"U-um..." Sebuah gumaman pendek lolos begitu saja dari celah bibirku, diiringi dengan rona merah yang mendadak kembali menjalar memenuhi kedua pipiku karena salah tingkah.
92Please respect copyright.PENANApyJ8cpM4MV
"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?" Judy menyahut, melayangkan pertanyaan sembari menatapku lekat.
92Please respect copyright.PENANA9bVJ4mPyAb
Sepasang pipinya yang ranum ikut memancarkan semburat merah muda yang tipis, berpadu dengan sebutir peluh yang meluncur lambat di sela rahangnya.
92Please respect copyright.PENANAXQucnkhegk
"Gak, gak!! Kamu terlihat sangat luar biasa...!"
92Please respect copyright.PENANAtTOKJ35B5J
Seruku cepat demi memecah kepanikan batin. Tanganku refleks terangkat mencengkeram dagu canggung seiring dengan senyuman kecil yang kupaksakan agar atmosfer di antara kami mencair.
92Please respect copyright.PENANAETGnxqPyFu
"Diamlah..." gumam Judy lirih, memalingkan wajahnya ke bawah demi menyembunyikan rona pekat yang kian membakar kulit pipinya. Celah bibirnya yang dilapisi lipstik tipis mengilap tampak mengerucut samar menahan malu. "Aku mau jalan," ucapnya lagi seraya memutar tumit kakinya, melangkah konstan mendekati pintu utama apartemen.
92Please respect copyright.PENANAs42AeqWA5E
"K-kemana...?" tanyaku buru-buru, melangkah maju beberapa senti untuk membuntuti pergerakannya dari belakang.
92Please respect copyright.PENANASW1NEqiqzm
"Aku ada interview kerja," Judy menyahut pelan tanpa menoleh.
92Please respect copyright.PENANA1f8stKNjJI
Dia merendahkan posisi tubuhnya, duduk bersimpuh di atas ubin keramik abu-abu dekat pintu masuk untuk mengenakan sepatu pantofel kulit hitamnya. Jemari lentiknya bergerak lincah merapikan bagian tumit sepatu, sementara stocking hitam transparan yang membungkus kakinya menegang mengikuti lekukan sendi lutut. Sebuah map dokumen putih tampak menyembul dari balik tas selempang kulit krem yang diletakkan di samping pinggulnya.
92Please respect copyright.PENANACtvymnV23e
Sebuah suara grendel besi yang ditarik bergaung keras, disusul dengan deburan daun pintu utama yang berdentum rapat dari luar setelah sosoknya menghilang di balik lorong.
92Please respect copyright.PENANAEYw2HpFYJ3
Aku selalu melihatnya pake tanktop doang jadi aku gak tau kalau dia sangat cantik kalau udah dandan....
92Please respect copyright.PENANAvhZwcEAw3h
Pikiran itu mengambang pasrah di dalam benakku seiring dengan tatapanku yang masih tertuju kosong pada pintu apartemen yang kembali terkunci. Rasa kagum bercampur getaran gairah sisa tadi malam membuat jantungku kembali berdegup kaku. Tapi kenapa dia tiba-tiba nyari kerja? Apa dia mencari kerja paruh waktu?
92Please respect copyright.PENANAQuHRwPxEYe
Sebuah gerakan refleks membuat tangan kananku menggaruk pelipis kepala bagian belakang, meratapi rentetan pertanyaan yang bergolak membingungkan di dalam kepala.
92Please respect copyright.PENANAIMFd0CJopy
Matahari kian meninggi, menyiramkan hawa hangat di sepanjang deretan pertokoan kota yang ramai. Di seberang jalan, papan nama bertuliskan Net Cafe dan World Beer yang terpampang di lantai dua sebuah gedung bata merah tampak berkilau tajam di bawah terik fajar.
92Please respect copyright.PENANA9UtMXc7Bbh
Sebuah bunyi ketukan jari yang konstan bergaung di dalam bilik warnet yang remang. Aku duduk bersandar di kursi busa, memfokuskan pandangan mata pada layar monitor datar yang menyala terang, menampilkan deretan situs lowongan pekerjaan dengan latar kuning putih yang terus kuusap turun ke bawah.
92Please respect copyright.PENANACzl0fNbaSj
Di tempat lain, sebuah helaan napas kesal meluncur dari celah bibir Judy saat telunjuknya menekan tombol silang di sudut kanan atas layar komputer sebuah warnet. Sinar monitor datar itu meredup, menyisakan pantulan wajah ranumnya yang dilingkupi rasa dongkol.
92Please respect copyright.PENANApYHeYYatFd
"Kenapa sulit banget sih nyari kerja paruh waktu?" Judy menggerutu pelan sembari meliukkan seluruh tubuhnya ke belakang.
92Please respect copyright.PENANArIogt8uGI1
Sepasang lengan rampingnya terangkat tinggi-tinggi ke udara, melakukan peregangan konstan demi mengusir rasa pegal setelah duduk berjam-jam di dalam bilik kubikal yang sempit. Sebuah hembusan napas pendek kembali lolos, berbarengan dengan lekukan dadanya yang ikut membusung kaku dari balik balutan gaun rajut ungu tuanya. Tali tas selempang kulit kremnya tampak bergeser tipis di sela bahu seiring dengan pergerakan bahunya yang memburu gusar.
92Please respect copyright.PENANAy7mutpTHBB
"Aku cuma membuang-buang waktuku saja di sini," bisiknya pasrah seraya menurunkan kembali kedua tangan.
92Please respect copyright.PENANA7KzClYd371
Jemari lentiknya bergerak meraih permukaan tas krem pucat yang tergeletak di samping meja komputer, mencengkeram talinya erat-erat bersiap untuk segera beranjak pergi.
92Please respect copyright.PENANA9On7Dm3jEz
Di balik meja kasir utama yang dilapisi tripleks kelabu, seorang pemuda bertubuh tambun dengan kaos katun hijau bergambar tulisan Vans putih sedang mendengus malas. Kelopak matanya menyipit lesu, terpaku lurus pada layar monitor kasir yang menampilkan lembar informasi pelamar kerja bernama Kylie Han.
92Please respect copyright.PENANAJfvOPxEfKL
"Ugh! Kenapa pelamar kerjanya pada jelek semua sih?" Pemuda kasir itu menggerutu pelan dengan bibir yang mengerucut canggung, meratapi deretan foto pelamar yang menurutnya sama sekali tidak menarik perhatian matanya.
92Please respect copyright.PENANAW17BOgJEuD
"Bisakah kau lihat aku dulu?" Sebuah suara feminin yang teramat lembut sekaligus tegas mendadak bergaung di depan meja konter, menghentikan ketukan jari si penjaga warnet.
92Please respect copyright.PENANAdKFuniqQUg
"Yah, sebentar..." sahut pemuda itu malas sembari memutar lehernya canggung ke arah samping. Namun, begitu kelopak matanya terbuka lebar dan menangkap sosok wanita yang berdiri di hadapannya, seluruh saraf di kepalanya mendadak tersentak kaku.
92Please respect copyright.PENANAHZUcdozfGA
"Semuanya dua puluh ribu rupiah," ucap si kasir dengan suara yang mendadak gagap, sementara sepasang pupil matanya melebar sempurna tanpa berkedip sedikit pun.
92Please respect copyright.PENANAKFkf1gqyzL
Oh sial, dia sangat cantik! Yang kayak gini nih yang harusnya diterima di sini! Jeritan batin penuh gairah kejut meledak hebat di dalam kepala pemuda tambun itu, mengagumi lekukan tubuh ranum Judy yang terbalut kemeja putih bersih dan terusan ungu ketat tepat di depan pandangannya.
92Please respect copyright.PENANAWrdz0gew7Z
"Dua puluh ribu rupiah?" Judy mengulang nominal tersebut dengan kernyitan tipis di sela alis indahnya. Pipinya yang mulus memancarkan semburat merah muda yang samar di bawah temaram lampu konter. "Gak kemahalan kah? Aku bahkan belum ada sejam loh..."
92Please respect copyright.PENANAGX4uf0KGte
Protes Judy sembari menggerakkan jemari tangan kanannya ke dalam tas selempang krem, bersiap mengambil lembaran uang kertas. Stocking hitam transparan yang membungkus paha mulusnya tampak berkilau tipis saat dia sedikit memiringkan tumpuan kakinya di depan meja kasir.
92Please respect copyright.PENANA7MzFSbNQu1
"Haha... hitungannya per jam Mbak, jadi..." Pemuda kasir itu terkekeh canggung, menggaruk tengkuk lehernya yang mulai basah oleh keringat dingin demi menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa besar.
92Please respect copyright.PENANABA40Cbn6cy
Sebuah gerakan mendadak membuat Judy menghentikan tindakannya. Pandangan matanya tidak sengaja melirik ke arah dinding bata kelabu di belakang meja konter, tempat selembar kertas putih berperekat selotip tertempel rapi. Kertas itu bertuliskan: DICARI PEKERJA! HARI KERJA 11:00–19:00 Rp110.000/JAM.
92Please respect copyright.PENANApRt0NyXdtp
"Apa kalian mencari pekerja paruh waktu di sini?!" tanya Judy buru-buru, mencondongkan seluruh bagian atas tubuhnya maju ke depan lipatan meja konter hingga belahan dadanya yang padat tercetak samar di balik rompi rajut ungunya.
92Please respect copyright.PENANA2lYyDu4WCr
Anjay!!! Umpatan kagum itu meledak di dalam hati si kasir begitu mencium aroma harum tubuh wanita di hadapannya dari jarak sedekat ini.
92Please respect copyright.PENANAAmmqs6MWK6
"Ya, kami mencarinya.." jawab pemuda tambun itu dengan anggukan cepat bercampur gugup, menatap lekat-lekat pada sela bibir merah muda Judy yang mengilap tipis.
92Please respect copyright.PENANAcWvrqkZ3WL
Beberapa menit berselang, keduanya telah berpindah posisi melewati batas pintu kayu cokelat bertuliskan KHUSUS KARYAWAN yang terisolasi dari area pengunjung warnet. Atmosfer di dalam ruangan staf tersebut terasa lebih sunyi dan intim.
92Please respect copyright.PENANADUqVTGaZE8
"Apa ini baru pertama kalinya kau bekerja di net cafe?" Pemuda kasir itu melayangkan pertanyaan pembuka dengan nada suara yang merendah, membalikkan badannya seutuhnya untuk menatap pasrah pada sosok molek Judy yang kini berdiri anggun menanti kelanjutan interaksi mereka.
92Please respect copyright.PENANAK5YGn8VzZp
"Yeah..." Judy menyahut pelan sembari menggerakkan tubuhnya untuk duduk di atas kursi plastik kelabu.
92Please respect copyright.PENANAp4y1wPeMvK
Posisinya kini berhadapan langsung dengan si kasir tambun di balik meja kayu sederhana ruangan staf. Di sekeliling mereka, rak-rak besi tinggi tampak penuh sesak oleh tumpukan kardus mi instan dan deretan botol minuman penambah stamina.
92Please respect copyright.PENANAcrViDe7AZY
"Usiamu berapa?" Pemuda kasir itu bertanya lagi sembari mencondongkan sedikit tubuh tambunnya maju ke depan meja, menatap lekat pada permukaan wajah Judy yang tampak halus di bawah temaram lampu.
92Please respect copyright.PENANAsIDlUQ31Uf
"Dua puluh," jawab Judy singkat. Tatapan matanya lurus terarah pada si kasir, sementara jemari tangannya meremas pelan tali tas selempang kulit krem pucat di pangkuannya demi meredakan rasa canggung yang mendadak menyergap.
92Please respect copyright.PENANARK2APheKe1
"Hmm.. berarti gak ada masalah dengan itu..." gumam si kasir dengan sudut bibir yang bergerak melengkung samar. Ia melirik sekilas ke arah luar sebelum kembali memfokuskan pandangan pada sosok di hadapannya. "Oh, aku lupa ambilin minum, bentar yah," ucapnya seraya menegakkan tumpuan kaki, bersiap memutar tumit untuk keluar dari area meja staf.
92Please respect copyright.PENANAwkettF1fuQ
"Oh, gpp kok," Judy buru-buru menyahut sembari mengangkat tangan kirinya tipis ke udara, mencoba menolak dengan sopan demi menjaga jarak ekspresi di antara mereka.
92Please respect copyright.PENANALmMqRsPSVK
"Gak gak, aku ambilin minum dulu buatmu," balas pemuda itu dengan nada yang kian memadat keras, mengabaikan penolakan halus dari wanita di hadapannya. "Duduklah, aku akan segera kembali."
92Please respect copyright.PENANAk2rUv8WNcA
Sebuah deburan keras terdengar saat pintu kayu cokelat ruangan staf berdentum rapat seiring dengan langkah kaki si kasir yang menghilang ke balik koridor luar, menyisakan keheningan sepi yang kembali mengunci posisi duduk Judy sendirian di antara deretan rak penyimpanan dokumen.
92Please respect copyright.PENANAeT3jKClGYt
Di area konter luar yang remang, si kasir tambun tampak berdiri menghadap meja dispenser dengan raaut wajah yang dilingkupi kelicikan. Tangan kanannya bergerak meraih sebuah botol plastik oranye bertuliskan 100% jus jeruk. Sebuah kucuran cairan buah yang mengalir terdengar konstan saat dia menuangkan isi botol tersebut ke dalam dua buah gelas kertas putih di atas baki kayu.
92Please respect copyright.PENANA5dcFsm7Jfy
"Yah, aku melakukan pekerjaan yang bagus," ucap pemuda itu sembari menempelkan ponsel pintarnya ke sela telinga kiri, meloloskan gumaman parau kepada seseorang di seberang panggilan. "Aku memanggil karena cewe cakep ada yang masuk," lanjutnya lagi dengan sepasang pupil mata yang melebar penuh gairah kejut.
92Please respect copyright.PENANAiCSwOjhFSV
Ia melirik sekilas ke arah laci kayu meja kasir yang terbuka sedikit, memperlihatkan tumpukan bungkus saset kecil berwarna perak berisi obat perangsang bubuk. "Iya, dia sangat cantik. Dia takkan menelpon petugas," bisik si kasir sembari menjepit ponselnya di sela bahu, sementara jemari tangannya mulai bergerak lincah merobek salah satu ujung kemasan saset perak tersebut dengan gerakan yang terburu-buru. "Dia takkan berani melakukan apapun, kalau aku merekamnya dan menggunakan rekaman itu untuk memanfaatkannya."
92Please respect copyright.PENANAytqPcDqPaZ
Sebuah gerakan sentakan jemari membuat sebentuk serbuk putih halus seketika meluncur jatuh dari balik robekan kemasan saset, larut dengan sangat cepat ke dalam permukaan cairan jus jeruk oranye di dalam salah satu gelas kertas hingga menciptakan riak buih tipis yang jernih.
92Please respect copyright.PENANAJgIRhzt3a0
Di dalam ruang staf yang sunyi, Judy mulai menggerakkan lehernya canggung ke arah samping, memperhatikan deretan loker besi kelabu di belakang meja tempatnya bersimpuh. Apa yang membuatnya sangat lama...? Pertanyaan batin itu mengambang bimbang di dalam kepalanya seiring dengan sepasang alis indahnya yang menukik tipis karena mulai mendeteksi adanya kejanggalan dari interaksi interview paruh waktu ini.
92Please respect copyright.PENANAzZI54teJsS
"Haha, maaf lama, tadi ada telpon," seruan pemuda kasir itu mendadak memecah keheningan seiring dengan daun pintu kayu yang kembali terbuka lebar. Ia melangkah masuk sembari membawa baki kayu cokelat di kedua tangannya. "Ni ada jus jeruk!" ucapnya ramah seraya menurunkan baki tersebut ke atas meja, menyodorkan gelas kertas yang telah dibubuhi serbuk obat tepat ke hadapan posisi duduk Judy.
92Please respect copyright.PENANAmzl2dMATxZ
"Oh, makasih.." Judy menyahut lirih dengan sela bibir yang melengkung canggung, perlahan menjulurkan telapak tangan kanannya untuk meraih pinggiran gelas kertas putih yang masih terasa dingin.
92Please respect copyright.PENANAQKZyTNFxsb
Sebuah senyuman licik seketika terkembang di sudut bibir si kasir tambun saat melihat jemari lentik wanita di hadapannya mulai mengangkat gelas tersebut mendekati bibir merah mudanya yang basah.
92Please respect copyright.PENANATlRUyxkEla
Judy terdiam sesaat dengan kelopak mata yang berkedip samar, memandangi permukaan cairan oranye di tangannya dengan tatapan yang mendadak dilingkupi rasa bimbang psikologis yang teramat pekat.
92Please respect copyright.PENANAyuvMfS244i
"Ahhh... mnghh... kok ada sesuatu yang mengambang ya..." gumam Judy lirih sembari sedikit memiringkan gelas kertas di tangannya.
92Please respect copyright.PENANA90AHBzhloB
Di bawah sorotan temaram lampu gudang, lapisan tipis busa putih jernih tampak bergerak lambat di atas permukaan cairan jus jeruk oranye pekat tersebut.
92Please respect copyright.PENANAruBh8cOPQJ
Sial, apakah obat tidurnya belum larut merata dengan jusnya? Kepanikan seketika meledak di dalam hati si kasir tambun. Sepasang pipinya yang gempal mendadak menegang kaku seiring dengan tetesan keringat dingin yang mulai membanjiri pelipis katun hijaunya.
92Please respect copyright.PENANA1qdTfnl2Py
"Oh, itu cuma bubuk vitamin!" seru pemuda kasir itu buru-buru, menyunggingkan senyuman canggung demi mengontrol kembali batas ekspresi wajahnya yang mulai memerah cemas. "I-itu untuk memulihkan stamina, jadi aku sering kali mencampurkannya di dalam jus...." lanjutnya sembari melempar alasan yang terdengar teramat canggung, berusaha keras menekan gejolak rasa takut di dalam dada agar Judy tidak mendeteksi adanya kejanggalan.
92Please respect copyright.PENANAO3ml0GDBOR
"Oh, oke..." Judy menyahut datar dengan sepasang kelopak mata yang berkedip samar.
92Please respect copyright.PENANAUHWX0AHt6G
Satu gerakan tangan yang santai membuat Judy kembali menurunkan gelas kertas itu ke atas permukaan meja kayu kelabu tanpa meminumnya sedikit pun, membuat sisa cairan oranye di dalamnya bergoyang pelan.
92Please respect copyright.PENANAN4EkUTXITo
Sialan! Aku harus mengubah topik pembicaraan sebelum dia semakin curiga! Umpatan frustrasi itu bergema kencang di dalam kepala si kasir saat melihat rencananya tertahan. Ia buru-buru membetulkan posisi duduknya di atas kursi plastik, menatap lekat pada kemeja putih bersih dan terusan ungu ketat milik Judy demi mengalihkan fokus suasana.
92Please respect copyright.PENANARkpoSuMDub
"Jadi kau belum pernah bekerja di net cafe ya..." ucap si kasir, memulai kembali obrolan dengan nada suara yang sengaja dibuat serendah mungkin. "Banyak yang harus dipelajari, jadi aku biasanya membayar lebih sedikit pada minggu pertama kerja mereka...." sambungnya, mencoba mengajukan ketentuan sepihak sembari mengusap dagunya yang berlemak dengan jemari tangan kanan.
92Please respect copyright.PENANAfTI6vl5hbx
"Oh, oke..."
92Please respect copyright.PENANABmnCffwvWm
Judy menyahut datar dengan sepasang kelopak mata yang berkedip samar.
92Please respect copyright.PENANAFCRobjItIb
Dengan satu gerakan tangan yang santai, Judy kembali menurunkan gelas kertas itu ke atas permukaan meja kayu kelabu tanpa meminumnya sedikit pun, membuat sisa cairan oranye di dalamnya bergoyang pelan.92Please respect copyright.PENANA7SxPbZ4gU8


