Ayunda mencengkram punggung pria tersebut erat. Ia seperti tak ingin melepaskannya ketika menerima sod0kan yang begitu keras dan cepat.
604Please respect copyright.PENANAdILaLuevlu
Suara erangannya memenuhi ruang kamar tersebut dan sesekali merancau sembari mengumpat. Ia menikmati permainan yang diberikan sang pria tanpa menyadari bahwa kelakuannya telah diketahui oleh anaknya sendiri.
604Please respect copyright.PENANAZbRH7WqBeM
Sementara itu, Dinda masih berlari menjauh dari rumah itu. ia seperti tak memiliki tujuan selain tak ingin percaya bahwa ibunya tega menghianati ayahnya bahkan keluarganya. Dinda tak tahu dengan siapa ibunya bercinta, namun yang pasti dia yakin bahwa lelaki tersebut bukanlah ayahnya.
604Please respect copyright.PENANAvKZgxoOd9z
Larinya kemudian terhenti setelah menemukan gedung terbengkalai di sisi kota yang tak berpenghuni. Tempat itu terlihat sunyi yang hanya dikelilingi ilalang liar, menambah kesan mistis disekitarnya.
604Please respect copyright.PENANA7c0UnFZZs0
Dinda tak mempedulikan itu semua. Yang ia rasakan hanya kesedihan dan kemarahan terhadap ibunya. Ia pun meringkuk dalam tangisnya sembari kedinginan akibat hujan yang telah mengguyur deras.
604Please respect copyright.PENANAKAv1gge2D9
Dalam suara hujan, des∆han Ayunda semakin menjadi-jadi. Tak ada orang lain dirumah itu selain dirinya dan selingkuhannya. Kini ia mulai bercinta∆ diruang dapur, kamar mandi dan juga ruang tamu. Entah sudah berapa ronde yang ia lewati, selangkangannya mulai berair dan memerah akibat hentakan dari kel∆min pria tersebut. Dirinya kini berposisi menungg1ng, siap menerima s0d0kan melalui dubu7nya
604Please respect copyright.PENANAdST2AuKXVh
"Pelan-pelan aja, aku tidak terbiasa" pinta Ayunda sembari menerima pelukan dari belakang.
604Please respect copyright.PENANAQt9gA1lfhF
"Iya sayang... Rasakan ini" Pria tersebut mulai memasukannya, benda panj4ng tersebut seakan memaks4 masuk, menyesakkan lubang kecil itu yang telah memerah.
604Please respect copyright.PENANAi8lLndh1B9
"Sakiiit" ringis Ayunda.
604Please respect copyright.PENANAmfKJLJjy65
"Tapi kamu suka kan?"
604Please respect copyright.PENANA62cKFkKJJ8
Ayunda hanya mengangguk tersenyum genit.
604Please respect copyright.PENANAZP76hHHXDz
Bima yang telah selesai dari pekerjaannya merasa bahwa hari ini kepulangannya begitu cepat. Ia melihat hujan yang semakin deras, pikirannya pun teralihkan akan hari jadi Dinda yang ke 15 tahun. Ia kemudian berlalu menuju mobilnya, berniat menjemput anaknya di sekolah.
604Please respect copyright.PENANAbAlwRKAQID
Sesampainya disekolah, ia tak menemukan Dinda yang biasanya duduk didekat pagar sekolah itu, ia mencarinya kemanapun dan bertanya kepada satpam. Lelaki kurus; penjaga sekolah itu berkata bahwa anak-anak telah pulang beberapa jam yang lalu.
604Please respect copyright.PENANA0VTpEN3dHJ
perasaan panik mulai menghantui Bima, ia kemudian menyetir pulang kerumah sembari tetap mengawasi sekitar jalan, berharap menemukan Dinda.
604Please respect copyright.PENANAotW90xN5Ig
Sesampainya dirumah, ia lantas bergegas sambil memanggil nama Dinda. Dibukanya pintu rumah itu dan menampakkan isterinya yang sedang di gerayangi oleh pria lain.
604Please respect copyright.PENANAIi2Uhhpwf7
Kedua insan tersebut seketika terkejut bukan main. Ayunda mendorong pasanganya dan berlari menuju Bima. Bima yang terpukul hanya bisa terdiam tanpa berkata apapun. Namun kepanikan akan kehilangan sosok Dinda tak membuatnya goyah, ia tetap mencari keberadaan Dinda sembari diikuti oleh Ayunda yang masih bertelanjang bulat.
604Please respect copyright.PENANATKAhGqOXBN
Bima memasuki kamar anaknya, tak ada dia disana, bahkan diruang gudang pun Bima cari tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Dinda.
604Please respect copyright.PENANAQOvYmpgJ26
"Dinda kemana? anak kita kemana?!" pekik Ayunda.
604Please respect copyright.PENANAXXjFtad3Sf
"Jangan sebut Dinda anakmu. Dasar pel∆cur!" Bima melampiaskan kemarahannya lantas berlalu menuju mobil dan meninggalkan isterinya yang tengah menangis histeris.
604Please respect copyright.PENANAQMq6wUGrx3
Dijalan, Bima menoleh kekiri dan kanan, memastikan bahwa Dinda berada disuatu tempat. Sampai ketika pencariannya membawa dirinya ke ujung jalan lenggang yang terdapat sebuah bangunan terbengkalai. Ditengah pencariannya, ia akhirnya menemuka Dinda yang sedang meringkuk kedinginan. Dengan terburu-buru ia turun dari mobil kemudian berlari memeluk anaknya dan disambut oleh Dinda sembari menangis.
604Please respect copyright.PENANAEz7jGEaMkS
Bima menyeka air mata itu, ia kemudian melepas jaketnya dan mengenakannya ke Dinda. Kehangatan dari perlakuan Bima membuat Dinda semakin mencintai ayah tirinya itu.
604Please respect copyright.PENANAdPlosqkrph
"Kenapa kamu disini?" Bima bertanya sembari memeluk Dinda, memastikan anak tirinya tetap hangat dalam dekapannya.
604Please respect copyright.PENANApjMMgCRlyH
Mendengar pertanyaan dari sang ayah, Dinda tak menjawab, dia diam tapi dengan suara terseduh seakan menyembunyikan sesuatu.
604Please respect copyright.PENANAgVwvON631d
Tak usah menangis, Ayah tahu semuanya.
604Please respect copyright.PENANAAIl968AW6R
Seketika tangis Dinda pecah, ia semakin mendekap ayahnya. "Mengapa Ibu berubah? apakah ia tak menyayangi kita lagi?"
604Please respect copyright.PENANAwC2qL8bcA1
"Dia sayang dengan kita" Bima mulai meneteskan air mata.
604Please respect copyright.PENANAcf4Jz1wTA2
"Ayah bohong!"
604Please respect copyright.PENANAK7n8q5IaQE
Bima terdiam, matanya tak bisa menyembunyikan kekecewaan.
604Please respect copyright.PENANAVsatDpUtDY
"Jika Ibuku tak bisa membuatmu bahagia, aku yang akan menggantikannya" Dinda meraih wajah sedih ayah tirinya, kemudian mengecup bibirnya lembut.
604Please respect copyright.PENANAGCLHuxDsr9
Mendapat perlakuan tersebut, Bima terkejut sekilas. Dirinya sempat menghindar hingga akhirnya terbawa suasana dan mulai kembali membalas ciuman Dinda dengan penuh cinta.
604Please respect copyright.PENANAhQI047w2MU
Dihujan yang semakin deras, dua insan itu kini mulai terbuai perasaan. Bima membopong tubuh kecil Dinda, disandarkannya ke tembok dan mulai merasakan jenjang leher putih bersih itu yang basah dengan kecupannya. Merasakan n4fsu ayahnya yang kian memanas, Dinda kini berusaha mengimbangi. Ia mencengkram punggung Bima dengan tangan kecilnya, berusaha meraih kemeja itu, melepaskan kancingnya dan menampakkan dada ayahnya yang bidang.
604Please respect copyright.PENANATvZJhYO7vF
Bima kini menelusuri bu4h d4d4 Dinda yang mulai tumbuh. Dalam balutan kut4ng remaja bermotif bunga, ia terpaku. Baru kali ini ia melihat anak tirinya itu setengah telanj4ng. Dirabanya dalam genggaman yang terasa tercengkram semua, memanglah tak sebesar milik Ayunda-Ibunya, tapi sensasi akan menjamah anak tiri sendiri seperti sesuatu yang berbeda dan tak bisa dijelaskan.
604Please respect copyright.PENANAATsXAfbVh2
Bima telah larut dalam permainan naf5u sesaat. Dirinya kini telah menjamah anaknya sendiri dengan kecupan di kedua dada Dinda. Dinda yang menerima perlakuan tersebut seakan tak bisa menolak dan memilih untuk diam dan menikmati.
604Please respect copyright.PENANAh6dtfPvXQI
"Apakah sakit?" Bima melepaskan kecupan tersebut dan melihat mata Dinda dalam-dalam.
604Please respect copyright.PENANAp1XZXtnj2e
"Tidak... Ayah suka, aku juga suka" keduanya tersenyum dan melanjutkan keharmonisan itu.
604Please respect copyright.PENANAIkd3WAEyDR
Dalam badai, kini mereka saling menikmati tubuh. Dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, kini Dinda menjongkok dihadapan Bima, menarik resleting cel4na Ayahnya dan mulai mengeluarkan bendap4njang nan tumpul itu. Dinda seperti kagum akan ukuran yang dimiliki ayah tirinya. dengan jemari kecil, ia berusaha menggenggamnya, meng0coknya dan akhirnya mengulumnya sekuat tenaga.
604Please respect copyright.PENANAEK9JSSLgMN
Ia menikmati, meski ukuran tersebut tak cukup muat untuk masuk ke seluruh mulutnya. Bima menggenggam rambut kepang anaknya, seperti memaju mundurkan agar seluruh miliknya bisa masuk ke dalam mulut mungil Dinda. Tetesan liur mulai jatuh membasahi dada Dinda yang memang telah basah akan air hujan dan keringat dingin. Sesekali ia tersedak dan mengeluarkan benda panjang itu yang tak lama kemudian dimasukkannya lagi.
604Please respect copyright.PENANAjCQJcfPzya
"jangan dipaksa sayang... nanti kamu tersedak" Dinda kemudian bangkit, berbisik lembut ditelinga ayahnya, "Ayah... aku sudah ingin" sembari mengangkat roknya, ia menunjukkan selangk4ngannya dan dibalik celana dalamnya yang sudah basah.
604Please respect copyright.PENANAO5C2VeVitk
Mereka kemudian berlari menerobos hujan menuju mobil, Bima memarkirkan mobil sedikit tersembunyi dari jalan itu. Seakan terburu-buru, ia menanggalkan pakaiannya dan juga seragam sekolah Dinda. Di k3cupnya tubuh anaknya itu tanpa melewati sejengkal pun. dibaringkannya Dinda di jok mobil yang sudah disetel agar bisa disandari. B4tang panjangnya sudah meneg4ng, siap menerobos keperaw4nan anak tirinya sendiri.
604Please respect copyright.PENANAclNJqVoDOw
Dinda mengangkang sedikit malu, tangannya sesekali menutup area itu dan wajahnya memerah merona. "Ayah aku malu" desirnya menutup wajah. Bima kemudian kembali mencium Dinda, memastikan bahwa anak tirinya itu aman dalam dekapannya. Perlahan ia menyentukan bat4ngnya ke bibir k3lamin Dinda yang ditumbuhi bulu halus, tak rimbun namun dan tersusun rapi di atas belahannya.
604Please respect copyright.PENANAVK3N2AD7OA
Pelan, batang panjangnya membelah memasuki lubang kecil itu. Dinda hanya meringis sembari menggit bibir bawahnya. Terasa sesak namun nikmat. Kesakitan yang awalnya ia rasakan kini mulai berubah menjadi kenikmatan disaat Bima memaju mundurkan bat4ngnya dengan pelan. Dengan tempo teratur, pinggul Bima seakan ikut membantu menerobos keperawanan anat tirinya itu.
604Please respect copyright.PENANA3tgDCaIHis
Suara badai hujan yang menghantam kaca mobil seakan mensamarkan desahan dan erangan kedua insan yang dimabuk asmara itu. Dinda mulai terbawa arus dalam permainan, ia seakan menikmati s0dokan demi sod0kan dari ayahnya. Beberapa kali mereka berganti gaya di dalam mobil yang sempit itu; mulai dari Dinda yang terlihat menungging, atau bahkan ia menimpa ayahnya untuk dipangku dan menerima so0dokan dari bawah.
604Please respect copyright.PENANAM0tZQJ58rJ
Setelah kurang lebih sejam mereka memuaskan birah1, akhirnya Bima menumpahkan cair4n putihnya di perut anak tirinya itu, sebagian menetes menuju pinggang dan beberapa lagi mengendap di lubang pusar Dinda. keduanya rebah sembari berpeluh keringat di jok belakang. Mereka berpelukan sembari berciuman penuh kemesraan.
604Please respect copyright.PENANAzmUb7wd7KU
Keduanya telah memutuskan ikatan ayah dan anak dan beralih ke hubungan cinta layaknya kekasih.
604Please respect copyright.PENANAkX6CZcRU8g
"Selamat ulang tahun sayang.." ucap Bima sembari memeluk anak tirinya.
604Please respect copyright.PENANA50nrcRCVpZ
"Ini adalah kado terbaik, ayah.." ucap Dinda sembari mengatur nafas.
604Please respect copyright.PENANAQMQm4MD2oo
Seisi rumah terlihat berantakan, serpihan kaca berserakan dilantai bersama dengan porselen yang sudah pecah terhambur terpisah dengan bunga yang entah kemana lagi. Ayunda duduk termenung dengan nafas tersengal-sengal akibat melampiaskan kemarahan terhadap seisi rumah. Beberapa kali ia menelpon Bima namun tak ada jawaban dari suaminya itu. lelah akan kemarahannya, ia pun menangis tersedu dalam penyesalan.
604Please respect copyright.PENANAqdMkifWmvV
Disisi lain, Bima yang kini berkendara entah kemana seakan berpikir 'Apakah yang barusan terjadi dengan Dinda hanyalah ilusi belaka?' Ia tak percaya bahwa dirinya barus saja bercinta dengan anak tirinya, terlebih lagi Dinda masih berumur 15 Tahun, tepat pada hari itu.
604Please respect copyright.PENANARS8jl5ORtp
"Ayah kita mau kemana?" tanya Dinda memecah kesunyian.
604Please respect copyright.PENANApm9G93AoBc
"Entahlah... Aku masih berpikir. Apakah kita sebaiknya pulang? Ibu pasti sudah menunggu"
604Please respect copyright.PENANAbefLyqQonv
"Tidak! Aku tak mau bertemu Ibu" tolak Dinda dengan wajah kesal.
604Please respect copyright.PENANA2yrbbdNll3
Bima yang seperti nurut akan penolakan anaknya hanya bisa menyetir tanpa tujuan yang pasti, hingga ia kemudian berpikir untuk sementara menuju penginapan terdekat, memastikan bahwa mereka bisa beristirahat untuk sementara di tengah hujan badai yang semakin deras.
604Please respect copyright.PENANAAM8V9cvThM
Mereka memasuki salah satu penginapan di pinggiran kota itu setelah memarkirkan mobil. Para resepsionis sejenak menanyakan hubungan antara keduanya, seakan mencurigai bahwa Bima adalah lelaki hidung belang yang suka menikmati tubuh anak remaja yang baru tumbuh atau bahkan mereka mungkin saja mengira bahwa Bima adalah penculik anak sekolah di tengah badai.
604Please respect copyright.PENANAnVsxqe5P8J
Namun kecurigaan mereka seketika sirna setelah Bima menjelaskan bahwa Dinda adalah anaknya, Dinda pun menambah keyakinan mereka bahwa lelaki bersamanya adalah ayahnya. Mereka kini mendapat kunci kamar, dan berjalan menuju lantai dua dengan sedikit basah akibat badai.
604Please respect copyright.PENANAR9WcQf7xST
Keduanya pun memasuki kamar itu; nuansa putih dengan lampu sayup, dua ranjang berseberangan dan kaca rias menghiasi kamar. Keduanya duduk di masing-masing ranjang, seakan menjaga jarak dan terasa canggung. Bima menoleh ke sisi Dinda yang tengah sibuk dengan rambutnya yang basah, ia masih tak percaya bahwa dirinya telah melihat semua isi tubuh kecil itu, bahkan telah memasukkan b4tangnya ke lub4ng anak tirinya sendiri yang masih berusia belasan tahun. Ia menelan ludah, ketika rok pendek Dinda tersingkap menampilkan pahanya yang putih mulus basah.
604Please respect copyright.PENANAkiGZNop0ZZ
Belahan dadanya pun sedikit terlihat akibat kemeja yang tak terkancing penuh, dibalik bra pinknya terselip gundukan kecil dengan put1ng berwarna merah jambu. Ia telah meny1cipi semua itu, namun sepertinya Bima menginginkannya lagi. Ia melihat anak tirinya bukan lagi sebagai anak kecil, melainkan seorang wanita yang telah merenggut hatinya dalam cinta dan juga nafsu.
604Please respect copyright.PENANAdWFMpEFHrz
Menyadari perhatian tersebut, Dinda kemudian menyadarkan Bima dengan berkata, "Ayah aku ingin kekamar mandi dulu"
604Please respect copyright.PENANAZVsr0Y6tUa
"Oh ya! masuklah, panggil aku jika kamu butuh sesuatu"
604Please respect copyright.PENANAZuqr9zuf9F
Dinda mengangguk dan berlalu sambil mengambil handuk yang terlipat di meja rias.
604Please respect copyright.PENANAJGaIXiVjIk
Suara desir air mengalir di kamar mandi itu, Bima seakan tak hentinya membayangkan tubuh Dinda yang begitu mulus dan kecil. Ia seperti tersihir akan kenikmatan yang telah ia rasakan, seperti candu namun takut akan penyimpangan itu. Ia kini merasa bersalah, dan berharap dosa yang ia lakukan bisa terampuni oleh tuhan.
604Please respect copyright.PENANAtK90qKiX3R
Ditengah rasa bersalah itu, Dinda kemudian keluar dengan tubuh basah dan hanya terbalut handuk putih. Ia berjalan menuju Bima, harum tubuhnya seakan kembali membangkitkan nafsu ayahnya yang baru saja bertobat. "Ayah ingin menggunakan kamar mandi" tanya Dinda memastikan.
604Please respect copyright.PENANAPPaL1lxuW5
Bima menatap kagum Dinda, ia lantas menarik lengan anak tirinya itu menuju pangkuannya. "Aku ingin menggunakanmu, sayang"
604Please respect copyright.PENANAjkydvdDj6s
Ia melum4t bibir mungil itu penuh nafsu dan dibalas oleh Dinda dengan penuh kasih. Mereka pun kembali bercinta dimalam yang dingin itu.
604Please respect copyright.PENANAruGmU7Kpvv
BERSAMBUNG..604Please respect copyright.PENANA5E7x7KdYYF
Selengkapnya disini: https://lynk.id/shark95
ns216.73.216.101da2


