Sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden jendela kamar Reno, menyinari wajah pria yang tertidur dengan posisi tidak rapi. Satu kakinya menggantung di tepi ranjang, bantalnya sudah terlempar ke lantai, dan selimutnya terpelintir di sekitar pinggangnya. Malam pertama dengan Alya di rumah ternyata membuatnya sulit tidur nyenyak—bayangan daster tipis berwarna mint hijau dan dua titik yang menonjol di balik kain itu terus menghantui mimpinya.
Ponsel di nakas berbunyi, membangunkannya dengan paksa. Reno meraih perangkat itu dengan mata setengah tertutup, melihat jam menunjukkan pukul enam pagi. Ia biasanya bangun jam segini untuk persiapan kerja, tapi hari ini tubuhnya terasa berat seperti disumpal batu.
Reno duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya kasar. Rambutnya berantakan, matanya sembab, dan ada rasa tidak enak di ulu hatinya—bukan karena sakit, melainkan karena rasa bersalah yang menggerogoti. Ia bermimpi tentang Alya. Bukan sekadar mimpi biasa, tapi mimpi yang membuatnya bangun dengan napas memburu dan ereksi pagi yang sangat menyiksa di bawah celana pendeknya.
*Sialan.*
Reno berdiri, berjalan ke kamar mandi, dan membuka kerannya air dingin. Ia berdiri di bawah shower, membiarkan air mengguyur tubuh kekarnya dari kepala hingga kaki. Air dingin itu sedikit meredakan panas di tubuhnya, tapi tak bisa mendinginkan bayangan di kepalanya. Ia menunduk, melihat kontur otot perutnya yang berkilau oleh air, lalu ke bawah di mana masalahnya masih sangat nyata.
"Berhenti," gumamnya pada dirinya sendiri, menutup matanya dan membiarkan air mengaliri wajahnya. *Ini baru hari pertama. Tiga puluh hari. Sembilan puluh hari. Lo harus bertahan.*
Reno mengeringkan tubuhnya, mengenakan celana hitam dan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, lalu menyisir rambutnya ke belakang. Ia memasang wajah datar—wajah yang biasa ia gunakan di kantor, wajah yang tak menunjukkan emosi apa pun. Hari ini, ia membutuhkan perisai itu lebih dari biasanya.
Saat Reno membuka pintu kamarnya, hidungnya langsung menangkap aroma yang membuat langkahnya terhenti. Aroma masakan. Bukan masakan instan atau kopi dari mesin, melainkan aroma nasi goreng yang sesungguhnya—bawang merah, kecap, dan sedikit rasa pedas yang menguar lembut di udara.
Alya.
Reno berjalan menuruni tangga dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Matanya menyapu ruangan, mencari sumber aroma itu, dan kemudian ia menemukannya.
Alya berdiri di dapur kecil, memunggunginya. Ia sudah berganti pakaian—kini mengenakan gamis biru dongker yang longgar dengan hijab serupa, rapi dan sopan seperti malam pertama di bandara. Tapi ada yang berbeda pagi ini. Gamisnya terangkat sedikit di bagian lengan, menampilkan pergelangan tangan dan lengan bawahnya yang putih mulus saat ia mengaduk sesuatu di penggorengan. Kain hijabnya juga terikat lebih longgar, memperlihatkan bulu halus di tengkuk lehernya yang terangkat oleh ikatan rambut.
Reno berdiri di dasar tangga, menatap punggung Alya dengan intensitas yang tak ia sadari. Pinggang gadis itu sangat kecil, terlihat jelas meski tersembunyi di balik gamis longgar. Setiap kali ia mengaduk, bahunya bergerak, dan kain gamis ikut bergoyang mengikuti ritme tubuhnya.
"Selamat pagi, Reno."
Suara Alya memecah trans Reno. Gadis itu menoleh dari bahunya, tersenyum dengan wajah segar yang baru dicuci. Pipinya merona merah muda alami, matanya jernih, dan bibirnya terlihat lebih penuh tanpa sisa lipstik.
"P-pagi," Reno berjalan mendekat, berusaha terdengar normal. "Lo masak?"
"Iya." Alya kembali mengaduk nasi goreng di penggorengan, suara besi beradu dengan spatula mengisi ruangan. "Aku bangun jam lima, nggak bisa tidur lagi. Terus aku liat di kulkas ada nasi sisa dan bumbu-bumbu, jadi aku bikin sarapan aja. Semoga nggak berantakan rasanya..."
Aroma itu kini menguar lebih kuat, bercampur dengan aroma alami tubuh Alya yang manis. Reno berdiri hanya beberapa langkah di belakangnya, jarak yang cukup dekat untuk melihat bulu kecil di lengan gadis itu yang disinari cahaya matahari dari jendela dapur.
"Lo nggak perlu repot-repot," kata Reno, suaranya lebih parau dari yang ia inginkan. "Gue biasa sarapan di kantor."
Alya menoleh lagi, kali ini dengan ekspresi sedikit kecewa. "Nggak suka masakan aku?"
Bukan itu. Bukan sama sekali. Reno sama sekali tidak bermasalah dengan masakan Alya. Masalahnya adalah melihat Alya berdiri di dapurnya, memasak untuknya, dengan wajah segar dan senyum polos—itu terlalu domestik. Terlalu intim. Terlalu seperti... seorang istri.
"Nggak, gue suka," Reno cepat-cepat menyangkal, mengusap belakang lehernya yang tiba-tiba berkeringat. "Gue cuma kaget aja. Nggak nyangka lo bisa masak."
"Di kampung, aku yang masak buat keluarga setiap hari." Alya mematikan kompor, mengangkat penggorengan, dan menuangkan nasi goreng ke dua piring yang sudah disiapkan. Gerakannya cekatan, rapi, dan penuh keanggunan alami yang membuat Reno terpesona tanpa ia inginkan.
Alya berbalik, membawa dua piring menuju meja. Saat ia berjalan melewati Reno, bahunya nyaris menyentuh lengan pria itu. Aroma masakan bercampur aroma tubuh Alya menghantam indra penciuman Reno seperti gelombang—bawang merah, kecap, dan melati. Kombinasi yang aneh, tapi entah bagaimana terasa sangat menggoda.
"Sini gue bantuin." Reno mengambil salah satu piring dari tangan Alya, jari-jarinya tak sengaja menyentuh punggung tangan gadis itu. Sentuhan itu singkat—mungkin hanya sedetik—tapi cukup untuk membuat keduanya terdiam.
Kulit Alya hangat. Hangat dan lembut seperti sutra yang dijemur di bawah matahari. Reno bisa merasakan tekstur itu di ujung jarinya, dan sesuatu di perutnya berputar.
"Ma-makasih," bisik Alya, suaranya bergetar sedikit. Ia menarik tangannya, wajahnya kembali memerah. Matanya menatap lantai, bulu matanya berkedip-kedip dengan cepat.
Reno berjalan ke meja, meletakkan piring itu dengan gerakan yang lebih kasar dari yang ia rencanakan. Ia menarik kursi, duduk, dan memusatkan perhatiannya pada makanan di depannya. Nasi goreng itu tampak biasa saja—berwarna cokelat kecap, dengan potongan ayam, telur, dan sayuran. Tapi saat ia menyuapkan sendok pertama ke mulutnya, rasa itu meledak di lidahnya.
"Gimana?" Alya duduk di seberangnya, menatapnya dengan mata besar yang penuh harapan. Jari-jarinya terlipat di bawah dagu, posisi yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang menunggu pujian.
Reno mengunyah perlahan, menelan, lalu menatap Alya. "Enak," katanya jujur. "Beneran enak. Lo pake bumbu apa? Beda dari nasi goreng biasa."
Mata Alya berbinar, senyum lebar menghiasi wajahnya. "Rahasia kampung! Nenek ngajarin pake sedikit kemangi sama kecap manis kental. Katanya bikin wanginya beda..."
Itu terjadi lagi. Senyum polos itu. Senyum yang membuat dada Reno berdenyut dan otot-otot di perutnya mengencang. Alya berbicara tentang neneknya, tentang resep kampung, dengan mata berbinar dan pipi merona—begitu polos, begitu murni, begitu... rapuh.
Reno menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik sendok yang diangkat ke mulut. Ia terus makan, terus mengunyah, tapi rasanya kini bercampur dengan sesuatu yang lain—rasa bersalah, rasa ingin tahu, dan rasa lapar yang tak ada hubungannya dengan makanan.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, sesekali diisi oleh suara sendok yang beradu dengan piring dan percakapan kecil dari Alya yang menceritakan kebiasaan di kampungnya. Reno mendengarkan, sesekali mengangguk atau memberi respons singkat, tapi sepanjang waktu itu, matanya diam-diam mengamati.
Mengamati cara Alya mengunyah—perlahan, dengan bibir tertutup, seperti orang yang diajari etiket sejak kecil. Mengamati cara ia menelan—leher putihnya bergerak naik turun, tulang selangkanya sedikit menonjol di balik kain hijab. Mengamati cara ia menyeka sudut bibirnya dengan ujung jari—gerakan yang sangat feminin, sangat alami, dan sangat menggoda tanpa ia sadari.
Saat Alya menyelesaikan makannya, ia menghela napas kecil yang terdengar seperti desahan kecil puas. Suara itu—sangat pelan, sangat halus—mengirimkan getaran listrik turun ke tulang belakang Reno.
"Kenyang?" tanya Reno, berusaha menjaga suaranya stabil.
"Iya." Alya mengangguk, senyum puas di bibirnya. "Makasih ya, udah mau makan masakan aku."
"Gue yang harusnya makasih. Lo yang masak." Reno berdiri, mengumpulkan piring. "Lo tinggal persiapan ya. Gue berangkat kerja jam delapan, nanti gue antar lo ke kampus di jalan."
Alya mengangguk, lalu berdiri juga. Ia berjalan menuju tangga, dan Reno yang sedang membawa piring ke dapur, tidak bisa menahan diri untuk menoleh.
Langkahnya terhenti.
Alya sedang naik tangga, dan dari sudut pandang ini—dari bawah—Reno bisa melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Gamis Alya mungkin longgar dan tertutup rapat, tapi saat ia melangkah naik, kain itu sedikit menempel di belakang tubuhnya, mengungkap bentuk yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Bentuk pantat yang bulat, kecil, dan terlihat sangat kenyal di balik lapisan kain.
Reno memejamkan mata keras-keras, menghela napas panjang, dan memukul kepalanya sendiri dengan pangkal telapak tangan.
*Sialan. Sialan. Sialan.*
Ia membuka mata, menatap langit-langit, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah—tidak akan pernah—berada di bawah tangga saat Alya naik lagi.
Tapi terlambat. Bayangan itu sudah terukir di benaknya. Bayangan pantot bulat kecil yang bergoyang pelan di balik gamis biru dongker. Dan Reno tahu, bayangan itu akan menghantuinya untuk waktu yang sangat lama.
Pukul delapan kurang lima belas menit, Reno sudah duduk di mobil dengan mesin menyala. Ia memakai kacamata hitam—bukan karena matahari, melainkan untuk menyembunyikan mata yang sembab karena kurang tidur dan pikiran yang kacau.
Alya keluar dari pintu kost, berjalan cepat menuju mobil. Ia mengenakan gamis lain kali ini—warna cokelat muda dengan hiasan sulam di dada, dan hijab yang dipasang rapi. Ada tas ransel kecil di punggungnya, dan matanya menatap Reno dengan ekspresi yang sedikit cemas.
"Reno, maaf... boleh aku nitip uang buat makan siang nanti? Aku belum sempat tarik tunai..."
Reno menurunkan kacamatanya, menatap Alya yang sudah duduk di kursi penumpang. "Lo nggak perlu uang. Makan siang gue yang tanggung."
"Tapi—"
"Tapi nggak apa-apa." Reno memasang kacamata lagi, menatap jalan. "Lo tamu di rumah gue. Semua pengeluaran lo gue yang bayar. Dafa juga udah transfer ke rekening gue buat jaga-jaga."
Itu bohongan. Dafa memang mentransfer sejumlah uang, tapi Reno tidak berniat menggunakannya untuk Alya. Ia bisa membayar makan siang seorang gadis tanpa merasa rugi.
Alya terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Oke... makasih, Reno. Kamu baik banget."
Kata-kata itu lagi. *Kamu baik banget.* Reno mendengus pelan, menyalakan radio untuk mengisi keheningan. Musik pop Indonesia mengalun lembut, dan perjalanan ke kampus Alya dimulai.
Sepanjang jalan, Reno berusaha fokus pada lalu lintas. Tapi kehadiran Alya di sebelahnya—aroma melati yang menguar, suara napas halusnya, dan sesekali tatapan polos yang mencuri pandang ke arahnya—membuat konsentrasi itu mustahil.
Saat Reno menurunkan Alya di depan gerbang kampus, gadis itu membuka pintu dan berbalik menatapnya.
"Reno, kamu jemput jam berapa nanti?"
"Sekitar jam empat. Lo tunggu di perpustakaan aja, biar nggak kepanasan."
Alya mengangguk, senyum kecil di bibirnya. "Oke. Hati-hati di jalan, ya."
Ia keluar dari mobil, berjalan masuk ke gerbang kampus dengan langkah kecilnya. Reno menatap pantatnya sekilas—sangat singkat, mungkin hanya sedetik—sebelum membuang mukanya dan menggerakkan mobil.
Di tengah kemacetan Jakarta, Reno memukul setir mobil berkali-kali, mengutuk dirinya sendiri, mengutuk Dafa, dan mengutuk takdir yang menaruh gadis polos itu di rumahnya.
Hari pertama belum selesai, dan ia sudah merasa seperti pezundul yang berjalan di atas tali tipis di atas jurang nafsu.
Dan yang paling mengerikan—ia tidak yakin apakah ia ingin sampai ke seberang dengan selamat, atau jatuh ke dalam jurang itu sendiri.
ns216.73.217.39da2


