Bab 4: Panggilan ke Penthouse
467Please respect copyright.PENANApMXbibjewo
Sinta duduk di sofa apartemen kecilnya dengan tubuh masih terasa sakit manis setelah sesi bersama Budi. memeknya masih berdenyut pelan, sisa sperma dari pria kekar itu sesekali merembes keluar saat ia menggeser posisi. Rasa malu membakar dadanya setiap kali mengingat bagaimana ia menjerit minta lebih di ruang ganti gym. Tapi ada sesuatu yang lebih mengganggu—kartu nama Alex yang tergeletak di meja. Pria dingin itu seolah masih membisikkan kata-kata kotor di telinganya.
467Please respect copyright.PENANABoald38fqK
Dengan tangan gemetar, Sinta mengambil ponsel dan mengetik pesan singkat: “Ini Sinta dari kafe. Masih ingat?” Ia hampir menghapusnya berkali-kali, tapi akhirnya dikirim juga. Jawaban Alex datang hanya dalam hitungan menit.
467Please respect copyright.PENANAIf6aFF865l
“Sudah kangen? Aku tunggu di penthouse malam ini. Alamat dikirim. Jangan pakai celana dalam.”
467Please respect copyright.PENANA2XcRm02smI
Sinta menelan ludah. Tubuhnya langsung bereaksi—puting di payudaranya mengeras, memeknya mengeluarkan cairan orgasme hangat lagi. *Kenapa aku melakukan ini?* batinnya. Tapi kakinya sudah bergerak menuju lemari, memilih gaun hitam pendek yang menempel ketat di tubuh atletis rampingnya. Rambut bergelombangnya dibiarkan terurai, make-up tipis membuat wajah innocentnya terlihat semakin menggoda.
467Please respect copyright.PENANAiE0Q1DVDch
Malam itu, taksi mengantarnya ke sebuah gedung mewah di Jakarta Selatan. Lift privat membawanya langsung ke penthouse Alex. Pintu terbuka otomatis saat ia tiba. Alex berdiri di tengah ruangan luas dengan pencahayaan redup, memakai kemeja hitam yang digulung lengan, menampilkan lengan kuat dan postur tegapnya. Matanya dingin tapi penuh api kendali.
467Please respect copyright.PENANA7xkSkYR4Ji
“Kamu datang,” kata Alex dengan suara rendah, mendekat perlahan. Ia mengelilingi Sinta seperti predator, tangannya menyentuh pinggang dari belakang. “Tubuhmu sudah berbau nafsu. Apa kamu baru saja bermain dengan orang lain?”
467Please respect copyright.PENANApuuwL1GUBs
Sinta tersentak. “Tidak… maksudnya…”
467Please respect copyright.PENANAglXZk4k953
Alex tersenyum tipis. “Tidak apa. Malam ini, aku akan membuatmu lupa semua itu.” Ia menarik Sinta ke ruang tamu yang luas, di mana ada sofa panjang dan meja rendah. Musik lembut instrumental mengalun pelan. Alex menuangkan segelas wine merah untuk Sinta. “Minum. Biar tubuhmu rileks sebelum aku hancurkan.”
467Please respect copyright.PENANAuGtpCzWR7O
Sinta menyesap wine itu, alkohol hangat menyebar di perutnya. Alex berdiri di belakang, tangannya menyusuri lengan Sinta, naik ke bahu, lalu turun ke payudara. Jari-jarinya yang panjang meremas pelan dari atas gaun, memutar puting yang sudah keras. “puting ini sensitif sekali. Lihat, sudah mengeras hanya karena sentuhanku.”
467Please respect copyright.PENANASc7DPVnnpd
Sinta mendesah pelan. “Alex… pelan dulu…”
467Please respect copyright.PENANANbYYLFFkRj
“Tapi kamu suka yang pelan dan dalam, kan?” bisik Alex di telinga. Lidahnya menjilat cuping telinga Sinta, gigit kecil, membuat tubuh wanita itu merinding hebat. Tangan satunya turun ke paha, menyusup ke bawah gaun, dan menemukan memek yang memang sudah telanjang tanpa celana dalam. “Basah sekali. memekmu banjir cairan orgasme hanya karena perjalanan ke sini. Kamu benar-benar pelacur kecil yang sensitif.”
467Please respect copyright.PENANAjrzgqf0l9t
Ia membalik tubuh Sinta, menciumnya dalam. Ciuman Alex berbeda dengan Budi—lebih terkendali, tapi lebih dalam, lidahnya menari dengan ahli, menjilat setiap sudut mulut Sinta. Sementara itu, jari tengahnya mengusap kristoris pelan, memutar dengan tekanan yang pas. Sinta menggelinjang, pinggulnya maju mencari lebih.
467Please respect copyright.PENANAPfWcl58txv
Alex menarik diri, melepaskan gaun Sinta hingga jatuh ke lantai. Tubuh ramping kuning langsat itu kini hanya tertutup bra tipis. Ia membuka bra itu dengan satu tangan, melepaskan payudara C-cup yang indah. “Sempurna,” puji Alex sambil menunduk. Mulutnya menghisap puting kiri dengan lembut tapi intens, lidah berputar lambat, sesekali mengisap kuat hingga *slurp* basah terdengar. Tangan kanannya memainkan puting kanan, mencubit dan memilin.
467Please respect copyright.PENANA80pFFFEwrf
Sinta memegang kepala Alex, napasnya tersengal. “Enak… lidahmu panas…” cairan orgasme dari memeknya menetes pelan ke paha dalam.
467Please respect copyright.PENANAqcvvzvtptc
Alex membawa Sinta ke sofa, membaringkannya telentang. Ia membuka kaki Sinta lebar, menatap memek yang sudah mengkilap. “Cantik. Bibir memekmu tebal dan merah. kristoris kecil ini sudah membengkak minta perhatian.” Ia menjilat dari bawah ke atas dengan lidah datar, menikmati rasa manis asin cairan orgasme Sinta. Lidahnya masuk ke dalam lipatan, menari di sekitar kristoris menghisap pelan.
467Please respect copyright.PENANAB3FRGXbLVA
“Ahh! Alex… jangan di situ terus…” Sinta menggeliat. Alex menahan pinggulnya kuat, terus menjilat dengan ritme yang menyiksa. Ia memasukkan dua jari, melengkung mencari titik G, sambil lidah tetap di kristoris Sinta orgasme pertama datang pelan tapi panjang, tubuhnya melengkung, cairan orgasmenya mengalir deras ke mulut Alex.
467Please respect copyright.PENANALkvg4wwVi1
Alex tidak berhenti. Ia menambah jari menjadi tiga, meregangkan memek sambil terus menghisap kristoris Orgasme kedua menyusul cepat. Kaki Sinta gemetar hebat, air mata mulai mengalir karena sensasi berlebih.
467Please respect copyright.PENANAgDr8D4gslg
“Bagus. Tubuhmu memang mudah sekali mencapai klimaks,” kata Alex puas. Ia berdiri, melepaskan kemeja dan celana. kontolnya sudah keras sempurna—panjang, tebal, dengan kepala besar yang mengkilap. Tapi ia belum memasukkannya. Sebaliknya, Alex mengambil tas hitam dari meja samping.
467Please respect copyright.PENANAnVMtD5BzN0
Dari dalam tas, ia mengeluarkan anal plug sedang dengan getar, sepasang elektroda kecil untuk electro-stim, dan tali sutra. “Malam ini kita mulai pelan dengan mainan. Kamu suka merasa penuh, kan?”
467Please respect copyright.PENANAmnVQ162WbY
Sinta mengangguk lemah, meski hatinya berdegup kencang karena malu. Alex melumuri plug dengan cairan orgasme Sinta sendiri, lalu membalik tubuh wanita itu posisi doggy di sofa. Ia mengusap lubang anal pelan, mendorong plug masuk perlahan. “Rasain… analmu meregang. Dingin dan penuh.”
467Please respect copyright.PENANAk83LwrQCBI
Sensasi meregang membuat Sinta mendesah panjang. “Penuh… anal saya penuh sekali…” Getaran dinyalakan pelan, membuat seluruh area panggul bergetar nikmat.
467Please respect copyright.PENANAqLhul8yfw9
Alex memasang elektroda kecil di kedua sisi puting dan di sekitar kristoris Dengan remote di tangan, ia menyalakan arus lemah. Sensasi listrik kecil menyengat, campur panas dan getaran yang aneh. “Bagaimana? Sakit tapi enak, ya?”
467Please respect copyright.PENANAdM2XgGBW5i
Sinta menjerit kecil, tubuhnya kejang. “Ahh! Panas… listriknya membuat kristoris saya berdenyut gila!” Arus dinaikkan sedikit, membuatnya orgasme lagi hanya dari stim itu, cairan orgasme muncrat ke sofa.
467Please respect copyright.PENANAXIBZfctMgr
Alex tersenyum dingin. Ia duduk di depan Sinta, memegang kepalanya pelan. “Sekarang hisap kontolku sambil merasakan mainan di tubuhmu.”
467Please respect copyright.PENANAOcTPY7n0bn
Sinta membuka mulut, memasukkan kepala kontol Alex yang panas. Rasa asin cairan bening memenuhi lidahnya. Alex memompa pelan, tangan satu memegang remote electro, sesekali menambah intensitas. Sinta tersedak, air liurnya menetes deras ke payudara, tapi ia terus menghisap dengan rakus.
467Please respect copyright.PENANA6jGMzNTuW7
Setelah hampir 40 menit foreplay intens—jilatan, jari, mainan, electro-stim—Sinta sudah orgasme hampir enam kali. Tubuhnya berkeringat, kaki gemetar tak berhenti, air mata mengalir terus karena campuran malu dan kenikmatan ekstrem.
467Please respect copyright.PENANA156dMlzZnw
Alex akhirnya mencabut plug anal, melepaskan elektroda. Ia membaringkan Sinta telentang, mengangkat satu kakinya tinggi. Kepala kontolnya menggesek memek yang sudah sangat longgar dan banjir. “Minta dengan sopan.”
467Please respect copyright.PENANAcLp5oTyM4U
Sinta menatap Alex dengan mata sayu. “Masukkan kontol Alex… isi memek saya… saya milikmu malam ini…”
467Please respect copyright.PENANA35uku7Tk0C
Dengan dorongan mantap, kontol Alex masuk setengah. Sensasi panas, tebal, dan berdenyut membuat Sinta menjerit. Alex mendorong perlahan hingga pangkal, lalu mulai memompa dengan ritme terkendali tapi dalam. Setiap dorongan menyentuh dasar, membuat perut Sinta terasa penuh.
467Please respect copyright.PENANASD3mrKjPtr
“memekmu nyedot kontolku dengan sempurna,” desis Alex sambil meremas payudara. Ia mempercepat, suara *plak plak* pinggul bertemu bokong terdengar ritmis. Electro-stim sesekali dinyalakan lagi di kristoris membuat Sinta orgasme berulang.
467Please respect copyright.PENANAPGJ8LoB3ZQ
Sinta menangis keras. “Terlalu dalam… perut saya penuh… saya keluar lagi!” cairan orgasmenya menyembur setiap kali kontol Alex keluar masuk.
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah 467Please respect copyright.PENANAIO5ERsYlWL
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah467Please respect copyright.PENANAnc4IlCqGPD
467Please respect copyright.PENANAXr6aMZQR40


