Jam menunjukkan pukul tiga siang saat Reno menatap layar laptop di ruang konferensinya, tanpa sedikit pun memproses data yang ditampilkan. Presentasi untuk klien baru berlangsung seperti biasa—ia berbicara dengan fasih, memberikan argumen yang tajam, dan menampilkan ekspresi profesional yang tak bisa ditembus. Tapi di dalam kepalanya, pikiran terus melayang ke sebuah kampus di bilangan selatan Jakarta, pada seorang gadis berhijab yang kini duduk di perpustakaan, mungkin sedang membungkuk membaca buku dengan daster tipis yang menempel di punggungnya...
"Mas Reno?" suara rekannya, Hendra, membuyarkan lamunannya.
Reno berkedip, menemukan semua mata di ruangan itu menatapnya. "Ya?"
"Pertanyaan tadi, soal estimasi biaya struktur?" Hendra mengangkat alis, penasaran.
"Ah, iya." Reno menopang dagu, berusaha mengumpulkan fokus yang tercecer. "Kita pakai saja standar SNI terbaru untuk baja, hitung ulang margin amannya sepuluh persen. Biar aman."
Meeting berakhir sepuluh menit kemjadian. Saat ruangan mulai sepi, Reno merebahkan diri di kursi kulitnya, mengusap wajahnya lelah. Ponselnya bergetar di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan satu pesan dari Dafa.
*Dafa: Bro, Alya udah berangkat kuliah?*
Reno menatap pesan itu lama, rahangnya sedikit mengeras. Jari-jarinya mengetik respons singkat. *Reno: Udah. Gue antar tadi pagi. Aman.*
*Dafa: Pantes dia nggak angkat telpon. Oke, makasih ya Ren. Lo the best.*
Reno mematikan layar ponsel tanpa membalas pesan terakhir. Rasa frustrasi mendadak membakar dadanya. Dafa terlalu santis, terlalu mudah menyerahkan gadis polos seperti Alya kepadanya. Apakah sahabatnya itu buta, atau sekadar terlalu percaya diri dengan status pertunangan mereka? Atau mungkin... Dafa tidak menyadari nilai dari apa yang ia tinggalkan?
Reno menggeleng, mengusir pikiran beracun itu. Ia mengambil jaketnya dan berjalan keluar kantor. Waktu menunjukkan pukul setengah empat. Ia butuh waktu setidaknya tiga puluh menit untuk sampai ke kampus Alya di tengah jalanan Jakarta yang mulai padat.
***
Perpustakaan kampus Alya berada di lantai tiga gedung fakultas. Reno melangkah masuk ke ruangan yang dingin dan sunyi, matanya menyapu deretan rak buku dan meja baca. Aroma kertas tua dan AC yang terlalu dingin menyambutnya.
Dan di sana, di meja pojok dekat jendela, Reno menemukan Alya.
Gadis itu duduk sendirian, kepalanya tertunduk fokus pada buku tebal di depannya. Hijabnya hari ini berwarna dusty pink, dipasang simpel namun rapi, membingkai wajahnya yang sedikit pucat karena udara AC. Ia mengenakan gamis yang sama seperti saat berangkat tadi pagi, tapi kini jilbabnya sedikit tergeser ke belakang, memperlihatkan sejumput rambut hitam yang lolos dari lilitan, bergelung lembut di pelipisnya.
Langkah Reno melambat. Ia berdiri di ujung lorong rak buku, hanya menatap. Ada sesuatu yang sangat menenangkan, namun pada saat yang sama sangat mengganggu, melihat Alya dalam elemennya. Jari-jari panjangnya yang putih menggarisbawahi sesuatu di buku, bibirnya yang tanpa sadar sedikit terkatup rapat, dan... matanya yang sesekali berkedip lambat, seolah sedang mencerna informasi yang berat.
Lalu, Alya mengangkat lengannya, meregangkan leher yang sudah pasti kaku. Ia mendongak ke langit-langit, menutup matanya, dan dari sudut pandang Reno, terlihat jelas bagaimana lengkung leher putih mulus itu terekspos. Ada bulu halus yang tak tertutup hijab, berkilau di bawah sinar lampu neon. Saat ia meregangkan tubuh, dada Alya sedikit membusung ke depan, menarik kain gamis hingga mengikuti bentuk payudaranya yang ternyata jauh lebih penuh dari yang ia kira—tampak menggamit di balik kain yang longgar.
Reno menelan ludah yang terasa seperti batu kerikil. Panas mulai merayap naik dari kerah bajunya. *Berhenti menatap. Sialan, berhenti menatap.*
Ia memaksakan kakinya bergerak, berjalan mendekati meja Alya dengan langkah yang sengaja dibuat agak berat agar gadis itu mendengarnya.
Alya membuka mata, terkejut. Saat melihat Reno berdiri di dekatnya, wajahnya segera menerawang, senyum malu-malu menghiasi bibirnya. "Reno! Kamu sudah sampai? Jam berapa sekarang?"
"Setengah lima lewat," Reno berbicara dengan suara datar, tangannya menyelip ke dalam saku celana untuk menyembunyikan kepal yang mulai berkeringat. "Lo mau pulang sekarang atau nunggu sebentar lagi?"
"Aku sudah selesai baca." Alya menutup bukunya, mulai mengemasi tas ranselnya. Gerakannya terburu-buru, membuat salah satu strap tasnya tersangkut di ujung meja. Ia menariknya sedikit keras, tapi tas itu malah jatuh ke lantai, menghempaskan beberapa barang keluar—termasuk sebuah botol minum yang tumpah, membasahi sedikit ujung gamis Alya.
"Yah..." Alya merunduk, wajahnya memelas. Ia buru-buru berlutut di lantai untuk mengambil barang-barangnya.
Reno menghela napas pelan, lalu ikut berlutut untuk membantu. Jari-jarinya meraih sebuah lipstik yang menggelinding, lalu sebuah notes kecil. Namun saat ia hendak mengambil botol minum, tangannya bersentuhan dengan tangan Alya.
Keduanya terdiam.
Di lantai perpustakaan yang sunyi, dengan AC yang berdengung pelan, sentuhan itu terasa seperti aliran listrik bertegangan tinggi. Kulit Alya dingin karena AC, tapi terasa sangat lembut. Reno membeku, matanya menatap tangan Alya yang berada tepat di atas tangannya.
Alya tidak segera menarik tangannya. Ia hanya menatap Reno dengan mata bundarnya yang tak berkedip, bibirnya sedikit terbuka, memperlihatkan sepotong gigi putih yang kecil. Di matanya, Reno tidak melihat kepolosan semata—ia melihat sesuatu yang samar, sesuatu yang mungkin sama terkejutnya seperti dirinya saat ini.
Reno yang pertama memecah kontak. Ia menarik tangannya dengan gerakan kasar, berdiri, dan mengambil botol minum itu. "Hati-hati," gumamnya, suaranya serak. "Gamis lo basah."
Alya bangkit, menatap noda air di ujung gamisnya. Ia mengusapnya dengan tangan, tapi malah membuat kain itu menempel lebih erat pada pergelangan kakinya. "Iya... nanti aku ganti di rumah."
Perjalanan pulang kali ini terasa lebih panjang, lebih pengap, dan lebih mencekam. Mobil terhenti dalam kemacetan parah di jalan tol dalam kota. Di luar, langit sudah berubah jadi jingga keabu-abuan, pertanda malam yang akan segera turun. Di dalam mobil, keheningan yang diisi oleh radio yang memutar lagu jazz lambat terasa seperti ruang tekanan yang perlahan menyedot oksigen.
Alya duduk dengan tubuh yang sedikit mematung. Tangannya memegang strap tas, matanya menatap lurus ke depan, tapi sesekali mencuri pandang ke arah Reno. Reno sendiri memegang setir dengan kedua tangan, cengkeramannya begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Ia sadar, gadis di sebelahnya sedang gelisah.
"Lo capek?" tanya Reno tanpa menoleh.
"Agak..." suara Alya pelan. "Punggungku sakit sedikit. Mungkin karena bawa tas berat tadi."
Reno menelan ludah. Otaknya langsung membayangkan punggung kecil Alya, bahu mungil yang menanggung beban, dan betapa ia ingin meraih bahu itu, mengemasknya, merasakan lenting kulitnya di bawah telapak tangannya.
"Makan malam di luar aja ya?" Reno mengalihkan pembicaraan dengan tergesa. "Gue ngga mau repot masak, dan lo juga kelihatan capek."
"Boleh." Alya mengangguk, terlihat lega. "Makan apa?"
"Ada restoran padang enak di dekat kost. Suka?"
"Suka!" Mata Alya berbinar, dan senyum polos itu kembali menghiasi wajahnya.
Malam itu, mereka makan di restoran padang yang kecil tapi ramai. Alya duduk di seberang meja, mengambil nasi dengan lauk rendang dan gulai ayam. Ia makan dengan lahap, sesekali mengeluarkan suara kecil yang menandakan kepuasannya. Reno yang hanya memesan telur balado dan sayur nangka, lebih banyak menatap daripada makan.
Cahaya lampu restoran yang kuning membuat kulit Alya terlihat semakin bercahaya. Kali ini, hijabnya dilepasnya karena kepanasan, diganti dengan inner yang menutupi rambutnya, memperlihatkan bentuk wajahnya yang lebih tegas. Dagunya lancip, lehernya jenjang, dan kerah bajunya yang sedikit terbuka menampilkan tulang selangka yang tajam.
Reno menunduk, menyuapkan nasi ke mulutnya tanpa merasakan apa-apa. *Tahan, Reno. Tahan.*
Pulang ke kost, suasana berubah lebih intim. Alya langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian, sementara Reno duduk di sofa ruang tamu, membuka kancing kemejanya dan melonggarkan kerahnya. Ia menyalakan televisi, tapi volume diperkecil hingga nyaris tak terdengar. Ia hanya butuh suara latar untuk menutupi debur jantungnya sendiri.
Tak lama, Alya turun. Reno mendengar langkahnya di tangga dan reflek menoleh.
Napasnya tercekat.
Alya mengenakan daster rumahan lagi kali ini—berwarna putih polos dengan motif bunga kecil, bahannya jauh lebih tipis dari daster hijau mint kemarin. Tanpa lapisan dalam yang tebal, daster putih ini nyaris tembus pandang jika terkena cahaya. Bentuk bra-nya—hitam—terlihat jelas menonjol di balik kain tipis itu, membingkai dua bentuk bulat yang penuh dan berat, menciptakan lekuk yang sangat kontras dengan pinggangnya yang kecil.
"Reno..." suara Alya bergetar sedikit, memecah trans Reno. Gadis itu berdiri di tengah ruangan, memegang bahu kanannya dengan wajah menyakitkan. "Aku nggak salah posisi tidur kayaknya... bahu kananku sampai sekarang masih pegel banget. Nyeri banget kalau digerakin."
Insting kelelawar Reno langsung bekerja. "Sini duduk," ia menepuk sofa di sampingnya. "Gue pijitin aja."
Alya ragu sejenak, matanya menatap sofa yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari tempat Reno duduk. Tapi rasa nyeri di bahunya tampaknya mengalahkan keraguannya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di lantai, di antara kaki Reno yang terbuka, memunggunginya.
"Aku nggak enak kalau kamu repot..." bisik Alya, tapi posturnya sudah menyerah, punggungnya bersandar pelan di tepi sofa.
"Anggap ganti balesan masak nasi goreng pagi tadi." Reno menggulung lengan kemejinya lebih tinggi. Jari-jarinya menyentuh bahu Alya, dan pria itu hampir mengeluh keras.
Kulit Alya—meski tertutup daster tipis—terasa seperti sutra yang dihangatkan. Bahunya begitu kecil, mungil, rapuh di bawah genggaman tangan besar Reno. Saat ia mulai mengurut otot-otot yang menegang di bahu itu, Alya mendesah.
"Aahh..."
Suara itu. Suara itu terdengar terlalu sensual, terlalu miram dengan suara yang seharusnya hanya keluar di dalam kamar tidur. Reno memejamkan mata, jari-jarinya menekan lebih dalam, mencoba fokus pada tugasnya, bukan pada suara yang membuat darahnya bergegas ke selatan.
"Apakah sakit?" tanya Reno dengan suara yang berat, hampir serak.
"Sakit... tapi enak," Alya menundukkan kepalanya, memberikan akses lebih luas untuk lehernya. "Dikit lagi ke bawah, Reno... di situ yang paling nyeri."
Tangan Reno turun, menyusuri tulang belakang Alya yang terasa jelas di balik kain tipis. Saat ibu jarinya mengurut otot di antara tulang belikat, Alya kembali mendesis, tubuhnya sedikit merosot hingga kepalanya bersandar di lutut Reno.
Pemandangan dari sudut pandang Reno sangat mematikan. Kepala Alya bersandar di pangkuannya, wajahnya menengadah dengan mata terpejam, bibirnya sedikit terbuka memperlihatkan lidah kecil yang menjilati bibir bawahnya. Dan dari atas, dekolté daster Alya terbuka lebar, memberikan pemandangan lembah yang mematikan—dua buah kitiran yang menjajah di dalam bra hitam, tertekan oleh posisi duduknya, hingga daging putih mulus itu nyaris meluber keluar dari cangkir bra yang tampaknya kekecilan untuk ukuran payudara yang begitu penuh.
Nafsu. Amarah. Rasa bersalah. Semuanya beradu di kepala Reno. Tangannya berhenti mengurut, kini hanya melekat di bahu Alya, merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh gadis itu.
"Reno?" Alya membuka mata, menatap ke atas, menatap wajah Reno yang kini tegang dan gelap. Matanya yang polos bertanya, tidak mengerti kenapa sentuhan itu berhenti. "Kenapa berhenti?"
Karena gue mau ngentot lo di sini juga, batin Reno dengan penuh dosa.
"Udah lumayan enak?" tanya Reno, suaranya nyaris tidak terdengar, tertahan di tenggorokan.
Alya mengangguk pelan, tapi matanya tidak meninggalkan wajah Reno. Ada sesuatu yang berubah di mata gadis itu—kepolosan yang perlahan diselimuti kesadaran, rasa aman yang perlahan berubah menjadi ketertarikan. Ia menggeliat sedikit, posisinya kini lebih bersandar di pangkuan Reno, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari perut Reno yang berisi otot keras.
Reno menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya, mencium aroma melati yang bercampur keringat tipis di leher Alya. Gadis ini berada di pangkuannya, bersandar padanya, dengan payudara yang hampir meluber dan mata yang menatapnya seolah meminta sesuatu yang tidak ia mengerti.
Malam kedua. Dan Reno tahu, dinding pertahanannya tidak hanya retak—malam ini, dinding itu mulai runtuh.
ns216.73.217.39da2


