Bab 1: Frustrasi yang Terpendam di Kegelapan Malam
496Please respect copyright.PENANAZWCRXew6U9
Malam itu udara di apartemen kecil mereka terasa pengap, meski AC menyala pelan. Laras Pratiwi berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangan dirinya sendiri. Usianya baru 27 tahun, tapi tubuhnya sudah matang sempurna. Tinggi 162 cm, kulit kuning langsat yang mulus seperti sutra, pinggul lebar yang menggoda, dan payudara E-cup yang montok serta kencang. Setiap kali ia bernapas, puting merah muda di puncak payudaranya terlihat menegang sedikit di balik gaun tidur tipis berwarna hitam.
496Please respect copyright.PENANAVEiQ13fwvi
Ia menggigit bibir bawahnya. Sudah tiga tahun menikah dengan Andi Wijaya, pria yang ia cintai dengan sepenuh hati. Andi baik, penyayang, dan bekerja keras. Tapi di balik semua itu, ada lubang besar yang semakin membuat Laras gelisah setiap malam.
496Please respect copyright.PENANABVjxy2v1Pc
"Mas... sudah tidur?" tanya Laras lembut saat ia keluar dari kamar mandi.
496Please respect copyright.PENANAzfYYeHX57y
Andi duduk bersandar di kepala tempat tidur, memegang ponsel. Tubuhnya biasa saja, tidak tinggi, tidak berotot. Ia tersenyum lemah melihat istrinya. "Belum, Sayang. Kamu cantik sekali malam ini."
496Please respect copyright.PENANAkLSGJFvidf
Laras mendekat, naik ke atas tempat tidur, dan merangkak perlahan ke pangkuan suaminya. Gaun tidurnya naik ke atas paha, memperlihatkan kulit mulus yang hangat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Andi, tapi itu tidak cukup. Ia membutuhkan lebih.
496Please respect copyright.PENANAT5glMxYrGN
Dengan gerakan lembut, Laras mencium leher Andi, lidahnya menjilat pelan kulit suaminya, meninggalkan jejak basah yang hangat. Tangan Laras merayap ke bawah, menyentuh celana pendek Andi. Ia meremas pelan, berharap kali ini ada reaksi.
496Please respect copyright.PENANAMF9Dg2Uwtu
Tapi yang ia rasakan hanyalah kelembutan kecil yang tak kunjung mengeras. kontol Andi hanya 12 cm saat tegang pun, dan malam ini... bahkan itu pun tak muncul.
496Please respect copyright.PENANAXA1jst5RFe
"Andi..." suara Laras bergetar, campuran antara keinginan dan kekecewaan. "Aku mau kamu... aku sudah basah sekali hari ini."
496Please respect copyright.PENANA8zuQ7CaURd
Andi menelan ludah. Wajahnya memerah karena malu. "Maaf, Sayang... aku... aku lagi tidak bisa. Sudah dua bulan ini..."
496Please respect copyright.PENANAbdDAuylUJ6
Laras merasa memeknya berdenyut nyeri. Sudah berhari-hari ia hanya mengandalkan jari-jarinya sendiri di kamar mandi. Ia duduk lebih dekat, menggesekkan memeknya yang sudah licin ke paha Andi. Cairan hangatnya meninggalkan jejak basah di kulit suaminya. Bau manis khas nafsu perempuan memenuhi udara kecil kamar itu.
496Please respect copyright.PENANAGxCqebBHcR
"Aku tahu, Mas... tapi coba sentuh aku dulu," bisik Laras dengan suara parau. Ia memegang tangan Andi dan membawanya ke antara pahanya. Jari Andi menyentuh memeknya yang sudah banjir. Laras mendesah panjang saat jari suaminya menyentuh kristoriskecil yang sangat sensitif.
496Please respect copyright.PENANANYqBV2urCN
"Hhhnnn... di situ, Mas... gosok lebih cepat..."
496Please respect copyright.PENANAHjt5Nr1mHJ
Andi mencoba. Ia menggerakkan jarinya, tapi gerakannya kaku dan tidak berpengalaman. Laras memejamkan mata, berusaha menikmati, tapi semakin lama semakin ia merasa kosong. Tubuhnya panas, napasnya tersengal, tapi tidak ada yang bisa membawanya ke puncak.
496Please respect copyright.PENANAMgZo8S3V3l
Ia menunduk, mencium Andi dalam-dalam, lidah mereka saling menari. Tangan Laras kembali meremas kontol kecil suaminya, mencoba membangkitkannya dengan segala cara. Ia menggosok, meremas, bahkan menunduk dan mencium ujungnya dengan bibir lembutnya. Bau sabun dan sedikit keringat tercium. Tapi kontol Andi tetap lemah, tak mampu berdiri.
496Please respect copyright.PENANA4OfhYEiXcO
"Maaf... maaf..." bisik Andi dengan suara pecah. Air mata malu hampir jatuh dari matanya.
496Please respect copyright.PENANAKqtBD3AoC5
Laras bangkit, duduk di samping suaminya. memeknya masih berdenyut, cairan beningnya menetes pelan ke seprai. Ia merasa frustrasi yang luar biasa. Tubuhnya haus akan sesuatu yang besar, yang tebal, yang mampu meregangkannya hingga batas. Tapi ia mencintai Andi. Ia tidak ingin menyakiti suaminya.
496Please respect copyright.PENANApWPKJB6y3Y
"Besok ada acara kantor, kan?" tanya Laras mencoba mengalihkan pembicaraan. Suaranya masih sedikit gemetar karena nafsu yang tertahan.
496Please respect copyright.PENANAHWxfFrZnXj
"Iya," jawab Andi. "Mr. Richard Tan, bos besar aku, akan datang. Katanya ada pesta kecil di hotel bintang lima. Kamu mau ikut? Aku ingin pamer istri cantikku."
496Please respect copyright.PENANAmn9rMlRD0a
Laras mengangguk pelan. Dalam hati ia berpikir, mungkin keluar rumah bisa sedikit meredakan gelisahnya.
496Please respect copyright.PENANAvkPw2pXHTN
Malam itu Laras sulit tidur. Ia berbaring membelakangi Andi, tangannya diam-diam menyentuh memeknya sendiri. Jari tengahnya masuk perlahan, membayangkan sesuatu yang jauh lebih besar. Ia menggigit bantal agar suaranya tidak keluar saat ia mencapai orgasme kecil yang tak memuaskan. Tubuhnya gemetar pelan, kakinya mengejang, tapi hatinya tetap kosong.
496Please respect copyright.PENANA7cJOB4jE6C
Keesokan harinya, Laras berdandan dengan sangat cantik. Ia memakai dress hitam ketat yang menonjolkan payudara montoknya dan pinggul lebarnya. Ketika mereka tiba di acara kantor yang mewah, suasana sudah ramai. Andi memperkenalkan Laras kepada beberapa rekan kerjanya.
496Please respect copyright.PENANAs1L48vHblb
Dan kemudian, ia muncul.
496Please respect copyright.PENANAsJ4vjP7WKl
Mr. Richard Tan, 42 tahun, tinggi 180 cm, tubuh tegap dengan aura kekuasaan yang kuat. Matanya langsung tertuju pada Laras begitu Andi memperkenalkannya.
496Please respect copyright.PENANAGw2lCMxd89
"Ini istri saya, Pak. Laras Pratiwi," kata Andi dengan bangga.
496Please respect copyright.PENANAS5JA1w80EV
Richard tersenyum tipis, tangannya menjabat tangan Laras lebih lama dari biasanya. Telapak tangannya hangat dan kuat. "Senang bertemu dengan Anda, Laras. Anda jauh lebih cantik dari cerita Andi."
496Please respect copyright.PENANAAX1rM0dhZo
Laras merasakan getaran aneh di perutnya saat mata Richard menelusuri tubuhnya tanpa malu. Tatapan itu seperti menelanjanginya di depan umum. Untuk sesaat, Laras membayangkan kontol pria itu — pasti besar, tebal, dan penuh urat.
496Please respect copyright.PENANApuPcUnsDJR
"Terima kasih, Pak Richard," jawab Laras dengan suara lembut, tapi pipinya sedikit memerah.
496Please respect copyright.PENANA2AjTi7bk4m
Sepanjang acara, Richard sering meliriknya. Ketika Andi pergi ke toilet, Richard mendekat dan berbisik pelan di telinga Laras.
496Please respect copyright.PENANARoYsxvTK1e
"Kalau suatu saat kamu butuh sesuatu yang... lebih, hubungi saya saja."
496Please respect copyright.PENANA9fd90uv0t5
Napas hangat Richard menyentuh telinga Laras. Bau parfum mahal pria itu membuat memek Laras berdenyut sekali lagi. Ia merasa malu, tapi juga excited. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada pria yang membuat tubuhnya bereaksi sekuat ini hanya dengan tatapan dan bisikan.
496Please respect copyright.PENANAUM3GATaPq7
Malam itu, setelah pulang, Laras kembali berbaring di samping Andi yang sudah tertidur. Tapi pikirannya melayang pada Richard. Tangan Laras kembali merayap ke bawah gaun tidurnya. Kali ini, saat jarinya memasuki memeknya yang sudah sangat basah, ia membayangkan kontol besar Richard yang meregangkannya lebar.
496Please respect copyright.PENANANg6QPhe8Fx
"Hhh... ahh..." desahannya pelan sekali.
496Please respect copyright.PENANAFDl9y8rDB7
Tubuhnya bergetar hebat saat ia mencapai orgasme yang lebih kuat dari biasanya. Cairan hangatnya membasahi jari dan seprai. Tapi setelah itu, rasa bersalah datang menyergap.
496Please respect copyright.PENANASvbL4uSzhH
"Aku istri baik-baik..." bisiknya pada dirinya sendiri.
496Please respect copyright.PENANADQMP24LssT
Namun, di dalam hati yang paling dalam, Laras tahu — frustrasinya baru saja menemukan celah. Dan celah itu bernama Mr. Richard Tan.
496Please respect copyright.PENANAxU8NIXTBex


