Bab 1: Hutang yang Tak Terbayar
1837Please respect copyright.PENANAxNyY6z3ATH
Malam itu hujan deras membasahi Jakarta, seolah langit ikut menangisi nasib mereka. Di dalam apartemen kecil di pinggiran kota, Sinta Dewi duduk di tepi ranjang sambil memeluk lututnya. Usianya 25 tahun, cantik alami dengan kulit sawo matang yang halus, rambut hitam panjang bergelombang, dan tubuh ramping yang selalu membuat Bima jatuh cinta sejak pertama bertemu. Matanya yang bulat masih memancarkan kelembutan, meski kini bayang kecemasan mendalam menghantuinya.
1837Please respect copyright.PENANAFl0a4ULEd8
Bima Saputra, suaminya yang berusia 27 tahun, berjalan mondar-mandir di ruang tamu sempit. Tubuhnya biasa saja, tinggi sedang, dengan wajah yang lembut dan sikap yang selalu penuh kasih sayang terhadap Sinta. Namun malam ini, tangannya gemetar hebat. Di meja, tumpukan tagihan dan surat ancaman dari rentenir judi berserakan.
1837Please respect copyright.PENANAQR1H8XYtx0
"Sinta... aku minta maaf," bisik Bima untuk kesekian kalinya. Suaranya parau. "Aku nggak nyangka permainan itu akan sebesar ini. Hutang kita sudah mencapai hampir dua miliar. Mereka bilang besok kalau nggak dibayar, mereka akan ambil apartemen ini... dan... mereka ancam akan ambil kamu."
1837Please respect copyright.PENANA5GUq09Ggxv
Sinta mengangkat wajahnya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia berusaha tegar. "Kita harus cari jalan lain, Mas. Aku nggak mau pisah dari kamu. Kita sudah menikah tiga tahun, harusnya kita bahagia, bukan begini."
1837Please respect copyright.PENANAwxJVMruSM7
Mereka berdua terdiam. Kenangan manis tiga tahun pernikahan melintas: malam-malam intim yang penuh cinta meski Bima tidak begitu berukuran besar di bawah sana. Sinta selalu setia, selalu lembut, selalu memuaskan suaminya dengan sepenuh hati. Tapi sekarang, ancaman itu seperti pisau yang siap mengiris hidup mereka.
1837Please respect copyright.PENANA7Vplw0UwFU
Ponsel Bima bergetar. Nomor tak dikenal. Dengan tangan gemetar ia angkat.
1837Please respect copyright.PENANAafRImJy6PL
"Mr. Bima Saputra?" Suara di seberang dingin, berwibawa, dan penuh kuasa. "Saya Darius. Saya tahu masalah Anda. Besok pukul 8 malam, datang ke penthouse saya di Sudirman. Bawa istri Anda. Ada tawaran yang mungkin bisa menyelesaikan semuanya. Jangan terlambat."
1837Please respect copyright.PENANASTsWX7p8US
Telepon ditutup. Bima dan Sinta saling pandang. Tak ada pilihan lain.
1837Please respect copyright.PENANAfJAYjUgsJH
Keesokan malamnya, mereka tiba di penthouse mewah di puncak gedung pencakar langit. Lift pribadi membawa mereka naik dengan suara halus. Pintu terbuka, memperlihatkan ruangan luas dengan pencahayaan redup, lantai marmer hitam, dan pemandangan kota yang berkilauan di balik kaca besar.
1837Please respect copyright.PENANA1JqQzQibUP
Mr. Darius berdiri di tengah ruangan. Tinggi 180 cm, tubuh berisi berotot, usia 46 tahun, dengan aura kejam yang langsung terasa. Rambutnya dipotong rapi, mata tajam seperti elang, dan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. Ia mengenakan kemeja hitam yang ketat, memperlihatkan dada bidangnya.
1837Please respect copyright.PENANAKEj67yFy19
"Silakan duduk," katanya sambil menunjuk sofa kulit mahal. Matanya langsung tertuju pada Sinta, menelusuri setiap lekuk tubuh wanita itu dengan lapar yang tak disembunyikan. "Anda lebih cantik dari foto yang saya lihat, Sinta Dewi."
1837Please respect copyright.PENANAq1dXUvDGds
Sinta merasa bulu kuduknya berdiri. Ada sesuatu dalam tatapan Darius yang membuat tubuhnya panas dingin. Bima merasakan hal yang sama, tapi ia hanya bisa menunduk, tangannya terkepal di pangkuan.
1837Please respect copyright.PENANAvZDaRgKyZw
Darius menuang whisky ke tiga gelas. "Langsung saja. Hutang Anda dua miliar lebih. Rentenir sudah siap ambil tindakan kasar. Tapi saya bisa lunasi semuanya... dengan syarat."
1837Please respect copyright.PENANAilN40yulvo
"Apa syaratnya, Pak?" tanya Bima lirih.
1837Please respect copyright.PENANA1pLJnHRQEg
Darius tersenyum lebar. Ia mengeluarkan tablet dan memutar sebuah video. Di layar, terlihat seorang wanita cantik yang tubuhnya dimodifikasi ekstrem: payudara sangat besar dan kencang, bibir tebal menggoda, pinggul lebar, dan ekspresi wajah yang penuh kenikmatan kosong. Wanita itu sedang melayani beberapa pria sekaligus dengan tubuh yang bergetar hebat.
1837Please respect copyright.PENANAunZQHAJ1v1
"Ini program 'Boneka Seks Hidup' saya. Klinik bawah tanah saya punya teknologi modifikasi ilegal paling canggih. Sinta akan menjalani serangkaian operasi. Payudara, bibir, area intim... semuanya akan diubah menjadi sempurna. Sensor kenikmatan, hormon nafsu, implant agar bisa menampung banyak sekaligus. Setelah selesai, Sinta akan menjadi koleksi saya yang paling berharga. Ia akan melayani klien-klien elit. Dan hutang kalian lunas."
1837Please respect copyright.PENANAnxGsiIABPt
Sinta merasa dunia berputar. "Tidak... saya istri setia. Saya tidak mau—"
1837Please respect copyright.PENANARMaY2wjDBp
"Tidak ada pilihan," potong Darius dingin. "Kalau tolak, besok pagi kalian berdua akan dijemput rentenir. Saya jamin, mereka tidak selembut saya."
1837Please respect copyright.PENANAPhgNBYHASt
Bima menatap istrinya dengan air mata. Ia meraih tangan Sinta, tapi tangannya dingin. "Sayang... aku... aku nggak tahu harus gimana."
1837Please respect copyright.PENANAovpvxtI8Z5
Darius berdiri dan mendekati Sinta. Ia mengulurkan tangan, menyentuh dagu Sinta dengan lembut tapi penuh kuasa, mengangkat wajahnya. "Lihat saya, Sinta. Tubuhmu ini terlalu indah untuk disia-siakan. Bayangkan payudaramu yang sekarang indah menjadi I-cup yang berat, penuh, sensitif sekali. Setiap sentuhan akan membuatmu basah. Bibirmu yang tipis akan menjadi tebal, sempurna untuk melumat kontol pria. Area memekmu akan expandable, bisa meregang nikmat untuk double atau triple sekaligus."
1837Please respect copyright.PENANA99tyvSWl3r
Sinta merinding. Sentuhan Darius di dagunya terasa seperti listrik. Bau parfum mahal pria itu menyeruak, campur aroma whisky. Jantungnya berdegup kencang. Ada rasa takut, tapi juga getaran aneh di perut bawahnya yang tak ia mengerti.
1837Please respect copyright.PENANAVuY7TLNeDI
Bima melihat semuanya. Wajahnya memerah, campur malu dan sesuatu yang lebih gelap. Kontol kecilnya bergerak pelan di dalam celana, meski ia benci diri sendiri karenanya.
1837Please respect copyright.PENANAPHcT2zOkSf
Darius tersenyum melihat reaksi mereka. "Mulai malam ini juga, Bima akan belajar posisinya." Ia mengeluarkan sebuah alat logam mengkilap dari laci — chastity belt kecil. "Pasang ini di kontol kecilmu, Bima. Mulai sekarang, kamu tidak boleh ereksi atau klimaks tanpa izin saya. Kamu hanya boleh menonton dan membersihkan."
1837Please respect copyright.PENANAWFJ6CqLbYr
Bima gemetar. "Pak... tolong jangan..."
1837Please respect copyright.PENANAHFHBYN7qbB
"Tidak ada nego." Darius mendekat, suaranya rendah mengancam. "Pasang sendiri, atau saya suruh anak buah saya yang pasang sambil Sinta menonton."
1837Please respect copyright.PENANAf8fnhtvpGM
Dengan tangan gemetar, Bima menurunkan celananya di depan istrinya dan Darius. kontol kecilnya yang sudah setengah tegang terpapar. Darius tertawa pelan melihat ukurannya. Bima memasang chastity belt itu dengan susah payah. Dingin logam menyentuh kulitnya, mengunci erat. Kunci kecilnya dipegang Darius.
1837Please respect copyright.PENANAfFOiQy4zBd
Sinta menatap suaminya dengan campuran kasihan dan rasa aneh yang mulai tumbuh. Payudaranya yang masih alami naik turun cepat karena napasnya yang memburu.
1837Please respect copyright.PENANAliqMZx4bZv
Darius mendekati Sinta lagi. Kali ini tangannya turun ke paha wanita itu, menyusup pelan di balik rok. Jari-jarinya menyentuh kulit halus di bagian dalam paha, sangat dekat dengan area intim. "Kulitmu lembut sekali, Sinta. Bayangkan nanti, setelah modifikasi, setiap inci tubuhmu akan jadi sumber kenikmatan. kristoriskecilmu akan punya sensor, satu sentuhan saja bisa bikin kamu orgasme berulang."
1837Please respect copyright.PENANAaLzAr7ANFQ
Sinta menggigit bibir. Sensasi panas menyebar dari sentuhan itu. Ia merasakan cairan hangat mulai membasahi celana dalamnya. Bau tubuh Darius yang maskulin membuat kepalanya pusing. "Pak Darius... ini salah..."
1837Please respect copyright.PENANAWX0BhUsTp4
"Ini baru permulaan," bisik Darius di telinga Sinta. Napas hangatnya menyapu daun telinga. "Besok kamu masuk klinik. Dr. Nadia sudah siap. Tahap pertama: payudara dan bibir. Setelah itu, kita uji seberapa tahan tubuh baru kamu."
1837Please respect copyright.PENANAziABCmZDAC
Bima duduk di sofa, chastity belt mengunci kontolnya yang kini berdenyut menyakitkan. Ia hanya bisa menonton Darius menyentuh istrinya. Ada air mata di matanya, tapi juga ereksi yang tertekan sakit di dalam sangkar logam. Rasa hina bercampur ketagihan aneh mulai merayap di hatinya.
1837Please respect copyright.PENANAk5ap2i6ZIL
Darius menarik tangannya, meninggalkan jejak panas di paha Sinta. "Pulanglah. Besok sopir saya jemput jam 7 pagi. Jangan coba kabur. Saya punya segalanya tentang kalian."
1837Please respect copyright.PENANAc3jIkRARIk
Mereka pulang dalam diam. Di dalam taksi, Sinta memegang tangan Bima erat. "Mas... aku takut. Tapi aku lakukan ini demi kita."
1837Please respect copyright.PENANAutlyrwbU3A
Bima mengangguk, suaranya pecah. "Aku sayang kamu, Sinta. Maafkan aku."
1837Please respect copyright.PENANAFb6OfyQilr
Malam itu di kamar tidur mereka, untuk terakhir kalinya sebagai pasangan normal, mereka berpelukan. Tapi pikiran Sinta sudah melayang pada sentuhan Darius tadi. Tubuhnya panas, area memeknya basah dan berdenyut pelan. Bima mencoba menyentuhnya, tapi chastity belt membuatnya tak bisa ereksi penuh. Hanya ciuman putus asa dan air mata yang menemani mereka hingga pagi.
1837Please respect copyright.PENANAF8KnbFY616
Sementara itu, di penthouse, Darius tersenyum sendiri sambil memutar video rekaman pertemuan tadi. "Kalian berdua akan jadi koleksi terbaikku," gumamnya. "Sinta akan jadi boneka seks sempurna. Dan Bima... akan jadi pembersih paling patuh."
1837Please respect copyright.PENANA3tJbIKcjDp
Hujan masih turun deras di luar. Hutang memang sudah tak terbayar. Tapi bayaran yang baru saja dimulai jauh lebih mahal — jiwa, tubuh, dan harga diri mereka.
1837Please respect copyright.PENANAChbvbTDXqq


