1014Please respect copyright.PENANADqvlNel1Uo
Malam itu, pukul 21.45, aku duduk di tepi kasur tipis di kamar pengasuh blok C dengan ponsel masih hangat di pangkuan. Kamar kecil ini terasa lebih sempit dari biasanya. Hanya ada lampu belajar kecil yang menyala redup, menghasilkan dinding putih sederhana dan rak kecil berisi kitab-kitab kuning. Jantungku masih berdegup kencang sejak sore tadi, seolah belum mau tenang meski sudah berjam-jam berlalu.
1014Please respect copyright.PENANAFyR8R4R1qH
Chat terakhir dari Reza masih terbuka di layar:
1014Please respect copyright.PENANAn3B4EbfiAG
"Terima kasih hari ini Ustadzah Nayla. Saya benar-benar senang bisa ngobrol lama dengan kamu. Senyum Ustadzah di mall tadi terus terbayang. Hati-hati di jalan pulang ya, semoga sampai pondok dengan selamat."
1014Please respect copyright.PENANAfjmF8Hb2db
Aku membaca ulang pesan itu berkali-kali. Pipiku terasa panas, seperti ada api kecil yang menyala di dada. “Ya Allah… apa yang sedang aku lakukan?” bisikku pelan sambil memejamkan mata, tangan kananku memegang kerudung yang sudah kulepas.
1014Please respect copyright.PENANAwkzKIiiSCn
Hari ini adalah hari pertama dalam 24 tahun kehidupan keluar dari pondok hanya untuk bertemu dengan seorang laki-laki yang bukan mahram. Bukan ayah, bukan saudara kandung, melainkan Reza — kakak dari Rina, salah satu santriwati yang aku asuh. Aku masih ingat jelas bagaimana dia melihat di kafe tadi. Mata hitamnya yang tajam tapi hangat, suaranya yang berat lembut saat mengatakan “Saya suka sama Ustadzah Nayla”, dan senyum kecil yang membuat lesung pipinya muncul. Rasanya ada sesuatu yang bergetar hebat di dada ini. Takut, nyaman, tapi juga… senang. Senang yang terlarang.
1014Please respect copyright.PENANAlEU210StM4
Aku menghela nafas panjang, mencoba mengusir bayangan gamis hitamku yang tertiup angin saat berjalan di mall, dan bagaimana aku sempat melihat Reza melirik sekilas sebelum cepat menunduk sopan. Aku tahu dia memperhatikan tubuhku, meski aku berusaha menyembunyikannya di balik gamis longgar.
1014Please respect copyright.PENANAADS39JclHu
Keesokan paginya, rutinitas pondok berjalan seperti biasa, tapi aku merasa berbeda. Pukul 03.50 aku sudah mengelilingi asrama blok C dengan gamis abu-abu tua dan kerudung krem. Suara adzan Subuh masih menggema saat aku mengetuk pintu-pintu kamar.
1014Please respect copyright.PENANALBbgg6qB03
Sampai di kamar nomor 12, Rina sudah bangun dan duduk di kasur susun bawah sambil mengikat kerudung tidurnya yang agak miring.
1014Please respect copyright.PENANAHxrnwlKBni
“ustadzah Nayla pagi…” sapanya dengan suara ketakutan tapi cerah.
1014Please respect copyright.PENANAXLz5aykph9
Aku tersenyum dan duduk di sampingnya, mengusap lembut kepalanya. "Pagi, Rina. Hari ini kita tambah hafalan juz 29 ya? Kakakmu pasti bangga kalau kamu rajin."
1014Please respect copyright.PENANAjyvFC8YsWX
Nama “kakakmu” langsung membuat wajah Rina bersinar. "Iya! Mas Reza kemarin bilang mau jenguk lagi minggu depan. Ustadzah Nayla senang nggak kalau Mas Reza datang?"
1014Please respect copyright.PENANAe1VrFmL0ol
Pertanyaan polos itu membuat jantungku tersentak keras. Aku berusaha menjaga suara tetap tenang. “ustadzah Nayla kan pengasuhnya, jadi senang dong kalau kakakmu datang menjenguk.”
1014Please respect copyright.PENANAHO4XhsIh0l
Sejak pertemuan di mall kemarin, aku memang sengaja semakin dekat dengan Rina. Setiap pagi setelah shalat Subuh, aku mampir ke ruang pengasuh untuk belajar pribadi. Aku menyajikan susu kotak, roti tawar dengan selai, dan bahkan bolu pisang yang kubeli dari kantin. Kadang-kadang aku membiarkan tidur siang sebentar di kasurku kalau dia kangen rumah.
1014Please respect copyright.PENANAxxulIpxsjp
Kedekatan ini tidak luput dari perhatian orang lain.
1014Please respect copyright.PENANADnN0owkScI
Siang harinya, setelah shalat Dzuhur, aku mendengar bisik-bisik yang semakin jelas dari sekelompok santriwati senior yang duduk di bawah pohon jambu dekat halaman asrama.
1014Please respect copyright.PENANApLl3gGEBOW
“Lihat tuh, Rina lagi-lagi dipanggil ustadzah Nayla. Kemarin dapet jatah belajar privat, hari ini lagi. Padahal santri baru lain jarang banget.”
1014Please respect copyright.PENANAvn7J4YgfoH
"Iya, aneh. Ustadzah Nayla dulu tegas dan adil. Kok sekarang Rina kayak anak emas? Pasti ada apa-apanya."
1014Please respect copyright.PENANAJAMdhMukUa
“Gosipnya kakak Rina yang ganteng itu… Tinggi, kulit sawo matang bersih, senyumnya bikin meleleh katanya. Beberapa yang lihat waktu anterin Rina masuk pondok masih ingat.”
1014Please respect copyright.PENANArklfErE7Di
Aku yang kebetulan lewat di belakang mereka berhenti sejenak. Dada terasa sesak. Mereka benar. Aku semakin dekat dengan Rina karena Reza. Aku ingin tahu cerita tentang dia, apa yang dia suka, bagaimana dia berbicara tentang aku. Tapi mendengar gosip itu menyebutkan terang-terangan membuat lututku lemas.
1014Please respect copyright.PENANAAyU6gwNZfA
Sore harinya, Ustadzah Lina mendatangiku di ruang pengasuh saat aku sedang menyusun jadwal hafalan.
1014Please respect copyright.PENANAMbkOCVuhaS
“Nayla, kamu harus hati-hati sekarang,” katanya sambil menutup pintu rapat. Suaranya rendah tapi tegas. "Gosip sudah sampai ke ustadzah senior. Mereka bilang kamu terlalu istimewakan Rina. Ada yang curiga kamu punya motif lain. Kalau Kyai tahu, bisa-bisa kamu dipindah blok atau lebih parah."
1014Please respect copyright.PENANAWl5TLc7Xli
Aku menunduk, mencengkeram ujung gamis hijau sage yang kukunakan hari itu. “Saya cuma kasihan, ustadzah… Rina masih baru, sering kangen rumah.”
1014Please respect copyright.PENANAvJFoX2p6Gn
Ustadzah Lina tersenyum miring. "Kasihan atau karena kakaknya? Kemarin kamu izin keluar urusan keluarga. Tapi pulangnya mukamu merah-merah dan senyum-senyum sendiri. Siapa yang ketemu, Nayla?"
1014Please respect copyright.PENANAoasxuLloum
Aku diam, tidak berani menjawab. Wajahku memanas.
1014Please respect copyright.PENANARPm5cpBxNs
“Ingat, Nayla,” lanjutnya pelan. "Kamu cantik, masih muda, badan juga bagus. Wajar ada yang naksir. Tapi ini pondok. Satu kesalahan bisa menghancurkan masa depanmu sebagai ustadzah. Jangan sampai gara-gara cowok, karirmu rusak."
1014Please respect copyright.PENANA1lOLA27c6K
Kata-kata itu menusuk. Malam harinya, setelah semua santri tidur, aku duduk sendirian di kamar. Angin malam bertiup pelan melalui jendela kecil. Ponsel bergetar. Obrolan dari Reza.
1014Please respect copyright.PENANAb8gEyPba8Z
“Ustadzah Nayla, Rina bilang hari ini ustadzah Nayla ajarin privat lagi. Terima kasih banyak ya. Saya senang Ustadzah perhatian sama adik saya. Ustadzah sehat?”
1014Please respect copyright.PENANAYeZJMIApZC
Aku membalas dengan jari gemetar:
1014Please respect copyright.PENANA6Z6Bcyz1LI
"Iya Mas. Rina pintar dan rajin. Mas Reza sudah sehat? Sudah makan malam?"
1014Please respect copyright.PENANAQYWLCQxl1E
Obrolan kami mengalir lagi, semakin lama semakin pribadi. Reza mulai berani memuji.
1014Please respect copyright.PENANAbdx40m0WJf
“Ustadzah Nayla baik sekali. Saya suka suara Ustadzah yang lembut. Dan saya suka senyum Ustadzah waktu di mall kemarin… manis banget.”
1014Please respect copyright.PENANAiDG6pnBysm
Pipiku terasa panas. Aku tahu ini salah, tapi aku terus membalas sampai hampir pukul 23.00. Pesan terakhirnya:
1014Please respect copyright.PENANAStQjzI4VnV
“Besok aku rencana jenguk Rina. Bolehkah kita ketemu sebentar lagi setelahnya, Ustadzah?”
1014Please respect copyright.PENANABTb0mLczEj
Aku menatap layar lama sekali sebelum mengetik:
1014Please respect copyright.PENANAOt49T7nU6z
“InsyaAllah Mas…tapi hati-hati ya.Banyak yang memperhatikan di sini.”
1014Please respect copyright.PENANAJTxwTTuye4
Setelah mengirim, aku memeluk lutut dan menunduk. Air mata kecil menggenang. Saya tahu ini berbahaya. Aku semakin dekat dengan Rina bukan murni karena tugas, tapi karena ingin mendengar cerita tentang Reza. Aku memberikan perhatian ekstra, makanan tambahan, waktu khusus — semua itu membuat santri lain iri dan bergosip. Ustadzah senior mulai curiga. Tapi setiap kali mengingat wajah Reza, suaranya, dan seterusnya… aku tidak bisa berhenti.
1014Please respect copyright.PENANAQzzbzm47eO
Dua hari kemudian, kedekatanku dengan Rina semakin terlihat. Saat jam istirahat siang, aku membawa Rina ke ruang pengasuh lagi. Kami duduk berdua sambil makan bolu pisang.
1014Please respect copyright.PENANA3yj5dfDE2q
“ustadzah Nayla… Mas Reza suka cerita tentang ustadzah loh,” kata Rina polos.
1014Please respect copyright.PENANAAayk17XzkN
Aku tersentak. “Cerita apa, Rin?”
1014Please respect copyright.PENANAEfUeCR8oIi
“Katanya ustadzah Nayla cantik, baik, sabar banget ngurus santri. Mas Reza bilang dia salut dan… suka sama ustadzah Nayla.”
1014Please respect copyright.PENANAHSVgWWkAeU
Wajahku memerah hebat. Aku cepat mengalihkan topik, tapi dalam hati ada kebahagiaan kecil yang manis dan terlarang.
1014Please respect copyright.PENANAJXhBhRNs1a
Namun, kebahagiaan itu cepat memudar saat sore harinya beberapa santriwati senior mendatangi Rina di halaman. Aku mengamati dari kejauhan.
1014Please respect copyright.PENANARWVVRS3PVA
"Rina, kamu kok deket banget sama Bu Nayla? Bisa jatah apa? Kasih apa ke Bu Nayla biar dimanja gitu?"
1014Please respect copyright.PENANACnKyQeOyts
Rina terlihat bingung. Aku langsung mendekat dan membubarkan mereka dengan tegas. Tapi berisik dan bisik-bisik tetap menyebar seperti api di rumputan kering.
1014Please respect copyright.PENANAdi6sP4H5e7
Malam harinya, aku berbaring sambil memegang ponsel. Chat Reza masuk lagi, penuh perhatian dan pujian halus. Aku sendiri tersenyum di kegelapan.
1014Please respect copyright.PENANAxkKdzaSE5I
Aku, Ustadzah Nayla, yang dulu selalu menjaga jarak dan menjunjung tinggi aturan pondok, kini sudah melangkah terlalu dalam. Kedekatanku dengan Rina hanyalah pintu masuk. Dan perasaanku terhadap Reza semakin kuat setiap hari.
1014Please respect copyright.PENANAvory6sPQEP
Ini berbahaya.
1014Please respect copyright.PENANAKmpJG8hS6P
Ini salah.
1014Please respect copyright.PENANADa7irdXK9C
Aku memejamkan mata, membayangkan senyum Reza di mall kemarin1014Please respect copyright.PENANAo3og8NaIN8


