4548Please respect copyright.PENANAiJnfTdc4FM4548Please respect copyright.PENANAjQ4Cl9xEYp
BAB 1
4548Please respect copyright.PENANAPNydctOXOR
4548Please respect copyright.PENANAFTMrXn2ogT
4548Please respect copyright.PENANAqfnrkzFnwx
Pagi itu seperti biasa. Aku, Raka, sudah duduk di kubikel kantor sejak jam delapan lewat. Bau kopi instan yang sudah dingin campur aroma printer yang panas memenuhi ruangan terbuka yang pengap. Saya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan distributor barang, sebagian besar bertugas mengurus invoice, mengoordinasikan penjualan, dan sesekali membantu laporan bulanan. Kerjanya nggak berat-berat amat, tapi cukup bikin otak capek.
4548Please respect copyright.PENANAvRuyIzMPdw
4548Please respect copyright.PENANAi3o6PZpAoC
4548Please respect copyright.PENANAVODW3EKeEn
Sambil ngetik data di laptop, pikiranku melayang ke rumah. Ke Qila. Istriku yang sekarang sudah lima tahun nemenin aku. Dia tidak bekerja kantoran seperti aku. Dia yang punya usaha galon air mineral di samping rumah kami. Awalnya cuma iseng-iseng, tapi sekarang sudah lumayan berkembang. Ada tiga karyawan tetap: Genjor yang masih muda, Bang Wesno, dan Bang Dayat.
4548Please respect copyright.PENANAtDph85vKJM
4548Please respect copyright.PENANAkvHcHg2VAL
4548Please respect copyright.PENANARVtHv13lvM
Aku tersenyum kecil sendiri. Bangga sih sebenarnya. Qila mandiri banget. Tapi terkadang ada rasa khawatir yang nyelinap. Depot itu penuh cowok-cowok, dan aku cuma pulang sakit. “Ya sudahlah,” gumamku dalam hati, “Qila kan bukan anak kecil.”
4548Please respect copyright.PENANASi4ELlLCQa
4548Please respect copyright.PENANAZXlWV1EXSN
4548Please respect copyright.PENANAcCaGvVjx5u
Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini setiap pagi begini aku selalu ingat cerita Qila soal Genjor. Anak itu baru 20 tahun, badannya tonggos tapi cungkring, katanya rajin angkat galon. Qila sering berkata, “Untung ada Genjor, mas. Kalau nggak, aku yang capek sendiri angkat-angkat.”
4548Please respect copyright.PENANAxYeZWybFnB
4548Please respect copyright.PENANAgHZuPp9jXM
4548Please respect copyright.PENANAubpuagkPqk
Aku memusatkan kepala, mencoba fokus ke layar. Tangan kiriku memegang mouse, tapi pikiran kananku kebayang Qila yang pagi tadi masih pakai daster tipis waktu aku berangkat. Payudaranya yang masih kencang meski sudah 26 tahun, pinggulnya yang agak lebar, dan cara dia membungkuk sedikit waktu ambil piring. Aku menggeser duduk, merasa sedikit panas di selangkangan.
4548Please respect copyright.PENANALhIO9ypjDo
4548Please respect copyright.PENANApxKFYW0j0Y
4548Please respect copyright.PENANAwkRjJIqMoC
“Raka, rapat jam 10 ya,” kata bosku dari sebelah kubikel.
4548Please respect copyright.PENANA2VDDmPV8Da
4548Please respect copyright.PENANA3eff7uQDs2
4548Please respect copyright.PENANAzCebROqorR
“Iya, Pak,” jawabku sambil tersenyum sopan.
4548Please respect copyright.PENANAgFt6YHIwPJ
4548Please respect copyright.PENANAuQEdhy5hsY
4548Please respect copyright.PENANAxv4lxnCXzh
Sepanjang pertemuan, aku cuma setengah denger. Pikiranku balik lagi ke rumah. Aku bayangin Qila lagi ngurus depot, pakai kaos longgar dan celana pendek rumah yang biasa dia pakai. Keringat tipis di ulang, rambut membeku asal-asalan. Genjor pasti lagi bantu angkat galon di depannya. Badannya yang kurus tapi kuat itu pasti mudah angkat beban berat.
4548Please respect copyright.PENANAGKBHCkqCst
4548Please respect copyright.PENANA4H4xE2qtGC
4548Please respect copyright.PENANAtbsRl3Tez6
Aku menghela napas pelan. Kenapa aku malah mikir begini? Harusnya aku senang Qila dibantu. Tapi ada sedikit rasa tidak enak yang tidak jelas asal usulnya. Seperti ada sesuatu yang mulai menggelitik di dada.
4548Please respect copyright.PENANAiChnomW6zH
4548Please respect copyright.PENANAyKTuYfQ55Z
4548Please respect copyright.PENANAgWpgIeyznW
Jam lima sore aku sudah keluar kantor. Macet seperti biasa di Semarang. Aku naik motor, angin pegal agak panas menyapu wajah. Begitu masuk kompleks perumahan, saya sengaja lewat depan depot galon milik Qila. Pintu depot masih terbuka lebar.
4548Please respect copyright.PENANAGKAh5LwPDg
4548Please respect copyright.PENANAAsCZ7Os6bx
4548Please respect copyright.PENANANUaoAB3qUE
Aku memperlambat laju motor. Genjor sedang mengangkat dua galon sekaligus ke atas motor pelanggan. Badannya memang kurus, namun otot lengannya tampak menonjol saat diangkat. Bang Wesno lagi bantu muat galon kosong ke rak, sementara Bang Dayat — yang badannya gemuk dan mukanya biasa saja — sedang berdiri di dekat meja kasir, ngobrol dengan Qila.
4548Please respect copyright.PENANApAQUSr9MqS
4548Please respect copyright.PENANA1ilGbmlcBr
4548Please respect copyright.PENANAqfRpPdxFf2
Qila berdiri di sana, memakai kaos putih longgar dan celana pendek jeans. Rambutnya diikat ekor kuda. Dia tertawa kecil sambil mencatat sesuatu di buku nota. Aku melihat Genjor melirik ke arah Qila, senyum lebar di wajahnya yang masih muda itu. Qila balas melirik sekilas, lalu tersenyum tipis sebelum kembali fokus ke nota.
4548Please respect copyright.PENANAG9Rxf2KEP1
4548Please respect copyright.PENANAlpK2LJtn4Y
4548Please respect copyright.PENANA57BiP3yx0M
Aku merasa ada yang hangat di dada. Bukan marah, tapi... aneh. Seperti ada sesuatu yang mengganggu tapi aku tidak bisa jelasin. Saya melanjutkan motor ke rumah yang hanya lima meter dari depo.
4548Please respect copyright.PENANAkENXc6yexG
4548Please respect copyright.PENANA8gfsOjLEe9
4548Please respect copyright.PENANA98OYpPJQXm
Begitu masuk rumah, aroma masakan tumis kangkung dan ikan asin langsung disambut. Qila sudah pulang lebih dulu. Aku melepas sepatu, lalu masuk ke dapur. Qila sedang membalikkan ikan di wajan, pinggulnya sedikit bergoyang mengikuti gerakan.
4548Please respect copyright.PENANAqnuPsQcgVt
4548Please respect copyright.PENANAlfXkuFzEmv
4548Please respect copyright.PENANAvDJOEqDbIL
“Mas pulang,” kataku sambil mendekat dari belakang, memeluk pinggangnya pelan.
4548Please respect copyright.PENANAChf45CVi7C
4548Please respect copyright.PENANAbIwprFBTlo
4548Please respect copyright.PENANAaRSDzpUf9i
Qila tersenyum, tapi jangan terlalu antusias. “Iya, capek ya hari ini?”
4548Please respect copyright.PENANAWavO8Sm9zo
4548Please respect copyright.PENANAktxuu91P8c
4548Please respect copyright.PENANADQhgwlPLgP
“Biasa aja. Kamu?”
4548Please respect copyright.PENANADulj4584MM
4548Please respect copyright.PENANAyCQLDs1sfX
4548Please respect copyright.PENANAOkh1sHLNhK
“Biasa. Hari ini banyak pesanan. Untung Genjor rajin.”
4548Please respect copyright.PENANATGdvMarxCB
4548Please respect copyright.PENANAeov0CcVPq0
4548Please respect copyright.PENANASmQ8vsXzeO
Lagi. Namanya disebut. Aku mencium bahu Qila sekilas, mencium aroma keringat bercampur sabun mandi yang masih tersisa. Tubuhnya hangat. Payudaranya yang sedang ditekan lengan bawahku terasa kenyal. Nafsu kecil mulai muncul, tapi aku tahan. Belum waktunya.
4548Please respect copyright.PENANAhGwFIRv6Fs
4548Please respect copyright.PENANAAmr6LRALje
4548Please respect copyright.PENANAsQtWYTijYh
Kami makan malam di meja kecil ruang tengah. Lampu neon kuning membuat suasana terasa hangat tapi biasa saja.
4548Please respect copyright.PENANANUgTfYIT1m
4548Please respect copyright.PENANA7mMAsL0wPi
4548Please respect copyright.PENANAz4u139XXwj
Qila menyendokkan nasi ke piringku. Gerakannya santai, tapi aku perhatikan ada sedikit keringat di batang meniru yang putih. Kaosnya agak basah di bagian dada karena uap masakan, membuat bentuk bra-nya samar terlihat.
4548Please respect copyright.PENANAqh9CbLtBWs
4548Please respect copyright.PENANAPoyzqS6F9E
4548Please respect copyright.PENANAcRryLVu38H
“Kamu hari ini bagaimana di kantor?” tanyanya sambil duduk di depanku.
4548Please respect copyright.PENANAdPfCb4Z6YM
4548Please respect copyright.PENANAPS65V59BN8
4548Please respect copyright.PENANAbMJLlpPeWT
"Meeting mulu. Bos minta laporan tambahan lagi. Capek juga."
4548Please respect copyright.PENANASOiBD0Ky55
4548Please respect copyright.PENANA8BIkzz4kIG
4548Please respect copyright.PENANAyY5ui1Mqcf
Qila mengangguk, lalu mulai cerita. "Di depot hari ini rame. Pagi-pagi sudah ada yang pesen 50 galon buat kontrak. Genjor sama Bang Wesno yang ngangkat-ngangkat. Genjor itu ya, mas... badannya kurus tapi kuat banget. Tadi dia angkat galon numpuk di belakang sendirian. Aku cuma berdiri ngawasin."
4548Please respect copyright.PENANAui1wFWMDdF
4548Please respect copyright.PENANAs3tIKSFJKX
4548Please respect copyright.PENANAIB7BBhOmNo
Aku mengunyah nasi lebih pelan. Ada rasa hangat yang naik ke tenggorokan. “Emang dia rajin ya?”
4548Please respect copyright.PENANASyKR4Noir3
4548Please respect copyright.PENANAERisd6NvLz
4548Please respect copyright.PENANAKU9XyLic9E
"Iya. Kalau nggak ada dia, aku pasti pegel sendiri. Bang Dayat sih lebih suka bantu di bagian muat-muat yang ringan. Dia kan udah agak tua, badannya juga gemuk."
4548Please respect copyright.PENANAmfkIO08DFc
4548Please respect copyright.PENANA5nidMiPqg8
4548Please respect copyright.PENANAGtl10mdaEw
Qila tertawa kecil saat mengatakan itu. Tawannya ringan, tapi entah kenapa terdengar agak berbeda di telingaku. Aku bayangin Bang Dayat yang jelek mukanya, gemuk, berdiri dekat Qila seharian. Lalu Genjor yang muda, energik, pasti sering dekat-dekat.
4548Please respect copyright.PENANAf2py21ymet
4548Please respect copyright.PENANARIjnwc3CIe
4548Please respect copyright.PENANAIX7gJrSLEL
“Terus tadi Genjor kepleset dikit waktu angkat galon yang basah. Bajunya basah kuyup, mas. Kelihatan badannya yang keringetan gitu,” lanjut Qila sambil mengaduk sambal di piringnya.
4548Please respect copyright.PENANAb87NEyEbLJ
4548Please respect copyright.PENANAmFwONa81x7
4548Please respect copyright.PENANAOoLNhjr3sj
Aku merasa ada yang berdenyut pelan di selangkangan. Bukan karena cerita itu langsung bikin sange, tapi karena cara Qila menceritakannya. Matanya agak berbinar, suaranya santai tapi ada nada yang... entahlah. Aku merasakan dada agak sesak, tapi juga ada sensasi aneh yang nikmat.
4548Please respect copyright.PENANAwzi1TzvkhQ
4548Please respect copyright.PENANAFeb7TADpwL
4548Please respect copyright.PENANAc6vtZHMheB
“Ya untung nggak apa-apa,” jawabku, berusaha terdengar biasa.
4548Please respect copyright.PENANAlQtfrdL86w
4548Please respect copyright.PENANADbBLqiDhy2
4548Please respect copyright.PENANAvGIpiNyg1g
Qila mengangguk. "Iya. Aku terima kasih dia minum es teh langsung. Kasian juga."
4548Please respect copyright.PENANAlOgr33lG7m
4548Please respect copyright.PENANAZQdVs84TLh
4548Please respect copyright.PENANASBdoGXypQD
Kami makan dalam diam beberapa saat. Aku mencuri pandang ke wajah Qila. Cantik. Kulitnya putih mulus, bibirnya agak tebal, mata yang sipit manis. Sudah lima tahun, tapi tubuhnya masih enak dipandang. Payudaranya masih kencang, kedalaman rata, bokongnya montok. Tapi aku tahu, sex kami akhir-akhir ini... kurang memuaskan buat dia.
4548Please respect copyright.PENANAb9BIv4U3Fk
4548Please respect copyright.PENANA3DldP6IUkU
4548Please respect copyright.PENANAwHPkXKOELl
Aku ingat malam-malam sebelumnya. Aku selalu cepat keluar dan biasanya dalam lima menit sudah selesai. Qila jarang protes, tapi aku tahu dari cara dia diam dan manyun setelahnya.
4548Please respect copyright.PENANAP9w9VHm5zS
4548Please respect copyright.PENANAtB0naLljmV
4548Please respect copyright.PENANAdR6laIHQkT
Malam ini, aku berharap bisa lebih baik.
4548Please respect copyright.PENANAHlvZxcBVdV
4548Please respect copyright.PENANADY6RKq0ld3
4548Please respect copyright.PENANAFl4oDL9Ora
Qila melanjutkan cerita kecilnya, “Bang Dayat juga sering bantu angkat galon ke belakang rumah. Katanya biar aku nggak capek. Dia emang baik sih, padahal mukanya biasa aja.”
4548Please respect copyright.PENANAj7phqBN7GC
4548Please respect copyright.PENANAZH5TeV4G8C
4548Please respect copyright.PENANAkX31chsjh3
Lagi. Bang Dayat. Aku mengangguk pelan, tapi di dalam hati ada sesuatu yang mulai bergerak pelan. Seperti gelombang kecil yang belum jelas.
4548Please respect copyright.PENANAtpmKzgT8S0
4548Please respect copyright.PENANACwzCzMNl1X
4548Please respect copyright.PENANAzvdwa98d0p
Kami selesai makan. Qila membereskan piring, pinggulnya bergoyang pelan saat berjalan ke dapur. Aku duduk di kursi, memandangnya dari belakang. Ada keinginan untuk mendekat, meraba pinggul itu, tapi aku tahan. Nanti saja di kamar.
4548Please respect copyright.PENANAV1pKw8ofqh
4548Please respect copyright.PENANAdT4w5CmfUz
4548Please respect copyright.PENANAPOUeKxLolc
Tapi entah kenapa, pikiranku kembali ke Genjor yang bajunya basah kuyup tadi siang, dan Bang Dayat yang sering membantu di belakang rumah.
4548Please respect copyright.PENANArEo0bZHcq3
4548Please respect copyright.PENANAfQEJubxRJZ
4548Please respect copyright.PENANA4z704BOP2H
Aku menenangkan kepala pelan.
4548Please respect copyright.PENANACgsHHYcSKz
4548Please respect copyright.PENANACv1s94lwKD
4548Please respect copyright.PENANAnkFqCJGyLl
“Ini cuma cerita biasa,” kataku dalam hati. “Jangan berpikir macam-macam, Raka.”
4548Please respect copyright.PENANAEPRbkmzBrC
4548Please respect copyright.PENANAOsvyUvPY9n
4548Please respect copyright.PENANA8fg3ILUTh9
Tapi rasa nyaman kecil itu sudah mulai menempel, meski masih sangat tipis.
4548Please respect copyright.PENANAhABqMYmMlO
4548Please respect copyright.PENANAnEoemhWssV
4548Please respect copyright.PENANAE0x5Ca4TLY
Setelah membereskan piring, Qila masuk ke kamar lebih dulu. Aku mengikuti tak lama kemudian, mematikan lampu ruang tengah. Kamar kami cukup sederhana — kasur king size yang sudah agak melesak di tengah, lemari pakaian, dan AC yang berisi pelan. Qila sudah duduk di tepi kasur, melepas ikatan rambutnya hingga tergerai di bahu. Kaos putih longgarnya masih menempel di badan, sedikit lembab karena keringat perih tadi.
4548Please respect copyright.PENANA8GuUaDQEwz
4548Please respect copyright.PENANAkncFyKo8qn
4548Please respect copyright.PENANArxzcokVRrf
Aku mendekat dari belakang, melingkar di pinggangnya. Kulitnya hangat, agak lengket. Aku cium menirukan pelan, menghirup aroma campuran sabun mandi dan keringat samar yang masih tersisa. Qila mendesah kecil, tapi bukan desahan penuh nafsu — lebih seperti pasrah.
4548Please respect copyright.PENANA50nFeX1uSM
4548Please respect copyright.PENANABB8i1FGmTH
4548Please respect copyright.PENANAbEmhzhNpse
“Capek ya?” tanyaku sambil diterima naik pelan ke bawah kaosnya, meraba perut rata yang lembut.
4548Please respect copyright.PENANAzwITnURiBb
4548Please respect copyright.PENANAecZqrBPzQp
4548Please respect copyright.PENANAh7PD7AzkDt
“Biasa aja,” jawabnya pelan. Dia nggak menolak, tapi juga nggak terlalu antusias. Tubuhnya tetap diam saat aku melepas kaosnya, menampilkan bra hitam sederhana yang membungkus payudaranya yang sedang-sedang saja tapi masih kencang.
4548Please respect copyright.PENANAvAnSNmHlaO
4548Please respect copyright.PENANAjIa6MupM9i
4548Please respect copyright.PENANAwbyzCqX934
Kami berbaring di kasur. Aku mencium ciumannya, lidahku menyusup pelan. Qila membalas ciuman, tapi hanya sebentar sebelum dia berjanji muka sedikit. Tanganku turun ke celana pendeknya, meraba paha dalamnya yang halus. Memeknya sudah agak basah saat jemariku menyentuh kain celana di dalamnya, tapi tidak sebanyak dulu waktu kami baru nikah.
4548Please respect copyright.PENANA7KE4u8pBWn
4548Please respect copyright.PENANABj2O9kw1Sv
4548Please respect copyright.PENANAVWGQyMa2Ip
Aku melepas celana dalamnya dengan pelan. Aku sudah keras, meski ukurannya hanya 12 cm saat ereksi penuh. Aku naik ke atas tubuh Qila. Dia kakinya membuka sedikit lebih lebar, tapi matanya setengah merem, ekspresinya datar.
4548Please respect copyright.PENANA6cJifyboNY
4548Please respect copyright.PENANAXgsmhQGbkc
4548Please respect copyright.PENANAtgyS0NF8W0
“Masuk ya,” gumamku.
4548Please respect copyright.PENANAVHMyGTaID7
4548Please respect copyright.PENANAr7gZFBEle2
4548Please respect copyright.PENANA6aSiLzs0DB
Qila hanya mengangkat kecil.
4548Please respect copyright.PENANAXeB4x7SNDp
4548Please respect copyright.PENANA3RAwo3buxj
4548Please respect copyright.PENANALUIRstehBW
Aku mendorongnya dengan pelan. Memeknya masih enak, hangat, dan agak rapat di pangkalnya, tapi aku tahu dia tidak terlalu bergairah. Aku mulai gerak naik turun, ritme yang biasa aku pakai. Enak, tapi cepat nafsuku naik. Payudaranya bergoyang pelan mengikuti gerakanku. Aku menciumnya lagi, merasakan pijatan pinggulnya yang montok.
4548Please respect copyright.PENANA1oUgqGkJuX
4548Please respect copyright.PENANAjdrwh2kd0X
4548Please respect copyright.PENANAILCP9AW7Xo
Tapi belum genap lima menit, saya sudah merasa mau keluar. “Qila… aku mau keluar,” bisikku sambil mempercepat gerakan.
4548Please respect copyright.PENANAaGEGA28MAC
4548Please respect copyright.PENANA6NSRI3vIlM
4548Please respect copyright.PENANArETYB9EkWk
Dia tidak bilang apa-apa, hanya memegang lenganku pelan. Aku mendorong lebih dalam beberapa kali lagi sebelum akhirnya menyembur ke dalam. Panas, tapi singkat. Tubuhku bergetar sebentar, lalu lunglai di atasnya.
4548Please respect copyright.PENANAajyIQXpvto
4548Please respect copyright.PENANAO1zMC1Qya5
4548Please respect copyright.PENANAiT6nVMt4Jx
Aku turun pelan, bernapas ngos-ngosan. Qila diam saja, menatap langit-langit kamar. Wajahnya agak merah, tapi bukan karena kepuasan — lebih seperti karena usaha yang tidak tuntas. Dia mengambil tisu di nakas, membersihkan memeknya tanpa banyak kata.
4548Please respect copyright.PENANANzn4EnANvu
4548Please respect copyright.PENANA89q3fEyc9O
4548Please respect copyright.PENANAZSGCNzlhIP
Aku merasa bersalah seperti biasa. “Maaf ya, cepet lagi,” kataku pelan sambil memeluknya dari samping.
4548Please respect copyright.PENANACJGJWmnOya
4548Please respect copyright.PENANAdKksCNKQfC
4548Please respect copyright.PENANAYuPGz3kGld
Qila hanya menggumam, “Udah biasa kok.”
4548Please respect copyright.PENANAjOzJS1y2Tm
4548Please respect copyright.PENANASk5Qtxb7QS
4548Please respect copyright.PENANAj66oxfFQPT
Kami berbaring berdampingan. AC meniup dingin ke kulit yang masih panas. Qila menarik selimut sampai dada, rambut acak-acakan di bantal. Aku memandang wajahnya dari samping — cantik, tapi ada sedikit kerutan kecil di dahi yang biasanya muncul kalau dia agak kesal.
4548Please respect copyright.PENANAz4nyQF9ztL
4548Please respect copyright.PENANAr4grKcLbTw
4548Please respect copyright.PENANAjIqjKVpsoF
Beberapa menit berlalu dalam diam. Lalu Qila berbicara, suaranya pelan dan santai seperti sedang biasa.
4548Please respect copyright.PENANA01JsDSiiF3
4548Please respect copyright.PENANA32KqRP7acQ
4548Please respect copyright.PENANAFbvfXVwNip
"Bang Dayat tadi sore bilang lagi kasihan ya mas. Istrinya udah tiga tahun meninggal. Katanya kadang susah dia tidur malam-malam."
4548Please respect copyright.PENANA1vEIvr3fcU
4548Please respect copyright.PENANA4qEKFgE3L6
4548Please respect copyright.PENANAN47grFMais
Aku menoleh. "Oh ya? Trus dia cerita ke kamu?"
4548Please respect copyright.PENANA3AdIxl93ZL
4548Please respect copyright.PENANApZuwsJzMOb
4548Please respect copyright.PENANAGG01zRBoAp
"Iya, pas lagi bantu angkat galon ke belakang rumah. Dia suka cerita gitu kalau lagi istirahat. Aku cuma dengerin aja. Kasian sih, umur 40 tapi sudah sendirian."
4548Please respect copyright.PENANAZtH8zKbSYH
4548Please respect copyright.PENANAxE2A5xXvtS
4548Please respect copyright.PENANAniPCMmjqzN
Nada Qila lembut saat berbicara tentang Bang Dayat. Ada empati yang terdengar tulus, tapi entah kenapa membuatku merasa ada yang mengganjal. Aku membayangkan Bang Dayat yang gemuk, mukanya jelek, berdiri dekat Qila di belakang rumah sore tadi, sambil cerita soal kesetaraannya.
4548Please respect copyright.PENANARQKVqnpf0l
4548Please respect copyright.PENANAprEa6NUqew
4548Please respect copyright.PENANATS5dldRZaF
“Dia minta sesuatu bukan?” tanyaku setengah bercanda.
4548Please respect copyright.PENANALOpvh0MfCf
4548Please respect copyright.PENANA1gZvU0sgOr
4548Please respect copyright.PENANAkhj5A3UjAT
Qila tipis tersenyum. "Biasa aja. Cuma curhat. Tapi ya... kadang aku mikir, cowok sendirian lama-lama pasti butuh pelampiasan juga."
4548Please respect copyright.PENANA5OW5xplIGX
4548Please respect copyright.PENANA0WAi7RxT56
4548Please respect copyright.PENANAGhIVVugCgl
Aku diam. Kata-kata itu menggantung di udara. Pelampiasan. Aku merasa tititku yang sudah lemas tadi bergerak pelan lagi, meski tidak memaksa penuh. Ada campuran rasa tidak enak dan sensasi aneh yang panas di dada.
4548Please respect copyright.PENANAdR0AyerEsc
4548Please respect copyright.PENANAuXonf3s9dq
4548Please respect copyright.PENANAf28XKwklY6
Qila melanjutkan, “Genjor juga rajin banget hari ini. Tadi dia angkat galon sambil bercanda, bilang 'Mbak Qila jangan capek-capek, biar aku yang kerja keras.' Lucu deh anak itu.”
4548Please respect copyright.PENANAU2tmBWi7fl
4548Please respect copyright.PENANAW3yQTWjABE
4548Please respect copyright.PENANAcPAPERa2mS
Dia tertawa kecil mengingatnya. Tawanya ringan, tapi membuatku membayangkan Genjor yang tonggos-cungkring itu berdiri dekat istriku, keringetan, baju basah menempel di tubuhnya.
4548Please respect copyright.PENANAwvadXBbgpg
4548Please respect copyright.PENANAYspvXbC7hu
4548Please respect copyright.PENANAaH801R6ZPK
Aku memeluk Qila lebih erat. “Kamu hati-hati ya di depot.Banyak cowok.”
4548Please respect copyright.PENANABglY06oD9o
4548Please respect copyright.PENANA5PGZkrhOPe
4548Please respect copyright.PENANAdkqRzmXGw2
Qila mengangguk, tapi tidak langsung menjawab. Dia malah membalikkan badan sedikit, membelakangiku. “Udah ngantuk mas. Besok pagi depo rame lagi.”
4548Please respect copyright.PENANAZxMEdtWfv1
4548Please respect copyright.PENANAJ78KcJFD24
4548Please respect copyright.PENANAk6HwO3j61f
Aku mengusap punggungnya dengan pelan. Kulitnya halus. Tapi aku bisa merasakan dia agak menjauh, bukan secara fisik, tapi secara emosi. Seks tadi jelas tidak memuaskannya. Aku tahu itu. Dan entah kenapa, pikiran tentang Genjor dan Bang Dayat yang “bantu” dia seharian malah membuatku gelisah sekaligus... penasaran.
4548Please respect copyright.PENANAQ71cJNSkgn
4548Please respect copyright.PENANAOWsfHTWEWm
4548Please respect copyright.PENANAwDSmafIjE9
Malam semakin larut. Qila sudah tertidur, napasnya pelan dan teratur. Aku masih terjaga, menatap langit-langit kamar yang gelap. Cahaya lampu jalan dari celah gorden masuk sedikit, menghasilkan sisi wajah Qila yang damai.
4548Please respect copyright.PENANAuMma2C5ykC
4548Please respect copyright.PENANAuTAyw135XW
4548Please respect copyright.PENANAg8tVKblxL1
Lima tahun kami menikah. Awalnya seru, penuh nafsu. Tapi sekarang rutinitas ini terasa...datar. Aku yang cepat keluar, dia semakin sering pasrah. Aku tahu dia butuh lebih, tapi aku tidak tahu harus bagaimana.
4548Please respect copyright.PENANAXHVzQLnri9
4548Please respect copyright.PENANAVn62GmqGxf
4548Please respect copyright.PENANAt0SGrJ3JW2
Pikiran kembali ke cerita sakit tadi. Genjor yang bajunya basah kuyup. Bang Dayat yang curhat soal kesepian. Cara Qila tersenyum tipis saat bercerita. Senyum yang sama seperti yang aku lihat sakit tadi saat dia ngobrol dengan mereka di depot.
4548Please respect copyright.PENANAmB7pFlQ1kg
4548Please respect copyright.PENANAMC4zVpaWSw
4548Please respect copyright.PENANALAKd8eQqWS
Aku menghela napas pelan. “Kenapa aku malah mikir gini?” gumamku dalam hati.
4548Please respect copyright.PENANA96xNUv1UqI
4548Please respect copyright.PENANAuURV4YwR5Q
4548Please respect copyright.PENANAbbwHsbbEie
Seharusnya aku bangga. Qila mandiri, usahanya jalan, aku bisa fokus ke kantor. Tapi ada rasa kecil yang mulai tumbuh — seperti ada sesuatu yang pelan-pelan diarahkan ke dalam rumah tangga kami. Sesuatu yang hangat, menggelitik, dan sedikit berbahaya.
4548Please respect copyright.PENANAZujBrVsxb8
4548Please respect copyright.PENANAsrG4voImvW
4548Please respect copyright.PENANA19QPZaGnyK
Aku memandang Qila lagi. Payudaranya naik turun pelan di balik selimut. Pinggulnya yang montok terlihat samar. Tubuh yang setiap hari dikelilingi tiga pria di depot.
4548Please respect copyright.PENANAtliHFFkRWH
4548Please respect copyright.PENANAWvf7xDZn3S
4548Please respect copyright.PENANAU1fJJ2IMzd
Aku memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi bayangan Genjor yang kuat mengangkat galon, Bang Dayat yang gemuk berdiri di dekat istriku, dan senyum Qila yang agak berbeda itu terus muncul secara bergantian.
4548Please respect copyright.PENANA7j3r3KEgvY
4548Please respect copyright.PENANAesK78Lxaxv
4548Please respect copyright.PENANAWpua6kgTPV
Rasa rekomendasi itu masih kecil. Masih bisa aku tekan. Tapi sudah mulai menempel, seperti noda kecil yang perlahan-pelan melebar.
4548Please respect copyright.PENANAafSn18xH1l
4548Please respect copyright.PENANAWCeZYvgbiD
4548Please respect copyright.PENANAk3F8COBZhT
Malam itu aku tidur dengan pikiran yang tidak tenang, meski di luar terdengar suara jangkrik dan angin malam yang sepi.4548Please respect copyright.PENANAnvYERYmLCi


