Bab 1: Bayang-Bayang di Balik Mahkota
351Please respect copyright.PENANAvPbFpV1eaD
Malam sudah larut di penthouse mewah Clarissa Putri Wijaya yang terletak di jantung Jakarta Pusat. Lampu kristal besar di ruang tamu memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menyinari lantai marmer mengkilap dan furnitur desain Italia yang harganya bisa membeli rumah orang biasa. Clarissa berdiri di depan jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, memandang lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana seperti lautan bintang yang jatuh.
351Please respect copyright.PENANAwVo0EyCUUz
Ia baru saja melepas blazer hitam mahal yang ia kenakan seharian. Kemeja sutra putih tipis masih melekat di tubuhnya, menonjolkan lekuk payudara D-cup yang kencang dan pinggul lebar yang selalu menjadi pusat perhatian saat ia berjalan di kantor. Rambut hitam lurusnya tergerai panjang hingga pinggang, masih harum shampoo mahal yang ia pakai pagi tadi. Kulitnya putih mulus, hampir bersinar di bawah cahaya redup.
351Please respect copyright.PENANA7p46x2ubbe
Di usia 29 tahun, Clarissa adalah ratu kerajaan fashion dan kosmetik yang ia bangun sendiri. Meeting demi meeting, keputusan bernilai miliaran rupiah, karyawan yang takut sekaligus kagum padanya semuanya berjalan sesuai kendali. Ia dingin, tegas, dan berwibawa. Tidak ada yang berani menentangnya.
351Please respect copyright.PENANArd2iP80plH
Tapi di sini, sendirian di penthouse seluas 800 meter persegi ini, topeng itu mulai retak.
351Please respect copyright.PENANAfqgY1aBYgQ
Clarissa menutup mata, tangannya perlahan turun menyentuh pinggangnya sendiri. Napasnya mulai sedikit berat. Sudah berbulan-bulan ia merasa hampa. Seks biasa dengan pasangan sesekali tak lagi mampu memuaskannya. Ia butuh lebih. Butuh sesuatu yang gelap, yang merendahkan, yang menghancurkannya hingga ke dasar.
351Please respect copyright.PENANAwPH1zE5vDp
Ia berjalan menuju kamar utama, membuka laci rahasia di meja rias. Di dalamnya tersimpan beberapa alat mainan pribadi yang mahal. Tapi malam ini, jarinya berhenti di ponsel. Dengan jantung berdegup kencang, ia membuka situs khusus yang hanya dikenal kalangan tertentu tempat para wanita kaya mencari "jasa spesial" dari pemuda-pemuda terpilih.
351Please respect copyright.PENANAicaPEXV9Wn
Profil yang muncul pertama kali membuat pupil matanya melebar.
351Please respect copyright.PENANAuXDNKJzMBB
Kevin, 23 tahun.
Badan atletis, senyum nakal, dan deskripsi yang sangat jelas: "Dominan alami, ahli merendahkan wanita sombong."
351Please respect copyright.PENANAJmjzQwf29c
Di bawahnya ada Marco, Dylan, dan Rian. Semuanya masih sangat muda, mahasiswa, tapi memiliki rating tinggi di dunia bayangan ini.
351Please respect copyright.PENANAXlmw8mb5Zu
Tangan Clarissa gemetar saat ia mengetik pesan pertama.
351Please respect copyright.PENANAFdcmgPANbZ
"Aku ingin sesi privat. Sangat privat. Harga bukan masalah. Aku butuh… penghinaan total."
351Please respect copyright.PENANARU3SfkeH5K
Ia menggigit bibir bawahnya saat mengirim. Rasa malu langsung menyergap, tapi justru itu yang membuat memek di antara pahanya mulai basah. Ia membayangkan bagaimana pemuda-pemuda itu akan melihatnya CEO kaya yang berkuasa di siang hari, tapi di malam hari hanya menjadi mainan mereka.
351Please respect copyright.PENANAO5Lq4vWwbh
Clarissa berjalan ke kamar mandi marmer, membuka keran air hangat. Ia melepas kemeja dan roknya perlahan, berdiri telanjang di depan cermin besar. Tubuhnya sempurna. Payudara montok dengan puitng merah muda yang sudah mengeras hanya karena lamunan. Pinggul lebar, bokong kencang yang siap dicambuk. Ia membayangkan tangan kasar pemuda 20-an tahun itu merobek pakaian desainernya, menampar wajahnya sambil berkata kasar.
351Please respect copyright.PENANA8CIFLeoXRq
"CEO sombong… sekarang cuma pelacur kami."
351Please respect copyright.PENANARXlEVqmceo
Kata-kata itu bergema di kepalanya. Clarissa mengeluarkan erangan pelan saat jarinya menyentuh ceri kecilnya yang sudah banjir. Ia menggosok perlahan, membayangkan mulut-mulut muda yang lapar akan merobek harga dirinya.
351Please respect copyright.PENANAtKMR2OTBAo
Tapi ia berhenti sebelum mencapai puncak. Itu sudah menjadi kebiasaannya denial. Ia suka rasa sakitnya, rasa frustrasi yang membakar dari dalam. Hanya dengan cara itu ia merasa hidup.
351Please respect copyright.PENANA0FUgCnk8ht
Setelah mandi, ia mengenakan gaun tidur sutra tipis dan berbaring di ranjang king-size. Ponselnya bergetar.
351Please respect copyright.PENANAyjfZWHbmrx
Pesan masuk dari Kevin.
351Please respect copyright.PENANAQgyRVedjjc
"Kami terima. Besok malam, di penthouse kamu. Bawa kontrak dan uang muka. Siapkan basement kamu. Jangan pakai pakaian dalam. Kami akan datang berdua dulu aku dan Marco. Siap dirusak, Bu CEO?"
351Please respect copyright.PENANA9uP2K4NJ1f
Clarissa membaca pesan itu berulang kali. Napasnya semakin cepat. Ia merasakan getaran aneh di perutnya campuran takut, malu, dan gairah yang membara.
351Please respect copyright.PENANA7L5RLCx3D9
Ia menjawab singkat:
351Please respect copyright.PENANAAuop8trn0w
"Siap. Jangan tanggung-tanggung."
351Please respect copyright.PENANAtllGFj6aCr
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, Clarissa tertidur dengan senyum kecil di bibirnya. Besok, mahkotanya akan dilepas. Besok, ia akan mulai menjadi budak.
351Please respect copyright.PENANAjhdrKzYB6X
351Please respect copyright.PENANA2lHDGSBMYk
351Please respect copyright.PENANACJxvO6eH9Q


