Rasa percaya diri Hermawan sebagai pria matang yang berhasil menaklukkan hati gadis muda mendadak runtuh pada satu sore yang berangin.
249Please respect copyright.PENANAuO1rp5N2JI
Sebuah mobil sedan sport berwarna merah menyala berhenti tepat di depan halaman rumah Sila. Dari balik etalase kaca tokonya, Hermawan menghentikan aktivitasnya mencatat pembukuan. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah kendaraan mewah tersebut.
249Please respect copyright.PENANAIgMkyXsSB0
Seorang pemuda turun dari kursi kemudi. Umurnya mungkin awal dua puluhan-sebaya dengan Sila. Pemuda itu berpenampilan modis dengan kemeja flanel longgar, celana jin mahal, dan rambut yang ditata rapi. Fisiknya tinggi, wajahnya bersih, memancarkan aura masa muda dan masa depan yang cerah.
249Please respect copyright.PENANAP85f3iFcRM
Tak lama, pintu samping rumah sebelah terbuka. Sila keluar dengan penampilan yang sangat cantik. Dia mengenakan gaun musim panas berwarna biru muda yang memperlihatkan bahu indahnya, dengan rambut panjang yang dikuncir kuda.
249Please respect copyright.PENANAlYA3mHqozY
Senyum Sila mengembang lebar saat melihat pemuda itu. Mereka bertukar sapa dengan akrab, bahkan pemuda itu sempat mengacak rambut Sila dengan gemas sebelum membukakan pintu mobil untuknya.
249Please respect copyright.PENANAqMqJHehPXp
Hermawan menyaksikan seluruh adegan itu dari tokonya. Tangannya yang memegang pulpen tanpa sadar mencengkeram begitu kuat. Ada rasa perih yang menghantam dadanya. Itu adalah kecemburuan seorang pria.
249Please respect copyright.PENANAEDARx7NBxl
Untuk pertama kalinya semenjak hubungan terlarang ini dimulai, Hermawan mendadak sadar akan posisinya. Siapa dirinya? Hanya seorang bapak-bapak berusia lima puluh lima tahun dengan rambut memutih, pemilik toko kelontong sederhana, yang tangan dan kulitnya kasar karena termakan usia. Sementara Sila adalah mahasiswi cantik yang memiliki dunia yang luas dan penuh warna di luar sana-dunia yang dihuni oleh pemuda-pemuda sebaya yang jauh lebih cocok bersanding dengannya.
249Please respect copyright.PENANADGUDYfn8jR
Malam itu, Hermawan menutup tokonya lebih cepat. Hatinya gundah, egonya terluka hebat. Dia menolak makan malam bersama Sumi dengan alasan kurang enak badan dan memilih merokok di halaman samping yang gelap, tepat di balik pohon mangga tempat mereka biasa bertemu.
249Please respect copyright.PENANAjJfUDmCj6v
Pukul sebelas malam, deru mobil mewah itu kembali terdengar, menurunkan Sila sebelum akhirnya melesat pergi. Hermawan tetap bergeming di kegelapan, membiarkan bara rokoknya menyala kecil.
249Please respect copyright.PENANAQxzCBN7qIN
Melihat siluet Hermawan di balik pohon, Sila langsung melangkah mendekati dengan wajah tanpa dosa.
249Please respect copyright.PENANAZsTyZWyhw1
"Pak Herman? Kok belum tidur? Aku kangen-"
249Please respect copyright.PENANAra4fFdo7vh
"Siapa pemuda tadi sore?" potong Hermawan cepat. Suaranya terdengar sangat dingin dan berat-jauh dari nada lembut yang biasa dia gunakan pada Sila.
249Please respect copyright.PENANA02kULMurgk
Sila tersentak kecil, namun sedetik kemudian senyuman tipis terbit di bibirnya. Dia menyadari ada nada cemburu yang kental dari pria paruh baya di depannya.
249Please respect copyright.PENANAyeEZlOBpQ0
"Oh, itu Aris. Teman satu kampusku. Kami kerja kelompok tadi."
249Please respect copyright.PENANA6RCr8uzpbY
"Teman kampus tidak perlu bertingkah seakrab itu, Neng. Dia jauh lebih cocok untukmu," ucap Hermawan, ada nada getir dan rendah diri yang coba ia sembunyikan di balik ketegasannya.
249Please respect copyright.PENANADDATjSQXsU
Sila menatap mata tajam Hermawan, melihat kerentanan ego dari pria gagah yang selama ini selalu mendominasinya.
249Please respect copyright.PENANA8AVTpsQTfr
Alih-alih marah karena diinterogasi, gairah Sila justru tersulut melihat betapa pria tua ini begitu takut kehilangannya.
249Please respect copyright.PENANAUMPxpJDpWc
Sila mencondongkan tubuhnya, mencengkeram kerah kaus Hermawan dengan kedua tangannya, memaksa wajah pria itu mendekat. "Dia memang muda, Pak," bisik Sila tepat di depan bibir Hermawan, matanya menggelap penuh tantangan. "Tapi dia tidak punya tubuh tegap seperti ini. Dia tidak tahu cara menyentuhku seperti yang Pak Herman lakukan. Aku tidak butuh bocah kemaren sore, aku butuh kamu."
249Please respect copyright.PENANADMz6TPAvEd
Ego maskulinnya mendadak bangkit kembali dengan kekuatan penuh yang berbahaya. Tanpa memedulikan risiko, tangan kekar Hermawan langsung merayap ke tengkuk Sila, menariknya kasar dan membungkam bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang penuh amarah, kecemburuan, dan kepemilikan.
249Please respect copyright.PENANA5Fkk5IpysW
Ciuman Hermawan malam itu terasa jauh lebih kasar dan menuntut daripada biasanya.
249Please respect copyright.PENANAK5nyZjoKQJ
Ini bukan lagi sekadar luapan rindu, melainkan pembuktian dari ego seorang pria dewasa yang terluka. Lidahnya menginvasi rongga mulut Sila, seolah ingin menghapus bersih sisa-sisa senyuman yang gadis itu berikan pada pemuda tadi sore.
249Please respect copyright.PENANAaEyfCyUvbf
Sila melenguh parau di tengah pagutan mereka. Bukannya berontak, cengkeramannya pada kerah kaus Hermawan justru semakin erat. Sensasi dari kemarahan pria ini memberikan ketegangan baru yang sangat memabukkan baginya.
249Please respect copyright.PENANAnHVKkibE9m
Hermawan langsung menyudutkan Sila ke batang pohon mangga yang besar. Gaun musim panas biru muda yang dikenakan Sila ditarik paksa ke atas, mengekspos paha dan pinggul mulusnya ke udara malam yang dingin.
249Please respect copyright.PENANARjKDYA53TA
"Pak... hhh... pelan-pelan..." bisik Sila tersengal-sengal saat ciuman Hermawan turun dengan beringas ke leher dan dadanya, meninggalkan tanda kemerahan yang tegas di atas kulit putihnya.
249Please respect copyright.PENANAWI6mjMbMfN
"Pak ayo di dalam rumah Sila. Mumpung lagi nggak ada orang. Kita bisa puas-puasin di kamar Sila,"
249Please respect copyright.PENANAkxv7XOBN6W
Tangan kasar Hermawan yang kapalan meremas paha dalam Sila dengan cengkeraman yang posesif, memisahkan kedua kaki gadis itu lebar-lebar untuk mengunci pergerakannya pada batang pohon.
249Please respect copyright.PENANAGhYpMYEnQA
"Kamu milik saya, Neng. Jangan pernah biarkan laki-laki lain menyentuhmu seperti ini,"
249Please respect copyright.PENANALT3C11Is9t
"Iya, Pak... ahh... cuma kamu..."
249Please respect copyright.PENANAhd8HxLDuW2
Tanpa membuang waktu untuk pemanasan yang lembut, Hermawan menanggalkan celananya sendiri. Dengan satu dorongan tegap dan penuh tenaga yang didorong oleh luapan emosi terpendamnya, ia menyatukan tubuh mereka dari depan.
249Please respect copyright.PENANA51RNcxbee8
"Ayo ke kamar Sila. Kita lanjutin,"
249Please respect copyright.PENANAg8aG9i5AT7
Lanjutan di Lynk lebih vulgar Add Part 08 | @redcamellia
https://lynk.id/redcamellia
Baca cerita lainnya di wp @redcamie
249Please respect copyright.PENANA8OtpOesp7F
249Please respect copyright.PENANAdD3MdM61TL


