Sementara itu, di sela lorong luar gedung net cafe, langkah kaki Judy mendadak tersentak kaku.
74Please respect copyright.PENANAtHyY7yxzJk
"J-Judy...?!"
74Please respect copyright.PENANAsqCo99A9ln
Sebuah seruan panik bergaung serak dari arah belakang, menghentikan perpindahan gerak tubuh moleknya yang baru saja hendak melintasi pintu kaca berstiker jingga. Pemuda kasir tambun itu terengah-engah dengan dada berbalut kaos katun hijau bertuliskan Vans yang naik-turun memburu liar. Pemuda bertubuh gempal itu membungkuk kaku sembari menumpu kedua telapak tangannya di atas lutut, mencoba menahan sisa tenaganya setelah berlari terburu-buru mengejar ketertinggalan langkah Judy.
74Please respect copyright.PENANAIIueNCXBhl
"Kau tak perlu menerima pekerjaannya, tapi bisakah kau nolong aku hari ini?" ucap pria tambun itu lagi seraya menggerakkan telapak tangan kanannya untuk menggaruk pelipisnya yang dibanjiri keringat dingin. "Banyak box yang harus dipindah..." sambungnya dengan raut wajah yang dipaksakan tersenyum ceking, melayangkan alasan canggung demi menahan kepulangan wanita di hadapannya.
74Please respect copyright.PENANAGojjEKNLgD
Judy terdiam sesaat tanpa mengubah posisi berdiri tegaknya di bawah kepungan atmosfer malam perkotaan yang kian mendingin. Tas selempang kulit krem pucatnya masih menggantung tenang di sela bahunya seiring kepala hitamnya yang dikuncir tinggi perlahan menoleh tipis ke arah belakang. Tatapan sepasang matanya yang indah tampak meredup begitu datar, dilingkupi ekspresi dingin yang seolah mengunci rapat batas interaksi di antara mereka.
74Please respect copyright.PENANAqTs8Uu4PQe
"Gak, makasih," sahut Judy ketus dengan celah bibir merah muda yang mengatup rapat. Ia langsung memalingkan kembali wajah ranumnya ke depan, memantapkan langkah sepatu pantofel kulit hitamnya untuk segera melangkah pergi melintasi trotoar jalanan bata.
74Please respect copyright.PENANAsoneuYt5VB
"A-aku akan bayar sebanyak 7 jam upah!"
74Please respect copyright.PENANAKwfykNSrcV
Sebuah sentakan seruan lantang si kasir seketika mengunci pergerakan tumit kaki Judy tepat di depan papan nama toko. Langkahnya mendadak membeku kaku di tengah jalan, membiarkan helai rambut hitamnya yang dikuncir tinggi bergoyang diterpa embusan angin malam yang sepi.
74Please respect copyright.PENANALP5MkKQ1Hx
"Aku beneran butuh bantuan, aku akan bayar kamu setara seminggu kerja kalau kau mau," si kasir tambun melemparkan kalimat tawaran itu dengan nada suara yang merendah, menatap lekat pada siluet ramping punggung Judy dari arah belakang. Tetesan peluh gembungnya berkilau jernih di sela rahangnya yang menegang kaku menahan bimbang.
74Please respect copyright.PENANAFErXqvYrpe
Judy perlahan memutar seutuhnya tubuh moleknya ke belakang, menatap lurus ke arah pemuda gempal tersebut dengan sepasang alis indahnya yang menukik tajam dilingkupi tekanan batin yang luar biasa pekat.
74Please respect copyright.PENANAMQCNm4ucvw
"Kau beneran membayarku segitu?" tanya Judy memastikan dengan suara yang agak gemetar, meratapi beban utang uangnya kepada diriku yang kian mendesak isi kepalanya.
74Please respect copyright.PENANAw9b1njHnvP
"Iya, tentu saja!" Si kasir tambun menyahut cepat sembari refleks membungkukkan setengah tubuhnya ke depan udara, meloloskan gestur kepatuhan palsu demi meyakinkan mangsanya.
74Please respect copyright.PENANAiFa91P4IYk
Satu seringai licik yang teramat pekat seketika terkembang sempurna di sela wajah gempal pemuda itu begitu menyadari umpan finansialnya berhasil menjepit pertahanan harga diri Judy. Sepasang pupil matanya menyipit penuh gairah liar yang menjijikkan, siap melancarkan aksi agresif berikutnya untuk menggagahi kehangatan tubuh molek wanita di hadapannya di dalam kegelapan bilik warnet yang terisolasi malam ini.
74Please respect copyright.PENANAQa3hceFPUD
Lantai ubin keramik abu-abu di luar area gudang tampak memantulkan temaram cahaya dari deretan komputer pengunjung net cafe yang sunyi. Suasana sepi malam perkotaan kian terasa pekat seiring dengan langkah kaki yang konstan melintasi lorong menuju area belakang. Pintu kayu cokelat dengan plakat besi bertuliskan Khusus Karyawan berdiri kaku di sela batas ruangan staf. Pegangan pintu logamnya yang dingin berkilau tipis di bawah siraman lampu koridor yang minim, mengunci rapat area logistik yang terisolasi sepenuhnya dari jangkauan luar.
74Please respect copyright.PENANAFcYSkkC6Hg
Sebuah suara gerendel besi yang ditarik bergaung pendek saat pintu tersebut perlahan terbuka lebar, memperlihatkan pemandangan interior gudang penyimpanan yang dipenuhi oleh jajaran rak-rak besi tinggi berdebu.
74Please respect copyright.PENANASLiByaYTME
"Kau bisa taruh semua kotaknya di dalam gudang," perintah pemuda kasir tambun itu sembari melangkah masuk terlebih dahulu, memandu pergerakan menuju sudut ruangan. Kaos katun hijau bertuliskan Vans miliknya tampak meregang kaku seiring kedua tangannya yang menopang tumpuan sekat bawah sebuah kardus cokelat besar yang cukup tebal.
74Please respect copyright.PENANAiaEF6ZFIHp
"Okay..." Judy menyahut patuh dengan nada suara yang merendah.
74Please respect copyright.PENANAXkrXtgIO6D
Sepasang lengan rampingnya yang terbalut kemeja putih bersih kini harus menahan tumpukan dua kotak kardus sekaligus di depan dada. Beban yang menumpuk itu memaksa tubuhnya sedikit condong maju, membuat kain terusan gaun rajut ungu tuanya mengetat ketat dan memperlihatkan siluet lekuk pinggiran pinggulnya yang menegang menahan tumpuan berat.
74Please respect copyright.PENANAw1mnJcfoBU
"Aku akan kembali!" seru pemuda kasir itu seraya memutar tumit kakinya dengan gerakan cepat, melangkah konstan meninggalkan posisi Judy untuk keluar kembali melewati ambang pintu.
74Please respect copyright.PENANAruPhMHScwk
Satu tawa licik yang teramat pekat meluncur pelan dari sela bibir si kasir tepat saat tubuh gempalnya melintas di balik daun pintu, menyisakan keheningan sepi yang kembali mengunci posisi Judy sendirian di antara tumpukan logistik warnet.
74Please respect copyright.PENANAwrSqwQKUxN
Ugh, napa boxnya berat banget?! Keluhan itu meledak frustrasi di dalam batin Judy. Sepasang paha mulusnya yang dibungkus stocking hitam transparan tampak bergetar samar saat dia memaksakan langkah kakinya yang dibalut pantofel kulit hitam mendekati sela rak penyimpanan. Wajah ranumnya seutuhnya dilingkupi rona kelelahan yang berpadu dengan guratan emosi yang tertahan di dalam rongga dada.
74Please respect copyright.PENANAzOWnCNxMGu
Sebuah bunyi benturan keras bergaung kaku saat Judy akhirnya berhasil meloloskan tumpukan kardus cokelat tersebut ke atas salah satu sekat besi rak yang tinggi.
74Please respect copyright.PENANAoqhyQ3bGhf
"Ahhh... mnghh... susah sekali mendapatkan uang..." gumam Judy lirih sembari menundukkan kepala hitamnya yang dikuncir tinggi, meratapi kepasrahan nasibnya malam ini.
74Please respect copyright.PENANAZc7MpnWKMx
Ia sedikit melonggarkan jepitan tangan lentiknya pada tepian rak, mencoba mengatur kembali ritme deru napasnya yang memburu lelah. Oh iya, tadi aku bilang ke Sean kalau aku mau cepat pulang... Kesadaran itu mendadak menyengat telak ke dalam kepala Judy, memicu debaran jantung yang kian berdentum kaku seiring sepasang pupil mata indahnya yang seketika melebar. Apa aku harus memberitahunya kalau aku akan pulang telat...?
74Please respect copyright.PENANAozFg0HT0dq
Pertanyaan batin itu membuat Judy refleks terdiam kaku di depan rak besi. Namun, belum sempat dia meraih ponselnya dari dalam tas selempang kulit krem, kilas balik mematikan mendadak merayap liar membanjiri seluruh isi benaknya. Bayangan bagaimana belahan bibirnya yang basah mengunci erat seluruh permukaan kulit batangan penisku yang menegang keras berlumuran gel lidah buaya tadi malam kembali terpampang nyata di depan matanya. Ia teringat jelas bagaimana kehangatan cairan sperma panas milikku meledak menyembur lurus menghantam sela lidahnya yang basah.
74Please respect copyright.PENANAIaB4bXBi5v
Aku tak percaya kalau aku sudah melakukan itu! Aku pasti udah gila!
74Please respect copyright.PENANAqbOFTKkEhh
Sebuah gerakan panik membuat Judy refleks mengangkat kedua telapak tangan lentiknya ke atas kepala, meremas dan menggaruk rambut hitam kuncirnya dengan gerakan yang terburu-buru demi mengusir luapan rasa malu yang luar biasa hebat. Pipinya yang mulus seketika dibakar oleh rona merah padam yang teramat pekat seiring dengan tetesan keringat dingin yang kian deras meluncur melewati sela leher putihnya.
74Please respect copyright.PENANAH38YVOTnyV
Satu sentakan gerakan bayangan hitam mendadak muncul dari arah belakang bawah, memecah kesunyian sepi di dalam gudang. Pemuda kasir tambun itu tiba-tiba saja sudah berdiri kaku tepat di belakang punggung ramping Judy dengan sepasang mata yang dilingkupi gairah. Tangan kanannya yang kasar bergerak secepat kilat ke depan udara, mencengkeram selembar saputangan kain putih yang telah dibasahi cairan kimia pembius.
74Please respect copyright.PENANAI1tT3qCE93
Sebuah sentakan tak terduga membuat pekikan syok Judy langsung tercekat kaku di sela tenggorokan saat telapak tangan besar si kasir membekap telak permukaan sela bibir dan hidungnya dari arah belakang. Sepasang kelopak mata indah Judy terbelalak nanar menahan sengatan taktil yang asing saat aroma menyengat obat bius mulai menerpa langsung rongga pernapasannya, mengunci seluruh jalinan otot tubuhnya dalam seketika.
74Please respect copyright.PENANACJsAmgsnqD
"Mff... ngghh...!" Erangan teredam lolos dari sela bibir Judy yang terbekap erat.
74Please respect copyright.PENANAnfwLsGSa7o
Tubuh moleknya mendadak meliuk kaku, mencoba berontak dengan sisa kekuatan yang ada demi melepaskan diri dari dekapan agresif si kasir dari arah belakang. Jemari tangannya yang lentik refleks mencengkeram pergelangan tangan kekar pemuda bertubuh gempal itu, berusaha keras menarik menjauh kain saputangan yang kian menekan telak sela hidungnya. Kedua kaki Judy yang dibungkus stocking hitam transparan tipis tampak menegang, bergetar kencang di atas lantai ubin gudang saat senyawa kimia pembius mulai merambat cepat meracuni sistem sarafnya.
74Please respect copyright.PENANAdAVGqzRNFY
Kelopak mata indahnya perlahan bergerak sayu, berkedip tidak keruan dengan sepasang pupil yang mulai memutih ke atas seiring dengan kesadarannya yang kian mengikis habis. Desau pernapasannya yang memburu canggung mendadak melemas pasrah, hingga akhirnya seluruh jalinan otot tubuhnya runtuh seutuhnya di bawah kepungan hawa pengap ruang logistik yang sepi.
74Please respect copyright.PENANAtOc41wQLwN
Rembulan yang bulat sempurna kini telah bertengger tinggi, menyirami deretan gedung apartemen perkotaan dengan bias cahaya keperakan yang dingin di balik keheningan sepi malam.
74Please respect copyright.PENANAI0eKqKdrXO
"Kapan dia pulang...?" Aku bergumam bimbang sembari bersandar lesu di atas sofa krem ruang tengah.
74Please respect copyright.PENANAdnGjDyKsdW
Pandangan mataku terpaku pada layar monitor ponsel pintar di genggaman tangan kananku, sementara kaos katun hitam dan celana pendek hijauku tampak berantakan mengikuti posisi dudukku yang kaku menahan cemas. "Katanya udah mau pulang. Tu makanan udah dingin..." keluhku frustrasi sembari melirik canggung ke arah meja makan keramik abu-abu tempat hidangan daging panggang yang kusiapkan kini telah mendingin tanpa tersentuh sedikit pun.
74Please respect copyright.PENANAy0Bn2XNbC7
Aku menggerakkan ibu jari untuk membuka kembali kolom obrolan pribadi kami. Semburat merah muda yang samar sempat menjalar di pipiku saat mendapati baris kalimat teks terakhir yang kukirimkan lengkap dengan emotikon hati merah sama sekali belum menunjukkan tanda telah terbaca.
74Please respect copyright.PENANAxtjQINfaSo
Dia bahkan tak membaca chatku... Tunggu... dia bilang dia pengen melakukan interview di tempat net cafe...?! Kesadaran itu mendadak menghantam telak sela-sela benakku, memicu debaran jantungku kian berdentum kaku seiring kelopak mataku yang terbuka sedikit lebih lebar. Jangan bilang dia cuma ngegame doang disana dan tak mendapatkan pekerjaan?!
74Please respect copyright.PENANA6GVwxIQDvl
Lamunan konyol seketika melintas di dalam kepalaku, menampilkan imajinasi sosok Judy dari arah belakang yang sedang duduk anggun di atas kursi busa warnet, membelakangi bilik sekat komputer sembari fokus menatap layar monitor dengan seruan kemenangan yang kekanak-kanakan.
74Please respect copyright.PENANALy9VYUWuDX
Dari Judy yang kukenal, dia pasti ke net cafe yang tak jauh dari sini... Aku membatin sembari merendahkan tumpuan daguku di sela jemari tangan kanan, meratapi kepanikan batin yang kian memadat di dalam rongga dada seiring waktu yang bergulir lambat membelah kesunyian malam apartemen. Disini cuma ada satu net cafe, haruskah aku ngecek ke sana? Pertanyaan itu bergolak bimbang di dalam kepalaku, membuatku refleks menegakkan posisi duduk seiring dengan gejolak rasa khawatir yang kian mengikis habis batas kesabaranku malam ini.
74Please respect copyright.PENANAL6lyRo3diR
Di balik pekatnya kegelapan yang sunyi, seberkas cahaya temaram yang teramat minim perlahan menyembul tipis, memantulkan siluet sepasang paha mulus yang saling merapat kaku dilingkupi atmosfer asing yang mencekam.
74Please respect copyright.PENANA5gHdxCREPu
"Ummm... ngghh..." Lenguhan lengket lolos dari celah bibir Judy saat kelopak matanya bergerak membuka lambat.
74Please respect copyright.PENANAjethDBsQKC
Bias cahaya jernih dari lampu gudang menyengat pupil matanya, memaksa fokus pandangannya yang kabur untuk perlahan mencerna sekeliling. Rembesan peluh dingin tampak membasahi pelipisnya seiring kesadarannya yang mulai kembali utuh.
74Please respect copyright.PENANAEKGJaM67Sm
Huh?! Satu sentakan kejut seketika mengunci jalinan otot tubuh Judy.
74Please respect copyright.PENANAeRZG50jJOh
Ia mendapati dirinya dalam posisi duduk bersimpuh kaku di atas lantai ubin keramik abu-abu dengan punggung bersandar erat pada dinding kayu loker. Seutas tali tambang cokelat tebal melilit ketat memutar, mengikat mati bagian dada hingga ke balik lengan kemeja putih bersihnya. Gaun rajut ungu tuanya ketarik memendek ke atas paha seiring tumpuan kedua lututnya yang merapat pasrah dibungkus stocking hitam transparan tipis.
74Please respect copyright.PENANAEMJpQHQvwF
"Apa tidurmu enak, Judy?" Sebuah suara parau bergaung dari arah depan bawah, memecah kesunyian sepi ruangan logistik yang pengap.
74Please respect copyright.PENANAwIgbLlMCyN
Si kasir tambun berdiri kokoh tepat di hadapannya, merendahkan pandangan matanya yang dilingkupi kabur gairah. Kaos katun hijau bertuliskan Vans miliknya tampak bergoyang naik-turun seirama senyuman licik yang terkembang di sela wajah gempalnya.
74Please respect copyright.PENANAsHHrwRgwsz
Judy tersentak kaku, mendongakkan kepala hitamnya yang dikuncir tinggi dengan sepasang alis yang menukik tajam menahan kepanikan batin. Kilas balik mematikan saat saputangan putih membekap telak sela hidung dan bibirnya seketika melintas nyata di dalam benak.
74Please respect copyright.PENANA1KC5ZpGfbE
"Apa kau tau apa yang terjadi?" tanya pemuda tambun itu lagi dengan nada merendah yang penuh kelicikan, melangkah maju satu senti mendekati posisi bersimpuh Judy.
74Please respect copyright.PENANAdEuTrGM0Pn
"S-sialan kau! Lepaskan aku!" pekik Judy ketus dengan raut wajah yang mengencang merah padam menahan luapan amarah sekaligus rasa takut yang luar biasa pekat di dalam dada.
74Please respect copyright.PENANArgEl8n3vBV
Kedua kaki Judy yang terbalut pantofel hitam dan stocking tipis bergerak liar menghentak ubin keramik abu-abu, mencoba menggeser tumpuan pinggulnya demi melonggarkan ikatan tambang. Namun, jepitan tali cokelat di balik punggungnya justru terasa kian menjepit erat kulit rampingnya.
74Please respect copyright.PENANAL8fgWWGwuN
Keras banget sih ikatannya, aku bahkan tak bisa bergerak! Jeritan frustrasi itu meledak di dalam kepala Judy seiring jemari lentik kedua tangannya yang terikat mati di balik pinggang bergerak panik meremas sela-sela simpul tali yang mengeras, membuat kuku-kukunya memutih menahan rasa sakit.
74Please respect copyright.PENANARgytlgCiFK
"Ini takkan lama jika kau mendengarkanku," gumam si kasir seraya menjulurkan telapak tangan kanannya ke udara, merayap lambat mendekati permukaan helai rambut kuncir wanita di hadapannya.
74Please respect copyright.PENANAnzljCxHJ4B
"S-sialan... ngghh... emhh..." Judy memalingkan wajah ranumnya ke arah samping belakang, memejamkan sepasang kelopak matanya erat-erat menahan rembesan peluh cemas seiring deru napasnya yang memburu canggung.
74Please respect copyright.PENANA949Jd5BI3f
"Oh tidak, aku sudah membayangkannya sih, tapi melihatmu mewek, betapa imutnya..." ucap pemuda bertubuh gempal itu dengan kekehan ceking yang menjijikkan.
74Please respect copyright.PENANAPS12jDWa7b
Tangan kasarnya mendarat telak, mengusap lambat permukaan kepala hitam Judy dengan gerak agresif yang dipaksakan.
74Please respect copyright.PENANAhR4mx8Ebc5
"D-diamlah... ahhh... mnghh..." Judy menggerutu parau, meratapi kepasrahan harga dirinya yang kian terkikis habis di bawah kepungan hawa pengap gudang yang sepi malam ini.74Please respect copyright.PENANAj1bPdxDkWg


