect copyright.PENANASSgZ1zlN4D
“Enak nggak, Mas? Istri tetangga lagi ngisep kontol kamu,” katanya sambil menjilat dari pangkal sampai ujung, lalu menelan lagi dalam-dalam hingga batangku menyentuh tenggorokannya.
717Please respect copyright.PENANAm4FgvJ0Qy2
Ia benar-benar binal. Wanita yang di depan tetangga selalu anggun dan sopan ini ternyata haus seks yang sudah lama tak terpuaskan.
717Please respect copyright.PENANATlaQM7mTf1
Aku tak tahan lagi. Aku mengangkat tubuh Endang, menciumnya kasar. Lidah kami saling menari, air liur bercampur. Tanganku meremas payudaranya yang besar dan kencang itu, putingnya yang cokelat muda sudah mengeras. Aku mencubitnya pelan, membuat Endang mendesah keras di dalam mulutku.
717Please respect copyright.PENANA7k5hV4yg0G
“Uhh… remas lebih keras, Angga… aku suka kasar,” pintanya sambil menggigit bibirku.
717Please respect copyright.PENANAcgc60OCef1
Aku mendorongnya ke sofa, membuka lebar kedua kakinya. Celana dalam stringnya sudah banjir. Aku menariknya ke samping dan langsung menjilat memeknya yang mulus dan sudah banjir cairan. Endang menggelinjang, tangannya menekan kepalaku lebih dalam.
717Please respect copyright.PENANAlMRfpU9UxY
“Ahh! Jilatin dalam-dalam… ya gitu… istri tetangga kamu rasanya enak kan? Basah banget buat kamu…”
717Please respect copyright.PENANAiJBPJJmZYO
Lidahku menari di klitorisnya yang membengkak, sesekali masuk ke lubang memeknya yang sempit dan panas. Endang menggoyang pinggulnya liar, erangannya semakin keras. Tubuhnya gemetar, lalu ia mencengkeram rambutku sambil orgasme pertama malam itu.
717Please respect copyright.PENANAY1SpoAAy82
“AAHHH! Aku keluar… Anggaaa!!”
Cairannya menyembur sedikit ke mulutku. Endang masih gemetar saat aku bangkit dan menempelkan kepala kontol ku di pintu masuk memeknya.
717Please respect copyright.PENANAeNAjnPrAu3
“Masukin, Angga… sekarang juga,” pintanya sambil memandangku dengan mata penuh nafsu. “Ini malam pertama aku selingkuh sama tetangga muda. Aku mau diisi penuh sama kontol kamu.”
717Please respect copyright.PENANAoBfU9imFzf
Aku mendorong pinggulku perlahan. Memek Endang yang sangat basah dan panas menelan batangku inch demi inch. Ketat sekali, meski ia sudah melahirkan.
717Please respect copyright.PENANAL14lDJLuOX
“Uhh… gede banget… pelan dulu… ahh!” erangnya.
717Please respect copyright.PENANAINNaWXuCF4
Begitu masuk sepenuhnya, aku mulai menggenjotnya dengan ritme yang semakin cepat. Suara benturan daging kami bercampur dengan erangan Endang yang semakin binal.
717Please respect copyright.PENANAi8G2iZ9vmm
“Enak… enak banget… kontol kamu ngena banget di dalem… lebih dalam, Angga! Fuck istri tetangga kamu lebih keras!”
717Please respect copyright.PENANADrb7oY2LOP
Aku menindihnya di sofa, kakinya kugenggam lebar di bahuku. Setiap hantaman membuat payudaranya bergoyang-goyang indah. Endang mencakar punggungku, bibirnya tak berhenti mengeluarkan kata-kata kotor yang membuat darahku semakin panas.
717Please respect copyright.PENANAFHCUlwLdy0
Kami berganti posisi berkali-kali. Ia naik ke pangkuanku, menggoyang pinggulnya liar seperti penari profesional. Payudaranya bergoyang di depan wajahku, aku menghisap putingnya bergantian sambil meremas bokongnya yang montok.
717Please respect copyright.PENANAxYqMwfvyPA
“Angga… aku mau keluar lagi… bareng ya…” pintanya sambil mempercepat goyangan.
717Please respect copyright.PENANAjgYVjVBiZk
Aku merasakan getaran di memeknya yang semakin kuat. Dengan beberapa hantaman kuat terakhir, kami berdua mencapai klimaks bersama. Aku menyemburkan mani panas-ku jauh ke dalam rahim Endang, sementara ia menjerit kenikmatan, tubuhnya kejang-kejang di atas tubuhku.717Please respect copyright.PENANAYBMwQuljwJ


