Bima mengendarai mobilnya dengan laju. Sesekali ia melirik jam tangannya yang telah menunjukan pukul Sembilan malam. Kekhawatirannya mulai muncul meski sebelum pulang ia sempat menelpon Dinda, memastikan anaknya baik-baik saja dirumah sendirian. Ia juga menanyakan keberadaan isterinya yang ternyata masih belum nalik dari kantor.
788Please respect copyright.PENANAcqYJLDpjSc
Setelah sesampainya, Bima lantas memasukan mobil ke garasi dengan terburu-buru, menabrak beberapa perkakas yang tak ia pedulikan. Mendegar kekacauan digarasi rumahnya, Dinda kemudian bangkit dari kasurnya, berlari menuju ruang tamu dan mendapati ayahnya yang tengah tersenyum lega. Bima memeluk Dinda dan berjanji tidak akan meninggalkannya sendirian dirumah lagi.
788Please respect copyright.PENANADtMXPRM4Gw
Dinda hanya mengangguk, tersenyum dan membalas pelukan ayahnya.
788Please respect copyright.PENANApeozqA78ON
"Ibu masih belum pulang juga?" tanya Bima menoleh kesisi ruangan.
788Please respect copyright.PENANAjJJOGEkmwb
"Belum.. Ibu memang selalu seperti itu. Gila kerja dan sudah tidak mencintai kita lagi" jawab Dinda berlalu menuju kamarnya. Ia seperti kecewa akan ibunya sendiri namun berusaha untuk tetap terlihat tegar.
788Please respect copyright.PENANAA6h3IuqfzW
Malam itu Bima terlihat kesal terhap Ayunda. Ia seperti sudah kehilangan kesabaran akan kurangnya waktu diberikan Ayunda kepada anak dan dirinya. Isterinya bahkan tak memberikan sedikitpun tanda bahwa besok adalah hari spesial bagi Dinda. Yang ia tahu hanya bekerja dan bekerja sekaligus melayani n4fsu para hidung belang.
788Please respect copyright.PENANApi9uh5VzYh
Di sisi lain, Ayunda yang kini tengah terjamah oleh Brian seakan seperti sudah kehilangan nafas. S0d0k4n di liang kewanitaannya semakin kencang, membuat dirinya terkapar sembari mende54h dan merancau. Entah beberapa kali sudah ia kena 53mpr0t dari p3juh pria a5ing tersebut.
788Please respect copyright.PENANASJfL2HzaDd
Keringat yang bercucur di seluruh tubuhnya seakan mengartikan bahwa tubuhnya sudah sangat lelah dan berhar4p permainan ini akan segera berakhir. Namun entah mengapa, setiap pria tersebut men3mbakkan cairan putih kent4lnya ia semakin menjadi, seperti tak ingin memberi nafas untuk Ayunda.
788Please respect copyright.PENANA5jege6ulIl
"I'm so tired, can we stop for a moment?" pinta Ayunda setelah beberapa di jam dijamah oleh pria asing itu.
788Please respect copyright.PENANAxczt3ysUej
Brian kemudian menyingkirkan tubuh Ayunda dari pelukannya. Ia menuju bilik kamar mandi, hendaknya membersihkan diri. Ayunda yang terbaring lemah di kasur itu, hanya bisa menangis terseduh. Ia menahan suara tangis kepedihannya agar tak terdengar oleh Brian. Berusaha tegar akan dilecehkan sangat membuat mental Ayunda hancur. Ia bangkit dari kasur tersebut, mengenakan kembali pakaian kantornya tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Rambutnya masih berantakan, wajahnya memerah dengan tubuh yang membungkuk kelelahan.
788Please respect copyright.PENANAJGkNKQHIQQ
Ia masih berdiri dikamar itu, menunggu Brian untuk segera berpamitan. Tak lama kemudian Brian keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan helai handuk. Ia seperti acuh dan tak peduli dengan kondisi Ayunda kini.
788Please respect copyright.PENANApz1Vi6Wb7L
"Brian. if you're done for today, i'll go home" izin Ayunda seperti berharap.
788Please respect copyright.PENANA8JlR3j63HI
"What?! i thought you were going to spend the night with me?" Mendengar hal itu, Ayunda hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala. Perasaannya seperti tersiksa. Brian kemudian menghampirinya, merangkulnya dan berkata "Just kidding. go home and rest you office doll"
788Please respect copyright.PENANAagVSxv3Bw1
Seperti tertampar. Ucapan Brian menyadarkan Ayunda akan perihal statusnya yang ternyata hanya dianggap boneka oleh para atasannya. Ia berlari keluar dari kamar hotel tersebut, menuju parkiran dan melajukan mobilnya secepat mungkin. Dalam mobil tersebut dirinya menumpahkan tangis yang sedari tadi ia pendam, tangannya beberapa kali memukul setir mobil-melampiaskan kemarahan. Ia tahu bahwa dirinya hanya berpura-pura kuat kepada semua orang di kantor itu tanpa menyadari bahwa semua itu hanyalah sandiwara belaka.
788Please respect copyright.PENANAcJdlyoVoQO
Sesampainya dirumah, dengan langkah terseok-seok ia turun dari mobil. Namun disaat dirinya melihat Bima yang ternyata semalaman menunggunya di teras rumah, ia seketika berpura-pura tegar. Ayunda membusungkan dada dan beberapa kali membenarkan penampilannya yang kian kusut.
788Please respect copyright.PENANA1gANl32SHH
"Kenapa baru pulang ?" Bima berdiri menghadang Ayunda yang ingin masuk ke dalam rumah.
788Please respect copyright.PENANAhYYHI1G4Ly
"Kerja.." jawab Ayunda singkat. Ia tak berani menatap mata suaminya yang mulai menampakkan kemarahan.
788Please respect copyright.PENANAfpBZZRVsuv
"Kerja jam segini?! kamu tahu, Dinda berada dirumah sendirian. Dia menunggu kamu semalaman!" teriak Bima yang sudah tak sanggup menahan emosi.
788Please respect copyright.PENANAbg1fR8w0vE
"Kamu sendiri dimana?! meninggalkan anakku seorang diri dirumah!" balas Ayunda berteriak tak kalah kencangnya.
788Please respect copyright.PENANAnF0Z2rZeGz
"Aku ada deadline kerja!"
788Please respect copyright.PENANA5ITVOZvapM
"Sama! aku juga ada rapat!"
788Please respect copyright.PENANApH3aZEVCbi
"Tapi kamu selalu pulang terlambat! Apakah kantormu selalu rapat setiap hari? Kamu hanya beralasan!"
788Please respect copyright.PENANAR8ZJdYFlzv
"Dengar, Bima! Aku sedang bekerja dan berusaha memperbaiki ekonomi kita! AKu tidak menuntut apa-apa darimu, yang aku mau hanya penerimaan dan menjaga Dinda. Kamu sendri tak bisa menghasilkan uang yang banyak bagi aku dan Dinda, jadi diamlah!"
788Please respect copyright.PENANA6TYishU5Tv
Ayunda kemudian menggeser tubuh suaminya dan berlalu memasuki rumah. Didalam ia menangis terseduh, menyesali pertengkaran tersebut. Air matanya jatuh membasahi pipi, dirinya seperti ingin menghilang dari dunia, melupakan semua masalah yang ia alami. Sementara itu, Bima duduk termenung di sofa ruang tamu, ia merasa bahwa dirinya sebagai suami telah gagal membina rumah tangga.
788Please respect copyright.PENANAgpSz3N1g8s
Keributan dalam rumah tersebut membuat Dinda yang awalnya terlelap kini terjaga akan tidurnya. Ia seperti mendengar pertengkaran dari lantai bawah. Ia tahu bahwa ibunya telah kembali di jam Dua malam dan itu adalah keterlambatan yang sangat membuat dirinya murka. Ia tahu bahwa ibunya memang sering kali terlambat pulang, namun hari ini berbeda; Ayunda seperti menyembunyikan sesuatu kepada keluarganya selama ini. Dan hal tersebut membuat keharmonisan dalam keluarganya perlahan retak.
788Please respect copyright.PENANAgXZ1cwu75x
Dinda menghampiri ayahnya yang tengah termenung. Ia memeluk punggungnya dari belakang, "ayah tidak tidur?"
788Please respect copyright.PENANAbflSk0aHIO
Bima menggelengkan kepala, seperti menahan tangis "Tidurlah sayang.. ayah belum ngantuk"
788Please respect copyright.PENANAftjSpGpZOL
Seperti tak ingin mengusik kesedihan ayahnya, Dinda kemudian mencium pipi ayahnya lantas berlalu menuju kamar.
788Please respect copyright.PENANAOsJG6kPDrl
Di pagi hari, Bima masih disofa. Ia tertidur setelah lelah termenung. Ayunda sendiri masih belum beranjak dari kasurnya. Dengan masih mengenakan seragam kantornya tanpa melepas kaos kaki, ia seperti bak wanita malam yang tak sadarkan diri. Sementara itu, Dinda telah mengenakan seragam sekolahnya. Sembari memeriksa tanggal yang menempel di dinding, ia seakan menampilkan wajah kegirangan setelah melihat hari spesial itu. 'Hari ini aku ulang tahun' gumamnya.
788Please respect copyright.PENANAPcjhjOiTJV
Namun perasaan antusiasme itu seketika hilang ketika dirinya menyadari akan retaknya keharmonisan dalam keluarganya. Rumah itu seakan sunyi. Ayahnya masih tertidur setelah lelah akan kesedihan dan ibunya masih tak sadarkan diri setelah pertikaian tadi malam. Hanya dirinya seorang diri sibuk dirumah itu; mempersiapkan sarapan dan juga perlengkapan sekolah. Sebelum pergi, ia menatap ayahnya yang masih terlelap. menyelimutinya lantas berlalu menuju sekolah dengan bersepeda.
788Please respect copyright.PENANAXFfhvKjmbp
Memang tidaklah terlalu jauh, namun ini pertama kalinya ia mengayuh sepeda menuju sekolah setelah beberapa tahun Ayunda kerap diantar oleh sang ayah.
788Please respect copyright.PENANAEBsZfiEEvL
Ayunda terbangun dari tidurnya, ia menuju kamar mandi setelah menenggalkan semua pakaiannya. Siraman air yang mengucur ke seluruh tubuhnya seperti melunturkan semua kelelahan yang ia rasakan selama ini. Dirinya masih terbayang akan kejadian tadi malam; Malam yang panjang dipenuhi dengan masalah dan pertengkaran.
788Please respect copyright.PENANAilskurMLJi
Selepas mandi ia mengenakan daster longgarnya dan berjalan menuju dapur. Dilihatnya Bima yang tengah sibuk membuat roti sandwich dengan mengenakan seragam kerjanya, ia menerka bahwa suaminya akan berangkat kerja sebentar lagi. Dengan sikap dingin ia melewati Bima lantas menuju lemari pendingin untuk mengambis sebotol jus orange.
788Please respect copyright.PENANAwkrR7bt6RH
Bima yang memperhatikan, kemudian bertanya, "Apakah kamu tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Dinda?"
788Please respect copyright.PENANAfmQbvZY2M0
Ayunda sekilas mematung, kemudian menjawab, "Iya..."
788Please respect copyright.PENANA1dVmn1BeNn
"Aku hanya mengingatkan.."
788Please respect copyright.PENANAdMpQW1aOAJ
Ayunda tak menjawab lantas berlalu menuju teras rumah untuk menikmati mentari pagi. Ia seperti tersadar bahwa dirinya selama ini ternyata butuh ketenangan batin, setelah bertahun-tahun hanya bekerja dan tak menyempatkan diri menikmati momen dalam rumah tersebut.
788Please respect copyright.PENANAOAZmYqXjup
Bima kemudian keluar sembari menjenjeng tas selempangannya. Melihat isterinya duduk sembari memainkanponsel, ia seperti terdiam dan hendak berpamitan. Ayunda yang menyadari perhatian tersebut kemudian celetuk "Apa?!"
788Please respect copyright.PENANAZOBmZbth8q
Bima tersenyum, kemudian menjawab "Kamu cantik hari ini" kemudian pergi meninggalkan isterinya yang kebingunan.
788Please respect copyright.PENANA9q93Xr1i2B
Ayunda sedikit tersipu akan pujian itu. Sepintas wajahnya sedikit memerah, namun kebahagiaan kecil tersebut seketika sirna setelah menerima panggilan dari Bosnya. Ia melihat layar ponselnya, seperti mengeluh akan hal apa lagi yang akan terjadi nantinya setelah menerima panggilan itu.
788Please respect copyright.PENANAT58vqJndqk
"Haloo.. Ayunda! kamu tidak masuk ke kantor, kenapa?!" tanya Pangestu, dari balik telepon.
788Please respect copyright.PENANAJj6sBx5MIg
"Hari ini aku cuti untuk sementara. Aku sakit, pak dan tak bisa memaksakan diri untuk masuk hari ini" jawab Ayunda, beralasan.
788Please respect copyright.PENANA0nD5Q2Thee
"Kenapa? kamu habis berapa ronde dengan Brian tadi malam?! hahaha..!" pekik Pangestu, sarkasnya membuat Ayunda teramat kesal. Namun kekesalan itu tak bisa ia tunjukan dan hanya berpura-pura merespon dengan tawa karirnya.
788Please respect copyright.PENANAyVWcj2SIIS
"Tidak apa-apa, hari ini beristirahatlah dirumah, karena minggu depan kita akan kedatangan tamu dari Medan. Salah satu Bos tambang yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita"
788Please respect copyright.PENANATNwEJJJaBp
Mendengar pernyataan tersebut, Ayunda seketika termangu, dirinya seakan telah membayangkan perihal apa yang akan terjadi pada dirinya nanti setelah bertemu dengan para pejabat bedebah itu. Namun ia juga tak bisa menampik akan rapat kerja tersebut, selain karena tuntutan kerja, ia juga membutuhkan bonus besar dari klien perusahaan yang tentunya dengan memberikan layanan ekstra diranjang hotel.
788Please respect copyright.PENANAcodUsGpPu6
"Baik Bos." Ayunda menjawab singkat setelah menerima informasi dari atasannya.
788Please respect copyright.PENANA56qqWc5nYY
"Oke! Lekas sehat, dan kembali bekerja dikantor!"
788Please respect copyright.PENANAYmImddqVn3
Obrolan tersebut pun berakhir dan Ayunda kini merasa terusik di santai paginya.
788Please respect copyright.PENANAV5mgqS4VM0
Sambutan dari para pekerja dan atasan membuat Bima kebingunan, ia hanya tersenyum ketika mereka memberikan tepuk tangan atas kerja kerasnya semalaman mengurus suplai pupuk di pabrik tersebut. Atasannya kemudian merangkul, memberikan selamat atas kenaikan jabatan kepada dirinya "Bima. Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini terlebih lagi atas dedikasi yang kau berikan dalam menyelesaikan masalah perusahaan tadi malam. Jika bukan karena kamu, suplai pupuk kita bakal anjlok dan mengalami kerugian besar. Oleh karena itu, Manager perusahaan memberikanmu hadiah berupa kenaikan jabatan. Anda telah dipercaya sebagai eksekutif kontrol. Selamat nak" mendengar berita gembira tersebut, Bima lantas terpikir akan keluarganya nanti, ia berharap dengan kenaikan jabatan bisa membantu keuangan keluarga dan tak bergantung lagi sepenuhnya kepada isterinya.
788Please respect copyright.PENANA3Wmfavpe1D
Teman sepekerjanya pun memberikan selamat atas berita gembira tersebut. Ia seperti tak lupa akan teman-teman seperjuangannya dalam bekerja. Dirinya tak angkuh akan jabatan, Bima bahkan menghampiri semua pekerja tersebut dan menyampaikan bahwa dia akan tetap bekerja keras tanpa memandang status dalam perusahaan.
788Please respect copyright.PENANAtLCKsWVG4K
"Traktir kami dong, Bim!" teriak salah satu temannya.
788Please respect copyright.PENANAH7Sc0fd2nG
"Apakah kita harus memanggilmu bos?!" celetus pria pendek berjanggut yang merupakan teman Bima yang biasanya menyelesaikan pekerjaan di gudang penitipan pangan dan pupuk.
788Please respect copyright.PENANAyqciiusq4D
Bima kemudian menunjuk temannya itu, lantas membentak "Kamu harus memanggilku Bos! sembah aku sekarang!"
788Please respect copyright.PENANAgJCDMEoGBY
Mereka semua tertawa seperti mengerti akan lelucon Bima yang kebapak-bapakan.
788Please respect copyright.PENANAvczg5am8mw
Akhirnya Bima memiliki kantor tersendiri di tempatnya bekerja. meski tak begitu luas, namun ia merasa bersyukur atas apa yang telah tuhan titipkan kepadanya. 'Status dalam perusahaan bukanlah tujuan utama, aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Tuhan, terima kasih atas rezekinya hari ini' doa Bima sebelum duduk di kursi eksekutif kontrol itu. diatas meja kerjanya tertulis nama Bima salahagi chief operating officier. Ia kini tak terjun langsung dalam pengelolahan pupuk dan bibit, dirinya kini sibuk mengurus berkas dan kontrol atas pengiriman suplai stok barang.
788Please respect copyright.PENANA0wZzWh9mdN
Sementara disisi lain, Dinda yang berdiri dengan rambut basah dan taburan terigu di sekujur tubuhnya. Ia kerap meminta untuk menyudahi kegaduhan itu, sementara teman-temannya masih asik melemparinya dengan telur dan juga kue ulang tahun yang telah dibagikan.
788Please respect copyright.PENANAe6Omot7O2d
"Selamat ulang tahun, Dindaa!! semoga cita-citanya dapat terwujud dan gak jomblo terus!!" teriak teman-temannya setelah merayakan pesta tersebut di halaman sekolah pada saat jam pulang. Dinda yang mendapat antusiasme terhadap teman sekelasnya hanya bisa berusaha agar tetap terlihat ikut bahagia, meski sebenarnya ia tak suka tindakan kekanak-kanakan tersebut, namun dengan berat hati ia tetap larut dalam keseruan demi menjaga dan menghargai apa yang telah mereka berikan kepadanya.
788Please respect copyright.PENANAauRkfSUamH
Setelah pesta berakhir, lebih tepatnya terlihat seperti pembulian, Dinda kemudian mengendarai sepedanya untuk segera balik kerumah. dalam gerimis, dirinya mempercepat ayunan roda sepeda agar hujan tak terlampau deras mengenai dirinya. Sesampainya dirumah, ia lantas berlari menuju teras, menghindari hujan yang sudah terlanjur mengenainya. disibakkan lengannya yang basah kemudian memasuki rumah.
788Please respect copyright.PENANA2kclRjkDrK
Namun seketika langkah tersebut terhenti ketika dirinya mendengar sesuatu yang janggal. Ia mengikuti suara aneh tersebut menuju lantai dua. Dinda yakin bahwa suara tersebut berasal dari kamar ibunya, ia berdiri sejenak didepan pintu kamar itu, memastikan bahwa ia siap atas apa yang akan ia saksikan. Dibukanya pintu kamar tersebut pelan dan memperlihatkan ibunya yang tengah bercinta dengan seorang pria. Pria tersebut tak terlihat begitu jelas, namun yang pasti dirinya yakin bahwa lelaki tersebut bukanlah ayahnya. Mengapa bukan, Bima sendiri tak memiliki tatto di belakang punggungnya.
788Please respect copyright.PENANA3WQ9y905KT
Dinda menutup mulut dengan perasaan syok. Ia tak menyangka ibunya melakukan hal gila itu disaat tak ada seorang pun dirumah. Ia meninggalkan ibunya yang tengah asik menerima s0d0kan diliang sengg4m4nya bersama pria lain, sementara itu Dinda berlari meninggalkan rumah entah kemana.
788Please respect copyright.PENANAiAjaU1VjPH
Dihari ulang tahunnya, Dinda menerima kado kejutan yang membuatnya terpukul seumur hidup.
788Please respect copyright.PENANA5mtssYuZzv
BERSAMBUNG...
Cerita lengkapnya disini: https://lynk.id/shark95
ns216.73.216.23da2


