Suara rintik hujan di luar kafe menjadi latar yang sempurna untuk suasana hati Reno malam itu. Pria berusia dua delapan tahun itu duduk di meja pojok, jari-jarinya memainkan gelas kopi yang sudah mulai dingin. Di depannya, Dafa—sahabatnya sejak kuliah—tengah menunduk, mengusap wajahnya dengan tanda-tanda kelelahan yang tak biasa.
"Lo yakin, Daf?" Reno menatap tajam ke arah sahabatnya. "Tiga bulan itu lama. Dan lo minta gue yang ngawalin?"
Dafa menghela napas panjang, matanya menatap Reno dengan ekspresi campuran antara keputusasaan dan kepercayaan. "Gue ngga punya pilihan lain, Ren. Proyek di Dubai itu harus gue tangani langsung. Dan Alya... dia ngga bisa ikut. Kuliahnya baru mulai semester akhir."
Reno mengerutkan dahi. Nama Alya bukan hal asing baginya. Dafa sering menyebut tunangannya itu—gadis desa yang polos, lugu, dan sangat tertutup. Tapi Reno belum pernah bertemu langsung. Yang ia tahu hanyalah dari foto-foto yang Dafa tunjukan sekilas, dan bahkan foto itu tak terlalu jelas.
"Ayahnya minta Alya tetap di Jakarta sampai lulus," Dafa melanjutkan, suaranya nyaris berbisik. "Lo tahu sendiri, keluarga Alya konservatif. Mereka setuju nikah itu karena gue bisa jamin Alya aman. Tapi sekarang gue harus pergi..."
"Dafa, gue paham lo percaya sama gue. Tapi ini tunangan lo. Bukan tugas gue."
"Gue tahu," Dafa menarik napas, tangannya meraih gelas air mineral dan meneguknya dengan cepat. "Tapi di antara semua temen gue, cuma lo yang gue percaya ngga akan macem-macem. Lo punya prinsip. Dan Alya... dia lugu banget, Ren. Kadang terlalu lugu. Dia butuh orang yang bisa ngelindungin, bukan ngerebutin."
Kata-kata itu mengena di dada Reno. Ya, dia punya prinsip. Tidak pernah menyentuh milik orang lain. Tapi saat ini, ada sesuatu dalam nada suara Dafa yang membuatnya sulit menolak.
"Tiga bulan?" tanya Reno lagi, suaranya lebih rendah.
"Tiga bulan. Gue bakal pulang secepatnya." Dafa menatap Reno dengan mata yang memelas. "Rumah kost lo kan punya dua kamar, kan? Alya bisa tidur di kamar satunya. Dia cuma butuh tempat tinggal yang aman dan orang yang bisa diajak nanya-nanya soal Jakarta."
Reno mengusap rahangnya, merasakan jenggot tipisnya yang belum dicukur. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi, ini adalah permintaan sahabatnya. Di sisi lain, ada firasat yang tak bisa ia jelaskan—sebuah bisikan kecil di belakang kepalanya bahwa ini bukan ide yang bagus.
"Oke," Reno akhirnya mengangguk pelan. "Tapi dengan syarat. Lo yang jelasin ke Alya. Dan lo yang urus semua keperluannya selama lo masih di Jakarta sebelum berangkat."
Wajah Dafa langsung cerah. Ia meraih tangan Reno dan menggenggamnya erat. "Makasih, Ren. Gue utang lo banyak."
***
Hari H pun tiba. Dafa berangkat ke Dubai pada pagi hari, meninggalkan Alya yang harus menunggu di bandara selama beberapa jam sebelum Reno datang menjemput. Dafa sudah mengirimkan foto Alya ke Reno—foto terbaru yang diambil saat makan malam pertunangan mereka.
Saat Reno pertama kali melihat foto itu, langkahnya terhenti.
Di layar ponselnya, seorang gadis berhijab khimar menatap kamera dengan senyum tipis yang malu-malu. Wajahnya bulat telur, dengan mata besar yang jernih dan bibir kecil yang sedikit tertutup oleh ujung selendangnya. Kulitnya terlihat begitu putih, hampir tembus cahaya, dengan hidung mancung yang sempurna. Ia mengenakan gaun panjang berlengan yang tertutup rapi, tidak ada satu inci pun kulit yang terlihat kecuali wajah dan tangannya.
Tapi justru dari kesederhanaan itulah, sesuatu yang tak terjelaskan bergetar di dada Reno. Kepolosan yang dipancarkan dari mata gadis itu begitu kuat, hingga memunculkan dorongan gelap untuk... merusaknya.
Reno menggeleng keras, mengusir pikiran gila itu dari kepalanya. *Ini tunangan Dafa, sialan. Kendalikan dirimu.*
Saat Reno tiba di terminal kedatangan, matanya langsung menyapu ruangan mencari sosok dari foto itu. Dan kemudian, ia melihatnya.
Alya berdiri sendirian di dekat pintu keluar, menggenggam gagang koper kecilnya dengan kedua tangan. Ia mengenakan gamis abu-abu muda yang longgar dan hijab krem yang menutupi dadanya. Dari kejauhan, Reno bisa melihat betapa mungilnya gadis itu. Posturnya ramping, bahunya kecil, dan wajahnya... lebih cantik dari foto itu.
Kulitnya benar-benar putih mulus, tanpa cacat sekecil apa pun. Bulu halus di pipinya nyaris tak terlihat kecuali jika dilihat dari dekat. Matanya yang cokelat gelap memancarkan kecemasan dan kepolosan yang membuat dada Reno berdenyut.
"Tante Alya?" suara Reno lebih parau dari yang ia inginkan saat ia berdiri di depan gadis itu.
Alya mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya mata mereka bertemu. Ada keterkejutan kecil di mata gadis itu—mungkin karena postur Reno yang tinggi dan kekar, atau mungkin karena tatapan pria itu yang terlalu intens sebelum ia sempat menyadarinya.
"R-Reno?" suara Alya lembut, hampir seperti bisikan. Ada logat khas Sunda yang samar di balik ucapannya. "Dafa bilang kamu yang akan menjemput..."
"Iya, gue Reno." Pria itu memaksakan senyum dan mengulurkan tangannya. "Dafa minta gue ngawalin lo selama tiga bulan. Kita kenalan dulu aja, yuk. Kopernya gue bawain."
Alya menunduk sedikit, rona merah muncul di pipinya yang putih. Ia menyerahkan gagang koper kepada Reno, dan saat jari-jari mereka tak sengaja bersentuhan, Reno merasakan sensasi aneh merambat di ujung jarinya. Kulit Alya terasa sangat lembut, sangat halus, seperti sutra yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.
"Terima kasih..." bisik Alya, matanya menghindari kontak mata.
Reno mengambil koper itu dan mulai berjalan ke arah parkir. Di belakangnya, ia bisa mendengar langkah kecil Alya yang berusaha mengikuti. Aroma samar—mungkin parfum atau hanya bau alami tubuh gadis itu—menguar lembut setiap kali angin meniup ke arahnya. Aroma manis, bersih, dan murni.
*Fokus, Reno. Ini tunangan sahabatmu.*
Tapi ketika ia menoleh sekilas dan melihat Alya berjalan dengan langkah kecilnya, hijabnya bergoyang pelan mengikuti gerakan, dan mata polosnya yang menatap sekitar dengan kekaguman anak baru di kota besar... Reno tahu, tiga bulan ke depan tidak akan semudah yang ia kira.
Perjalanan dari bandara ke kost Reno biasanya memakan waktu sekitar empat puluh menit jika jalanan lengang. Tapi malam ini, hujan deras yang mengguyur Jakarta membuat lalu lintas menjadi lebih padat dari biasanya. Reno memilih melewati jalur alternatif yang lebih sepi, berharap bisa mempercepat tiba di rumah.
Di dalam mobil, keheningan menguasai. Suara wiper yang bergerak monoton dan rintik hujan yang memukul atap mobil menjadi satu-satunya pengisi suara. Reno berkonsentrasi pada jalan, sementara Alya duduk kaku di kursi penumpang, kedua tangannya terlipat rapi di atas pangkuan.
Reno mencuri sekilas pandang ke arah gadis di sebelahnya. Cahaya lampu jalanan yang berkedip-kedip menerobos kaca jendela, memantul di kulit wajah Alya yang putih mulus. Setiap kali cahaya oranye menyapu, ia bisa melihat detail yang sebelumnya tak ia perhatikan—bulu mata tebal yang melengkung, hidung mancung yang sempurna, dan bibir bawahnya yang sedikit digigit oleh gigi-gigi kecilnya.
Kecemasan terlihat jelas dari postur Alya. Bahunya sedikit terangkat, jari-jarinya mencengkeram ujung hijab yang menutupi dadanya. Ia terus menatap ke luar jendela, memandangi deretan gedung dan lampu kota yang mungkin masih asing baginya.
"Lo dari mana, Alya?" Reno memecah keheningan, suaranya berusaha terdengar santai.
Alya menoleh perlahan, matanya yang bundar menatap Reno dengan ekspresi waspada. "Bandung, Mas... eh, Reno."
Senyum tipis terbentuk di bibir Reno. *Mas*. Panggilan itu terdengar begitu alami dari bibirnya, dan entah kenapa, membuat perut Reno berdenyut ringan. "Gapapa, panggil aja Mas kalo lo lebih nyaman. Dafa juga panggil gue Mas."
Alya mengangguk pelan, rona merah kembali muncul di pipinya. "Maaf... aku belum terbiasa di Jakarta. Semuanya berbeda."
"Jauh bedanya sama Bandung?"
"Jauh sekali." Suara Alya sangat lembut, nyaris tertelan suara hujan. "Di kampung, aku jarang keluar malam. Jakarta terlalu... ramai."
Reno menoleh sekilas, kali ini lebih lama. Matanya turun dari wajah Alya, menyusuri lengkung hidungnya, bibirnya, lalu terhenti di leher putihnya yang sedikit terlihat di balik hijab. Kulit leher itu begiri halus, tanpa cacat, seperti porselen yang baru dikeluarkan dari tungku pembakaran.
*Berhenti, sialan.*
Reno memaksakan matanya kembali ke jalan, mengencangkan cengkeraman di setir mobil sampai buku-buku jarinya memutih. Ini gila. Ia baru saja bertemu gadis ini beberapa menit lalu, dan sudah membiarkan matanya berkeliaran seperti predator.
"Di kost nanti, kamar lo udah gue siapin," Reno berbicara lagi, mencoba mengalihkan pikirannya. "Ada kamar mandi dalam, lemari, sama kasur baru. Kalo kurang apa-apa, bilang aja."
"Terima kasih banyak, Reno. Aku yang repotin kamu..." Alya menunduk, suaranya terdengar bersalah.
"Bukan masalah. Dafa kan sahabat gue."
Nama Dafa disebut, dan Reno melihat sesuatu berkedip di mata Alya. Bukan kebahagiaan, bukan juga kesedihan. Lebih ke... kekosongan? Ia tak yakin. Tapi sebelum ia bisa memikirkannya lebih lanjut, Alya kembali berbicara.
"Dafa... dia baik banget ya, mau nyuruh kamu ngawalin aku." Alya tersenyum tipis, tapi senyumnya tak sampai ke mata. "Dia sibuk banget akhir-akhir ini. Jarang banget nelpon. Aku jadi kangen..."
Ada rasa aneh yang melingkar di dada Reno saat mendengar kata "kangen" dari bibir Alya. Rasa itu bukan simpati. Lebih ke... ketidaknyamanan. Ia tidak suka mendengar gadis ini mengucapkan kata itu untuk pria lain, bahkan jika pria itu adalah sahabatnya.
*Kenapa gue mikir kayak gini? Ini tunangan Dafa. Tunangan sahabat gue.*
"Ya itu Dafa," Reno menjawab datar, berusaha menyembunyikan perasaannya. "Dia kerjanya emang gila. Tapi dia pasti nelpon lo kalo udah longgar."
Alya hanya mengangguk, lalu kembali menatap ke luar jendela. Hujan kini makin deras, membuat visibilitas berkurang. Reno memperlambat laju mobil, tangannya bergerak otomatis menyalakan lampu kabut.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Lalu, tanpa ia sangka, aroma manis itu kembali menguar—lebih kuat kali ini. Reno diam-diam menarik napas lebih dalam, membiarkan aroma itu mengisi paru-parunya. Aroma itu seperti bunga melati yang bercampur dengan sesuatu yang lebih hangat, lebih basah. Aroma tubuh alami gadis ini yang bercampur sisa air hujan.
Tiba-tiba, Alya bergerak. Ia merubah posisi duduknya, menarik kakinya ke atas kursi dan memeluk lututnya. Gerakan itu membuat gamisnya sedikit tertarik ke atas, menampilkan secuil pergelangan kaki dan tumit kaki mungilnya yang putih bersih. Kain hijabnya sedikit bergeser, memperlihatkan potongan leher dan tulang selangka yang tajam.
Reno menelan ludah. Matanya terpaku pada potongan kulit itu hanya selama sedetik, tapi itu sudah cukup untuk membakar bayangannya di retina. Tulang selangka Alya sangat menonjol, menciptakan cekungan kecil di atas dadanya yang tertutup kain dalam. Bayangan tentang apa yang tersembunyi di balik kain itu melintas di kepalanya dengan liar.
"Gue saranin lo tidur mending," Reno memecah keheningan dengan suara yang lebih parau dari yang ia rencanakan. "Masih sekitar lima belas menit lagi."
Alya menatapnya, dan kali ini, tatapannya tak langsung menghindar. Mata cokelat gelap itu menatap Reno dengan ekspresi yang sulit dibaca—ada rasa takut, rasa ingin tahu, dan sesuatu yang lain yang membuat perut Reno terasa terikat oleh simpul yang tak terlihat.
"Kamu tidak capek, Reno? Nyetir malam-malam begini..."
"Gue biasa." Reno menatap lurus ke depan, menolak untuk kembali menatap mata itu. "Paling capek kalau macet. Hujan gini malah enak, sepi."
Alya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu perlahan memejamkan matanya. Kepalanya miring sedikit ke samping, bergeser mendekati bahu Reno... lalu berhenti tepat sebelum menyentuh. Seolah ada dinding tak kasatmata yang menahannya.
Reno bisa merasakan hawa panas dari tubuh Alya yang duduk hanya beberapa sentimeter darinya. Napas perlahan gadis itu, aroma tubuhnya, kehadirannya—semuanya memenuhi kabin mobil dengan intensitas yang membuat Reno sesak nafas.
Lima belas menit tersisa terasa seperti lima belas jam. Setiap detik adalah pertempuran antara prinsip dan nafsu. Setiap tarikan napas Alya adalah godaan. Setiap gerakan kecilnya—menggeser hijab, memeluk lutut lebih erat, menghela napas panjang—adalah panah yang menancap di pertahanan Reno.
Saat mobil akhirnya memasuki kompleks perumahan kecil di pinggir Jakarta, Reno merasa baru saja melewati ujian yang paling menyiksa dalam hidupnya. Ia memarkir mobil di depan rumah kost dua lantainya, mematikan mesin, dan menghela napas yang tak ia sadari telah ditahannya sejak tadi.
"Kita sampai," ucap Reno, suaranya berat.
Alya membuka matanya, kedipkan beberapa kali sebelum menatap bangunan di depannya. Wajahnya menunjukkan kelegaan bercampur rasa takjub. "Ini rumahmu?"
"Kost. Lantai dua gue pakai sendiri. Lo aman di sini."
Reno keluar dari mobil, berjalan ke bagasi untuk mengambil koper Alya. Hujan sudah reda, menyisakan udara malam yang lembap dan dingin. Ia berjalan ke sisi penumpang dan membuka pintu.
Alya keluar dari mobil, dan sekali lagi, postur mungilnya membuat Reno terkesima. Gadis ini hanya setinggi dadanya. Ia harus menunduk cukup dalam jika ingin menatap wajahnya. Dan saat ia melakukannya, ia melihat tetesan-tetesan air kecil yang menempel di hijab dan pipi Alya—sisa dari percikan hujan saat ia berjalan dari bandara ke mobil tadi.
Tanpa berpikir, Reno mengulurkan tangannya. Jari-jarinya menyentuh pipi Alya, mengusir setitik air yang menggantung di sudut rahangnya. Sentuhan itu hanya berlangsung kurang dari dua detik, tapi efeknya membuat kedua orang itu terdiam.
Kulit Alya sangat halus. Sangat lembut. Sangat hangat. Dan matanya—matanya yang bundar dan polos itu—kini melebar menatap Reno dengan ekspresi bercampur antara terkejut dan... sesuatu yang tak bisa ia namai.
Reno segera menarik tangannya, mengepalkannya di samping tubuh. "Ada... ada tetesan air," gumamnya, suaranya serak.
Alya membuka bibirnya, lalu menutupnya lagi. Pipinya memerah hingga ke ujung telinga yang sedikit terlihat dari balik hijabnya. Ia mengangguk cepat, lalu memalingkan wajahnya.
"Y-yuk masuk," Reno berbalik, berjalan mendahului dengan koper di tangan. Jantungnya berdebar keras di dada. Jari-jarinya masih terasa hangat dari sentuhan tadi. Dan di kepalanya, satu pikiran terus berulang seperti mantera terkutuk:
Gue mati. Tiga bulan ini, gue pasti mati.
ns216.73.217.39da2


