Temanku mendadak memutar kepalanya ke arah kanan, membuka mulutnya lebar-lebar dengan ekspresi riang untuk memecah kesunyian di antara langkah kaki kami.
280Please respect copyright.PENANAZqW8l4tGL6
"Hei Wisnu, kamu akan datang ke pesta penyambutan kan?"
280Please respect copyright.PENANAVf13DG2wRX
Aku tidak langsung menghentikan langkahku, melainkan hanya meliriknya sekilas dari sudut mata sembari tetap mempertahankan pandangan lurus ke depan. Aku membuka mulut sedikit, memberikan jawaban dengan nada suara yang terdengar sangat tenang namun tegas.
280Please respect copyright.PENANAjR7T93DsLW
"Kenapa aku harus datang ke sana? Kita kan senior."
280Please respect copyright.PENANA9wo4N9Kdk1
Aku mengulas senyuman tipis yang sarat akan rasa percaya diri, membiarkan helai rambut hitam pendekku bergerak halus seiring dengan kepalaku yang sedikit condong ke arahnya saat melanjutkan kalimatku.
280Please respect copyright.PENANAEXRMIDCNgV
"Kehadiran kita hanya akan membuat para mahasiswa baru menjadi canggung."
280Please respect copyright.PENANA6pWFR3etXn
"Ayolah... kau tidak mungkin melewatkannya kan?"
280Please respect copyright.PENANAqS3bxDDaCO
Temanku mendongakkan kepalanya sedikit, menatapku dengan sudut mata yang menyipit jenaka di balik pelindung topi putihnya. Mulutnya terbuka setengah, mencoba membujukku agar mau mengubah keputusan kaku yang baru saja kulontarkan.
280Please respect copyright.PENANA9AwPkU9Mrb
Di depan kami, langkah kaki kami berdua seketika terhenti saat melihat kerumunan gadis di ujung koridor. Ratna sedang berdiri di tengah-tengah dua temannya, dikelilingi oleh atmosfer ceria yang dipenuhi gelak tawa lepas. Di sebelah kanan Ratna, seorang gadis berambut bob hitam pendek memakai kemeja rajut putih berkerah tinggi yang menonjolkan belahan payudara besarnya secara implisit, dipadukan dengan rok mini hitam ketat serta kaus kaki hitam panjang hingga ke lutut. Sementara di sebelah kiri Ratna, seorang gadis berkacamata bulat besar mengenakan pakaian kodok terusan jins denim biru longgar di atas kaus putih lengan panjang, rambutnya diikat rapi dengan bando kuning di atas dahinya sembari memegang papan ujian kayu. Mereka tampak saling mencengkeram lengan jaket merah muda Ratna dengan ekspresi yang sangat akrab.
280Please respect copyright.PENANAttGu1CAaKt
Temanku dan aku menghentikan seluruh pergerakan dinamis tubuh kami, berdiri tegak berdampingan sembari melemparkan pandangan lurus ke arah gerombolan mahasiswi baru tersebut dari jarak beberapa meter. Di bawah siraman cahaya lampu koridor, siluet tubuh kami berdua terpancar kontras dari sudut pandang belakang kerumunan para gadis.
280Please respect copyright.PENANAyQmRnwwPtI
Aku memicingkan sepasang mataku, memfokuskan seluruh arah pandanganku secara tajam ke depan. Kedua alis mataku bertaut tipis di atas pangkal hidung seiring dengan bibirku yang tetap terkatup rapat, memperhatikan dinamika interaksi mereka yang tampak sangat berisik tanpa berniat menyapa lebih dulu.
280Please respect copyright.PENANA7xEqXANJeF
"Benarkah?"
280Please respect copyright.PENANAUt15id6Hqu
Suara lantang Ratna kembali memecah keheningan koridor saat dia memosisikan tubuh sintalnya menghadap ke arah temannya yang berkemeja putih. Jemari kedua tangan halusnya saling bertautan erat di depan dada seiring dengan senyuman lebar yang merekah sempurna di wajah cantiknya, membiarkan jaket merah muda longgarnya sedikit melosot di sekitar bahu.
280Please respect copyright.PENANAotffe7kxKp
Gadis berkemeja putih di sebelahnya mendadak menghentikan kalimatnya, membuka mulut sedikit dengan sepasang mata yang terbelalak kaget saat menyadari kehadiran kami berdua yang berdiri diam di dekat mereka. Ratna yang menyadari perubahan ekspresi tersebut langsung mengalihkan pandangan matanya, menatap bingung dengan sebelah tangan yang refleks bergerak naik menyentuh leher kemeja putihnya sendiri.
280Please respect copyright.PENANAcnwCUnssxW
Melihat kesempatan itu, temanku yang bernama Bimo tidak menyia-nyia-kan waktu. Dengan gerakan dinamis yang sangat santai, dia melangkah maju satu kali lalu mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi ke atas udara, melambaikan telapak tangannya terbuka lebar ke arah ketiga gadis tersebut seolah sudah sangat mengenal mereka.
280Please respect copyright.PENANApwPoHwpPzw
"Hei, kalian mau pergi ke pesta penyambutan?"
280Please respect copyright.PENANAppkTbpJpxs
Panggilan Bimo yang ramah itu langsung disambut dengan anggukan cepat oleh gadis berkacamata bulat. Wajahnya berputar dinamis menghadap ke arah kami dengan mulut yang terbuka lebar mengekspresikan rasa antusias, sementara Ratna yang berada di sampingnya hanya bisa ikut menoleh pelan dengan tatapan mata hitam legamnya yang tampak sedikit ragu dan canggung.
280Please respect copyright.PENANAijI2EjCeae
"Iya! Kalian ikut juga kan?"
280Please respect copyright.PENANADPd8MdmraS
Bimo dan aku masuk ke universitas ini di tahun yang sama, tapi dia kembali kuliah lagi setelah mengikuti wajib militer. Kurasa itulah sebabnya dia dekat dengan anak-anak baru. Aku menurunkan tangan kanan untuk menopang dagu, membiarkan jemariku menyentuh permukaan rahangku yang kaku seiring dengan kepalaku yang sedikit miring ke samping. Pandangan mataku melunak pasrah, menyaksikan bagaimana Bimo begitu mudah membaur dengan lingkungan sekitar sementara pikiranku sendiri masih tertahan pada batas-batas kedewasaan yang berbeda di kampus ini.
280Please respect copyright.PENANAgNRjYuxMyv
Aku melirikkan sepasang mataku ke arah samping untuk menatap sosok Ratna yang masih sibuk mengobrol di dekat tangga koridor. Mulutku terkatup rapat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, sementara ekspresi wajahku tetap datar menanggapi ajakan berisik dari anak-anak baru tersebut.
280Please respect copyright.PENANAJ0nWbVjixz
Ratna mendadak menghentikan tawa renyahnya saat merasakan sepasang mata asing tengah tertuju padanya. Dia mengerjapkan kelopak mata indahnya sekali, lalu menggerakkan seluruh kepalanya secara dinamis untuk membalas arah pandanganku. Sepasang mata hitam legamnya yang bulat berbinar polos, menatap lurus ke arah wajahku dengan ekspresi bingung bercampur terkejut karena diperhatikan sedemikian rupa oleh seorang senior.
280Please respect copyright.PENANADObu9MCw0z
Aku segera memalingkan seluruh tubuhku ke arah berlawanan, tidak ingin larut dalam kecanggungan interaksi yang tidak penting itu. Ujung jemari tangan kananku bergerak naik untuk menyentuh permukaan daguku seiring dengan langkah kakiku yang mulai bergeser menjauhi area tangga koridor lantai dua. Bimo yang menyadari perpindahan gerakanku langsung menolehkan wajahnya dengan ekspresi kaget yang kentara.
280Please respect copyright.PENANAEgftWq4ttI
"Ayo pergi."
280Please respect copyright.PENANAwIDJSLAi59
Bisikan pendek itu keluar begitu saja dari bibirku, mengabaikan lambaian tangan hangat yang semula dilemparkan Bimo kepada para mahasiswi baru di hadapan kami.
280Please respect copyright.PENANADMs1MTuIoH
Ratna mengangkat tangan kanannya, menempelkan punggung jemarinya di bawah dagu sembari menatap kepergian punggungku dengan kerutan tipis di antara kedua alisnya. Wajah cantiknya sedikit memerah tipis akibat rasa penasaran yang mendadak terusik di dalam benaknya. Gadis berkemeja putih di sebelah kanannya melirik sekilas, lalu membuka mulut sedikit dengan gestur berbisik.
280Please respect copyright.PENANAa7Hhnryu54
"Ada apa dengan pria itu?"
280Please respect copyright.PENANASBeN1bS8Bd
"Entahlah."
280Please respect copyright.PENANAQafsYssz2q
Ratna menyahut sangat lirih seiring dengan sepasang temannya yang ikut melemparkan pandangan heran ke arah koridor yang lengang.
280Please respect copyright.PENANAvJZQEWDOao
Meskipun pembawaanku terasa kaku dan dingin, sepasang mata hitam legam milik Ratna tetap tidak bisa beralih sepenuhnya dari bayangan sosokku yang perlahan menghilang di balik tikungan lorong kampus. Rona merah di kedua belah pipinya justru semakin pekat memenuhi permukaan kulit wajahnya yang putih bersih, membiarkan setitik keringat dingin muncul di pelipisnya seiring dengan debaran aneh yang mulai merayapi lubuk hatinya.
280Please respect copyright.PENANADKNX0JANKJ
"Tapi dia tampan juga ya…" Ratna meracik lirih di dalam hati, sepenuhnya terpesona oleh impresi pertama dari pembawaan sosokku yang dewasa tanpa berani menyuarakannya secara langsung kepada kedua temannya.
280Please respect copyright.PENANAVwaYMF4F3B
Kembali pada ingatan sore hari yang lain di luar kawasan kampus, takdir membawaku pada sebuah momen di dekat pusat pertokoan yang mulai dinaungi temaram cahaya senja. Di sebuah sudut persimpangan jalan, deretan bangunan berlantai dua berdiri kokoh dengan arsitektur modern minimalis. Sebuah papan nama vertikal berwarna merah tua bertuliskan Kedai Barbeque dengan kode nomor telepon di bawahnya terpancang jelas di dinding semen, berhadapan langsung dengan pintu kaca transparan sebuah kedai makanan yang tampak tenang di seberang pembatas jalan besi.
280Please respect copyright.PENANAQcjC7iTvAB
Aku berdiri tegap di atas trotoar ubin kelabu tepat di depan pintu masuk kedai, memosisikan tubuhku menghadap langsung ke arah sosok Citra yang sedang berdiri beberapa jengkal di hadapanku. Sore itu, Citra tampil sangat rapi dan elegan, memberikan impresi seorang wanita yang berkelas di mataku. Dia mengenakan kemeja luar berbahan katun lembut berwarna merah muda pucat dengan kerah kaku yang dikancingkan rapi hingga ke atas dada, membungkus ketat sepasang payudara besarnya yang membusung indah. Di balik kemeja itu, samar-samar tercetak bentuk pakaian dalamnya yang menopang dengan sempurna. Dia memadukannya dengan rok mini span berwarna hitam legam yang melekat ketat pada pinggul dan paha mulusnya, serta stoking hitam tipis transparan yang membungkus seluruh kaki jenjangnya hingga ke ujung sepatu hak tinggi. Sebuah tas bahu kulit berwarna merah cerah bertengger di lengan kanannya yang menekuk anggun. Di hadapannya, aku mengenakan jaket luar kasual berwarna hijau zaitun yang longgar dengan kedua tangan terselip pasrah di dalam saku celana jins biru tuaku.
280Please respect copyright.PENANAdFXvJxOW7n
Citra memutar sedikit tubuh bagian atasnya, menolehkan kepala cantiknya ke arah belakang bahunya untuk menatap lurus ke arah sepasang mataku sebelum melangkah pergi. Jari-jari tangan kirinya bergerak halus merapikan posisi tas merahnya seiring dengan bibir kecilnya yang terbuka untuk melontarkan kalimat perpisahan yang manis.
280Please respect copyright.PENANARUvATM72S4
"Aku harus pulang sekarang, kamu jangan pulang malam-malam ya."
280Please respect copyright.PENANAJJ8R9Wmh2J
Citra kembali mengayunkan langkah kaki jenjangnya ke depan, berjalan dinamis menjauhiku melewati jalur trotoar semen yang bersih. Dia sedikit memutar leher ke samping, melemparkan senyuman manis dengan tangan kiri yang terangkat halus melambai di udara, sementara belahan pantat bulatnya yang padat tercetak sangat sensual di balik ketatnya rok span hitam seiring dengan perpindahan langkahnya.
280Please respect copyright.PENANApSs1kK9J4i
"Kalau sudah sampai rumah aku akan menghubungimu."
280Please respect copyright.PENANAlb6uF1n9gS
Aku membuka mulut lebar-lebar, memosisikan tangan kanan terbuka di samping pipi untuk mengalirkan volume suaraku agar terdengar jelas melintasi jarak di antara kami yang semakin menjauh di bawah siraman cahaya lampu jalanan.
280Please respect copyright.PENANAMMrFfLkUEk
"Oke! Telepon aku kalau kamu tidak dapat bus!"
280Please respect copyright.PENANAzDnjqaEt2m
****
280Please respect copyright.PENANAH5SO93wo9B
Di atas permukaan meja kayu cokelat yang mengilat, beberapa botol bir kosong berwarna cokelat tua berdiri tidak beraturan. Pantulan cahaya lampu ruangan berpendar redup di permukaan botol-botol kaca tersebut, berjejer dekat dengan garis tepi meja yang berbatasan langsung dengan sandaran sofa rajut krem di sudut kedai.
280Please respect copyright.PENANArW28KHsdG8
"Haha!"
280Please respect copyright.PENANA4tWs6JUJfE
Suara tawa lepas kembali menggema dari sudut meja yang lain. Seorang mahasiswi berambut hitam panjang tampak tertawa lebar hingga sepasang matanya terpejam rapat, kedua tangannya bergerak dinamis menggenggam sumpit kayu di udara. Di sampingnya, seorang pemuda berambut hitam ikut terbahak-bahak sembari mengangkat gelas besar berisi bir berbusa, sepenuhnya larut dalam atmosfer pesta penyambutan yang meriah.
280Please respect copyright.PENANA20mm3ANdwN
Aku melangkah masuk melewati pintu geser kedai yang terbuka lebar, membiarkan bias cahaya terang dari arah luar menyinari punggungku. Tubuhku bergerak lambat dengan kedua tangan yang masih tersimpan di dalam saku jaket luar hijau zaitunku. Aku sedikit menundukkan kepala, menatap ubin lantai kelabu seiring dengan langkah kakiku yang bergerak konstan membelah keheningan di antara deretan dinding keramik cokelat muda kedai.
280Please respect copyright.PENANAVhcILA0LGC
"Woi, sini Wisnu! Aku sudah menyisakan kursi untukmu!"
280Please respect copyright.PENANAXZ5nIoe1x5
Sebuah teriakan lantang mendadak memotong keriuhan ruangan. Bimo, yang duduk di salah satu barisan sofa, langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas udara, melambaikan telapak tangannya dengan mulut terbuka lebar. Di sebelah kirinya, seorang mahasiswi berambut hitam pendek tampak ikut tersenym ramah menyambut kedatanganku.
280Please respect copyright.PENANAIGK5Lvkq4S
Aku melangkah maju, lalu menjatuhkan dudukku di atas sofa rajut krem tepat di samping Bimo. Aku menyandarkan punggungku pada bantalan sofa yang empuk, membiarkan kedua mataku terpejam sejenak untuk meredakan rasa lelah seiring dengan kepalaku yang sedikit terkulai ke arah belakang. Ketika aku kembali membuka kelopak mataku, pandangan lurusku mendadak tertuju pada satu titik di seberang meja.
280Please respect copyright.PENANAut5LNpXZWE
"Haha!"
280Please respect copyright.PENANAWuc8oOmZHu
Di hadapanku, Ratna sedang duduk dengan posisi tubuh condong ke depan, terlibat obrolan yang sangat akrab dengan seorang mahasiswa di sampingnya. Pandanganku seketika tertuju pada pakaian atasannya hari ini. Ratna mengenakan kaus rajut lengan panjang berwarna putih bersih dengan potongan leher bundar rendah berkerah merah, yang membungkus ketat sepasang payudara besarnya yang membusung indah di atas meja. Tekstur kainnya yang tipis memperlihatkan lekukan sensual tubuh atasnya secara detail. Jari telunjuk tangan kanannya bergerak menunjuk ke arah samping sembari mulutnya mengeluarkan tawa renyah, memperlihatkan rona merah yang kembali menghiasi kedua belah pipinya.
280Please respect copyright.PENANA1e7FytJ1ij
Mendengar suara tawa yang begitu dekat, aku perlahan mengangkat pandangan mataku, menatap ke arah depan. Gerakan kepalaku yang mendadak itu rupanya menarik perhatian Ratna, membuat gadis itu menghentikan kalimatnya secara spontan. Mulut kecilnya terbuka sedikit seiring dengan sepasang mata hitam legamnya yang terbelalak menatap lurus ke arah wajahku dari arah bawah.
280Please respect copyright.PENANAkJ63jitds8
Atmosfer riuh di dalam Kedai Barbeque yang terletak di sudut persimpangan jalan itu seolah mendadak meredup di dalam kesadaranku. Cahaya lampu neon dari papan nama vertikal merah tua di luar jendela kaca menyiram permukaan jalanan, meninggalkan kesunyian pekat yang entah mengapa mulai merayapi sudut meja tempat kami duduk.
280Please respect copyright.PENANAe9uYpRvtOl
Di bawah langit-langit kedai yang tinggi berbalut tripleks cokelat tua, sepasang lampu sorot kembar silinder perak memancarkan cahaya kuning hangat ke arah dinding keramik batu alam.
280Please respect copyright.PENANA0lIbKFGRbw
Ratna perlahan memperbaiki posisi duduknya, meletakkan kedua telapak tangannya saling bertumpu erat di atas permukaan meja kayu. Wajah cantiknya mendongak, menatap lurus ke arahku dengan sepasang mata hitam legamnya yang berbinar teduh di bawah siraman lampu kedai. Rona merah tipis yang sangat manis kembali merekah di kedua belah pipinya, menanti dengan sabar apakah aku akan membuka suara untuk menyapanya malam ini.
280Please respect copyright.PENANAJGh7Kh60lX
"Hai."
280Please respect copyright.PENANAGGkvmEB0EU
Aku mengulas seulas senyuman lebar hingga sepasang mataku menyipit, membiarkan keramahan yang jarang kutunjukkan ini mencairkan dinding kecanggungan di antara kami. Wajahku condong sedikit ke depan untuk memberikan impresi senior yang hangat dan mudah didekati di tengah ramainya pesta penyambutan ini.
280Please respect copyright.PENANAfjYg5toq0A
"Hai!"
280Please respect copyright.PENANAStxw0gqGJP
Ratna langsung menyahut sapaanku dengan ekspresi yang sangat ceria, membuka mulutnya lebar-baris dengan binar mata hitam legam yang bergejolak gembira. Rona merah di kedua belah pipinya semakin pekat menahan rasa senang karena akhirnya aku membuka suara untuk berbicara langsung dengannya.
280Please respect copyright.PENANAgBBWw3A17l
Aku menurunkan sedikit posisi daguku, menopang kepalaku menggunakan punggung jemari tangan kananku yang menekuk santai di atas meja kayu. Sepasang mataku menatap lurus ke arah wajah cantiknya, lalu aku membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan pendek dengan nada suara yang tenang.280Please respect copyright.PENANARTtUR3LItl


