1350Please respect copyright.PENANAGMm9D1uiUn
Rumah kecil itu terlihat sangat memperhatinkan. Gundukan kardus bekas dan dinding kayu menambah kesan kumuh dari sekian banyaknya rumah yang berdempetan. Bau menyengat dari limbah pembuangan ikut serta melengkapi kengerian pemukiman di pinggiran kota metro politan. Beberapa diantara para penduduk terlihat mengais sampah bersama dengan kucing jalanan yang sudah tak berbulu, kurus dan penuh dengan bekas luka cakaran. Suir-suir suara kereta di petang malam seakan menjadi alunan musik sebelum tidur.
1350Please respect copyright.PENANA0lQXybuLFr
Namun diantara kotornya lingkungan hidup itu, hiduplah seorang wanita muda yang memiliki paras nan ayu. Ia terlihat kontraks dengan kekumuhan. Wajahnya menampakkan aura kecantikan, meski penampilannya terlihat kusam. Beberapa kali ia terlihat bercengkrama bersama dengan ibu rumah tangga lainnya, sekadar bergosip atau mengeluhkan perekonomian keluarga masing-masing.
1350Please respect copyright.PENANAHKNSewQWyR
Desy, namanya. Ia masih berumur 20an tahun, lebih tepatnya 21 tahun. Dirinya putus sekolah semenjak lulus dari SMP, dan menikah muda di usia 18 tahun. Meski usia perkawinannya telah masuk tahun ke Tiga, namun ia baru memiliki satu buah hati. Pekerjaan sang suami hanyalah buruh pabrik yang sibuk mengangkat pupuk dan beras. Meski tergolong memiliki keluarga yang kurang mampu, namun Desy tetap berusaha mensyukuri apa yang telah diberikan tuhan kepadanya, ditambah titipan karunia berupa buah hati yang masih kecil.
1350Please respect copyright.PENANApO8U80htWa
Ia sendiri sebelumnya disibukkan oleh pekerjaan di salon tempat kenalannya bekerja sebelum Jafar, anak pertamanya lahir. Dan kini ia lebih banyak menghabiskan waktu dirumah gubuk itu, mengurus Jafar dan menerima orderan cucian agar bisa sedikit membantu perekonomian keluarganya, meski hal tersebut seperti sia-sia belaka dan hanya menambah keletihan setelah seharian bekerja. Terkadang ia meratapi nasibnya sebagai wanita yang ditakdirkan menderita, namun bila melihat Jafar, gundah dihatinya seakan sirna. Ia berusaha menyeka air matanya, memeluk buah hati dalam dekapan.
1350Please respect copyright.PENANArJcCGgo7bo
Dan bila sang suami telah kembali dari pekerjaan beratnya, ia semampu menampakkan wajah serinya, seolah tak ingin memperlihatkan kesedihan dan gundah hati kepada sang pujaan hati. Desy dan Gery sendiri merupakan pasangan yang sangat romantis saat sekolah dulu. Mereka bahkan berjanji akan sehidup semati, janji picisan layaknya anak sekolah pada umumnya, namun seiring berjalannya waktu, disaat ekonomi menyempit dan kebutuhan pokok kian melilit, perasaan itu seakan mulai sirna. Gery tak jarang melampiaskan kemarahannya kepada sang isteri, memakinya, bahkan memukulnya.
1350Please respect copyright.PENANABl9Jewh6Qp
Mendapat perlakuan kasar tersebut, Desy hanya menangis terseduh hingga lelah dan akhirnya tertidur. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain merawat buah hatinya yang masih balita. Hingga ketika ia mendapat kesempatan dimana ia bertemu dengan teman lamanya di sebuah salon dimana dulunya ia bekerja. Pada saat Desy memiliki waktu luang, ia datang ke salon temannya itu. Sementara anaknya kini diasuh oleh ayahnya yang kebetulan sedang libur bekerja.
1350Please respect copyright.PENANAQ8Qd3Vr9Kh
Ditengah pertemuan itu, Desy awalnya terlihat sedikit malu. Wajahnya tak jarang menunduk, seperti menyembunyikan dirinya dari teman lamanya itu. Namun wanita elegan itu seperti tak ingin terlihat angkuh, ia menghampiri Desy dan mulai percakapan terlebih dahulu; menanyakan kabar, kesibukan dan beberapa kali mengenang persahabatan mereka.
1350Please respect copyright.PENANASDOTONqFJ2
"Kamu masih terlihat cantik, sekarang sudah berapa anak, Des?"
1350Please respect copyright.PENANAIO41JzhZzY
"Hanya satu" jawab Desy, singkat "Kamu sendiri, Salsa?"
1350Please respect copyright.PENANAsFbm67nNtl
"Aku belum menikah"
1350Please respect copyright.PENANAHAgnvbuxDZ
"Kamu bekerja?" Desy seperti balik menguliti teman lamanya itu.
1350Please respect copyright.PENANAxVVTP9s3YG
"Tidak"
1350Please respect copyright.PENANAzCdYFj9TS2
"Lantas kenapa kamu bisa semewah ini"
1350Please respect copyright.PENANAxgkku7pA9B
"Bisnis..." Salsa seperti menyembunyikan sesuatu dari raut wajahnya yang mencurigakan. "Tapi jika kamu ingin bekerja, aku banyak kenalan yang bisa mempekerjakan wanita cantik sepertimu"
1350Please respect copyright.PENANARq946MQpd9
"Benarkah?!"
1350Please respect copyright.PENANAzLPgKegWbQ
"Iya! Jika kamu tertarik hubungi saja aku" Salsa memberikan selembar kartu nama yang tertulis nama dan nomor ponselnya.
1350Please respect copyright.PENANACRlsdpwcMT
Keduanya pun berpisah, mereka saling berpelukan dan berjanji akan bertemu lagi. Dibalik kaca mobilnya, Salsa masih memberikan kode bahwa dirinya menunggu panggilan telepon dari temannya itu.
1350Please respect copyright.PENANAltPBttmE8q
Sekembalinya dari salon, Gery telah menunggu dirinya diteras rumah. Dengan wajah tertekuk tajam, ia bertanya dengan nada lantang "Kenapa lama sekali kau keluar!"
1350Please respect copyright.PENANAk9izQrUgCT
"Aku bertemu teman lama" jawab Desy gemetar, tubuhnya meringkuk seakan siap menerima pukulan dari suaminya yang posesif itu.
1350Please respect copyright.PENANA9NkBkrEJ71
"Bertemu teman lama!? sementara saya kelaparan dan mengurus anakmu ini! Aku bukan pembantumu, dasar lont3k kampung!" Gery murka dan mulai menendang bok0ng isterinya. Mendapat perlakuan kasar dari suaminya, Desy hanya berlalu menuju kamar menemui putra kecilnya. Sementara itu Gery masih saja mencerca, mengumpat dan sesekali menghantam dinding triplek kamar itu yang membuat Desy seketika menutup telinga kecil Jafar.
1350Please respect copyright.PENANAFW21fz5BuV
Ditengah malam, disaat suami dan anaknya terlelap, ia duduk diteras rumah sembari menatap indah rembulan yang bercahaya terang. Seakan mengingat kembali masa sekolahnya bersama Gery yang dulunya sangat romantis. Kini lelaki itu bak jahanam fir'aun yang tak segan untuk memukulinya. Ia tak tahu apa yang salah dengan dirinya, mengapa ia tak berani meninggalkan lelaki yang hanya bermodal kelamin itu, ia pikir dirinya telah diguna-guna atau bahkan dipelet agar keberanian untuk pergi dari gubuk itu seakan pupus.
1350Please respect copyright.PENANAGhddLbFDEi
Ribuan hayalan melayang-layang dalam benak Desy, terlihat dirinya juga sesekali berceloteh seorang diri, melampiaskan kekesalan yang selama ini ia pendam, sampai akhirnya ia teringat akan kartu nama dari temannya yang diberikan kepadanya di sore itu. Ia merogoh saku celananya, berharap kartu itu masih terselip dalam kantongnya.
1350Please respect copyright.PENANAAXYm1faMOz
Setelah menemukannya, ia meraih ponselnya dan mengetik nomor itu satu persatu. Perlahan ia ingin menekan tombol panggilan, namun keraguan seakan menghentikannya. Ia berpikir bahwa hal ini mungkin saja berakibat buruk baginya atau bahkan mungkin saja hal ini bisa jadi titik balik dalam hidupnya. Seakan terdorong akan rasa penasaran, iapun menekan tombol panggilan.
1350Please respect copyright.PENANAS0ELCMAGt1
Beberapa saat dering ponsel membuatnya menunggu, hingga suara wanita dari ponsel tersebut memecah keheningan.
1350Please respect copyright.PENANAX26O7wYHXR
"Halo.. siapa?"
1350Please respect copyright.PENANAdRYRKjsMty
"Aku Desy. Ini nomornya Salsa?" Desy memastikan bahwa dirinya menelpon teman lamanya itu.
1350Please respect copyright.PENANA6AJCmglref
"Iya. Desy! Aku menunggu panggilanmu sedari tadi." Suara dibalik ponsel tersebut terdengar girang. "Apakah kamu akan datang kesini?" tanya Salsa seperti tak sabar bertemu dengan temannya.
1350Please respect copyright.PENANAUxTr4qc9zq
"Dimana?" Desy seperti penasaran.
1350Please respect copyright.PENANAj286iWfJCt
"Aku akan mengirim alamatnya melalui pesan teks"
1350Please respect copyright.PENANAxRqwXn9rOW
"Oke"
1350Please respect copyright.PENANASBaqQXbUs8
Mereka pun akhirnya kembali bercengkrama sejenak. dibalik suara Salsa terdengar riuh-piuh musik yang teramat kencang. Sesekali dirinya harus berteriak sekencang mungkin agar suaranya dapat terdengar. Tak lama percakapan diantara keduanya, hingga merekapun akhirnya memutuskan untuk bertemu kembali di salah satu tempat yang telah ditentukan oleh Salsa.
1350Please respect copyright.PENANA8hB13a6gIi
Malam semakin larut, beberapa kali Desy memperhatikan gerak tubuh suaminya, memastikan lelaki itu sudah terlelap pulas. Ia juga membelai anaknya, yang terlihat lucu dengan tidur meringkuk.
1350Please respect copyright.PENANAq6OaHNRmt2
Setelah dirasa semuanya aman, ia kini bersiap menuju alamat yang telah dikirimkan Salsa melalui pesan teks. Desy tak lupa bersolek sejenak, hanya bedak tipis dan gincu yang tak terlalu menohok. Tak ada yang berlebihan, mengingat aura kecantikannya sudah terpancar tanpa sentuhan make up yang berlebihan.
1350Please respect copyright.PENANAJ3WIPepE6I
Dirinya menelusuri jalan setapak itu. Terlihat remang dengan pencahayaan yang minim. Sesampainya dijalan utama, suasana kembali ramai, ia beberapa kali melambaikan tangan ke para pengemudi ojek dan akhirnya mendapat tumpangan setelah beberapa menit menunggu.
1350Please respect copyright.PENANAmWLw4TqfhP
Dalam keramaian malam itu, serta dingin yang menusuk, mata Desy tak hentinya menelusuri lempu gemerlap para pedagang. Seperti tersihir, ia seketika berniat untuk membelikan sesuatu kepada keluarganya dirumah selepas kembali dari peetemuannya nanti.
1350Please respect copyright.PENANA7UC5PjkxZl
Setelah beberapa menit, motor ojek yang ia tumpangi akhirnya berhenti disalah satu bar di pusat kota. Ia memastikan bahwa alamat yang ia berikan kepada si pengojek itu benar adanya. Setelah membayar beberapa lembar uang kertas yang lusuh, Desy pun melangkah masuk ke bar itu dengan ragu. Beberapa kali ia mencoba menelpon temannya itu namun tak ada jawaban darinya.
1350Please respect copyright.PENANAaY5AueynmM
Ia masih di ambang pintu, tak terbiasa akan musik yang teramat kencang memenuhi pendengarannya. Merasa pertemuan ini tidak akan berjalan lancar, Desy pun akhirnya mengundurkan niatnya lantas melangkah pergi meninggalkan bar itu.
1350Please respect copyright.PENANAQ22zrC1FQk
Tak jauh dari sana, tiba-tiba teriakan memanggil namanya terdengar dari belakang, "Desy !!!"
1350Please respect copyright.PENANA6jZR7M9BN9
Desy menoleh, seperti mematung. Matanya mencari cari sumber suara tersebut dari ramainya para pengunjung.
1350Please respect copyright.PENANA9UHkwpdcDt
"Aku disini!" Salsa melambai yang akhirnya dapat terlihat oleh Desy.
1350Please respect copyright.PENANALI7Ln05kD1
Ia akhirnya menghampiri temannya. Niat kepulangannya akhirnya pupus dan kini tujuannya untuk bertemu kembali dengan teman lamanya itu akhirnya tercapai.
1350Please respect copyright.PENANAD2960TD4qN
"Aku menunggumu dari tadi"
1350Please respect copyright.PENANA0sPm4XnJM8
"Aku diluar menunggumu juga" balas Desy terkekeh. "Kamu terlihat semakin cantik" puji Desy setelah melihat temannya yang mengenakan dres silver mengkilap, dipadu dengan bawahan nan seksi serta sepatu high hils yang sepadan dengan warna dress yang ia kenakan. Sementara Desy sendiri hanya mengenakan Kaos putih polos dan jaket yang sepadu dengan warna dalamannya. Terlihat kontraks memang, melihat para pengunjung yang ada disana dengan model pakaian berkelasnya.
1350Please respect copyright.PENANAM8hfHMa6yo
Mereka berdua akhirnya mengobrol sejenak, Salsa memperkenalkan beberapa temannya yang terlihat tak kalah modis. Beberapa diantaranya menatap Desy dengan lirikkan angkuh, seakan mereka jijik dan tak pantas untuk diperkenalkan oleh gadis berpenampilan kampung. Meski begitu, Salsa tak menghiraukan penampilan temannya itu, ia masih kekeh dengan kepercayaannya bahwa Desy adalah wanita cantik yang tak boleh ia sia-siakan.
1350Please respect copyright.PENANAYasyQiW6V6
"Aku mebuat jadwal pertemuan dengan salah satu petinggi di bar ini. Nanti dia akan datang menghampirimu. Jangan gugup dan bersikap tenanglah" bisik Salsa sembari merangkul Desy.
1350Please respect copyright.PENANAc4cumCzPVS
Beberapa menit kemudian, ditengah obrolan mereka, tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri.
1350Please respect copyright.PENANAxAGYKtQgqV
Dengan setelan kemeja dan celana denimnya, dengan percaya diri mendekati para wanita yang sedang bersantai di sofa empuk itu.
1350Please respect copyright.PENANAlXaOMLUHEW
Salsa menyambutnya, bersalaman dan memperkenalkan Desy sebagai teman lamanya. "Namanya Desy, dia barang baru dan sangat cantik" bisik wanita itu seperti tak menghiraukan Desy yang ada disampingnya. Meski suara mereka terdengar samar, namun Desy tentu saja agak risih akan obrolan keduanya.
1350Please respect copyright.PENANADL1qgqMe3R
"Desy. Perkenalkan, namaku Bimo. Panggil aja om Bim." Lelaki tersebut mengulurkan tangan dan seketika dijabat oleh Desy.
1350Please respect copyright.PENANARyF1cbxzSm
"Katanya kamu butuh job, ya?"
1350Please respect copyright.PENANAyBdkM9rg9j
"Iya om..."
1350Please respect copyright.PENANAtgTvbDHRSC
"Baiklah, kebetulan kami butuh seseorang. Apakah besok kita bisa bertemu di tempat ini?" Desy lantas mengangguk setuju. Lelaki tersebut kemudian tersenyum dan meninggalkan mereka.
1350Please respect copyright.PENANAEA2b624ACE
Desy yang masih bertanya-tanya tentang pekerjaan yang akan diberikan lantas kembali pulang dengan perasaan bimbang. Apakah dirinya telah melakukan hal yang benar? Apakah pekerjaan itu nantinya cocok dan bisa merubah takdir hidupnya?
1350Please respect copyright.PENANAeWglikGUw0
Seribu tanya melintas dalam benaknya. Dan dia berharap suatu saat ada titik balik dari semua yang akan terjadi.
1350Please respect copyright.PENANAKkXBZA2NBv
BERSAMBUNG...
Baca cerita lengkapnya: https://lynk.id/shark95
1350Please respect copyright.PENANANGqQUeEl0i
1350Please respect copyright.PENANAcEbiT3W4TI


