966Please respect copyright.PENANAnOVTLabjii
Seminggu setelah mengantar Rina ke Pondok Pesantren. Setiap malam, sebelum tidur, bayangan wajah adikku yang sedikit sedih saat berpisah memang muncul, tapi yang jauh lebih sering mengganggu adalah sosok Ustadzah Nayla. Senyumnya yang lembut dan penuh kesopanan, suaranya yang tenang seperti alunan ayat-ayat suci, serta gamis hitamnya yang longgar namun tetap tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh yang anggun dan proporsional. Aku sering pusing kepala keras, berusaha mengusir pikiran-pikiran itu. Ini hanya untuk Rina,kataku berulang kali dalam hati. Tapi semakin aku mencoba melupakan, semakin jelas wajah itu terpatri di pikiranku.
966Please respect copyright.PENANAsl8fZHgh5t
Pagi itu aku bangun jam setengah lima, jauh sebelum azan Subuh berkumandang. Udara masih dingin menusuk tulang. Aku mandi dengan air dingin yang menyegarkan, berharap bisa membersihkan pikiran. Setelah shalat Subuh, saya langsung ke dapur. Dua tas besar sudah kusiapkan di meja. Dengan telaten, saya memasukkan makanan kesukaan Rina: onde-onde hangat, pisang goreng pedas kriuk, keripik singkong , roti tawar serta selai cokelat dan stroberi , buah-buahan pilihan—apel , jeruk manis, pisang raja, dan anggur hitam. Saya tambahkan juga beberapa kotak susu full cream, kasih madu murni, serta camilan kecil seperti cokelat batangan dan kue kering. Makanan di pondok memang bergizi dan halal, tapi sesekali sentuhan rumah pasti bisa membuat semangat Rina bertahan.
966Please respect copyright.PENANAfzDRdaQhGW
Avanza hitamku meluncur pelan melintasi jalan desa yang mulai ramai. Kabut pagi masih menggagalkan sawah-sawah hijau yang membentang, udara sejuk membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Sesekali angin masuk melalui celah jendela, membuatku melirik ponsel yang berada di dashboard. Nomor Ustadzah Nayla sudah tersimpan sejak hari pertama dengan nama “Ustadzah Nayla – Pondok”. Belum ada pesan apa pun darinya, tapi nomor itu seperti magnet—sering membuat jari-jariku gatal ingin mengetik.
966Please respect copyright.PENANAj5rtJmZ2HI
Sesampainya di Pondok Pesantren Al-Fatah, suasana sudah sangat hidup. Hari itu adalah hari kunjungan bulanan, sehingga lapangan parkir tanah penuh sesak dengan berbagai jenis mobil dan motor. Banyak orang tua, dan keluarga lain datang membawa tas besar dan kresek penuh makanan. Suara anak-anak kecil berlarian riang, ibu-ibu memanggil nama santri mereka dengan penuh rindu, dan aroma makanan khas pondok bercampur dengan bau tanah basah setelah hujan semalam.
966Please respect copyright.PENANAtnfhIScXZe
Aku memarkir mobil di ujung lapangan yang agak sepi, mengangkat kedua tas berat itu, dan berjalan menuju gerbang asrama putri blok C. Jalan setapak yang diapit tanaman bunga mawar dan pohon mangga yang rindang terasa sejuk. Banyak santriwati yang sedang bertemu keluarganya di ruang tamu umum atau halaman depan asrama. Beberapa rombongan santriwati berjalan beriringan, melirikku sekilas lalu cepat menunduk sambil berbisik-bisik. “Itu kakaknya Rina blok C ya?” “Ganteng banget, MasyaAllah… tinggi.” Aku pura-pura tidak mendengar dan terus melangkah dengan tenang.
966Please respect copyright.PENANADMLAMnJNWo
Dua ustadzah muda yang sedang berpatroli juga sempat menoleh lebih lama. Yang satu berkerudung biru tua dengan gamis senada, yang lainnya hijau zaitun. Mereka saling pandang sebelum mengucapkan salam dengan sopan. Aku mengangguk balik dengan hormat.
966Please respect copyright.PENANAyrnKyLjq3G
Di pos jaga, satpam yang sudah mengenalku tersenyum lebar. "Mas Reza ya? Silakan tunggu di ruang tamu blok C. Saya panggilkan Ustadzah Nayla dulu."
966Please respect copyright.PENANAi8No8U4Syl
Ruang tamu asrama putri cukup ramai. Beberapa keluarga lain sudah duduk di sana. Ada ibu-ibu yang sibuk menata makanan di meja, ayah yang serius berbicara dengan anaknya tentang pelajaran, dan santriwati yang tertawa kecil sambil memeluk kakak atau adiknya. Aku memilih duduk di bangku kayu panjang di teras, menikmati angin pagi yang membawa tanah basah. Dari arah masjid terdengar lantunan ayat Al-Qur'an yang merdu, diselingi suara anak-anak santri yang sedang mengaji dengan semangat.
966Please respect copyright.PENANAoLOvQWPQ2p
Tak lama kemudian, Ustadzah Nayla muncul dari koridor asrama. Hari ini dia memakai gamis abu-abu muda yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya, kerudung krem muda yang rapi tanpa sedikit pun kusut, serta kacamata bulat tipis yang membuat wajahnya terlihat semakin lembut, intelek, dan anggun. Senyum kecilnya langsung terlihat saat mata kami bertemu, pipinya sedikit bersemu merah muda.
966Please respect copyright.PENANAoy3VOiStyI
“Mas Reza?” sapanya dengan suara lembut khasnya yang selalu berhasil menenangkan. “Rina pasti senang sekali melihat kakaknya.”
966Please respect copyright.PENANArLWBaw3InN
“Iya, ustadzah. Saya bawa banyak makanan buat dia,” jawabku.
966Please respect copyright.PENANA33fa7OBTsu
“Kita ke ruang tamu khusus keluarga santri baru saja ya, Mas. Untuk yang baru masuk masih terbatas di situ supaya tidak terlalu ramai dan anak-anak bisa lebih nyaman.”
966Please respect copyright.PENANAzWibXTsmo8
Kami berjalan menyusuri koridor asrama yang panjang. Kunjungan hari membuat suasana lebih hidup dari biasanya. Banyak santriwati keluar masuk kamar dengan membawa ember air, sapu, atau sekadar ingin melihat keramaian. Hampir setiap kali kami lewat, ada yang melirik diam-diam. Beberapa santriwati yang sedang membersihkan halaman berhenti sebentar, saling sikut, lalu tersenyum malu-malu sebelum cepat menunduk. Satu kelompok tiga orang bahkan berbisik cukup keras, “Ustadzah Nayla sama siapa ya? Kakak santri baru blok C itu…”
966Please respect copyright.PENANA8vU3MXHPGR
Ustadzah Nayla seolah tidak terganggu sama sekali. Dia tetap berjalan tenang dengan langkah ringan, sesekali mengizinkan kerudungnya yang tertiup angin pagi. Gamis abu-abu mudanya yang agak pas di bagian dada mengikuti gerakan napasnya dengan lembut.
966Please respect copyright.PENANAXV0eTeLCth
Ruang tamu khusus itu sederhana tapi nyaman—ada sofa hijau tua yang agak usang, meja kayu jati, dan kaligrafi besar ayat Kursi yang indah di dinding. Nayla mempersilakanku duduk di sofa. “Saya panggil Rina dulu ya, Mas.”
966Please respect copyright.PENANAOepqZdLH6S
Beberapa menit kemudian, Rina datang berlari kecil bersama Nayla. Wajahnya cerah meski pipinya agak lelah karena proses adaptasi. Dia langsung memelukku erat, tubuh kecilnya terasa hangat.
966Please respect copyright.PENANAr2lKxmv7tv
"Mas! Akhirnya datang… Aku kangen banget!" katanya dengan suara agak serak karena menahan haru.
966Please respect copyright.PENANASh66TYixcn
"Aku juga kangen, Rin. Ini, Mas bawakan banyak makanan kesukaanmu. Semoga cukup buat kamu dan teman-teman sekamar."
966Please respect copyright.PENANAiB9OwF3WeN
Rina langsung mengungkap tas dengan antusiasme anak kecil. Onde-onde, pisang goreng, keripik singkong—semuanya dikeluarkan satu per satu sambil berdecak nikmat. Kami bertiga duduk. Rina makan lahap sambil bercerita panjang lebar, Nayla duduk di seberangku dengan postur sopan dan tangan terlipat rapi di pangkuan.
966Please respect copyright.PENANAgUVWLiyxlH
“Rina sudah memulai adaptasi dengan baik sekali, Mas Reza,” kata Nayla sambil tersenyum lembut, matanya sesekali melirik ke arahku. “Dia rajin bangun subuh, hafalan juz 30-nya sudah lancar, dan mulai akrab dengan teman sekamar. Tapi memang masih sering kangen rumah, terutama malam hari.”
966Please respect copyright.PENANAZH8ISghtEt
“Alhamdulillah ustadzah. Terima kasih banyak. Saya sangat lega adik saya diasuh oleh ustadzah,” balasku tulus, pandanganku berusaha tetap sopan.
966Please respect copyright.PENANAfaqR5NBWWY
Obrolan kami mengalir lebih lama. Nayla menjelaskan jadwal harian pondok dengan detail: bangun pukul 04.00 untuk shalat Subuh dan tilawah, pengajian pagi, pelajaran formal di madrasah, kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga ringan dan seni kaligrafi, hingga kegiatan malam seperti muhadharah dan evaluasi hafalan. Sesekali dia membenarkan kerudung atau menggeser duduknya dengan anggun. Aku berusaha keras menjaga pandangan tetap pada wajahnya atau ke Rina, meski sesekali mata ini tanpa sadar melirik garis lekuk tubuh yang samar-samar di balik gamisnya.
966Please respect copyright.PENANAh6POLxZtQF
“ustadzah nomor HP yang ustadzah terima kasih waktu itu aktif kan?” tanyaku di tengah percakapan. “Kalau ada apa-apa soal Rina, bolehkah saya hubungi langsung?”
966Please respect copyright.PENANAXKuyB2BGx5
Nayla mengangguk pelan. Pipinya sedikit merona merah. “ aktif mas. Tapi tolong hanya untuk urusan adik ya… tidak ada yang lain.”
966Please respect copyright.PENANAlpxL6EGP71
“Pasti, ustadzah.” jawabku cepat, meski dalam hati ada kelegaan.
966Please respect copyright.PENANAbHYmmpkVaC
Setelah hampir satu setengah jam, Rina pamit kembali ke kegiatan kelompoknya. Dia memelukku lama sekali sebelum pergi. Aku dan Ustadzah Nayla berjalan bersama menuju gerbang asrama. Koridor agak sepi karena banyak santri yang bersama keluarga.
966Please respect copyright.PENANAazIYBOGTru
“Terima kasih sudah datang jauh-jauh, Mas Reza,” katanya di depan gerbang. Angin pagi membuat gamisnya bergoyang pelan, menonjolkan pinggang ramping dan pinggul yang proporsional. “Hati-hati di jalan.”
966Please respect copyright.PENANAPK4xmuBIUE
“Sama-sama, ustadzah. Terima kasih juga atas waktunya.”
966Please respect copyright.PENANAVwm526YJmx
Aku berbalik menuju mobil dengan langkah yang jauh lebih ringan. Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku dipenuhi senyuman Nayla, suara yang lembut, dan memunculkan rasa malu-malu yang sesekali dia berikan.
966Please respect copyright.PENANArqPD6YkFu4
Malam harinya, setelah shalat Isya dan makan malam, saya memberanikan diri mengirim pesan pertama.
966Please respect copyright.PENANA0Nl7gpunEY
“Assalamualaikum ustadzah Nayla. Ini Reza, kakak Rina. Terima kasih sudah menerima kunjungan hari ini. Rina kelihatannya senang. Semoga tidak merepotkan.”
966Please respect copyright.PENANANpeoUlXuot
Balasan datang setelah hampir sepuluh menit.
966Please respect copyright.PENANA3ZNxbV0uh4
"Waalaikumsalam Mas Reza. Sama-sama. Rina baik-baik saja. Kalau ada perkembangan penting saya kabari."
966Please respect copyright.PENANA91efQk3rZh
Obrolan malam itu masih sangat formal dan singkat, tapi cukup membuatku tersenyum sendiri di kamar sambil berbaring. Kunjungan pertama ini membuat terasa jauh berbeda bagiku.966Please respect copyright.PENANA5a7FtEstB4


