949Please respect copyright.PENANAHlu6zRh3cY
Setelah kunjungan kedua, obrolan antara aku dan Ustadzah Nayla semakin sering. Awalnya masih berkutat seputar Rina — laporan hafalan juz, kondisi kesehatan adikku. Tapi perlahan, batas-batas yang tadinya tegas mulai mengabur.
949Please respect copyright.PENANAF7i5ufgYJJ
Malam itu, pukul 22.47, aku berbaring di kamar dengan lampu dimatikan. Hanya cahaya layar ponsel yang menangkap wajahku. Jantungku berdegup kencang saat mengetik pesan yang lebih pribadi dari biasanya.
949Please respect copyright.PENANAjCMlGxSeRg
"Assalamualaikum Ustadzah Nayla. Belum tidur? Hari ini pasti capek sekali menjaga puluhan santri. Semoga Ustadzah istirahat yang cukup."
949Please respect copyright.PENANAQnLxiEoU1E
Balasan datang setelah 12 menit. Centang biru langsung muncul.
949Please respect copyright.PENANAxhtoTWMWrx
“Waalaikumsalam Mas Reza. Belum tidur, masih koreksi hafalan santri malam ini. Iya capek, tapi alhamdulillah biasa saja. Mas sendiri belum tidur juga?”
949Please respect copyright.PENANArwGCb6zld5
Ini pertama kalinya dia membalas dengan pertanyaan tentang keadaanku. Aku tersenyum lebar di kegelapan kamar dan menjawab dengan cepat.
949Please respect copyright.PENANAhQwhwMZ3yg
“Dari tadi sulit tidur. Mikirin Rina… dan mikirin Ustadzah juga. Entah kenapa, obrolan kita kemarin terus terngiang.”
949Please respect copyright.PENANAgmhxEFo8AB
Nayla mengetik cukup lama. Aku bisa membayangkan jari lentiknya ragu di atas layar ponsel di kamar pengasuh yang sunyi.
949Please respect copyright.PENANA7eeIguQlk0
"Mas...tolong jangan seperti itu. Saya ustadzah di sini. Chat kita sebaiknya tetap untuk urusan adiknya saja."
949Please respect copyright.PENANA74PTAKWGUG
Meskipun demikian, dia tidak berhenti membalas. Malah, sejak malam itu, Ustadzah Nayla mulai lebih sering membuka percakapan duluan, meski masih dengan kalimat formal dan sopan. Dia bercerita tentang santriwati yang bandel dan suka melanggar aturan malam, tentang betapa beratnya bangun pukul 03.00 setiap hari untuk mengawasi qiyamul lail, dan terkadang curhat kecil bahwa sebagai ustadzah muda dia merasa harus selalu menjadi teladan sempurna di depan semua orang.
949Please respect copyright.PENANAbnqpEN62GY
Seminggu kemudian, keberanianku semakin tumbuh. Saya memberanikan diri mengajak bicara di telepon.
949Please respect copyright.PENANAQMxKtfPq9U
"Ustadzah, bolehkah saya telepon sebentar malam ini? Hanya ingin mendengar penjelasan langsung soal jadwal kunjungan Rina bulan depan, biar lebih jelas."
949Please respect copyright.PENANAwX7709pnoE
Dia ragu sangat lama. Tanda “sedang mengetik…” muncul hampir tiga menit sebelum balasan masuk.
949Please respect copyright.PENANAk36MNMOKh3
“Sebentar saja ya Mas. Saya takut ketahuan. Pelan-pelan bicaranya.”
949Please respect copyright.PENANAhVEDAqIbIl
Aku langsung menekan tombol panggil. Nada sambung berbunyi dua kali sebelum diangkat.
949Please respect copyright.PENANAP4aDrPmDkw
“Halo…” suaranya terdengar pelan, hampir berbisik. Suara lembut khasnya yang biasa digunakan saat mengajar terdengar lebih dekat dan intim.
949Please respect copyright.PENANAVEUHKHPare
Halo Ustadzah Nayla.Maaf mengganggu malam-malam seperti ini.
949Please respect copyright.PENANAzTfssqNW8I
“T-tidak apa-apa, Mas,” jawabnya gelisah. Saya bisa mendengar suara angin kecil dan gemeresik kain di latar belakang. “Saya sedang di kamar pengasuh. Santri sudah tidur. Bicara pelan-pelan ya…”
949Please respect copyright.PENANAdenkiwG4pd
Kami berbicara hampir 18 menit. Awalnya murni soal Rina, tapi aku sengaja menggeser pembicaraan ke kehidupannya. Nayla bercerita bahwa dia alumni Pondok Al-Fatah, hafalannya bagus, dan langsung ditawari menjadi ustadzah pengasuhnya karena akhlak dan kesabarannya. Dia jarang sekali keluar pondok, hampir tidak mengetahui suasana luar, dan merasa hidupnya monoton antara asrama, musholla, kelas, dan tugas.
949Please respect copyright.PENANA6AD1tYq6u6
"Kadang saya iri lihat orang-orang di luar, Mas. Bebas pergi ke mana saja, makan apa saja. Tapi saya sudah memilih jalan ini sejak kecil," katanya pelan, ada nada lelah yang tersembunyi.
949Please respect copyright.PENANAoiOpZPbWvg
Malam itu menjadi titik balik. Setelah telepon pertama, chat kami meledak. Nayla mulai mengirim pesan lebih panjang, bahkan sesekali mengirim voice note pendek dengan suara pelannya. Aku semakin berani memujinya secara halus.
949Please respect copyright.PENANAHAE1s2r2jT
“Ustadzah sabar sekali mengurus banyak santri. Saya salut dan kagum. Pasti banyak yang iri sama kesabaran Ustadzah.”
949Please respect copyright.PENANAIGB3a2kyNx
“Mas bisa aja…” balasnya disertai emoji tersipu malu.
949Please respect copyright.PENANAr6en9rHpXT
Semakin hari, aku merasakan Ustadzah Nayla mulai luluh. Dia yang dulu tegas menjaga jarak kini sering membalas dengan cepat, bahkan memulai percakapan dengan “Mas Reza sudah makan malam?” atau “Hari ini Mas sibuk apa?”
949Please respect copyright.PENANAgfu5wvJALt
Akhirnya, setelah hampir satu bulan obrolan yang semakin intens, aku memberanikan diri mengajaknya bertemu di luar pondok.
949Please respect copyright.PENANADWlfjhfOEw
"Ustadzah Nayla, bolehkah kita ketemu di luar suatu hari? Hanya ngobrol sebentar di tempat umum yang aman. Saya ingin mengenal Ustadzah lebih dekat, bukan hanya sebagai pengasuh adik saya."
949Please respect copyright.PENANAHjoMQFcOgq
Pesan itu kukirim pukul 23.15. Nayla tidak langsung membalas. Baru keesokan siangnya muncul pesan panjang darinya.
949Please respect copyright.PENANAk2SLmJKgVY
“Mas Reza… saya takut sekali. Saya ustadzah. Kalau ketahuan oleh santri, ustadzah lain, atau Kyai, nama baik saya bisa hancur. Saya belum pernah bertemu laki-laki di luar seperti ini. Maaf ya…”
949Please respect copyright.PENANA3J3rgzMWpA
Aku tidak menyerah. Selama tiga hari berturut-turut aku bujuk dia dengan sabar. Aku berjanji memilih tempat yang jauh dari kota pondok, hanya sebentar, dan akan sangat menjaga sopan santun serta jarak.
949Please respect copyright.PENANA4juf7jTCOT
Pada Kamis sore, Nayla akhirnya mengirim pesan yang membuat dadaku bergetar hebat:
949Please respect copyright.PENANAPurukh6E9a
“Ya sudah… tapi hanya sebentar ya Mas. Sabtu siang setelah jam mengajar selesai. Saya bisa keluar dengan alasan ada urusan keluarga. Kita ketemu di depan Mall Seruni pukul 14.00. Tolong jaga jarak dan jangan macam-macam.”
949Please respect copyright.PENANAYjkzLmriXj
Saya langsung setuju dengan hati berbunga-bunga.
949Please respect copyright.PENANABgVdQU8WQU
Sabtu siang
949Please respect copyright.PENANAB1ljYIBT5s
Aku tiba di depan Mall Seruni pukul 13.40. Memakai kemeja putih rapi, celana chino abu-abu, dan parfum segar. Jantungku berdegup kencang saat jarum jam terus bergerak. Pukul 14.05, sebuah angkot biru berhenti di pinggir jalan. Dari dalam turun seorang perempuan berkerudung segi empat krem muda, gamis hitam panjang yang longgar, dan kacamata bulat tipis. Itu Ustadzah Nayla.
949Please respect copyright.PENANAscHH1fOPL6
Dia terlihat sangat gugup. Matanya memindai sekitar dengan cepat, mencari-cari aku. Saat melihat kami bertemu, dia tersenyum kecil tapi tegang. Aku melayang pelan dan mendekat tanpa terburu-buru.
949Please respect copyright.PENANAPezLVYSOBT
“Assalamualaikum Ustadzah Nayla.”
949Please respect copyright.PENANAeSfOiHq5rH
“Waalaikumsalam Mas Reza,” jawabnya hampir berbisik, suara bergetar. “Kita mencari tempat duduk yang agak sepi ya… Saya takut ada yang mengenali.”
949Please respect copyright.PENANAgmSppTY4Qd
Kami berjalan masuk ke mall dengan jarak aman. Nayla berjalan sedikit di belakangku, kepala agak tertunduk. Meski gamis hitamnya longgar, kain itu tetap tidak mampu menyembunyikan lekuk tubuhnya yang indah. Saat dia melangkah, pinggulnya bergoyang pelan secara alami, dada yang penuh dan montok naik-turun mengikuti napas gugupnya. Aroma sabun colek khas pondok samar tercium dari tubuhnya.
949Please respect copyright.PENANAZDnrSOeWmY
Kami memilih sebuah kafe kecil di lantai dua yang sepi. Duduk di pojok paling belakang, jauh dari keramaian. Nayla memesan es teh manis, aku kopi hitam.
949Please respect copyright.PENANAD6thNGjg4g
Awalnya pembicaraan masih kaku dan penuh kecanggungan. Dia sering melirik ke sekeliling, tangannya memegang gelas es teh dengan kedua tangan seolah-olah sedang mencari pegangan.
949Please respect copyright.PENANAmr4VTH5M1V
“Mas…saya benar-benar takut,” katanya pelan. "Ini pertama kalinya aku keluar seperti ini. Kalau ada yang tahu, aku bisa dikeluarkan dari pondok."
949Please respect copyright.PENANAIiAkLrJS03
Aku tersenyum menenangkan. “Saya janji hanya ngobrol saja, Ustadzah. Saya suka sekali berbicara dengan Ustadzah. Sejak pertama kali bertemu di meja penerimaan santri, saya sudah merasakan Ustadzah berbeda.”
949Please respect copyright.PENANAa5LdRhlKsv
Pipinya merona merah di balik kerudung. Dia menunduk, jari-jari lentiknya memainkan sedotan es teh.
949Please respect copyright.PENANATfzMXB50Ug
Perlahan percakapan mulai cair. Nayla bercerita tentang masa kecilnya di desa yang sederhana, mimpi menjadi ustadzah sejak kecil, kesulitan menjaga nama baik di lingkungan pondok, dan betapa beratnya menjadi panutan bagi ratusan santriwati. Saya mendengarkan dengan serius, sesekali memberi tanggapan yang menjadikannya semakin nyaman.
949Please respect copyright.PENANAwOi23tf0gl
Saat percakapan mencapai puncak keakraban, aku memberanikan diri menyatakan perasaan.
949Please respect copyright.PENANArVvi5SpVn6
"Ustadzah Nayla… sebenarnya sejak pertama kali melihat Ustadzah, saya sudah suka. Ustadzah cantik, manis, sabar, dan punya akhlak yang baik. Saya tahu ini sulit dan berisiko, tapi saya serius. Saya ingin dekat dengan Ustadzah."
949Please respect copyright.PENANA4Qbd8qe9XH
Nayla langsung membeku. Mata di balik kacamata melebar, wajahnya memerah hingga ke telinga. Tangannya gemetar memegang gelas.
949Please respect copyright.PENANAUAXdkyO292
"Mas...jangan seperti itu. Saya ustadzah. Nanti bagaimana kalau ketahuan? Santri, ustadzah lain, Kyai... semuanya bisa marah besar. Saya belum pernah mengalami hal seperti ini."
949Please respect copyright.PENANAyZziPnkoJ3
Tapi dibalik kata-kata penolakan itu, aku melihat keraguan dan kilatan perasaan yang sama di matanya. Ada getaran yang tak bisa disembunyikan.
949Please respect copyright.PENANAbru2TrnW4h
Aku menunggu dengan sabar. Akhirnya, setelah diam hampir satu menit penuh, Nayla berbicara dengan suara yang sangat pelan, hampir tak terdengar:
949Please respect copyright.PENANAQ6XifyWGLJ
"…Saya juga suka sama Mas Reza. Dari pandangan pertama waktu penerimaan santri. Tapi saya takut sekali, Mas. Ini semua terlalu cepat dan sangat berbahaya."
949Please respect copyright.PENANAwXdt4ld0Bz
Senyum kecil yang muncul di bibir tipisnya setelah mengatakan itu membuat hatiku meledak bahagia. Meski belum resmi menerima, aku tahu Ustadzah Nayla sudah mulai luluh.
949Please respect copyright.PENANAiJpa0Ub9iC
Kami berpisah pukul 16.00. Aku mengantarnya sampai depan mall dan membantu mencari angkot yang aman. Sebelum naik, Nayla melihat sebentar dengan mata yang masih gugup tapi ada kehangatan baru.
949Please respect copyright.PENANAsqp0ZakvH1
"Mas… hati-hati di jalan. Dan terima kasih hari ini. Saya senang… meski takut.”
949Please respect copyright.PENANAKZPFQGmED4
Angkot berangkat perlahan. Aku berdiri di trotoar sambil tersenyum lebar, dada terasa penuh.
949Please respect copyright.PENANAp6pcCPCUFQ
Malam harinya, chat kami lebih intens dari sebelumnya.
949Please respect copyright.PENANAC77zSIIcmM
Ustadzah Nayla: “Mas… tadi saya takut sekali sepanjang jalan. Tapi saya juga senang.”
949Please respect copyright.PENANAVuLWnLbZ6q
Aku: “Saya juga sangat senang, Ustadzah. Terima kasih sudah ketemu. Besok saya berani rencana jenguk Rina lagi. Setelah itu… bolehkah kita ketemu lagi?”
949Please respect copyright.PENANA1WZ8D0jhVC
Ustadzah Nayla: “InsyaAllah…tapi pelan-pelan ya Mas. Saya masih sangat takut. Jangan buru-buru.”
949Please respect copyright.PENANAWMxF3a7R85
Aku tahu hubungan kami sudah tidak bisa lagi disebut sekadar kakak santri dan ustadzah pengasuh. Ada benih perasaan yang tumbuh kuat di antara kami. Meski Nayla masih diliputi ketakutan, aku bisa merasakan bahwa dia juga mulai menginginkan kedekatan ini.949Please respect copyright.PENANAzkCETu4Vyt


