Mata Ara berkedip beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya. Acara wisuda SMA-nya baru saja selesai digelar. Tema angkatannya adalah warna ungu, begitu juga dengan baju kebaya ungu yang dipakainya saat ini. Ada selendang tipis di kedua tangannya. Aula utama sekolahnya dipenuhi teman-teman seangkatannya dan para orang tuanya yang hadir. Semuanya saling berpelukan bahagia dengan orang tua masing-masing.
Ara berdiri mematung di tempatnya tepat di barisan kursi para wisudawati di sisi kiri panggung. Pandangannya fokus ke arah seorang laki-laki paruh baya mengenakan baju batik sambil membawa bunga mawar putih di tangannya. Dia mengenali bunga itu. Di belakangnya ada seorang perempuan paruh baya mengenakan terusan panjang dan berhijab panjang sambil menggandeng tangan mungil serta membawa tas. Di tasnya terdapat bunga mawar merah. Dia juga mengenali bunga itu.23Please respect copyright.PENANALxalIFpwl9
Dia menyiapkan bunga mawar putih dan merah serta surat kecil yang diikatkan pada masing-masing bunga tersebut setelah mendirikan sholat subuh berjamaah. Dia menyiapkan nya mendadak karena baru mengetahui kabar bahwa orang tuanya akan hadir saat acara wisudanya yang awalnya tidak bisa hadir. Mereka lah yang ditunggu-tunggu Ara. Kedua orang tuanya dan adik perempuannya.23Please respect copyright.PENANAHfdv5UG82q
Tiba-tiba air mata Ara luruh di kedua pipinya.23Please respect copyright.PENANAOYl41jdw3t
Dia bingung harus melakukan apa. Ini adalah kali pertama kedua orang tuanya datang ke sekolah asramanya selama dia bersekolah enam tahun lamanya. Wajah bapak dan mamanya yang tampak bahagia, bangga, dan rindu bercampur menjadi satu dipandanginya dengan lekat. Ekspresi itu begitu jelas meskipun dengan mata dan hidung yang memerah. Lalu dipandanginya wajah mungil adik perempuannya yang menggemaskan. Dia mendekati mereka dengan air mata yang terus jatuh di kedua pipinya.23Please respect copyright.PENANAkmYAPWFqsW
Perlahan Ara menggerakkan jari-jari tangannya dan membuka mata. Tangannya bergerak menghapus air mata yang berlinang di kedua pipinya.23Please respect copyright.PENANAK4gWJaxMNS
Mimpi?
Itu hanya mimpi.23Please respect copyright.PENANAMc9DWDN7mY
Mimpi yang terasa begitu nyata. Air matanya bahkan menjadi saksinya. Mimpi itu adalah mimpi indah. Mimpi indah karena bisa melihat wajah kedua orang tuanya dan adik perempuannya yang sangat dirindukannya saat ini.23Please respect copyright.PENANA5UgziibuNc
Berkali-kali dia tidur, berkali-kali dia bangun, dia tetap saja berada di negeri antah berantah tersebut. Itu lah bukti tidak terbantahkan bahwa dia memang sedang ada di negeri antah berantah tersebut. Dia menghembuskan napas berat lalu bergerak untuk menggerakkan tubuhnya yang agak pegal sebab tertidur dengan posisi duduk.
Menyadari ada yang menyelimuti tubuhnya dan dibuatkan perapian, ada rasa haru menghampirinya. Berkat itu, dia bisa beristirahat dengan nyaman, bahkan bermimpi indah. Setelah merasa cukup penuh sadar, dia berdiri dan berjalan menuju tempat Selir Choi, Dayang Hye Won, dan Pengawal Soo Ho sambil membawa selimut serta pedang naganya.
"Sudah bangun?" tanya Selir Choi.
Ara menganggukkan kepala satu kali.
Dayang Hye Won sigap menerima selimut yang Ara bawa.
Pengawal Soo Ho segera memberikan kentang dan ubi jalar bakar pada Ara.
"Kita harus melanjutkan perjalanan lagi," seru Pengawal Soo Ho.
Ara menerima kentang dan ubi jalar bakar tersebut. Dikupas nya dan dimakannya pelan karena tetap harus menjaga kain penutup wajahnya tertutup, layaknya muslimah bercadar. Selir Choi, Dayang Hye Won, dan Pengawal Soo Ho tidak bertanya tentang hal itu dan mereka sibuk makan masing-masing. Kini, Ara merasa nyaman bersama mereka.
"Anda cukup mengenal hutan ini," ujar Ara.
"Tentu saja. Kampung halamanku berada di desa pertama setelah melewati lembah dingin. Aku menghabiskan masa kecilku menjelajahi hutan ini. Tidak ada yang berubah sejak aku meninggalkannya terakhir kali menuju istana." Jawab Selir Choi jujur.
"Jika begitu, Yang Mulia bisa singgah sebentar." Sambung Dayang Hye Won.
Selir Choi menggelengkan kepala.
"Kita tidak akan melewati lembah dingin. Saat kia keluar dari goa, kita menuju turun bukit menyebrangi sungai dangkal yang ada di sana. Kita ikuti jalur yang ada hingga tiba di Desa Yuhan. Di sana lah tujuan kita untuk bertemu Komandan Han Gi Sung." Jelas selir Choi.
Mereka semua hanya menganggukkan kepala mengerti.
Setelah selesai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
23Please respect copyright.PENANAX6bA1tFiRp
^ ^ ^
23Please respect copyright.PENANAdIPTPIxdUO
Perjalanan kali ini lancar tidak ada hambatan. Sesampainya di gapura utama desa, Pengawal Soo Ho merasa aneh karena tidak ada yang menjaga. Dia berhenti sejenak untuk melihat daerah sekitar. Setelah merasa aman, Pengawal Soo Ho melanjutkan memasuki desa. Ara dan Dayang Hye Won mengekori dari belakang. Keadaan desa begitu sepi bagaikan tidak berpenghuni. Tidak ada suara, tidak ada orang, dan tidak ada pergerakan. Beberapa saat kemudian, mereka bisa melihat rumah-rumah yang tampak tidak utuh. Ada bekas kebakar.
Ara menyadari sesuatu.
Mereka berhenti tepat di pusat desa yang juga lengang. Mereka turun dari kuda masing-masing kecuali Ara. Mata Ara melihat ke sekeliling dengan napas yang tiba-tiba terasa sesak. Ingatan itu kembali muncul ke permukaan. Ingatan saat menyaksikan si laki-laki dan si perempuan dibunuh. Itu adalah awal mula dia menjadi pembunuh.
"Yong Dae," panggil Selir Choi.
Ara melihat Selir Choi sambil menyembunyikan kondisi perasaannya.
"Kamu baik-baik saja?" lanjut Selir Choi.
Ara hanya menganggukkan kepala.
"Yang Mulia, ada yang aneh di sini. Desa ini kelihatan seperti tidak berpenghuni. Apakah Yang Mulia yakin ini adalah tempatnya?" tanya Pengawal Soo Ho mengalihkan.
"Iya, benar. Kamu lihat itu," tunjuk Selir Choi pada papan di tengah-tengah balai desa yang kosong. Papan itu bertulisan Desa Yuhan.
Ara menundukkan kepalanya mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tangan kanannya yang memegang tali kekang kudanya mulai gemetar. Napasnya memburu. Tangan kirinya memegang erat kain pengikat pedang naganya yang ada di dadanya. Sejak bahu tangan kanannya sakit, dia mengikat pedang naganya dan diikatnya di bahu kirinya. Dengan begitu, pedang naganya berada di punggungnya.
Ketakutan dan kepanikan menjalari seluruh tubuh Ara.
Kenapa balik lagi ke rumah?
Hal terakhir yang Ara ingat tentang tempat itu adalah berantakan porak-poranda. Rumah-rumah yang dibakar, orang-orang yang dibunuh, begitu juga dengan si laki-laki dan si perempuan. Dia juga ingat noda darah yang banyak menempel di mana-mana. Namun, tempat ini sekarang bersih. Tidak ada mayat satu pun. Noda darah bahkan tidak meninggalkan bekas. Tempat itu sangat bersih tampak ada yang sengaja membersihkannya.
"Kita cari saja rumahnya. Komandan Han Gi Sung seorang pandai besi, jadi cari tempat pandai besi. Kemungkinan rumahnya berada tidak jauh dari sana." Kata Selir Choi memberikan perintah.
"Baik," jawab Pengawal Soo Ho.
Selir Choi kembali masuk ke dalam tandu berkudanya. Pengawal Soo Ho segera naik ke tempat pengemudi tandu berkuda Selir Choi. Dayang Hye Won juga langsung menunggangi kudanya kembali.
Ara menoleh cepat ke rumah yang berada di sampingnya saat telinganya sempat mendengar ada suara. Diperhatikannya sebentar tetapi tidak menemukan pergerakan. Perasaan di hatinya mulai tidak enak. Kuda yang ada di depannya mulai bergerak. Dia pun ikut bergerak maju. Sesampainya di sebuah tempat yang tapak seperti bekas pandai besi, mereka turun dari kuda lagi. Kali ini, Ara juga ikut turun.
Mereka mulai bergerak memeriksa beberapa rumah di dekat tempat pandai besi dengan Pengawal Soo Ho yang memimpin jalan. Setiap rumah terlihat kosong dan tidak menunjukkan bahwa ada penghuni sebelumnya. Mereka merasa aneh tetapi memilih diam dan terus bergerak menuju rumah yang berada di ujung barisan sebelum jalan pertigaan.
Langkah kaki Ara menjadi berat menuju rumah tersebut. Rumah itu adalah rumah yang ditinggalinya bersama si laki-laki dan si perempuan. Saat tiba di halaman rumahnya, Ara berhenti melangkah. Dia tidak mampu jika harus masuk ke dalam rumah tersebut. Saat masih dilanda gundah, ada pergerakan kaki yang mendekat. Itu bukan hanya satu orang. Seketika Ara menoleh ke belakang. Matanya melihat ada pasukan berpakaian hitam sudah mengelilingi rumah tersebut.
Mereka?23Please respect copyright.PENANAfOJNkYZ2CL
Kenapa mereka ada disini?23Please respect copyright.PENANAU1RJAUHTSB
Balas dendam? Ke gua?23Please respect copyright.PENANAKtBTQ80Fl4
Wah, bener ternyata. Mereka bisa menemukan gua. Sialan.23Please respect copyright.PENANA0bW6PXoSBX
Sebenarnya mereka siapa, sih?23Please respect copyright.PENANAjJtrVJm0pI
Bertepatan dengan itu, Pengawal Soo Ho bersama Selir Choi dan Dayang Hye Won yang belum sempat masuk rumah tersebut berjalan mundur ke belakang menuju tempat Ara. Ada beberapa orang yang keluar dari dalam rumah tersebut. Ara menoleh kembali melihat depan. Pengawal Soo Ho seketika waspada sambil menggiring Selir Choi dan Dayang Hye Won mencapai tempat Ara.
Ah, elah...23Please respect copyright.PENANA6BcyjOMDIX
Siapa lagi mereka?23Please respect copyright.PENANAsz5wLnZa9l
Pemimpinnya?23Please respect copyright.PENANAiHeE0nSUaa
Mata Ara melihat laki-laki bangsawan yang berdiri paling depan terlihat gagah dengan pedangnya. Dia adalah Kim Young. Ada laki-laki bangsawan lain di sampingnya dengan pakaian tidak semewah Kim Young, yaitu Hyun Tak, yang juga membawa pedang. Di bagian tengah, ada dua orang perempuan. Yang satu tampak sudah berumur 50 tahun ke atas. Sedangkan yang satunya lagi tampak masih muda, berparas sangat cantik, dan mempesona. Mereka adalah Ji Soo dan A Young.
Tepat di belakang mereka, sisi kanan, ada dua orang laki-laki bangsawan yang juga memegang pedang. Salah satu dari keduanya yang berpakaian mewah terlihat begitu tampan menyilaukan. Mereka adalah Pangeran Yi Joon dan Hyuk. Di barisan paling belakang terdapat laki-laki lainnya dengan pakaian hijau yang tampak begitu mengerikan.
"Siapa kalian?" tanya Pengawal Soo Ho mewakili.
"Kami menunggu kedatangan kalian," jawab Kim Young. "Putri Yi Ara?" lanjutnya bertanya sambil memandangi Selir Choi.
Mendengar itu, Selir Choi terbelalak lebar.
Ara terkejut mendengarnya tetapi berusaha tidak berekspresi.
"Siapa kalian?! Kenapa kalian mencari Tuan Putri yang sudah mangkat?!" kali ini Selir Choi yang bersuara.
Ara melirik Selir Choi dari ujung matanya.
"Sepertinya bukan, tidak mungkin Putri Yi Ara setua Anda." Lanjut Kim Young yang tersenyum menyeringai.
Pengawal Soo Ho seketika menarik pedangnya dari sarungnya.
23Please respect copyright.PENANAwiH68NfG9J
23Please respect copyright.PENANAvV9g6LUcJ5
23Please respect copyright.PENANAa7xWN3LGRu
Bersambung...
23Please respect copyright.PENANAz0v5nKPwfg
23Please respect copyright.PENANAIGGgTjPK0u
23Please respect copyright.PENANAWuabCSoZdr
23Please respect copyright.PENANAJsyYsQ3fTu


