"Seperti ini?"
94Please respect copyright.PENANAHy2twISSx7
Judy bertanya lirih sembari mempertahankan posisi membungkuknya di depan wastafel marmer. Rambut hitamnya yang diikat tinggi tampak sedikit bergoyang saat dia menolehkan wajah ranumnya ke arah samping belakang, menatapku dengan tatapan canggung bercampur pasrah.
94Please respect copyright.PENANAP5DqVM6Y6J
"Yah! Kau baru pertama kali ya membersihkan wastafel?"
94Please respect copyright.PENANAV0XenhoWcp
Aku menyahut dengan nada menyindir yang sengaja ditekan santai, berdiri tegak tepat di ambang pintu kamar mandi sembari melipat kedua lengan di depan dada kaos katun hitamku. Sepasang mataku menyipit penuh selidik, memperhatikan gerak-gerik canggungnya yang sama sekali tidak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga semacam ini.
94Please respect copyright.PENANACpSiAOrhWk
"Iya, Tuan..."
94Please respect copyright.PENANAK5REAiVB82
Gumaman pelan itu meluncur pasrah dari sela bibir merah muda Judy yang basah. Dia menurunkan sedikit bahunya, menatap lesu ke arah lubang pembuangan air yang kini telah tertusuk sebatang kawat pembersih plastik berujung gerigi tipis.
94Please respect copyright.PENANAQozaPTIiow
"Kau belum pernah melakukan pekerjaan rumah kan?"
94Please respect copyright.PENANA9g965RlLzy
Aku kembali melempar pertanyaan retoris demi terus menekan sisa harga diri wanita angkuh di hadapanku ini. Dari posisi berdiriku, sudut pandangku mendadak terkunci lurus pada dinamika perubahan bentuk tubuh moleknya yang kian condong ke depan. Celana katun pendek kelabu super ketat bertekstur spandeks lembut yang membungkus bokong padatnya tampak meregang teramat kencang, mencetak siluet bulat sintal yang begitu provokatif di bawah siraman cahaya lampu kamar mandi. Kulit paha mulusnya yang bersih terekspos sepenuhnya seiring dengan posisi berdirinya yang sedikit merenggang menahan beban tubuh.
94Please respect copyright.PENANAsLU4VKOL1F
"Coba nyalakan airnya untuk melihat udah lancar apa belum."
94Please respect copyright.PENANAEyULthyp80
Aku memberikan perintah baru sembari sedikit melangkah maju, mendekati area wastafel. Namun, saat tubuh dewasanya kian meliuk membungkuk menyentuh tepian marmer kelabu, selembar kain celana pendek kelabunya mendadak melorot samar di bagian pinggul belakang, mengekspos sela kulit pinggangnya yang putih bersih.
94Please respect copyright.PENANAPcqjEWr3ZW
Dalamannya berwarna pink...!
94Please respect copyright.PENANAnc5P1QRNNt
Jeritan batin yang teramat terkejut seketika meledak kencang di dalam kepalaku. Sepasang pupil mataku melebar sempurna saat menangkap basah sebaris renda kain tipis berwarna merah muda cerah yang menyembul sensual di balik batas kain celananya yang turun. Tekstur nilon halus dari celana dalam pink tersebut tampak memeluk erat pangkal pinggulnya, memberikan impresi erotis yang begitu mendadak di tengah kepungan uap sejuk kamar mandi kami. Jantungku berdentum luar biasa cepat menahan luapan gairah yang mendadak memadat di dalam dada.
94Please respect copyright.PENANA4jsOxoV0bv
Judy yang sama sekali tidak menyadari gejolak pikiranku segera menjulurkan tangan kanangnya ke depan. Jemari lentiknya mencengkeram tuas keran logam berlapis krom yang mengilat, lalu menyentaknya ke atas dengan satu gerakan bertenaga hingga menimbulkan bunyi gesekan logam yang tajam. Keheningan sepi mendadak merayap kembali selama beberapa detik di atas permukaan wastafel putih bersih tersebut. Tidak ada sepercik air pun yang mengalir keluar dari ujung pipa keran yang melengkung kaku.
94Please respect copyright.PENANALFIiKcrKbq
"Huh? Napa airnya gak jalan?"
94Please respect copyright.PENANAGIUlEkdooo
Aku bergumam parau sembari mencondongkan seluruh tubuh dewasaku maju ke depan, menyipitkan mata penuh selidik ke arah mulut keran yang tetap kering. Di sampingku, Judy ikut menurunkan tubuhnya lebih rendah lagi, meletakkan telapak tangan kirinya di atas permukaan marmer sembari memiringkan kepalanya dengan dahi berkerut cemas, menatap heran ke arah keanehan saluran air apartemen kami.
94Please respect copyright.PENANAfgHNWqSXA2
Satu sentakan tekanan air yang teramat tinggi mendadak meledak hebat tanpa peringatan apa pun dari dalam pipa besi. Bunyi semburan keras bergaung nyaring seiring dengan seberkas air jernih yang melesat lurus seperti anak panah, menghantam telak tepat di sela wajah dan seluruh permukaan dada molek Judy dari jarak dekat.
94Please respect copyright.PENANAdwr9VWIEM1
"Ah!"
94Please respect copyright.PENANAArywVJH3aK
"Kyaa! Mnghh...!"
94Please respect copyright.PENANA2WslYyGgsX
Tubuh moleknya tersentak ekstrem ke belakang seiring dengan jeritan pekik malunya yang meluncur lantang memecah atmosfer sepi kamar mandi, membiarkan sisa air merembes deras membasahi seluruh rajutan kaos sabrina putih bergambar nanas miliknya dalam satu kedipan mata gila.
94Please respect copyright.PENANATnRUkMBCb9
"Ugh... sialan..."
94Please respect copyright.PENANA8t86Fmj5xP
Judy menggerutu pelan sambil mengusap wajahnya yang basah. Dia perlahan menegakkan tubuhnya, lalu mengangkat lengan kanan untuk menyeka sisa-sisa air yang membanjiri kelopak mata dan pipinya menggunakan lengan baju. Beberapa tetes air dingin tampak meluncur dari ujung rambutnya yang diikat tinggi, mengalir melewati lehernya yang bersih dan mulai merona merah karena malu.
94Please respect copyright.PENANAfx4EqWCz3s
Dengan gerakan cepat, Judy mengulurkan tangan kirinya dan langsung menekan tuas keran ke bawah untuk mematikan aliran air. Seketika itu juga, suasana kamar mandi kembali menjadi sunyi.
94Please respect copyright.PENANAd9gI6nbSQZ
"Sudah kelar kan?!"
94Please respect copyright.PENANA7vJEm6gG2b
Judy bertanya dengan nada ketus, berusaha menutupi rasa malunya. Dia membalikkan badan, bergeser dari wastafel untuk menghadap langsung ke arahku sambil melotot kesal.
94Please respect copyright.PENANA8CnDIRB8gh
"Y-yeah..."
94Please respect copyright.PENANA7pqiMtFGsx
Suaraku terdengar agak serak dan canggung. Aku mendadak kaku di tempat sembari menatap lurus ke arahnya. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang akibat pemandangan di depanku.
94Please respect copyright.PENANABfrjhWSD9y
D-dia gak pake bra...!!!
94Please respect copyright.PENANA7hdWTn1OEb
Jeritan itu bergema di dalam kepalaku. Kaos sabrina putih yang tadinya longgar kini basah kuyup dan menempel ketat di tubuhnya, menjadi sangat transparan karena tipisnya bahan katun tersebut. Di balik gambar nanas hijau yang kini meliuk canggung, bentuk sepasang payudaranya yang padat terlihat sangat jelas tanpa ada pelapis sama sekali. Kulitnya yang putih tampak samar di balik kain yang menerawang, memperlihatkan lekukan dadanya yang naik-turun karena napasnya yang masih agak memburu. Tepat di bagian tengah gundukan itu, kedua putingnya yang merah muda tercetak menonjol dengan sangat jelas di balik kaosnya yang basah.
94Please respect copyright.PENANAJJc7jHxiU3
"W-wow..."
94Please respect copyright.PENANA63ClsBQmL4
Gumaman pendek itu lolos begitu saja dari mulutku tanpa bisa kutahan. Aku menelan ludah dengan tenggorokan yang mendadak terasa kering. Pipiku langsung terasa panas dan memerah karena syok sekaligus salah tingkah melihat pemandangan sejelas itu di depanku.
94Please respect copyright.PENANAC2Zo0ZvQK2
Judy terdiam, lalu mengerutkan dahinya sambil menatapku heran, bingung melihatku yang mendadak membeku dengan wajah memerah. Judy awalnya menatapku dengan sela pandangan heran. Namun, sedetik kemudian dia menyadari arah mataku yang terpaku lurus pada dadanya. Dia menundukkan pandangan, menatap kaos putih sabrina bergambar nanas miliknya yang kini menempel basah menjiplak bentuk sepasang payudaranya yang padat tanpa lapisan bra. Puting merah mudanya mencetak siluet menonjol yang teramat jelas di balik kain katun yang menerawang.
94Please respect copyright.PENANAtH9vwKSc0P
Seketika itu juga, rona merah yang sangat pekat langsung membakar seluruh wajah Judy. Kelopak mata indahnya terbelalak sempurna menahan rasa canggung yang luar biasa dahsyat. Kedua sudut bibirnya bergetar samar sembari menahan napas yang mendadak tercekat.
94Please respect copyright.PENANASWvvOTdUXg
"Aku mau ganti baju dulu, Tuan!"
94Please respect copyright.PENANAddEwUoCnxN
Satu seruan gugup meluncur lantang dari sela bibirnya. Judy dengan gerakan ekstrem langsung membalikkan badan, menyilangkan kedua lengan rampingnya di depan dada untuk menyembunyikan gundukan payudaranya yang terekspos jelas. Langkah kaki telanjangnya bergerak dinasih setengah berlari melintasi ambang pintu kamar mandi, menyisakan gerakan celana katun pendek kelabu ketatnya yang bergoyang terburu-buru menjauh dariku.
94Please respect copyright.PENANAo4wLofHFWV
"K-kau gak perlu..."
94Please respect copyright.PENANA5BLPUeJ9uM
Gumaman parauku terputus begitu saja di udara. Aku hanya bisa menatap siluet punggungnya yang menghilang di balik pintu kamar dengan detak jantung kiat berdentum kencang.
94Please respect copyright.PENANAhT4aYyPcod
Malam pun tiba dengan cepat, menggantikan sisa cahaya sore di luar jendela apartemen. Bulan purnama yang bersinar terang menggantung tinggi di langit malam yang biru gelap, ditemani taburan bintang yang berkilau sepi di atas deretan gedung beton kota.
94Please respect copyright.PENANAG7x8A67NCW
"Ahhh... mnghh..."
94Please respect copyright.PENANA7XpXOAlD0K
Sebuah helaan napas yang teramat lega dan santai lolos dari sela bibirku.
94Please respect copyright.PENANAAbpS60vfKd
"Judy... aku suka ini..."
94Please respect copyright.PENANABijPl1Yb7f
Aku bergumam pelan sembari meregangkan seluruh otot tubuhku yang dibalut kaos katun hitam santai. Aku kini berada dalam posisi tiarap sepenuhnya di atas lantai ubin keramik abu-abu ruang tengah. Kedua telapak tanganku bertumpu saling bertautan di bawah dagu, sementara sepasang mataku terpejam dengan sudut bibir melengkung membentuk senyuman kecil penuh kemenangan yang teramat puas.
94Please respect copyright.PENANAIetx7esIZm
"S-sudah benar kan seperti ini?"
94Please respect copyright.PENANARSnOfWCH9E
Suara Judy terdengar memecah keheningan malam, meluncur dengan nada ragu sekaligus pasrah. Dia kini telah berganti pakaian, mengenakan kaos tanpa lengan atau tanktop katun berwarna merah muda lembut bertekstur rajutan halus yang pas membungkus lekuk tubuhnya, dipadukan dengan celana denim pendek biru yang mengekspos paha mulusnya.
94Please respect copyright.PENANApvWDMmeW58
"Tentu saja, rasanya enak kok..."
94Please respect copyright.PENANAOHFzF6JXf5
Aku menyahut santai tanpa mengubah posisiku yang masih tiarap dengan mata terpejam menikmati ketenangan malam ini.
94Please respect copyright.PENANAPQDZBZ3XBX
Di atas lantai ubin keramik abu-abu ruang tengah, dinamika hubungan kami kini telah bergeser sepenuhnya. Judy tampak duduk bersimpuh canggung tepat di samping pinggulku. Dengan posisi tubuh yang condong ke depan, dia perlahan mengangkat kaki kanan mulusnya yang bersih, lalu mendaratkan permukaan telapak kakinya yang halus tepat di atas area bokong dan pinggang belakang celana pendek katun kelabuku. Sentakan tekanan taktil yang dipaksakannya lewat pijatan kaki telanjang itu terasa meredakan seluruh rasa lelah di punggungku, mengunci kepatuhan mutlak atas dirinya yang kini resmi menjadi budakku di bawah batasan kontrak baru kami.
94Please respect copyright.PENANA7rADXgjjvZ
Ha... aku bisa merasakan bokongnya...
94Please respect copyright.PENANAVJIKb0z77I
Jeritan batin itu bergejolak liar di dalam kepalaku. Posisi kami yang semula hanya pijatan kaki biasa mendadak berubah. Judy kini telah memindahkan seluruh berat badannya, bergerak maju untuk memposisikan dirinya tepat di atas punggungku. Sepasang paha mulusnya yang terbuka dari balik celana denim pendek biru kini menjepit erat sisi lambungku, sementara gundukan bokong padatnya yang terbalut ketat kain denim mendarat pasrah tepat di atas pinggang belakangku. Tekanan dari bokong sintalnya yang terasa kenyal dan hangat seolah menekan lurus celana pendek katun kelabuku, mengirimkan sensasi intim yang membuat jantungku berdegup kencang di atas permukaan lantai ubin keramik abu-abu.
94Please respect copyright.PENANAlT0G8NQISW
"Tapi apa yang kau lakukan dengan uangmu itu?"
94Please respect copyright.PENANAB0VN7SYWl0
Aku melempar pertanyaan dengan nada menyelidik, mencoba mengalihkan keteganganku sembari menikmati sensasi empuk yang menekan punggungku. Aku melipat kedua telapak tanganku di bawah dagu, membiarkan posisi kepalaku tetap bertumpu santai di atas lantai ubin keramik abu-abu yang sejuk. Di atasku, gerakan jemari lentik Judy perlahan merayap naik, mulai memijat sela-sela otot bahu dan tengkuk leherku dengan dinamika gerakan yang agak gemetar.
94Please respect copyright.PENANAIGXMjNGTSQ
"O-oh, um..." Judy menyahut dengan suara yang mendadak terbata canggung. Rona merah tipis kembali merayap di kedua pipinya yang ranum seiring dengan helaan napasnya yang berembus samar di atas puncak rambutku. "A-aku pake untuk investasi..."
94Please respect copyright.PENANA6EuWFlR8W8
Dia meneruskan kalimatnya sembari mendongakkan wajah, melemparkan pandangan canggung ke arah sudut ruangan seolah mencoba menghindari tatapanku. Rambut hitamnya yang dikuncir tinggi bergoyang samar mengikuti perubahan gerak bahunya yang kian menegang kaku di bawah intimidasi pertanyaanku.
94Please respect copyright.PENANAhTdcQa8dxv
"Huh? Nanam saham gitu?!"
94Please respect copyright.PENANAaD57RKFOa9
Aku menyela cepat, memiringkan kepalaku sedikit ke arah samping belakang untuk melirik langsung ke arah wajahnya. Sepasang mataku menyipit tajam penuh selidik, mengunci pandangan pada siluet wajah ranumnya yang kini berada tepat di atasku.
94Please respect copyright.PENANAKxe1EoMDnb
"T-tidak, bukan itu..." Judy buru-buru menyangkal dengan nada parau yang semakin merendah, menundukkan kepalanya kembali dengan kedua sudut bibir yang mengatup rapat karena malu. "I-itu adalah judi olahraga."
94Please respect copyright.PENANA7ztEHi67I9
Pengakuan jujur itu akhirnya meluncur pasrah dari sela bibirnya yang basah. Tetesan peluh tipis merembes keluar di sela pelipisnya, meluncur lambat melintasi leher putihnya hingga membasahi kerah tanktop katun merah muda lembut yang membungkus gundukan payudaranya tanpa pelapis bra.
94Please respect copyright.PENANAnoLgcD8X64
"A-aku... ngghh... udah menang 20 kali, tapi..." Judy terus menggerutu pelan dengan ekspresi wajah yang menekuk lesu.
94Please respect copyright.PENANARVHiyWOpae
Kedua telapak tangan rampingnya tetap bertumpu kaku di atas pundak kaos katun hitamku, meremas pelan jalinan otot bahuku seirama dengan pengakuan dosa finansialnya yang kini sepenuhnya berada di bawah kendaliku siang ini.
94Please respect copyright.PENANAayDadC7PGn
"Harusnyakan kau mendapatkan uang yang lebih banyak lagi?!"
94Please respect copyright.PENANAVvyKPrJMvX
Aku menimpali dengan nada menyindir yang tertahan di sela kepalaku yang masih bertumpu nyaman pada lantai ubin keramik abu-abu. Di atasku, gerak jemari lentik Judy mendadak terhenti kaku tepat di atas jalinan otot bahu ku seiring dengan rahangnya yang kembali mengatup teramat rapat.
94Please respect copyright.PENANAtGcUbDA9V0
"Tapi... si keparat itu membawa lari uangku, jadi..." Kalimat Judy menggantung pasrah di udara, tersamarkan oleh helaan napasnya yang mendadak memburu gusar. Kedua sudut bibirnya yang merah muda tampak bergetar samar menahan emosi kekesalan yang mendalam atas nasib sialnya.
94Please respect copyright.PENANAvlAX9riSFs
"Huh? Jadi dia melakukan judi online gitu ya?"
94Please respect copyright.PENANArHSc0ltZnV
Aku kembali bergumam dengan sepasang mata yang menyipit tajam penuh selidik, menolehkan wajahku sedikit ke samping belakang demi mengunci pandangan pada rahangnya yang menegang. Butiran peluh tipis merembes keluar di sela dahiku, bersamaan dengan rona merah canggung yang kian menghangat akibat jepitan paha mulusnya yang terasa semakin menekan ketat di samping pinggulku.
94Please respect copyright.PENANA187szznnHF
"Ugh... harusnya si keparat itu masuk penjara saja!"
94Please respect copyright.PENANAAQqi9UvQIQ
Satu jeritan geram mendadak meledak dari sela bibir Judy. Seiring dengan emosinya yang memuncak, kedua telapak tangan rampingnya tiba-tiba bergerak agresif mencengkeram kuat pangkal otot leher belakangku.
94Please respect copyright.PENANAOq7cN0QVGr
"J-Judy, tunggu! Sakittt... ngghh...!"
94Please respect copyright.PENANAuadvHHVg8m
Aku memekik parau dengan mata terbelalak nanar saat merasakan remasan kuat yang menghantam telak di sela bahuku. "Kau hampir mematahkan bahuku!"
94Please respect copyright.PENANAfAtimrrJHO
Aku menggerutu parau sembari buru-buru menyentak maju tubuhku sedikit ke depan untuk meredam tekanan tangan kasarnya, membiarkan posisi duduknya di atas punggungku sedikit bergeser canggung.
94Please respect copyright.PENANAIdmthhETRI
"Oh..." Judy hanya meloloskan gumaman pendek dengan ekspresi wajah menekuk canggung, menyadari cengkeraman emosionalnya baru saja melukai pemilik kontrak barunya.
94Please respect copyright.PENANAZ2cRqgnklU
"Cukup dah, sekarang kakiku lagi sekarang!"
94Please respect copyright.PENANAKzCq5pEers
Aku berseru santai sembari kembali meregangkan seluruh otot tubuhku di atas lantai, memberikan perintah baru untuk mengembalikan posisinya ke arah bawah.
94Please respect copyright.PENANAatUjpakCMQ
"Ahhh... emhh... enak banget..."
94Please respect copyright.PENANAmWONxQSc5w
Sebuah desah napas panjang yang sarat akan relaksasi lolos begitu saja dari sela bibirku saat merasakan kembali sentakan telapak kakinya yang halus mulai memijat permukaan betis dan paha belakangan celana katun kelabuku di bawah temaram lampu ruang tengah.
94Please respect copyright.PENANAVqKi2hNwhH
"Pijitanmu enak, Judy!"
94Please respect copyright.PENANA6lOMemS4ho
Aku bergumam pelan dengan sepasang kelopak mata terpejam pasrah, membiarkan rona merah puas menghiasi sela wajahku seiring dengan atmosfer intim malam yang kian pekat mengunci takdir baru di antara kami.94Please respect copyright.PENANAwNgqmz1y2K


