Pintu kost terbuka dengan suara bantalan karet yang berdecit. Reno menyalakan lampu, menerangi ruang tamu kecil yang bersih namun sederhana. Sofa L berwarna abu-abu menghadap televisi, meja kayu di tengahnya, dan rak buku yang dipenuhi novel-novel teknis dan beberapa figur aksi. Tidak ada hiasan feminin, tidak ada tanaman, tidak ada kehangatan rumahan. Ini jelas tempat tinggal seorang bujangan yang menghabiskan sebagian besar waktunya di luar.
"Silakan," Reno menyingkir, memberi jalan bagi Alya yang berdiri ragu di ambang pintu. "Lo bisa lepas sepatu di situ."
Alya mengangguk, wajahnya masih sedikit memerah dari insiden tadi. Ia membungkuk untuk melepas sepatu kets putihnya, mengungkap sepasang kaki mungil yang ditutupi kaus hitam tipis. Reno membuang pandangannya, berjalan ke dalam untuk menaruh koper di sisi ruangan.
"Kamar lo di atas," Reno menjelaskan, melirik ke arah tangga yang mengarah ke lantai dua. "Lantai dua ada dua kamar. Yang satu gue yang pakai, yang satunya buat lo. Kamar mandi juga ada di dalam, jadi lo ngga perlu keluar-keluar malam-malam."
Alya mengangguk lagi, matanya menyapu ruangan dengan rasa ingin tahu yang polos. Jari-jarinya menyentuh ujung sofa, merasakan tekstur kainnya. "Rapi sekali rumahmu, Reno."
"Namanya juga tinggal sendiri. Jarang ada waktu buat berantakan." Reno berjalan ke dapur kecil di sudut ruangan. "Lo mau minum? Ada air putih, teh, sama kopi."
"Teh, kalau boleh." Alya duduk di tepi sofa, posturnya masih kaku. Tangannya terlipat di pangkuan, hijabnya disesuaikan beberapa kali seperti bentuk kegugupan.
Reno mengisi ketel air dan menyalakan kompor. Saat menunggu air mendidih, ia menyandarkan pinggangnya di meja dapur, lengan terlipat di dada. Matanya tanpa sengaja—atau mungkin sengaja—mengamati Alya dari kejauhan.
Gadis itu duduk dengan sangat sopan, punggung tegak, lutut rapat, dan tangan di atas pangkuan. Gamisnya rapi, hijabnya tertata sempurna. Tapi dari sudut ini, dengan cahaya lampu yang menyorotinya, Reno bisa melihat bentuk tubuh Alya yang tertutup longgar itu. Bahunya kecil, lengannya ramping, dan meski kain gamis sangat longgar, ada sesuatu di area dadanya yang membuat kain itu sedikit terangkat, membentuk lengkung yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Reno memejamkan mata, mengusir bayangan itu. *Jangan. Jangan sekali-kali.*
Air mendidih. Reno menuangkan air panas ke dalam dua cangkir, memasukkan kantong teh, dan menambahkan gula di salah satunya. Ia membawa kedua cangkir ke ruang tamur, meletakkan yang manis di depan Alya.
"Gue kurang tahu manis atau ngganya," Reno duduk di sofa seberang Alya, menjaga jarak. "Coba dulu."
Alya mengambil cangkir itu dengan kedua tangan, menariknya mendekati wajahnya. Uap panas mengepul ke arah hidung mancungnya, dan ia menarik napas dalam-dalam sebelum menyesap perlahan. Matanya terpejam sejenak, dan senyum kecil muncul di bibirnya.
"Enak..." bisiknya, suaranya nyaris seperti erangan kecil yang membuat bulu kuduk Reno berdiri.
"Bagus." Reno menyesap tehnya sendiri, matanya mengawasi Alya di atas rim cangkir. "Lo makan belum?"
Alya menggeleng, pipinya kembali memerah. "Belum. Tadi di pesawat nggak selera..."
"Sini gue pesen makanan." Reno mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi pesan antar. "Lo suka apa? Ayam geprek, nasi padang, mie ayam?"
"Apa aja boleh, yang nggak terlalu pedes." Alya menunduk, jari-jarinya memutar pegangan cangkir. "Maaf ya, nambahin repot aja..."
"Sudah gue bilang, bukan masalah." Reno jari-jarinya bergerak cepat di layar, memesan nasi ayam bakar dan sayur asem. "Makanan bakal datang sekitar dua puluh menit. Sementara itu, lo bisa freshen up dulu. Mau gue antar ke kamar atas?"
Alya mengangguk, lalu berdiri. Ia mengambil koper kecilnya dan berjalan mengikuti Reno ke arah tangga. Setiap langkahnya di tangga kayu menghasilkan suara kecil yang berirama. Reno berjalan di depan, dan meski ia berusaha fokus pada tangga, ia tak bisa menahan kesadaran bahwa Alya berada tepat di belakangnya—begitu dekat sehingga ia bisa mendengar napas halus gadis itu.
Kamar untuk Alya berada di ujung lorong. Reno membuka pintu, menyalakan lampu. Kamar itu sederhana—sebuah kasur single dengan sprei biru bersih, lemari pakaian kecil, meja belajar, dan kamar mandi di sudut. Jendela menghadap ke halaman belakang, dan tirainya berwarna krem.
"Sprei dan selimut baru semua," Reno menaruh koper di samping lemari. "Kamar mandi juga udah gue bersihin. Ada handuk di rak. Kalo butuh apa-apa, kamar gue di sebelah sana." Reno menunjuk ke pintu yang berjarak sekitar tiga meter dari kamar Alya. "Pintu gue nggak gue kunci. Lo bisa ketok kapan aja kalo ada darurat."
Alya berdiri di tengah kamar, matanya menyapu setiap sudut dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu, ia menatap Reno dan tersenyum—senyum tulus pertama yang ia berikan malam itu.
"Terima kasih banyak, Reno. Kamu baik banget..." Suara Alya lembut, nyaris seperti bisikan. Matanya yang cokelat gelap berkilau di bawah cahaya lampu, dan sekali lagi, Reno merasa seperti terpaku.
*"Kamu baik banget."* Kalimat itu bergema di kepala Reno. Terlalu polos. Terlalu murni. Terlalu... menggoda.
"Sama-sama," Reno berbalik, berjalan keluar. "Gue tunggu di bawah ya makanannya datang."
Ia menutup pintu perlahan, dan tepat saat pintu tertutup, Reno bersandar di dinding lorong. Kedua tangannya menutupi wajah, napasnya memburu.
*Apa yang gue lakukan?*
Ini baru malam pertama. Baru beberapa jam. Dan ia sudah merasakan hal-hal yang tak seharusnya ia rasakan untuk tunangan sahabatnya. Sudut pipi Alya masih terasa di ujung jarinya. Aroma tubuhnya masih menggantung di hidungnya. Bayangan lengkung tubuh di balik gamis itu masih terbakar di benaknya.
Reno menghela napas panjang, mendorong dirinya dari dinding, dan berjalan turun. Ia perlu mengalihkan pikiran. Ia perlu makan. Ia perlu tidur. Dan besok, ia perlu menemukan cara untuk bertahan hidup selama tiga bulan bersama gadis yang membuat prinsipnya goyah hanya dengan satu senyum.
Saat ia sampai di ruang tamu, ponselnya berbunyi—makanan sudah dekat. Reno berjalan ke pintu depan, menunggu pengantar makanan tiba. Hujan sudah berhenti sepenuhnya, menyisakan udara malam yang lembap dan sejuk. Ia membuka pintu, membayar, dan membawa dua kotak makanan ke meja.
Ia baru saja meletakkan kotak-kotak itu saat mendengar suara langkah di tangga. Reno menoleh dan—napasnya terhenti.
Alya turun dari tangga dengan langkah pelan. Ia sudah berganti pakaian—tidak lagi memakai gamis abu-abu yang ia kenakan di bandara, melainkan daster rumahan berbahan katun tipis berwarna mint green yang longgar, dan hijabnya sudah diganti dengan yang lebih tipis dan sederhana, warnanya senada dengan dasternya. Kain daster itu tidak terlalu pendahuluan—lengan panjangnya menutupi pergelangan tangan, dan panjangnya sampai mata kaki. Tapi bahan katun tipis itu...
Bahan katun tipis itu menempel di tubuh Alya setiap kali ia bergerak. Saat ia melangkah, kain itu mengikuti kontur pinggulnya yang kecil. Saat ia menarik napas, kain itu sedikit tertarik ke arah dadanya, mengungkap bentuk yang tak bisa disembunyikan oleh bra—bahkan dari jarak ini, Reno bisa melihat bayangan dua titik yang sedikit menonjol di balik kain tipis itu.
*Dia nggak pakai dalaman yang tebal.*
Pikiran itu melintas di kepala Reno bagai petir. Ia segera membuang mukanya, menatap meja dengan intensitas yang berlebihan.
"Makanan udah datang," Reno berkata, suaranya terdengar aneh bahkan di telinganya sendiri. "Ayam bakar dan sayur asem. Lo makan di sini aja ya, biar nggak berantakan di kamar."
Alya berjalan mendekat, duduk di sofa tepat di seberang meja. Ia melipat kakinya di bawah tubuhnya—postur duduk yang jauh lebih santai dari sebelumnya. "Wah, enak banget aromanya..."
Reno membuka kotak makanan, meletakkan sendok dan garpu di dekat Alya. Ia duduk di sofa juga, menjaga jarak sedapat mungkin. Tapi ruangan ini kecil, dan sofanya tidak terlalu panjang. Jarak antara mereka mungkin hanya selengan tangan.
Mereka makan dalam keheningan yang tidak nyaman. Reno memaksa dirinya fokus pada piringnya, pada nasi, pada ayam, pada apa pun selain gadis di sebelahnya. Tapi pendengarannya tak bisa ia kontrol—ia mendengar setiap suara kunyahahan kecil Alya, setiap tegukan air, setiap desahan kecil puas saat menelan makanan.
"Enak?" tanya Reno, matanya masih di piring.
"Sangat enak." Suara Alya terdengar senang. "Kamu juga makan, Reno. Jangan cuma ngelihatin aku doang."
Reno menoleh, dan ia menemukan Alya menatapnya dengan mata besar yang tidak bersalah, sendok di tangannya berisi nasi dan ayam yang diulurkan ke arahnya.
"Coba," kata Alya, kepalanya miring sedikit. "Ini bagian paha ayamnya empuk banget."
Reno membeku. Sendok itu begitu dekat dengan wajahnya. Ia bisa melihat butiran nasi yang menempel di ujung sendok, potongan ayam yang berwarna kecokelatan, dan... bibir Alya yang sedikit terbuka, menunggu responsnya.
Tanpa berpikir, Reno membuka mulut dan memakan suapan itu. Rasanya... biasa saja. Tapi fakta bahwa makanan itu berasal dari sendok Alya, dari tangan Alya, membuatnya terasa seperti sesuatu yang terlarang.
"Enak," Reno mengangguk, menelan. "Makasih."
Alya tersenyum lebar—senyum yang menampilkan deretan gigi putih kecil yang rapi—dan kembali makan dengan antusias. Ia tidak menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia tidak menyadari bahwa tindakan sederhana itu—menyuapi seorang pria yang bukan tunangannya—adalah sesuatu yang sangat intim, sangat personal.
Tapi Reno menyadarinya. Dan saat ia menatap gadis polos itu makan dengan senyum di bibirnya, ia tahu bahwa pertahanannya baru saja retak sedikit lebih dalam.
Malam itu, setelah Alya kembali ke kamarnya dan pintu tertutup, Reno duduk sendirian di ruang tamu dalam kegelapan. Ia mendengarkan suara air dari kamar mandi di atas—Alya sedang mandi—dan membayangkan hal-hal yang tak seharusnya ia bayangkan.
Ia memejamkan mata, dan di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan tubuh Alya di balik daster tipis itu. Dada yang penuh meski tertutup longgar. Pinggul yang bergoyang pelan saat ia berjalan. Mata polos yang menatapnya tanpa dosa.
Reno membuka matanya, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
*Tiga bulan. Tiga bulan lagi.*
Malam pertama belum selesai, dan ia sudah bertanya-tanya apakah ia akan bertahan hingga akhir.
ns216.73.217.39da2


