957Please respect copyright.PENANAIf3KKjhoU9
Pagi itu, sinar matahari mulai memantul di antara dedaunan pohon mangga yang mengelilingi halaman Pondok Pesantren Al-Fatah. Aku berdiri di belakang meja panjang penerimaan santri baru dengan perasaan campur aduk antara lelah dan penuh harapan. Namaku Nayla Az Zahra, 24 tahun, alumni Pondok Al-Fatah angkatan 2019. Sudah lima bulan aku ditugaskan sebagai ustadzah pengasuh blok asrama putri C — blok yang paling ramai karena mayoritas diisi santri baru. Gamis hitam yang kukenakan terasa sedikit lengket di kulit karena udara pagi yang mulai panas, sementara kerudung krem muda kuikat rapi di bawah dagu.
957Please respect copyright.PENANAszqINwwNpE
Di sebelahku, Ustadzah Sarah duduk sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan peta berkas. Dia sudah menikah dan punya anak balita, sehingga pengalamannya jauh lebih matang. Di sebelahnya lagi, Ustadzah Lina yang cerewet dan paling suka bergosip di antara kami bertiga.
957Please respect copyright.PENANA1RbEnrtKST
“ustadzah Nayla, antriannya panjang banget hari ini,” keluh Ustadzah Lina sambil menyandarkan dagu di tangan. “Semoga angkatan ini lebih rajin daripada yang kemarin. Yang tahun lalu itu banyak yang suka bolos tahfidz malam.”
957Please respect copyright.PENANAzxZuVd4FCj
Aku kecil tersenyum sambil merapikan tumpukan peta dan formulir. "Sabar, ustadzah. Mereka masih remaja. Kita yang harus mendidik dengan lembut tapi tegas."
957Please respect copyright.PENANAmHvMaEhciU
Ustadzah Sarah tertawa pelan. “Nayla ini memang sabar seperti air. Makanya Kyai percaya banget kasih blok C yang paling banyak santri barunya. Kalau aku sih sudah capek.”
957Please respect copyright.PENANAjbM66dG1BN
Kami tiba-tiba berkumpul ringan sambil melayani antrian yang panjang. Suasana penerimaan santri baru memang selalu ramai: ibu-ibu yang membawa tas besar berisi pakaian dan perlengkapan, ayah serius yang membaca syarat-syarat pondok, dan para calon santriwati yang gelisah sambil memegang tangan orang tua mereka. Aroma makanan jajanan dari warung depan pondok bercampur dengan bau tanah basah setelah hujan semalam.
957Please respect copyright.PENANAHzUAamMLin
Tiba-tiba Ustadzah Lina menyenggol lenganku pelan dengan sikunya. Suaranya diturunkan, tapi matanya berbinar penuh semangat.
957Please respect copyright.PENANAGd7igPzpWq
“Eh…ustadzah Nayla, lihat tuh!di antrian.Cowoknya…MasyaAllah, cakep banget!”
957Please respect copyright.PENANAcKT2MIRMFa
Aku mengikuti arah refleks secara refleks. Di antara kerumunan, berdiri seorang pria muda yang langsung mencuri perhatian. Tingginya, mungkin 180 cm lebih, tubuhnya tegap. Kulit sawo matang bersih, rambut pendek rapi, dan memakai kemeja putih lengan digulung hingga siku yang memperlihatkan lengan berotot. Celana jeans gelap dan sepatu sneakers hitam membuat penampilan terlihat santai tapi rapi. Wajahnya tegas: rahang kokoh, alis tebal, hidung mancung, dan bibir yang tipis namun bentuknya simetris. Saat dia tersenyum menenangkan adiknya yang kecil dan gelisah, muncul lesung kecil di pipinya yang membuat wajahnya semakin menawan.
957Please respect copyright.PENANA43EOuyqlL5
Ustadzah Sarah ikut melirik dan mengeluarkan desahan kagum pelan. “Ya Allah…jarang banget ada yang kayak gini nganter ke pondok. Biasanya bapak-bapak tua atau ibu-ibu doang. Badannya bagus, pasti rutin olahraga.”
957Please respect copyright.PENANAl0hyKeFoVy
Ustadzah Lina langsung nyerocos, "ustadzah Nayla, kamu single kan? Cocok tuh! Tinggi, ganteng, sepertinya bertanggung jawab lagi."
957Please respect copyright.PENANAVUm7rwUzJC
“ustadzah Lina, jangan ngawur,” kataku pelan, tapi pipiku terasa hangat. Aku berusaha fokus kembali ke peta di depanku. Sebagai ustadzah di pondok, saya terbiasa menjaga jarak. Belum pernah pacaran seumur hidup, selalu sibuk belajar dan mengabdi. Tapi melihat pria itu — Reza, aku kemudian tahu namanya — membuat jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Gerakannya lembut saat mengusap kepala adiknya, tapi posturnya maskulin. Aroma parfum pria segar samar tercium saat angin berhembus.
957Please respect copyright.PENANAoBwseMrUSb
Giliran mereka akhirnya tiba. Reza dan adiknya, Rina, mendekat ke meja. Saat dia berdiri tepat di depanku, jarak kami hanya satu meter. Mata hitam tajam melihatnya sebentar, lalu tersenyum sopan. Aku merasa tenggorokanku kering.
957Please respect copyright.PENANA8Sce6QZ75G
“Nama calon santri?” tanyaku, berusaha agar suaraku tetap tenang dan profesional.
957Please respect copyright.PENANA2slQOBhki9
“Rina Putri Wijaya, ustadzah,” jawabnya dengan suara berat.
957Please respect copyright.PENANATpjmoYuJOo
Saat aku membungkuk sedikit untuk mengambil peta dari bawah meja, gamis abu-abu tuaku yang agak pas di bagian dada menempel di tubuh. Aku sadar betul Reza sempat melirik sebelum cepat mengalihkan pandangannya. Ustadzah Lina di sebelahku diam-diam menyenggol kakiku di bawah meja.
957Please respect copyright.PENANAKkjMEqXdLd
Proses administrasi berjalan lambat karena saya agak gelisah. Jari-jariku gemetar saat menulis. Aku menjelaskan prosedur pondok, jadwal harian, dan aturan asrama dengan suara pelan. Reza mendengarkan secara serius, tapi matanya sering berhenti ke name tag di dadaku yang bertuliskan “Ustadzah Nayla”. Sesekali dia bertanya hal-hal praktis tentang adaptasi Rina, suaranya penuh perhatian sebagai kakak.
957Please respect copyright.PENANAjvsF4wuDna
Setelah selesai, aku berdiri untuk mengantar mereka ke blok C. Angin pagi tiba-tiba kencang. Gamisku menempel pada saat di tubuhku — menampilkan lekuk dada yang penuh, pinggang ramping. Aku buru-buru merapikan kain dengan tangan kanan sambil berjalan di depan. Aku bisa merasakan Reza di punggungku sepanjang koridor. Bulu kudukku merinding, campuran antara malu.
957Please respect copyright.PENANAZm5ebUrZ8G
Sepanjang perjalanan, saya menjelaskan fasilitas asrama, musholla, dan jadwal pengajian. Rina mendengarkan dengan antusias, sementara Reza berjalan tenang di belakang. Sesekali aku menoleh, dan mata kami bertemu sebentar. Dia cepat membungkuk dengan sopan.
957Please respect copyright.PENANA87Rxorsq6S
Setelah mengantar Rina ke kamar dan memperkenalkannya dengan teman sekamar, aku kembali ke ruang tamu bersama Reza. Obrolan kami singkat. Saat aku kasih nomor HP-ku “untuk keperluan adik saja”,
957Please respect copyright.PENANA9vVHGxnvCU
“Terima kasih banyak, ustadzah Nayla,” katanya sebelum pergi. Senyumnya membuat lesung pipi itu muncul lagi.
957Please respect copyright.PENANAQdTHqwaxyz
“Sama-sama, Mas. Hati-hati di jalan,” balasku sambil menunduk sedikit.
957Please respect copyright.PENANA13Ob0liruW
Begitu Reza menghilang di balik gerbang, Ustadzah Lina langsung menyerbu seperti banjir.
957Please respect copyright.PENANAQnuUA5kYyN
“ustadzah Nayla!!! Cowok tadi ganteng luar biasa! Kamu kasih nomor HP?
957Please respect copyright.PENANA3HxZ9tTCYd
Ustadzah Sarah tersenyum lebar. “Matanya nggak lepas-lepas dari kamu tadi. Apalagi saat angin meniup gamismu.”
957Please respect copyright.PENANANMxJ9eMFtZ
Aku merasa wajahku panas seperti kepanasan. “Sudah ah, ustadzah. Itu hanya untuk urusan Rina. Jangan dibesar-besarkan.”
957Please respect copyright.PENANAvU6nc3m5gk
Tapi sepanjang sisa hari itu, wajah Reza terus muncul di benakku. Saat mengajar pengajian sore, saat memeriksa hafalan santri, bahkan saat shalat Maghrib. Malam harinya, di kamar pengasuh yang sederhana dengan kasur tipis dan meja belajar kecil, aku duduk di tepi tempat tidur sambil memegang ponsel. Nomor Reza sudah tersimpan.
957Please respect copyright.PENANAAOhYPyIL9x
“Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang lemah ini,” gumamku pelan. Aku yang biasanya tenang dan fokus beribadah, kali ini merasakan getaran di dada yang belum pernah ada. Bayangan lengannya yang berotot, suaranya yang berat lembut, matanya yang tajam, dan lesung pipinya yang terus berputar.
957Please respect copyright.PENANAY7dfKBJSny
Flashback berakhir — kembali ke hari kunjungan pertama minggu kemudian.
957Please respect copyright.PENANAGwlaGfgSaQ
Saat aku berjalan melewati koridor asrama untuk memanggil Rina karena kakaknya datang menjenguk, aku sempat berhenti di depan cermin kecil di dinding koridor. Aku merapikan kerudung krem muda, membenarkan gamis abu-abu muda yang kini kukenakan, dan tanpa sadar memeriksa penampilan lebih teliti dari biasanya. Jantungku berdegup lebih cepat daripada saat pertama kali bertemu dengannya di meja penerimaan.
957Please respect copyright.PENANAZTv4dZeZce
Saya tahu ini berbahaya. Aku ustadzah. Dia kakak santri. Tapi entah kenapa, sejak pandangan pertama itu, aku tidak bisa sepenuhnya menghilangkan bayangan Mas Reza dari pikiranku.
957Please respect copyright.PENANAkQpDiHA5oJ
Aku menghela napas panjang, tersenyum kecil pada diri sendiri, lalu melanjutkan langkah menuju ruang tamu. Hari ini, aku akan bertemu dengannya. Dan entah mengapa, saya merasa sedikit… senang.957Please respect copyright.PENANAc7MW1QSfUA


