Bab 2: Tawaran yang Tak Bisa Ditolak
2189Please respect copyright.PENANAc9cTB0rihU
Pagi harinya, sinar matahari menyusup melalui tirai kamar tidur rumah dinas yang mewah. Ir. Bambang Suryo terbangun dengan kepala berat. Malam tadi ia hampir tak bisa tidur, bayangan jari Jenderal Haris yang menyentuh tubuh Dewi terus berputar di kepalanya. Di sampingnya, Dewi Lestari masih tertidur dengan wajah tegang. Gaun merah marun yang semalam dipakainya kini tergantung di kursi, meninggalkan bekas lipatan yang mengingatkan pada peristiwa memalukan di ruang rapat.
2189Please respect copyright.PENANAzklnHSIfjL
Bambang menatap istrinya. Payudara Dewi yang biasanya indah dan sedang naik-turun pelan mengikuti napas. Pikirannya bercampur aduk antara amarah, cemburu, dan rasa tak berdaya yang anehnya membuat kontol kecilnya berdenyut pelan di dalam celana dalam.
2189Please respect copyright.PENANAlkZjDisEdV
Dewi membuka mata. Mereka bertatapan dalam diam yang berat.
2189Please respect copyright.PENANAeaV93qPJhh
“Mas… kita benar-benar harus pergi?” tanya Dewi dengan suara parau. Suaranya yang biasanya anggun kini terdengar rapuh.
2189Please respect copyright.PENANA4FcjQt2K6v
Bambang menghela napas panjang. “Kalau tidak, sore ini aku sudah di sel tahanan. Bukti yang dia punya terlalu kuat. Kita tidak punya pilihan, Dewi.”
2189Please respect copyright.PENANA7NceHWI7bo
Dewi duduk di tepi tempat tidur, tangannya memeluk lutut. “Aku takut… Tapi semalam… tubuhku… aneh. Aku tidak seharusnya merasakan itu.”
2189Please respect copyright.PENANA8yVXRJGl7U
Bambang tidak menjawab. Ia hanya bangkit dan mulai bersiap. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Mereka harus tiba di klinik rahasia pukul delapan tepat.
2189Please respect copyright.PENANADUgkDTGs96
Perjalanan menuju basement markas militer terasa mencekam. Mobil dinas meluncur melewati jalan-jalan Jakarta yang padat, tapi di dalam mobil hening seperti kuburan. Dewi mengenakan dress sederhana berwarna hitam yang masih menonjolkan lekuk tubuhnya. Bambang sesekali melirik istrinya, membayangkan apa yang akan dilakukan terhadap tubuh yang selama ini hanya ia miliki.
2189Please respect copyright.PENANAgsxIgC6IqX
Sesampainya di markas, Kolonel Rizal sudah menunggu di pintu masuk basement. Pria berusia 38 tahun dengan tubuh atletis itu tersenyum sinis.
2189Please respect copyright.PENANANmniLAgsCt
“Ikut saya. Jenderal sudah menunggu di klinik.”
2189Please respect copyright.PENANApon1WAf31p
Mereka berjalan menyusuri koridor bawah tanah yang steril, lampu neon putih menyinari dinding beton. Bau obat-obatan dan antiseptik memenuhi udara. Akhirnya mereka tiba di sebuah pintu besi besar bertuliskan “Klinik Khusus – Akses Terbatas”.
2189Please respect copyright.PENANALvORHi3v1g
Di dalam ruangan klinik yang modern namun gelap, Dr. Vania berdiri menyambut. Dokter wanita berusia 34 tahun itu cantik dengan kacamata tipis dan jas lab ketat yang menampilkan tubuhnya yang seksi. Di belakangnya, Jenderal Haris Darmawan duduk di kursi dengan kaki disilangkan, tersenyum lebar.
2189Please respect copyright.PENANApML4Nm6ycs
“Selamat datang, Nyonya Dewi,” kata Dr. Vania dengan suara lembut tapi profesional. “Hari ini kita mulai tahap pertama modifikasi. Payudara Anda akan ditingkatkan menjadi ukuran J-cup dengan produksi ASI permanen. Prosesnya akan membuat Anda sangat sensitif.”
2189Please respect copyright.PENANA75c5ClYfAr
Dewi mundur selangkah, tapi tangan Kolonel Rizal mendorong punggungnya pelan. “Tidak ada jalan mundur, Nyonya.”
2189Please respect copyright.PENANAYhm5w2MDOD
Jenderal Haris bangkit dan mendekat. Tangan besarnya langsung meremas payudara Dewi dari luar dress. “Rasanya masih pas di tangan. Sebentar lagi akan penuh, berat, dan selalu meneteskan ASI manis untuk kami.”
2189Please respect copyright.PENANAx6m4AtazLo
Bambang dipaksa duduk di kursi observasi di sudut ruangan, tangannya diikat ke lengan kursi. Di depannya ada layar besar yang menampilkan meja operasi.
2189Please respect copyright.PENANAv26QAMx6wU
Dewi dibaringkan di meja modifikasi yang dilengkapi tali pengikat. Dr. Vania menyuntikkan obat penenang ringan dan obat perangsang nafsu ke lengan Dewi. Tak lama kemudian, tubuh Dewi terasa panas. Kulitnya memerah, dan memeknya mulai basah tanpa sentuhan.
2189Please respect copyright.PENANAdcGhXjHJ3V
“Mulai prosedur,” kata Dr. Vania.
2189Please respect copyright.PENANApltxqdAaTn
Payudara Dewi disuntik dengan serum khusus di beberapa titik. Sensasi dingin menyusup ke dalam jaringan, diikuti rasa panas yang membakar. Dewi mengerang pelan. Payudaranya mulai membengkak secara nyata di depan mata. Kulitnya meregang, putingnya mengeras dan memerah gelap.
2189Please respect copyright.PENANAO7jG8DUXYr
“Aaahh… panas… sakit tapi… enak,” desah Dewi. Kakinya menggeliat di atas meja.
2189Please respect copyright.PENANAHTxg3PEWUo
Jenderal Haris mendekat dan menjepit kedua puting Dewi dengan jari, memilinnya pelan. “Lihat ini, Bambang. Payudara istri kamu sedang tumbuh untuk melayani negara.”
2189Please respect copyright.PENANA4KLx75hzQn
Dewi menjerit kecil saat payudaranya mencapai ukuran J-cup yang luar biasa besar dan kencang. Beratnya terasa di dada, dan tiba-tiba cairan putih bening mulai menetes dari ujung puting yang besar.
2189Please respect copyright.PENANAqnKU80AJe8
“ASI pertama,” kata Dr. Vania bangga. “Produksinya akan permanen. Semakin sering dihisap atau distimulasi, semakin banyak yang keluar.”
2189Please respect copyright.PENANAAVJdXpdumx
Jenderal Haris tidak membuang waktu. Ia membungkuk dan menghisap puting kiri Dewi dengan rakus. Suara “slurp… slurp…” basah terdengar. ASI manis mengalir ke mulutnya. Dewi melengkungkan punggung, orgasme kecil datang hanya dari stimulasi payudara. cairan orgasme bening mengalir dari memeknya yang tak disentuh.
2189Please respect copyright.PENANAQMHJxQKaOC
“Enak sekali… manis dan creamy,” puji Jenderal sambil menjilat bibir. “Sekarang giliranmu membersihkan, Bambang. Tapi nanti. Sekarang kita uji dulu ketahanan tubuh baru istrimu.”
2189Please respect copyright.PENANALZcjR3Z3pb
Dewi dipindahkan ke ruang uji di sebelah klinik. Tubuhnya yang kini memiliki payudara raksasa digantung dengan suspension ringan. Tangan dan kakinya direntangkan. Mayor Toni dan Kolonel Rizal sudah menunggu, tubuh mereka telanjang.
2189Please respect copyright.PENANAByb6ZroIPA
“Foreplay dulu, pelan-pelan,” perintah Jenderal.
2189Please respect copyright.PENANA1mIgqEbzFw
Kolonel Rizal berdiri di belakang Dewi, tangannya meremas bokongnya yang masih normal sambil mencium lehernya. Mayor Toni di depan, menghisap puting kanan Dewi yang masih meneteskan ASI. Suara isapan basah dan erangan Dewi memenuhi ruangan.
2189Please respect copyright.PENANAxgQXLiZeAV
Dewi merasakan segalanya lebih intens. Setiap sentuhan seperti listrik. “Ahh… jangan… tapi… jangan berhenti…” gumamnya tak sadar.
2189Please respect copyright.PENANAvNvLaQ3E9S
Jenderal Haris duduk di kursi sambil memegang remote. Ia mengaktifkan vibrator kecil yang ditempelkan di kristoris Dewi. Getaran halus membuat memek Dewi berdenyut hebat.
2189Please respect copyright.PENANAJYr32umsxN
Bambang di ruang observasi hanya bisa menonton. kontol kecilnya yang tak pernah besar itu mencoba mengeras tapi terasa menyakitkan karena cemburu dan nafsu yang terpendam.
2189Please respect copyright.PENANAt8XgRSTf6F
Setelah hampir 40 menit foreplay intens — jari-jari menyusup ke memek Dewi, lidah menjilat kristoris , tangan meremas payudara hingga ASI memancar — akhirnya penetrasi dimulai.
2189Please respect copyright.PENANAa1jWnX0ALH
Mayor Toni memasukkan kontolnya yang besar ke dalam memek Dewi yang sudah sangat basah. “Sluuuppp…” suara basah terdengar saat masuk sepenuhnya. Dewi menjerit kenikmatan. Tubuhnya bergoyang di suspension.
2189Please respect copyright.PENANAge9tHTIZUI
Kolonel Rizal di belakang mulai memasukkan jari ke anal Dewi, mempersiapkan lubang belakang. “Lubang ini juga akan kita modifikasi besok. Tapi hari ini sudah cukup longgar untuk dua.”
2189Please respect copyright.PENANAqKUvy8uCrV
Jenderal Haris ikut bergabung. Ia berdiri di samping dan memasukkan kontolnya ke mulut Dewi. Triple penetration pertama terjadi. Dewi sepenuhnya terisi. Payudaranya bergoyang-goyang, ASI memancar keluar setiap kali tubuhnya digoyang keras.
2189Please respect copyright.PENANAVhOYjadHD3
“Enak kan, Nyonya Dewi?” tanya Jenderal sambil mendorong pinggulnya. “kontol negara jauh lebih besar dari milik suami kamu.”
2189Please respect copyright.PENANAn2OlZXNQpi
Dewi hanya bisa mengerang di sekitar kontol di mulutnya. “Mmmhh… enak… penuh… saya… mau keluar lagi…”
2189Please respect copyright.PENANAqMSy7f1kVR
Orgasme pertama Dewi datang hebat. Tubuhnya kejang, kaki gemetar hebat, cairan orgasme beningnya menyembur membasahi paha Mayor Toni. Air mata mengalir di pipinya karena sensasi berlebihan.
2189Please respect copyright.PENANAXQXwXVrs48
Mereka bergantian selama hampir satu jam. Kadang double di memek, kadang bergantian di anal. Setiap kali klimaks, Dewi menjerit lebih keras. Bau keringat, ASI, dan cairan intim memenuhi ruangan.
2189Please respect copyright.PENANAAlFxknmpkB
Akhirnya, ketiganya mencapai puncak hampir bersamaan. sperma kental menyembur ke dalam memek, anal, dan mulut Dewi. Tubuh Dewi penuh, perutnya sedikit kembung karena volume sperma yang banyak.
2189Please respect copyright.PENANAoSjvlfYj4i
“Membersihkan waktu,” kata Jenderal sambil melepas ikatan Bambang.
2189Please respect copyright.PENANAbRFxFNSnmS
Bambang dipaksa berlutut di depan istrinya yang masih tergantung. “Jilat semuanya. Itu tugasmu mulai sekarang sebagai Pengawal Sperma.”
2189Please respect copyright.PENANA6hfx6xOpJe
Dengan tangan gemetar, Bambang menjilat sperma kental yang menetes dari memek Dewi. Rasa asin dan pahit memenuhi lidahnya. Dewi menatap suaminya dengan mata sayu, campuran kasihan dan superioritas baru yang mulai tumbuh.
2189Please respect copyright.PENANAcNeO2jTKb1
“Bagus,” puji Jenderal. “Besok modifikasi kedua. Bokong dan otot dalam. Bersiaplah, Nyonya Dewi. Kamu akan segera menjadi Pelacur Negara yang sempurna.”
2189Please respect copyright.PENANALdt7Fg6v5r
Saat mereka pulang sore itu, Dewi duduk di mobil dengan payudara J-cup yang berat dan masih menetes ASI di balik dress. Ia sesekali meremas payudaranya sendiri, merasakan sensasi baru yang membuatnya ketagihan.
2189Please respect copyright.PENANAh4g919vDFp
Bambang mengemudi dalam diam. Mentalnya semakin retak. Ia tahu, ini baru permulaan dari penghancuran mereka berdua.
2189Please respect copyright.PENANAhA6z4YB9Ab


