948Please respect copyright.PENANA5KqX0xlfag
Bab 1: Jebakan Hitam
948Please respect copyright.PENANA8FNaR8rfRg
Elena Kusuma berjalan cepat menyusuri gang sempit di pinggiran Jakarta yang kumuh. Malam sudah larut, lampu jalan redup berkedip-kedip seperti mata yang lelah. Usianya baru 22 tahun, wajahnya masih imut dengan pipi tembem alami, mata bulat yang polos, dan rambut hitam panjang yang biasa diikat kuda. Tubuhnya ramping, payudaranya sedang, pinggulnya biasa saja. Ia baru pulang dari shift malam di warung makan kecil, kakinya pegal, pikirannya penuh kekhawatiran tentang tagihan rumah sakit ibunya.
948Please respect copyright.PENANAMgWdzPvIjJ
Tiba-tiba sebuah mobil hitam mewah berhenti di depannya. Pintu belakang terbuka. Dua pria berpakaian hitam turun dan langsung menangkap lengannya tanpa kata-kata.
948Please respect copyright.PENANAts4u2zeHTv
"Hei! Lepaskan! Apa-apaan ini?!" Elena meronta keras, suaranya memecah keheningan malam. Ia menendang dan menggigit, tapi tubuhnya yang kecil tak berdaya melawan dua pria yang berotot.
948Please respect copyright.PENANAToaNGnHwDw
Seorang pria tinggi muncul dari dalam mobil. Tingginya sekitar 180 cm, berpakaian jas hitam mahal yang sempurna menempel di tubuh atletisnya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, mata tajam seperti elang, dan senyum dingin yang membuat bulu kuduk Elena berdiri. Mr. Alexander Gunawan.
948Please respect copyright.PENANAt8Rdi0hYq3
"Kau Elena Kusuma?" suaranya rendah, berwibawa, dan penuh kendali.
948Please respect copyright.PENANA1Gvyiy0Uc6
"Siapa kamu?! Lepaskan aku!" Elena masih berusaha melepaskan diri, napasnya tersengal.
948Please respect copyright.PENANAhaxRH1OJLm
Alexander mendekat, mengangkat dagu Elena dengan jari telunjuknya yang dingin. Ia menatap wajah gadis itu lama, seolah sedang menilai barang dagangan. "Kau cantik. Imut. Masih alami. Bagus. Aku sudah membayarmu malam ini. Keluargamu sudah setuju."
948Please respect copyright.PENANAmY5r26A9nf
"Apa maksudmu?!" Elena merasa darahnya membeku.
948Please respect copyright.PENANAx8Sy2AANiC
Alexander mengeluarkan sebuah tablet dan memutar sebuah video. Di layar terlihat ayah Elena yang sedang berjudi besar, hutang yang menumpuk, dan bukti pemalsuan dokumen yang bisa membuat ayahnya masuk penjara bertahun-tahun. "Ayahmu mencuri dari perusahaanku. Aku bisa memenjarakannya besok pagi. Tapi aku punya tawaran lain. Kau ikut denganku malam ini, dan hutang itu lunas. Ibumu bisa diobati di rumah sakit terbaik. Tolak, dan besok keluargamu hancur."
948Please respect copyright.PENANAu9DIYfEKPK
Elena terdiam. Air mata mulai menggenang di matanya. Ia tahu ini jebakan. Tapi pilihan yang ada hanya kehancuran atau... ini.
948Please respect copyright.PENANA9vGJSAXQkr
"Aku... aku tidak mau," bisiknya gemetar, tapi suaranya lemah.
948Please respect copyright.PENANAPg2xwVEuDt
Alexander tersenyum tipis. Ia mengusap pipi Elena dengan ibu jarinya, gerakan yang terasa lembut tapi penuh kuasa. "Kau tidak punya pilihan, Sayang. Mulai malam ini, kau milikku."
948Please respect copyright.PENANAqq3Eh3Dcle
Elena dibawa masuk ke mobil. Bau kulit mewah dan parfum mahal Alexander memenuhi hidungnya. Selama perjalanan yang panjang menuju pinggiran kota, Alexander tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali menatap Elena seperti predator yang sedang mengamati mangsa baru.
948Please respect copyright.PENANAp9uwiP7gYT
Mereka tiba di sebuah vila mewah yang tersembunyi di balik bukit. Lampu-lampu kristal menyala terang. Begitu masuk ke ruang tamu yang luas, Alexander menyuruh pengawalnya keluar. Hanya mereka berdua sekarang.
948Please respect copyright.PENANAPOcYQAPmls
"Duduk," perintah Alexander sambil menunjuk sofa empuk.
948Please respect copyright.PENANADw1yMnWCzv
Elena duduk dengan tubuh tegang. Ia merasa seperti sedang berada di mimpi buruk.
948Please respect copyright.PENANAtwO59WLEhX
Alexander menuangkan segelas wine mahal dan memberikannya pada Elena. "Minum. Kau akan butuh ini."
948Please respect copyright.PENANAvEYs7z4FlM
Elena menggeleng. "Aku mau pulang."
948Please respect copyright.PENANAmwkGofS9vO
Alexander tertawa pelan, suaranya dalam dan menggema. Ia duduk di samping Elena, begitu dekat hingga Elena bisa merasakan panas tubuh pria itu. Tangan Alexander menyentuh paha Elena melalui celana jeans yang ia kenakan. Sentuhan itu ringan, tapi Elena merasa seperti tersengat listrik.
948Please respect copyright.PENANAkdQQgXqmar
"Kau tahu apa yang akan terjadi padamu?" tanya Alexander sambil jarinya naik perlahan ke arah pinggul Elena. "Aku tidak membeli wanita biasa. Aku membeli calon juara. Di dunia yang aku tinggali, ada kompetisi tahunan yang sangat... istimewa. Para miliarder seperti aku bersaing membawa slave terbaik. Slave yang paling rusak, paling memuaskan, paling sempurna."
948Please respect copyright.PENANAku6IrG41Y9
Elena bergidik. "Aku bukan barang!"
948Please respect copyright.PENANAAvC2BAkK1n
"Oh, tapi kau akan menjadi barang yang paling berharga." Alexander mendekatkan wajahnya hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Elena. Napasnya hangat. "Besok pagi aku akan membawamu ke klinik pribadiku. Payudaramu akan dibuat besar, sangat besar. Bokongmu akan dibentuk menjadi sesuatu yang menggoda. Lubang tubuhmu akan dilatih agar bisa menerima apapun. Dan kau... kau akan belajar menikmatinya."
948Please respect copyright.PENANAVmlNlKbSHe
Tangan Alexander merayap naik ke dada Elena. Ia meremas payudara kiri gadis itu dengan lembut tapi tegas di atas baju. Elena menggigit bibir, berusaha menahan desahan yang hampir keluar.
948Please respect copyright.PENANAg5FR9nmpMu
"Stop... please..." bisik Elena, suaranya bergetar.
948Please respect copyright.PENANAL8VbbOr1Ub
"Tubuhmu sudah merespons," kata Alexander sambil tersenyum. Ia bisa merasakan puting Elena mengeras di bawah sentuhannya. "Lihat? Bahkan sekarang kau sudah basah, bukan?"
948Please respect copyright.PENANAqvdkycCjGG
Elena menggeleng kuat, tapi Alexander tidak berhenti. Ia membuka kancing baju Elena satu per satu dengan sabar. Ketika baju terbuka, bra hitam sederhana Elena terlihat. Alexander menurunkan bra itu, memperlihatkan payudara sedang yang masih alami dengan puting kecil yang sudah mengeras karena dingin dan ketakutan bercampur sesuatu yang aneh.
948Please respect copyright.PENANAEaUuVQ6stR
Ia menunduk dan menjilat puting Elena perlahan. Lidahnya hangat dan basah. Elena menggeliat, kakinya mengepal di sofa.
948Please respect copyright.PENANAjN3lugEMXb
"Ahh... jangan..." desah Elena. Sensasi panas menjalar dari puting ke perut bawahnya.
948Please respect copyright.PENANAYT7tgK1Sof
Alexander mengisap lebih kuat, bunyi *slurp* pelan terdengar. Ia menggigit ringan puting Elena, membuat gadis itu menjerit kecil. Tangan kirinya turun ke celana Elena, membuka resletingnya, dan menyusup ke dalam celana dalam. Jari Alexander menyentuh bagian intim Elena yang sudah agak lembab.
948Please respect copyright.PENANAboDeMxuCvO
"Kau bohong kalau bilang tidak suka," bisik Alexander di antara isapan. "memek kecilmu sudah mulai mengeluarkan sperma."
948Please respect copyright.PENANAi6ebzP3ED4
Elena menangis, tapi pinggulnya tanpa sadar bergerak pelan mengikuti gerakan jari Alexander yang memutar di sekitar kristoris kecilnya. Sensasi itu asing, menakutkan, tapi juga membakar. Bau tubuh Alexander yang maskulin bercampur aroma wine memenuhi penciumannya. Suara napasnya sendiri yang tersengal terdengar memalukan di telinganya.
948Please respect copyright.PENANA8tumESFlK9
Alexander menarik tangannya keluar dan menunjukkan jari yang basah pada Elena. "Lihat? Tubuhmu jujur."
948Please respect copyright.PENANAicB7MV9sgs
Ia berdiri, menarik Elena berdiri juga, lalu membalik tubuh gadis itu hingga membungkuk di atas meja marmer dingin. Alexander menurunkan celana jeans dan celana dalam Elena hingga ke lutut. Bokong Elena yang masih biasa terpapar udara dingin.
948Please respect copyright.PENANAvHZ4uK363R
"Bagus," gumam Alexander sambil meremas kedua belahan bokong itu. "Besok ini akan jadi raksasa. Aku akan buat kau bisa menelan kontol sebesar lengan."
948Please respect copyright.PENANAK121yndMgm
Elena menangis lebih keras. "Kenapa aku...? Aku tidak mau jadi seperti itu..."
948Please respect copyright.PENANAhSYQmdqz4f
Alexander menampar pelan bokong Elena. *Plak!* Suara itu nyaring di ruangan sunyi. "Karena kau milikku sekarang. Dan kau akan belajar menyukainya. Kau akan ketagihan menjadi lonte paling rusak di kompetisi."
948Please respect copyright.PENANAbPg3nJt6EM
Ia mengambil sebuah alat kecil dari laci meja — anal plug berukuran sedang dengan getaran. Setelah melumurinya dengan cairan orgasme, Alexander menekannya perlahan ke anal Elena yang masih rapat.
948Please respect copyright.PENANANvVbwouobP
"Ahhhhh! Sakit... panas..." Elena menjerit, kakinya gemetar. Sensasi penuh dan meregang membuat perutnya berdenyut aneh. Plug itu masuk perlahan, dan Alexander menyalakan getarannya di level rendah.
948Please respect copyright.PENANAMd6Azmey4Q
Getaran itu langsung menyebar ke seluruh tubuh Elena. Ia menggigit bibir hingga berdarah, air mata mengalir deras. Payudaranya yang tergantung di meja terasa berat dan sensitif.
948Please respect copyright.PENANARLtK8cnKIh
Alexander berdiri di belakangnya, membuka celananya sendiri. kontolnya yang sudah keras dan besar menempel di punggung Elena. Ia tidak memasukkan, hanya menggesek-gesek di antara celah bokong Elena sambil tangannya meremas payudara gadis itu dari belakang.
948Please respect copyright.PENANAAQ6dJvwLil
"Kau rasakan ini?" bisik Alexander dengan suara serak. "Ini baru awal. Besok pagi, modifikasi pertama dimulai. Payudaramu akan disuntik agar membengkak jadi K-cup dan mengeluarkan ASI terus menerus. Kau akan merasa penuh, berat, dan bocor setiap saat."
948Please respect copyright.PENANANa2sYXh4IL
Elena hanya bisa mengangguk lemah sambil menangis. Tubuhnya gemetar hebat karena getaran plug di analnya. Sensasi dingin meja marmer di perutnya kontras dengan panas tubuh Alexander di belakangnya. Bau keringat tipis bercampur parfum mahal membuat kepalanya pusing.
948Please respect copyright.PENANApP2pRI2JIP
Alexander terus menggesek kontolnya lebih cepat, tangannya memilin puting Elena seperti memeras buah. "Bayangkan, Elena. Ribuan mata akan menontonmu di panggung. Mereka akan melihat berapa banyak ASI yang kau keluarkan dalam satu jam. Berapa dalam lubangmu bisa ditembus. Berapa lama kau bisa orgasme tanpa henti sambil melayani puluhan pria."
948Please respect copyright.PENANAABMSqyTwFQ
Elena mencapai puncak pertama yang tak diinginkan. Tubuhnya mengejang hebat, kakinya hampir ambruk. Cairan hangat keluar dari memeknya, menetes ke lantai. Ia menangis malu dan putus asa.
948Please respect copyright.PENANAS1KiMTEl9D
Alexander tersenyum puas. Ia menyemburkan spermanya di punggung Elena, cairan panas dan kental menempel di kulit gadis itu.
948Please respect copyright.PENANAIgqfePMTV1
Setelah selesai, ia membersihkan Elena dengan handuk lembut, tapi tatapannya tetap dingin dan posesif. "Mandilah. Besok pagi kita ke klinik. Jangan coba kabur. Keluargamu ada di tanganku."
948Please respect copyright.PENANAwzHCtvlnFW
Elena berdiri lemah, plug masih bergetar pelan di dalam analnya. Ia berjalan ke kamar mandi dengan langkah goyah, air mata masih mengalir. Di cermin, ia melihat wajahnya yang memerah, putingnya yang bengkak, dan tatapan matanya yang mulai berubah.
948Please respect copyright.PENANAxSSiFgK6HE
Malam itu, untuk pertama kalinya, Elena menyadari hidupnya sudah berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis biasa. Ia adalah calon slave kompetisi. Calon lonte paling rusak.
948Please respect copyright.PENANAFlEukjW4LG
Tapi di balik ketakutan itu, ada getaran kecil yang aneh di perutnya. Sesuatu yang gelap, memalukan, dan mulai terbangun.
948Please respect copyright.PENANAWw19LdKAjh
948Please respect copyright.PENANAbY6mHbxsL5
948Please respect copyright.PENANA9AnDmH95GO


