Bab 1: Jebakan di Balik Meja Rapat
2721Please respect copyright.PENANA8jYTYQI0Er
Malam itu gedung kementerian terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu kristal di ruang rapat VIP menyinari meja kayu mahoni panjang, menciptakan bayangan-bayangan tajam di wajah para pejabat yang duduk mengelilinginya. Ir. Bambang Suryo duduk di kursi utama dengan postur angkuh, jas hitamnya rapi tanpa satu kerut pun. Usianya 35 tahun, wajahnya tampan dengan rahang tegas dan rambut disisir ke belakang, memberi kesan berwibawa sebagai Direktur Pengadaan Barang di kementerian tersebut. Namun malam ini, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
2721Please respect copyright.PENANAbpbJtG2lz7
Di sampingnya duduk Dewi Lestari, istrinya yang berusia 28 tahun. Dewi tampak anggun dan elegan seperti biasa. Gaun malam berwarna merah marun membalut tubuhnya yang ramping namun berlekuk sempurna. Payudaranya yang sedang, pinggang ramping, dan pinggul yang indah membuatnya selalu menjadi pusat perhatian di setiap acara resmi. Wajahnya cantik dengan kulit putih mulus, bibir penuh yang selalu dicat merah, dan mata yang tajam penuh kepercayaan diri. Sebagai istri pejabat, ia terbiasa menjadi simbol kesuksesan suaminya.
2721Please respect copyright.PENANAJNXeiSJs0I
“Semua dokumen sudah saya siapkan, Jenderal,” kata Bambang dengan suara mantap, mencoba menyembunyikan kegelisahannya.
2721Please respect copyright.PENANAzLVWT8XwC9
Di ujung meja, Jenderal Haris Darmawan duduk dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Pria berusia 52 tahun itu berbadan besar, dada bidang, dan aura kekuasaan yang menekan ruangan. Seragam militernya penuh tanda pangkat, dan tatapannya seperti elang yang sedang mengamati mangsa.
2721Please respect copyright.PENANAxonQPtOTqe
“Bagus, Ir. Bambang,” jawab Jenderal dengan suara berat. “Tapi saya dengar ada sedikit… masalah dengan proyek pengadaan ini.”
2721Please respect copyright.PENANAW3IimP3TAt
Tangan Jenderal bergerak pelan di bawah meja. Tak seorang pun melihat, kecuali Dewi yang tiba-tiba menegang. Jari-jari kasar pria itu menyentuh paha dalam istrinya melalui belahan gaun yang tinggi. Dewi menggigit bibir bawahnya, berusaha tetap tenang. Sensasi hangat dan kasar dari telapak tangan Jenderal membuat kulitnya merinding.
2721Please respect copyright.PENANA7oVBAPlpr1
Bambang tidak menyadari apa yang terjadi. Ia masih sibuk menjelaskan angka-angka. “Kami sudah mematuhi semua prosedur, Jenderal. Tidak ada yang salah.”
2721Please respect copyright.PENANAJHp4sQ4nA8
Jenderal Haris tersenyum lebih lebar. Tangannya naik lebih tinggi, menyusuri kulit halus paha Dewi hingga hampir menyentuh bagian paling rahasia. Dewi merasakan panas mulai menyebar di perutnya. Napasnya sedikit tersengal, tapi ia menjaga ekspresi wajah tetap anggun.
2721Please respect copyright.PENANAmQOBFS3deo
“Benarkah tidak ada yang salah?” tanya Jenderal sambil menatap langsung ke mata Bambang. “Saya punya bukti transfer suap ke rekening offshore atas nama Anda. Lima miliar rupiah. Cukup untuk memenjarakan Anda beserta keluarga selama puluhan tahun.”
2721Please respect copyright.PENANAA6NXQTVJoW
Ruangan seketika hening. Wajah Bambang memucat. Tangan kanannya gemetar di atas meja. “Jenderal… ini pasti kesalahpahaman…”
2721Please respect copyright.PENANAJEnCRs9G08
Dewi menoleh ke suaminya, khawatir. Pada saat yang sama, jari Jenderal menyentuh tepi celana dalamnya, mengusap pelan di atas kain tipis. Sensasi itu membuat Dewi hampir mendesah. Ia merasakan getaran kecil di bagian bawah perutnya, sebuah respons tubuh yang tak ia duga.
2721Please respect copyright.PENANAqMaCccsHaj
Jenderal Haris menarik tangannya kembali dengan santai, lalu meletakkan sebuah tablet di atas meja. Layar menampilkan bukti-bukti transfer, email, dan rekaman suara Bambang yang sedang bernegosiasi suap.
2721Please respect copyright.PENANA3WM5lga2h3
“Pilihan Anda sederhana,” kata Jenderal dengan nada dingin tapi penuh kuasa. “Anda bisa masuk penjara besok pagi, atau… istri Anda menjadi bagian dari Program Khusus Negara. Sebuah program yang akan menjamin karier Anda tetap aman, bahkan lebih cerah.”
2721Please respect copyright.PENANAkqLuKvuGBl
Dewi mengerutkan kening. “Apa maksud Jenderal? Saya tidak mengerti.”
2721Please respect copyright.PENANAX0mKmSvfZ1
Haris menatap Dewi dengan pandangan lapar yang terang-terangan. “Anda akan menjadi aset negara, Nyonya Dewi. Tubuh Anda yang indah ini… akan melayani kepentingan yang lebih besar. Mulai dari modifikasi kecil, hingga menjadi sempurna.”
2721Please respect copyright.PENANAsJHC8AtQk6
Bambang bangkit setengah berdiri. “Jenderal, ini gila! Dewi istri saya!”
2721Please respect copyright.PENANAHAz1tWd2I7
“Dan Anda koruptor,” balas Haris tegas. “Kolonel Rizal, Mayor Toni, antar Ir. Bambang ke ruang observasi. Biarkan dia melihat apa yang akan terjadi jika dia menolak.”
2721Please respect copyright.PENANAx3245qPpjD
Dua perwira berbadan tegap masuk ke ruangan. Mereka menarik Bambang keluar dengan paksa tapi sopan. Sebelum pintu tertutup, Bambang sempat melihat Jenderal Haris berdiri di belakang kursi Dewi, tangan besarnya meremas bahu istrinya dengan lembut namun penuh kepemilikan.
2721Please respect copyright.PENANAitiJ7iGCQh
Ruang observasi gelap. Bambang duduk di kursi dengan tangan diikat longgar, di depannya kaca satu arah yang memperlihatkan ruang rapat. Ia bisa melihat dan mendengar segalanya, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
2721Please respect copyright.PENANAGo9yuTh6uk
Di dalam ruangan, Jenderal Haris menarik Dewi berdiri. “Lepaskan gaunmu, Nyonya Dewi. Biarkan suami Anda melihat betapa berharganya aset negara ini.”
2721Please respect copyright.PENANArodkLXflAf
Dewi gemetar. “Jenderal… tolong jangan…”
2721Please respect copyright.PENANA0Un7IBZcRG
“Tapi Anda sudah basah, kan?” bisik Haris di telinga Dewi sambil tangannya kembali menyusup ke bawah gaun. Jari tengahnya mengusap pelan memek Dewi yang memang mulai lembab. “Tubuh Anda jujur, meski mulut Anda menolak.”
2721Please respect copyright.PENANA84bDjOknnp
Dewi menggigit bibirnya kuat-kuat. Sensasi jari kasar yang mengusap lembut lipatan memeknya membuat kakinya lemas. Bau parfum mahal Jenderal bercampur dengan aroma maskulin pria dewasa membuat kepalanya pusing.
2721Please respect copyright.PENANAYj5hozpGnl
Dengan tangan gemetar, Dewi menurunkan resleting gaunnya. Kain merah marun meluncur ke lantai, memperlihatkan bra hitam dan celana dalam yang serasi. Payudaranya yang indah naik turun mengikuti napas cepatnya.
2721Please respect copyright.PENANAn1wggAXoX4
Jenderal Haris tersenyum puas. Ia membuka kancing seragamnya, memperlihatkan dada bidang berbulu. “Bagus. Sekarang berlutut di depan meja. Biarkan suami Anda melihat bagaimana istri pejabat korup melayani orang yang lebih berkuasa.”
2721Please respect copyright.PENANAZO86F15jeN
Dewi menurut dengan ragu. Lututnya menyentuh karpet lembut saat ia berlutut. Jenderal membuka celana panjangnya, mengeluarkan kontolnya yang sudah setengah tegang. Besar, berurat, dan berbau kuat maskulin.
2721Please respect copyright.PENANAMbrAYoZCor
“Hisap pelan dulu,” perintah Haris. “Perlahan. Buat suami Anda iri.”
2721Please respect copyright.PENANALQb5cBP1BL
Dewi membuka bibirnya. Panas dan berat kontol Jenderal memasuki mulutnya. Rasa asin dan maskulin memenuhi lidahnya. Ia mulai menggerakkan kepala pelan, lidahnya menjilat ujungnya yang sudah mengeluarkan sedikit cairan awal. Suara kecupan basah terdengar jelas di ruang rapat yang sunyi.
2721Please respect copyright.PENANA7YCDuRzmtI
Di ruang observasi, Bambang menatap dengan mata terbelalak. kontol kecilnya sendiri mencoba mengeras di dalam celana, tapi rasa malu dan amarah bercampur menjadi satu.
2721Please respect copyright.PENANAZ20tpUhQFF
Jenderal Haris mendesah nikmat. Tangan besarnya memegang kepala Dewi, mendorong lebih dalam. “Bagus… Lidahmu terlatih, Nyonya Dewi. Bayangkan ini baru permulaan. Besok kita mulai modifikasi pertama di klinik. Payudara Anda akan menjadi J-cup, selalu penuh ASI yang manis. Bokong Anda akan dibuat sangat besar dan kenyal agar mudah digenggam saat Anda dilayani banyak orang.”
2721Please respect copyright.PENANANllnN9zazw
Dewi mengerang pelan di sekitar kontol Jenderal. Kata-kata itu seharusnya membuatnya marah, tapi anehnya justru membuat memeknya semakin basah. Getaran aneh muncul di perutnya.
2721Please respect copyright.PENANA8jzT3rM5W5
Haris menarik kontolnya keluar, meninggalkan benang liur di bibir Dewi. Ia mengangkat Dewi ke atas meja, membuka kakinya lebar. Celana dalam tipis ditarik ke samping. memek Dewi yang halus dan pink terpapar, sudah mengkilap oleh cairan orgasme tipis.
2721Please respect copyright.PENANAAfcC2Hl1cJ
“Lihat ini, Ir. Bambang,” kata Jenderal sambil menatap ke kaca satu arah. “Istri Anda sangat responsif.”
2721Please respect copyright.PENANAiBWikU5DRA
Dua jari Jenderal masuk perlahan ke dalam memek Dewi yang panas dan sempit. Dewi mendesah keras, punggungnya melengkung. Sensasi penuh dan meregang membuat kakinya gemetar sedikit.
2721Please respect copyright.PENANA3Bcnmvr9Th
“Basah sekali,” gumam Haris sambil menggerakkan jarinya keluar masuk dengan irama lambat tapi dalam. “Kamu menikmatinya, ya? Meski suami kamu sedang menonton.”
2721Please respect copyright.PENANAXFpyQnLpf9
Dewi menggeleng lemah, tapi pinggulnya tanpa sadar bergerak mengikuti jari Jenderal. Suara basah “slup… slup…” memenuhi ruangan. Bau aroma intim Dewi mulai menyebar.
2721Please respect copyright.PENANAwIE6ETx5D9
Jenderal menambahkan jari ketiga. Meregangkan memek Dewi lebih lebar. Dewi menjerit kecil, air matanya mulai menggenang karena campuran sakit dan kenikmatan. putingnya mengeras di balik bra.
2721Please respect copyright.PENANAyItBfyzYLi
“Besok pagi pukul delapan, kalian berdua datang ke Klinik Khusus di basement markas. Dr. Vania sudah menunggu untuk modifikasi pertama,” kata Jenderal sambil terus memompa jarinya lebih cepat. “Jika tidak datang, besok siang Bambang sudah di tahanan.”
2721Please respect copyright.PENANAtJW4NgtXd1
Dewi mencapai klimaks pertama yang kecil. Tubuhnya bergetar hebat, cairan orgasme beningnya menyembur sedikit membasahi tangan Jenderal. Ia menangis pelan, campuran malu dan kenikmatan yang tak terduga.
2721Please respect copyright.PENANAfN5UI5dEW1
Jenderal menarik jarinya, lalu mengusapkannya ke bibir Dewi. “Rasa sendiri betapa manisnya kamu.”
2721Please respect copyright.PENANA61uCkBWoRh
Dewi menjilat jarinya dengan patuh, matanya sayu.
2721Please respect copyright.PENANAwHB3N0mtri
“Pulanglah sekarang,” kata Jenderal sambil menutup celananya. “Besok adalah hari pertama dari kehidupan baru kalian sebagai Pelacur Negara dan Pengawal Sperma.”
2721Please respect copyright.PENANAH0p30d7ZVL
Di ruang observasi, Bambang menunduk dalam diam. Mentalnya mulai retak.
2721Please respect copyright.PENANAXV5zLjtAEX
Malam itu, di mobil dinas menuju rumah, tak ada yang bicara. Dewi duduk dengan gaun yang agak acak-acakan, masih merasakan sisa basah di antara pahanya. Bambang menggenggam kemudi erat, wajahnya pucat.
2721Please respect copyright.PENANAkX8DTcRoKM
Saat tiba di rumah dinas mewah mereka, Dewi berjalan ke kamar mandi. Bambang mengikuti. Di depan cermin, Dewi melihat bekas jari Jenderal di pahanya yang masih merah.
2721Please respect copyright.PENANAkXNe63jhXV
“Mas… apa yang harus kita lakukan?” tanya Dewi dengan suara bergetar.
2721Please respect copyright.PENANAR8qv92HG0e
Bambang tak menjawab. Ia hanya memeluk istrinya dari belakang, tapi kontol kecilnya tak mampu mengeras sepenuhnya. Rasa tak berdaya mulai merayap di hatinya.
2721Please respect copyright.PENANAIF7BUhcRgw
Sementara itu, di markas, Jenderal Haris menelepon Dr. Vania.
2721Please respect copyright.PENANAYez2NUUW4E
“Persiapkan paket lengkap untuk Dewi Lestari. Mulai besok, ubah istri pejabat sombong itu menjadi Pelacur Negara sempurna.”
2721Please respect copyright.PENANAyvNKCJlcGU
Malam semakin larut. Jebakan sudah terpasang sempurna. Dan besok, modifikasi pertama akan dimulai.
2721Please respect copyright.PENANAa4DaVJs9u5
2721Please respect copyright.PENANAX5Z06d0nxr
2721Please respect copyright.PENANAd0lqvuYw1n


