"Siapa namamu?"
185Please respect copyright.PENANARP8LQ8RKq1
Ratna sedikit mendongakkan wajahnya yang merona manis, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai melewati bahunya. Senyuman lebar kembali merekah di bibir basahnya seiring dengan suaranya yang melengking riang membalas pertanyaanku tanpa ada keraguan sedikit pun.
185Please respect copyright.PENANAJj3BABpV24
"Aku Ratna!"
185Please respect copyright.PENANAJ0NoTFEHVz
Setelah pertukaran nama itu, kesunyian mendadak merayapi sudut meja kami. Kami saling melemparkan pandangan lurus dari jarak dekat, memosisikan wajah kami saling berhadapan dalam keheningan yang intens. Di balik tatapan matanya yang polos, Ratna tampak menahan napasnya sejenak seolah terpesona oleh jarak intim yang tercipta di antara kami di bawah remangnya cahaya lampu kedai.
185Please respect copyright.PENANA41fU7eCd2s
Di atas permukaan meja kayu, three botol bir kosong berwarna cokelat tua masih berdiri dengan bayangan lampu yang memanjang di atas ubin. Beberapa meter di belakang posisi duduk kami, sebuah mesin kasir monitor hitam di atas meja konter tampak sepi, memisahkan hiruk-pikuk obrolan para mahasiswa lain dengan sudut dunia kecil yang mulai terbangun di antara aku dan Ratna.
185Please respect copyright.PENANAylb9qVYVwD
"Eh? Kamu juga suka dengan film itu? Aku menyukai karya sutradaranya."
185Please respect copyright.PENANApMjzfmQYfa
Aku mendadak mengubah posisi dudukku menjadi tegak, mengangkat tangan kiriku maju ke depan dengan jari telunjuk yang menunjuk aktif ke udara untuk mengekspresikan rasa terkejut sekaligus antusias. Kulit wajahku mulai memerah padam akibat pengaruh alkohol dan luapan gairah obrolan yang mendadak terasa sangat cocok di antara kami, sementara tangan kananku refleks menyentuh dada bidangku sendiri.
185Please respect copyright.PENANAsABtaK9UVl
"Benarkah? Aku belum pernah menemui pria yang suka dengan karya sutradara ini."
185Please respect copyright.PENANAbcx8BUQHbP
Ratna menanggapi kalimatku dengan gerakan yang tidak kalah bersemangat. Wajah cantiknya condong semakin dekat ke arah meja seiring dengan tangan kirinya yang terangkat halus melambai santai di udara, sementara tangan kanannya yang memegang gelas bir tampak bergoyang halus seirama dengan dinamika emosinya yang melonjak drastis.
185Please respect copyright.PENANAFPAMh1KcSc
"Hahaha!"
185Please respect copyright.PENANAVDH8CYSAKI
Tawa lepas akhirnya pecah dari tenggorokanku tanpa bisa ditahan lagi. Aku mendongakkan kepalaku tinggi-tinggi ke atas dengan mulut terbuka sangat lebar hingga memperlihatkan deretan gigi rapi di dalam rongga mulutku. Sepasang mataku terpejam rapat dengan seluruh permukaan wajah yang memerah pekat, sepenuhnya larut dalam luapan kegembiraan ganda yang belum pernah kurasakan sebelumnya dari gadis mana pun di kampus ini.
185Please respect copyright.PENANAamf4Xh3MIE
"Ini hebat! Kalau begitu mungkin kamu harus ikut membantuku dalam proyek seniorku."
185Please respect copyright.PENANAUETFLqU5AZ
Aku perlahan menurunkan kembali posisi kepalaku, mencondongkan seluruh tubuh atasku ke arah permukaan meja kayu sembari menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata Ratna yang berada tepat di hadapanku. Dengan senyuman tipis yang masih tersisa di bibirku, aku meletakkan kedua lengan jaket hijau zaitunku di atas meja, lalu kembali melontarkan kalimat ajakan dengan nada suara yang terdengar sangat intim dan penuh dominasi seorang kakak tingkat.
185Please respect copyright.PENANAr0lLn5nei9
"Kamu belum pernah mengerjakan proyek bersama kakak tingkatmu, kan?"
185Please respect copyright.PENANAKKJUrmtbw6
"Dengan senang hati!"
185Please respect copyright.PENANAFJLpKbiD1c
Pekikan riang itu lolos begitu saja dari mulut Ratna yang terbuka lebar. Kedua belah matanya terpejam rapat membentuk garis lengkung yang menggemaskan seiring dengan seluruh permukaan wajahnya yang memerah padam akibat luapan rasa gembira. Dia merapatkan kedua telapak tangan halusnya di depan dagu, menyatukan jemarinya dalam gestur takjub yang penuh kepasrahan atas tawaran emas yang baru saja kuberikan.
185Please respect copyright.PENANADpBDnQd03x
"Terima kasih!"
185Please respect copyright.PENANAENwOeu5DOQ
Ratna segera menggeser posisi tubuhnya, bangkit berdiri dari sofa lalu membungkukkan seluruh tubuh atasnya dalam-dalam ke arahku sebagai bentuk rasa hormat. Saat dia menunduk ekstrem seperti itu, kaus rajut lengan panjang putihnya yang ketat semakin melorot ke bawah, mengekspos belahan payudara besarnya yang bulat dan padat dengan sangat jelas dari sudut pandang atas tempatku duduk. Di balik potongan leher baju yang rendah, tampak tali bra berwarna merah muda lembut melekat erat pada permukaan kulit bahu hitam manisnya yang mulus, menopang aset berharganya yang membusung sensual seiring dengan kedua tangannya yang kini bertumpu di sela paha mulusnya yang berbalut celana pendek hitam minim.
185Please respect copyright.PENANAFN0WUv491y
Pandangan mataku yang semula lurus mendadak terkunci tepat pada celah belahan payudara besar Ratna yang menyembul pasrah di hadapan wajahku. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat dengan sangat detail bagaimana tali bra merah muda itu sedikit menekan permukaan kulit halusnya seiring dengan bayangan rona merah yang merayapi area dadanya akibat rasa antusias yang membara.
185Please respect copyright.PENANAKFeHnbuHYj
"Ti- tidak perlu berterima kasih."
185Please respect copyright.PENANA9ufOVadP4n
Aku mengepalkan tangan kananku di depan mulut, mengeluarkan suara batuk kecil yang sengaja dibuat-buat untuk menyembunyikan rasa gugup yang mendadak menyerang kesadaranku. Seluruh permukaan wajahku seketika memerah padam hingga ke pelipis, sementara sepasang mataku refleks melirik ke arah samping, tidak berani menatap langsung lekukan tubuh sensual mahasiswi baru yang berdiri di depanku ini.
185Please respect copyright.PENANA3qa81QwWvH
Ratna perlahan menegakkan kembali seluruh tubuh atasnya, membiarkan beberapa helai rambut hitam panjangnya jatuh membingkai wajah cantiknya. Dia menatap ke arah profil samping wajahku dengan sepasang mata hitam legamnya yang menyipit lembut, mengulas senyuman tipis yang sarat akan makna kepasrahan di kedua sudut bibirnya yang basah.
185Please respect copyright.PENANAyMdNr8Mvqu
Suara riuh tawa dari para mahasiswa lain di dalam kedai berlantai dua itu perlahan-lahan mulai memudar, bergema pelan di antara dinding bata merah kompleks pertokoan seiring dengan kesadaranku yang berangsur-angsur ditarik kembali menuju dunia nyata. Di luar jendela, cahaya neon dari papan nama bertuliskan BBQ Beef Ribs dan Seafood tampak berpendar redup, menyiram permukaan jalanan yang sepi di bawah keheningan malam pekat yang kian larut.
185Please respect copyright.PENANAgBPkNCDuvb
Limpahan cahaya mentari pagi yang hangat menembus celah jendela, menerangi permukaan dinding kamar tidurku yang bertekstur geometris putih bersih. Sebuah bingkai foto kayu berwarna cokelat tua berisi lukisan dedaunan hijau tergantung rapi tepat di sebelah daun pintu kamar berbahan kayu jati yang masih tertutup rapat, menciptakan suasana minimalis yang tenang dan sunyi di awal hari.
185Please respect copyright.PENANAkcFOzDDQnf
Di balik dinding kamar yang kokoh, deretan buku bersampul tebal berjejer rapi di atas rak kayu cokelat tua yang tinggi menjulang hingga mendekati langit-langit. Sebuah kursi santai berbusa ungu muda dengan rangka kayu berdiri statis di sudut ruangan, mendampingi siluet sofa panjang kelabu tempat seprai putih tampak menjuntai di atas ubin lantai yang hangat.
185Please respect copyright.PENANAt9MabQ3dHT
Aku masih berbaring telentang di atas kasur empukku seiring dengan sisa-sisa memori beberapa bulan lalu yang perlahan memudar dari dinding kesadaranku. Kelopak mataku terpejam rapat, menikmati kehangatan selimut bantal yang membungkus tubuh polosku sebelum akhirnya sebuah debaran tipis di pelipis membuatku terjaga sepenuhnya dari tidur nyenyakku.
185Please respect copyright.PENANAJb8LQ4TfGy
Aku mengerjapkan sepasang mataku perlahan, membuka kelopak mata cokelat gelapku sedikit demi sedikit seiring dengan perpindahan gerak kepalaku yang menoleh lemas ke arah atas. Sinar matahari pagi yang masuk membuat sudut mataku sedikit berair, memaksa jemari tangan kananku bergerak naik untuk mengusap pelipis wajahku yang masih terasa berat akibat sisa kelelahan tidur malam.
185Please respect copyright.PENANA0nnsmSTdRK
Aku mengumpulkan seluruh sisa tenagaku, lalu mulai menggerakkan tubuh polosku untuk bangkit duduk di atas kasur empuk. Aku mengangkat kedua lengan berototku tinggi-tinggi ke atas udara, menjalin jemari kedua tanganku erat-erat seiring dengan punggungku yang melengkung tajam meregangkan persendian otot yang kaku. Selimut biru tua yang semula membungkus rapat pinggulku kini melosot hingga ke batas paha, memperlihatkan kaus dalam putih polos dan celana olahraga hitam bergaris putih yang melekat santai di tubuhku pagi ini.
185Please respect copyright.PENANAw9xS6sWTUS
Aku menurunkan kembali kedua lenganku, membiarkan telapak tangan kananku bertumpu lesu di atas dahi untuk memijat pelipis wajahku yang terasa pening. Mataku menyipit menahan rasa tidak nyaman seiring dengan hela napas berat yang keluar dari celah bibirku, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menggelayuti kesadaranku pagi ini.
185Please respect copyright.PENANAaeHRE21I5C
Keheningan di dalam kamar tidurku mendadak terusik saat sebuah getaran ritmis terasa dari arah samping tubuhku. Aku segera mengulurkan tangan kananku ke atas seprai bergaris untuk meraih ponsel pintar hitam yang bergetar aktif, memosisikan jemariku erat membungkus pinggiran layarnya yang menyala terang.
185Please respect copyright.PENANARrUdFWElDQ
Aku menekuk lututku sedikit seiring dengan perubahan posisi dudukku yang kini bergeser ke tepi tempat tidur. Aku memosisikan layar ponsel pintar itu tegak lurus di hadapan wajahku, membiarkan sepasang mataku membaca baris demi baris untaian teks pesan digital yang baru saja kukirimkan ke nomor kontak Ratna.
185Please respect copyright.PENANAZw5h2jDGSt
"Ini aku, Wisnu. Apa kamu tidak sibuk hari ini? Mau pertemuan?"
185Please respect copyright.PENANA6n9vMnfVp2
Aku menatap lekat-lekat pada gelembung obrolan berwarna abu-abu yang menampilkan ilustrasi wajah kecilku dari sudut atas layar.
185Please respect copyright.PENANAe7xgL1Xf4Y
Hanya butuh beberapa detik bagi sebuah balasan baru untuk muncul di layar ponselku. Layar berkedip menampilkan kotak pesan kuning pucat lengkap dengan ikon wajah kecil Ratna yang tersenyum lebar dengan mata berbinar jenaka.
185Please respect copyright.PENANAKz0iamddWM
"Baiklah! Kita mau pertemuan di mana?"
185Please respect copyright.PENANAih6Zj6NKLj
Membaca balasan kilat tersebut, sudut bibirku refleks bergerak naik, mengukir seulas senyuman tipis seiring dengan kepalaku yang sedikit menunduk menatap layar kaca.
185Please respect copyright.PENANAMIkb3SYsez
Aku segera menggerakkan jempol kananku secara dinamis di atas papan ketik digital, mengetik sebaris kalimat balasan berikutnya untuk memosisikan rencana kami hari ini.
185Please respect copyright.PENANAECOvOyJRlK
"Hm... kita harus membicarakan banyak hal sambil nonton film, jadi datanglah ke rumahku."
185Please respect copyright.PENANAWjn2bppKOk
Sebuah gelembung jawaban baru kembali muncul dari sisi bawah, menampilkan respons Ratna yang tampak terkejut.
185Please respect copyright.PENANAobLyYYu2oL
"Wah... aku belum pernah main ke rumah anak laki-laki sebelumnya."
185Please respect copyright.PENANAmu5cReKCyc
Belum sempat aku mengetik jawaban, sebuah pesan lanjutan dari Ratna kembali meluncur masuk dengan ikon wajah kartunnya yang tertawa lepas hingga kedua pipinya merona merah.
185Please respect copyright.PENANAQJq9JScLv5
"Kamu tidak ingin menyekapku atau semacamnya, kan?"
185Please respect copyright.PENANAfND227Gz4d
Sepasang mataku terbelalak kecil membaca teks candaan yang tidak terduga itu. Setitik keringat dingin refleks muncul di pelipis wajahku seiring dengan tubuhku yang sedikit menegang menatap layar ponsel.
185Please respect copyright.PENANA3yr5739XDr
Aku mengepalkan tangan kiriku di depan mulut seiring dengan rona merah tipis yang mendadak merayapi kedua belah pipiku akibat rasa malu yang terusik. Aku kembali menundukkan kepala, memfokuskan pandanganku pada ketikan pesan balasan berikutnya untuk menetapkan umpan candaan balik yang tidak kalah ekstrem.
185Please respect copyright.PENANA0hwC9UihHw
"Entahlah, tapi selama aku memberimu makanan enak, itu bukan masalah, kan?"
185Please respect copyright.PENANAiROSnJCJcX
Aku menggeser jempolku untuk mengirimkan baris teks tambahan tepat di bawah gelembung pesan sebelumnya.
185Please respect copyright.PENANAUqGhivRwbR
"Bagaimana kalau kamu kuberi daging setiap hari?"
185Please respect copyright.PENANAmJmaVI452V
Ratna langsung membalas pesanku dengan ikon wajah kartun yang dihiasi dua buah tanda hati berwarna merah muda di atas kepalanya. Kedua jari telunjuk ilustrasi tersebut menunjuk aktif ke arah samping dengan ekspresi tawa yang sangat renyah.
185Please respect copyright.PENANATd8t8bTI7i
"Boleh juga, jangan lupa dengan alkoholnya ya! Hahaha."
185Please respect copyright.PENANA2w7RWgWtRG
Aku meletakkan ponselku sedikit menjauh seiring dengan senyuman lebar yang kini merekah sempurna di wajahku. Aku menggelengkan kepala lemas, membiarkan helai rambut hitam pendekku bergerak halus mengikuti dinamika tubuhku yang kini terasa jauh lebih rileks di atas kasur.
185Please respect copyright.PENANAiIh3TIRSNH
"Aku tidak percaya, dia bahkan menggunakan hal semacam ini sebagai candaan."
185Please respect copyright.PENANAGwJ2IF32Zf
Aku meracik lirih di dalam hati seiring dengan rona merah di pipiku yang perlahan memudar diterpa cahaya matahari pagi.
185Please respect copyright.PENANA2eVrFt7jhE
Tapi alasan sebenarnya kenapa dia suka bercanda yaitu...
185Please respect copyright.PENANAIYpuXRhM18
Beberapa jam kemudian, bel pintu apartemenku berbunyi pendek, membuatku segera melangkah untuk membuka daun pintu kayu jati di hadapanku. Aku merentangkan tangan kananku lebar-lebar mencengkeram pinggiran kusen pintu, sementara tubuh atasku yang berbalut kaus dalam putih polos bergerak condong ke depan untuk menyambut kedatangannya.
185Please respect copyright.PENANAg6CDZzuAg9
Sesosok Ratna berdiri tegak tepat di ambang pintu masuk, memberikan impresi yang sangat manis dan feminin di siang hari yang cerah ini. Ratna mengenakan sweter rajut longgar berwarna kuning kunyit lembut dengan potongan leher bundar yang santai, dipadukan dengan rok mini jins hitam yang sangat ketat menonjolkan pangkal paha mulusnya. Sebuah tas jinjing kulit berwarna putih bersih tergantung anggun di bahu kirinya, sementara kedua tangan halusnya menekuk ke bawah untuk menggenggam erat sebuah kotak kue persegi berwarna merah muda di depan tubuhnya. Rambut hitam panjangnya terurai rapi, membingkai senyuman tipis yang manis di bibir kecilnya seiring dengan sepasang mata hitam legamnya yang menatap lurus ke arah sepasang mataku.
185Please respect copyright.PENANAXCU7W02jMI
...Karena dia sangat menyukai anime.
185Please respect copyright.PENANAazCoKqU891
Kami duduk berhadapan di ruang tengah apartemenku, dipisahkan oleh sebuah meja persegi panjang berwarna hitam legam. Ratna melipat kedua kakinya ke samping, memosisikan tubuh rampingnya di atas ubin beralas karpet rajut dengan sangat anggun. Pakaian sweter kuning kunyit lembutnya tampak sedikit melonggar di sekitar bahu seiring dengan jemari tangan kanannya yang aktif memegang garpu kecil, bersiap menyantap hidangan kue. Di seberangnya, aku duduk bersila mengenakan kaus dalam putih polos dan celana olahraga hitam bergaris putih, menatap pasrah pada piring berisi potongan kue tart bersalut stroberi merah dan anggur ungu yang baru saja kami buka dari kotak merah muda.
185Please respect copyright.PENANAqpEB6cDbOM
Kupikir dia hanya suka menontonnya saja, tapi ternyata...
185Please respect copyright.PENANAhrMsFv6fhY
"Apa!?"
185Please respect copyright.PENANA4MVOIV3tDR
Pekikan kaget langsung lolos dari mulutku yang terbuka lebar, membuat potongan kue yang baru saja kusuap tertahan di ujung bibir. Sepasang mataku terbelalak sempurna dengan dahi berkerut dalam, menatap lurus ke arah profil wajah Ratna seolah baru saja mendengar sebuah rahasia besar yang mengguncang kesadaranku.
185Please respect copyright.PENANATkpYz2LitJ
"Cosplay!?"
185Please respect copyright.PENANAvxO7rAGiyb
Aku kembali menegaskan kata tersebut dengan volume suara yang sedikit meninggi. Garpu perak di tangan kananku tertahan di udara, bergetar seiring dengan dinamika keterkejutanku yang tidak bisa disembunyikan lagi siang ini.
185Please respect copyright.PENANAa1WXgbGM9V
"Kamu seorang cosplayer?"
185Please respect copyright.PENANA8LzWlll4WI
Aku memosisikan tubuhku sedikit condong ke depan, menuntut penjelasan lebih detail dari mahasiswi baru yang duduk pasrah di hadapanku tersebut.
185Please respect copyright.PENANAaXgazWWrjb
"Iya, aku melakukannya sejak masih SMP."
185Please respect copyright.PENANABTv5w9CjWI
Ratna menjawab pertanyaanku dengan nada suara yang sangat renyah dan bangga, memperlihatkan rona merah tipis yang merekah di kedua belah pipinya yang putih bersih. Jari-jari tangan kanannya bergerak membuka ritsleting tas jinjing putih yang dipangkunya, meraba bagian dalam untuk mencari sesuatu sebelum kembali mendongak menatap sepasang mataku dengan binar jenaka.185Please respect copyright.PENANAv39Drset7n


