"Yah, di situ. Aduh, kakiku selalu capek karena seharian harus berdiri saat kerja."
93Please respect copyright.PENANAhfwqJGgvDS
Aku bergumam dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat, meluruskan kedua kaki panjangku di atas permukaan lantai ubin keramik abu-abu yang dingin. Aku menggeser posisi dudukku, menyandarkan punggungku yang terbalut kaos katun hitam pada tepian sofa krem sembari menopangkan kedua tangan dengan santai ke belakang.
93Please respect copyright.PENANAHI1txxNZVo
"Y-ya, Tuan..."
93Please respect copyright.PENANAVfZQjqw0VJ
Judy menyahut pelan dengan kepala menunduk pasrah. Dia kini berlutut di atas ubin keramik tepat di hadapanku. Kedua telapak tangan rampingnya yang hangat mulai mencengkeram pergelangan kakiku, memberikan tekanan pijatan lembut yang bergerak dinamis naik-turun di sepanjang tulang keringku. Bunyi gesekan halus dari kulit telapak tangannya yang menyentuh kakiku terdengar konstan di tengah keheningan malam ruang tengah kami.
93Please respect copyright.PENANAMvCq1oxefp
Btw, rasanya aneh sekali...
93Please respect copyright.PENANAKwKtMOhJhb
Sebuah letupan batin meluncur canggung di dalam benakku. Aku sedikit memiringkan wajah, menatap lekat ke arah puncak rambut hitamnya yang diikat tinggi dari posisi atas. Rona merah tipis perlahan kembali menghangatkan kedua pipiku, merasakan sensasi canggung sekaligus intim yang teramat padat merayap di sela atmosfer apartemen malam ini.
93Please respect copyright.PENANAoBjO6O8PVc
Judy jadi penurut dan memijit kakiku...
93Please respect copyright.PENANAknPlTayqCN
Aku meratapi pemandangan itu dengan sepasang mata yang menyipit penuh kepuasan psikologis. Wanita yang biasanya selalu melempar tatapan angkuh dan dingin, kini duduk bersimpuh pasrah dengan bahu yang diturunkan rendah, membiarkan jemari lentiknya bergerak patuh mengikuti setiap perintah mutlak yang keluar dari sela bibirku.
93Please respect copyright.PENANAZvgLJLZ2jj
Apa karena dia tak pernah seperti ini sebelumnya...?
93Please respect copyright.PENANAP9zU4naFd1
Pertanyaan itu bergolak di dalam benakku saat memperhatikan ketukan gerakannya yang terasa agak kaku namun dipaksakan mengalir teratur. Tanktop katun merah muda lembut yang melekat ketat di tubuhnya tampak bergoyang mengikuti dorongan bahunya, sesekali mengekspos belahan payudaranya yang tebal dari sudut atas pandanganku.
93Please respect copyright.PENANAltM8bSBVsP
"Kau beneran gak bakalan bilang ke Luke, kan?" Judy tiba-tiba bertanya dengan nada parau yang teramat cemas, memecah kesunyian malam di antara kami.
93Please respect copyright.PENANAPmO6ILtxfx
Ia mengangkat lengan kanannya, menggunakan punggung tangannya untuk menyeka butiran peluh tipis yang merembes di sela dahinya yang ranum tanpa sudi mendongakkan wajahnya untuk menatapku.
93Please respect copyright.PENANAL6bFDEbhZN
"Jangan khawatir," aku menyahut santai dengan sudut bibir melengkung membentuk senyuman kecil penuh kemenangan yang teramat puas. "Bisa pijit atasan dikit?" Aku memberikan perintah baru sembari sedikit merenggangkan posisi kedua kakiku di atas lantai ubin keramik abu-abu.
93Please respect copyright.PENANAgIkvoxR7uM
"Ke atas lagi...?" Judy mengulang kalimat itu dengan nada suara yang bergetar lirih, menahan gejolak rasa malu yang kian membakar pekat sela wajahnya di bawah kepungan tatapan menyelidikku yang begitu dekat.
93Please respect copyright.PENANAHNtdFLcxX3
Jemari lentiknya mendadak terhenti kaku tepat di sela lututku, menyadari bahwa arah pijatan berikutnya akan merayap naik menyentuh bagian paha dalam celana pendek katun kelabuku yang teramat sensitif.
93Please respect copyright.PENANAE7ZTjHnbKP
"Di sini?" Judy bertanya lirih, memastikan posisi barunya.
93Please respect copyright.PENANAhyY7DwIaWh
Sepasang telapak tangan rampingnya bergerak memindahkan tumpuan ke atas paha dalam celana katun pendek kelabuku. Jemari lentiknya yang hangat mulai menekan permukaan kain yang meregang ketat di sela pahaku, memberikan pijatan dinamis yang merayap semakin dekat menuju area sensitif.
93Please respect copyright.PENANAuU0q4UmFKg
"Ahhh... ngghh... huum...!!" Satu desahan parau spontan meluncur dari ujung tenggorokanku bersamaan dengan tubuhku yang refleks tersentak kaku.
93Please respect copyright.PENANA7QDbqK8B5j
Kelopak mataku terpejam erat, menahan sentakan kenikmatan yang mendadak membanjiri sela-sela paha dalamku akibat usapan jari-jemarinya yang terasa hangat dan halus.
93Please respect copyright.PENANABhJuJF8DCU
Ni orang napa sih? Judy menggerutu di dalam batinnya sembari menatap heran ke arah ekspresi wajahku.
93Please respect copyright.PENANA8PDsuP7d1n
Ia menghentikan sejenak gerakan tangannya, memperhatikan dahi dan pipiku yang mendadak merona merah padam dengan butiran peluh tipis yang merembes deras di pelipis. Tanktop katun merah muda lembut yang melekat ketat di dada moleknya tampak ikut naik-turun seirama dengan helaan napasnya yang tertahan canggung.
93Please respect copyright.PENANAqLxuQfkDOF
Sedetik kemudian, sepasang mata indah Judy terbelalak sempurna saat melirik lurus ke arah sela selangkanganku. Kain celana katun pendek kelabuku mendadak meregang kencang, menonjol padat dan membengkak maksimal membentuk siluet penisku yang menegang keras di balik pakaian akibat rangsangan pijatannya yang terlalu dekat di paha dalam.
93Please respect copyright.PENANAs4Iv33YvbP
"H-hehe... Judy... ke atas lagi dong," aku bergumam parau sembari meloloskan cengiran kecil yang terkesan nakal. Aku perlahan membuka kelopak mataku, menatap wajah ranumnya dari posisi bawah dengan tatapan yang sepenuhnya diselimuti gairah pekat. "Ini perintah dari majikanmu. Buruan..."
93Please respect copyright.PENANAKQH5wIiarZ
Bisikan rendah penuh tuntutan meluncur dari sela bibirku. Sepasang mataku menyipit tajam, menatap lekat pada jemari lentiknya yang masih membeku di atas pahaku, menanti sentuhan berikutnya merayap naik menjamah seluruh ketegangan penisku yang kian memadat di balik celana.
93Please respect copyright.PENANAAQLzG84xEM
Judy mendongakkan wajahnya perlahan sambil menatapku lurus dengan sepasang mata indahnya yang menyipit tajam. Ia menghentikan pijatannya, lalu menggeser posisi duduknya untuk beranjak bangkit berdiri di atas lantai ubin keramik abu-abu. Tanktop katun merah muda lembut yang melekat ketat di dadanya tampak meregang mengikuti perubahan gerakannya.
93Please respect copyright.PENANAbIfspEsH2c
Dengan gerakan tangan yang tiba-tiba, Judy mengepalkan jemarinya dan langsung melayangkan pukulan lurus yang mendarat telak tepat ke arah selangkanganku. Kain celana pendek katun kelabuku seketika terhantam keras.
93Please respect copyright.PENANA1exaC5bugn
"Ugh... kkk-hakh...!!"
93Please respect copyright.PENANAFYtgqg1I7t
Satu rintihan parau yang menahan rasa sakit luar biasa langsung meledak dari tenggorokanku. Seluruh tubuhku seketika membungkuk kaku ke depan, meluncur jatuh dari sandaran sofa krem sementara kedua tanganku bergerak cepat mencengkeram erat area penisku yang baru saja terpukul hantaman keras kakunya. Sepasang mataku terbelalak nanar menatap lantai dengan air mata yang mulai merembes keluar menahan denyut nyeri yang teramat padat. Sela bibirku menganga lebar hingga meloloskan sedikit air liur, saking sakitnya sampai rasanya gairahku hancur berkeping-keping seperti sebutir telur mentah yang pecah berantakan di lantai.
93Please respect copyright.PENANAusX6oVK4Qa
"Oh tidak! Tanganku terpeleset..." Judy menggerutu pelan dengan nada suara yang sengaja dibuat secuek mungkin.
93Please respect copyright.PENANAyEVMjDa1ua
Ia berdiri tegak tepat di hadapanku, menyilangkan tangan kanannya di depan dada tanktop merah mudanya sambil memasang senyuman sinis penuh kemenangan. Pandangan mataknya menatap lurus ke arah kepalaku tanpa sisa rasa bersalah sedikit pun.
93Please respect copyright.PENANAIjFgHjNvDe
"Huh...?" Gumaman lirih bercampur parau lolos dari sela bibirku di tengah rasa sakit yang masih menyiksa.
93Please respect copyright.PENANAyc7QPkxBYO
Sebuah sentakan refleks rasa sakit membuat tubuhku kembali tersentak kaku di atas lantai ubin keramik abu-abu. Aku hanya bisa duduk membungkuk sambil terus menekan selangkanganku erat-erat dengan kedua telapak tangan, merasakan ketegangan penisku yang mendadak hilang tak berbekas dalam situasi yang berbalik memojokkanku di hadapan budak baruku ini.
93Please respect copyright.PENANAJIIf6TARfS
"Kau gpp...?" Judy bertanya dengan nada yang mendadak melunak, memperhatikan kondisiku yang masih meringkuk tanpa suara di atas lantai ubin keramik abu-abu.
93Please respect copyright.PENANADc2DJiaKKx
Sisa senyuman sinis di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahinya saat melihatku terus memegangi selangkangan dengan napas yang terengah-engah. "S-Sean...?" Ia memanggil namaku sekali lagi dengan ragu.
93Please respect copyright.PENANAL2DuzuTu7o
Keheningan malam kembali merayap di dalam kamar tengah apartemen, sementara di luar jendela, bulan purnama masih menggantung tenang di langit malam yang bersih. Apa sakit sesakit itu...? Pertanyaan itu melintas di dalam benak Judy saat dia memperhatikan gerak-gerikku yang sama sekali tidak berubah sejak beberapa menit lalu.
93Please respect copyright.PENANAsiHnE3KIzl
"Argh... mnghh..." Satu rintihan parau kembali lolos dari sela bibirku yang bergetar.
93Please respect copyright.PENANA7JI65mnXpQ
Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, aku perlahan menggeser tubuhku, merangkak dinamis menjauh dari ubin keramik abu-abu untuk naik ke atas permukaan sofa krem. Celana pendek katun kelabuku tampak melorot samar di pinggul, memperlihatkan bagian kancingnya yang terbuka dan resleting yang turun setengah tiang, mengekspos sebaris kain celana dalam spandeks hitam ketat yang membungkus pangkal penisku.
93Please respect copyright.PENANAX10ygYiwCZ
"Apa aku harus membawamu ke rumah sakit?" Judy bertanya dengan cemas sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di samping sofa krem tempatku telentang pasrah.
93Please respect copyright.PENANAIPHvqEQAJ4
Rambut hitamnya yang dikuncir tinggi bergerak samar mengikuti kemiringan kepalanya saat menatap wajahku yang kini dibanjiri tetesan keringat dingin.
93Please respect copyright.PENANAkDnZZIGPYy
"Tidak, aku tak bisa bergerak..." Aku menyahut lirih dengan suara yang teramat serak.
93Please respect copyright.PENANAdDyC7cWJ7H
Aku membiarkan kepala dan punggungku bersandar sepenuhnya pada bantal sofa bermotif bunga kelabu, menatap langit-langit apartemen dengan pandangan lesu. Aku bukanlah seorang pria lagi... Jeritan batin yang teramat frustrasi bergolak di dalam benakku seiring dengan sepasang kelopak mataku yang kembali terpejam erat, menahan denyut nyeri yang masih terasa membakar hebat dari sela selangkanganku.
93Please respect copyright.PENANAPoXcxn26nb
"Maaf, kau gpp?" Judy kembali bersuara, mengulang permintaan maafnya dengan nada yang terdengar semakin bersalah.
93Please respect copyright.PENANA1KqXEYJ6TX
Ia sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan tepian sofa, membuat tanktop katun merah muda lembut yang melekat ketat di dadanya semakin turun dan memperlihatkan belahan payudaranya yang tebal dari sudut pandanganku.
93Please respect copyright.PENANAqPCpLbF7o6
"Di bawah rasanya panas sekali..." Gumaman pasrah meluncur lambat dari sela bibirku yang kering. "Rasanya seperti mau terbakar..."
93Please respect copyright.PENANACOBdp8lgQ6
Aku mengerang parau sembari terus menekan sela selangkanganku yang berdenyut hebat. Tubuhku telentang kaku di atas bantal sofa bermotif bunga kelabu, membiarkan sepasang kelopak mata terpejam erat dengan dahi berkerut menahan rasa sakit. Butiran peluh tipis merembes deras di sekitar pelipis dan leher kaos katun hitamku, mengalir lambat seirama dengan deru napas parauku yang terengah-engah membelah keheningan apartemen. Sentakan nyeri dari pangkal penisku yang baru saja terhantam telak terasa kian memadat, mengubur sisa gairah erotis yang sempat membakar dadaku beberapa menit lalu.
93Please respect copyright.PENANArpLZQ7jDrR
Judy yang masih berdiri di samping sofa mendadak terpaku kaku. Sepasang mata indahnya melebar samar saat menatap langsung ke arah wajahku yang pucat kelelahan. Rasa bersalah bercampur cemas seketika mengalir pekat di dalam benaknya, menghancurkan seluruh sisa keangkuhan wanita urban yang biasanya melekat erat pada dirinya.
93Please respect copyright.PENANABXVhsFVTD3
"Apa yang harus kulakukan...?" Gumaman lirih itu meluncur begitu saja dari sela bibir merah muda Judy yang basah.
93Please respect copyright.PENANAvMUWgQvIB3
Ia mengangkat sedikit tangan kanannya, menyentuh dagunya sendiri dengan jemari yang bergetar canggung sembari melempar pandangan bimbang ke arah tubuhku. Tanktop katun berwarna merah muda lembut yang membungkus ketat tubuh moleknya tampak ikut bergoyang samar seiring dengan bahunya yang kian menegang kaku. Rambut hitamnya yang dikuncir tinggi bergerak mengikuti kemiringan kepalanya yang dilingkupi badai kepanikan.
93Please respect copyright.PENANAv4ldkr854x
Sebuah seruan pendek mendadak lolos dari sela bibirnya seiring dengan sepasang pupil mataknya yang mendadak berbinar, seolah baru saja menemukan sebuah jalan keluar di tengah situasi buntu ini. Rona merah tipis di kedua pipinya yang ranum perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi wajah yang mendadak kembali fokus dan bertenaga.
93Please respect copyright.PENANAQvrsQkDCYv
"Tunggu bentar!" Judy berseru lantang sembari membalikkan seluruh tubuh moleknya dengan satu sentakan cepat.
93Please respect copyright.PENANAKgOeAXrIHe
Langkah kaki telanjangnya segera bergerak terburu-buru melintasi lantai ubin keramik abu-abu apartemen, menjauh dari sofa krem tempat kedua ujung kakiku yang berselimut celana pendek katun kelabu masih tergeletak pasrah tanpa daya. Celana denim pendek biru ketat yang membungkus ketat bokong padatnya tampak bergerak mengikuti ritme langkah kakinya yang setengah berlari menuju arah kamar mandi.
93Please respect copyright.PENANA6MBEbL4aUY
Keheningan malam di ruang tengah apartemen mendadak terpecah oleh suara ketukan keras dari sebuah benda padat yang diletakkan di atas permukaan meja. Sebuah wadah plastik bundar berukuran besar berwarna hijau transparan kini telah tersaji tepat di depan jangkauan pandanganku. Lapisan stiker kemasan di bagian atasnya memamerkan gambar potongan daun lidah buaya yang segar dengan cetakan tulisan tebal yang sangat mencolok: Aloe Vera 100% Soothing Gel. Kilauan cahaya lampu ruangan tampak memantul jernih di atas permukaan tutup plastiknya, memberikan efek sejuk yang teramat kontras di tengah kepungan uap panas tubuh kami.
93Please respect copyright.PENANAl07ZIp0kL2
"Apa itu...?"
93Please respect copyright.PENANAUW69Q0URdU
"Coba aja pake dulu..." Judy berkata dengan nada suara yang melempar keraguan, menyodorkan wadah bundar hijau itu ke hadapanku. Wajah ranumnya tampak sedikit merona merah akibat rasa canggung yang masih tersisa, sementara sepasang matanya menatap pasrah ke arah tubuhku yang masih terkapar lemas.
93Please respect copyright.PENANA8j4oJXtYRm
Judy membuka tutup plastik hijau itu dengan satu gerakan tangan yang ringkas. Lapisan gel bening beraroma lidah buaya yang sejuk langsung terekspos di bawah siraman lampu ruangan, memancarkan bauran wangi pelembab yang lembut ke udara sepi di antara kami.
93Please respect copyright.PENANAitfXLS8m4K
"Ini pelembab, bisa membantu kulitmu dingin," ia meneruskan penjelasannya sembari memegang wadah yang telah terbuka itu dengan telapak tangan kirinya, mencoba meyakinkanku akan khasiat gel penyejuk tersebut.
93Please respect copyright.PENANA9LRtQsxVF9
Tanktop katun merah muda lembut bertekstur rajutan halus yang membungkus ketat tubuh moleknya tampak meregang kencang di bagian dada, mencetak lekukan sepasang payudaranya yang bulat padat tanpa pelapis bra.
93Please respect copyright.PENANAXiVxrBCwe7
"Tapi aku tak bisa bergerak... uhfff... ngghh..." Aku menyahut dengan rintihan parau yang teramat payah.
93Please respect copyright.PENANAPP7GS6apvj
Seluruh tubuhku tersentak kaku disertai getaran hebat yang merayap di sela-sela jalinan otot paha dan lenganku. Sepasang kelopak mataku terpejam erat, menahan rasa sakit membakar dari sela selangkangan celana pendek katun kelabuku yang terasa semakin menyiksa setiap kali aku mencoba menggeser posisi pinggul. Butiran peluh dingin merembes deras membasahi dahi dan seluruh leher kaos katun hitamku, membuatku benar-benar tak berdaya di atas permukaan bantal sofa bermotif bunga kelabu ini.
93Please respect copyright.PENANAhzMjrTvpHj
Judy hanya terdiam membisu, menatap lekat ke arah ekspresi wajahku yang pucat menahan jepitan nyeri. Rona merah di kedua pipinya kian memekat seiring dengan helaan napas cemasnya yang berembus samar melintasi atmosfer kamar tengah apartemen kami. Sudut bibir merah mudanya yang basah tampak mengatup rapat, bergulat dengan gejolak pikiran bimbang yang berkecamuk di dalam kepalanya seiring dengan tetesan keringat tipis yang ikut meluncur di sela pelipisnya sendiri.
93Please respect copyright.PENANAtf8GTasepp
Satu keluhan tertahan lolos dari sela bibir Judy bersamaan dengan langkah kakinya yang bergerak maju mendekati tepian sofa krem tempatku telentang. Ia mencondongkan seluruh tubuhnya ke depan, membiarkan sepasang paha mulusnya yang terekspos dari balik celana denim pendek biru berdiri tegap tepat di samping pinggulku.93Please respect copyright.PENANAItfy3QaErC


