Coretan kanfas itu dipenuhi dengan warna. Setiap goresan menggambarkan sesuatu yang penuh arti; Terlihat seorang wanita tua dengan pakaian lesuh menjijing sebuah kendi ditengah asrinya sawah disore hari.
1600Please respect copyright.PENANApl8y3Wp5CX
Untuk seorang anak berusia 14 tahun, lukisan tersebut adalah mahakarya yang sangat indah. Jemarinya dengan lihai menari di atas kanfas itu, sesekali ia menyipitkan mata seakan ada hal yang terlewatkan disetiap detail karyanya. Tangannya pun tak luput dari tetesan cat warna-berantakan namun terlihat estetika.
1600Please respect copyright.PENANACCYvBMUCNZ
Dikamar itu terdapat berbagai macam lukisan; Mulai dari pemandangan alam, duplikat gambar Monalisa yang masih jauh dari kata mirip dan bahkan potret wanita t3lanjang yang semestinya ilegal untuk gadis seusianya. Kegemaran tersebut pun terbukti menghasilkan hal positif baginya, dengan beberapa kali mendapatkan penghargaan dan juara ketika perlobaan lukis diadakan, baik itu antara sekolah bahkan kota dan provinsi.
1600Please respect copyright.PENANAbrRfbSJzCU
Konsentrasi akan lukisan yang ia buat seketika sirna ketika ketukan pintu terdengar. "Dinda! waktunya makan." ucap seorang pria dibalik pintu kamarnya.
1600Please respect copyright.PENANAl7jIaurVNg
"Iya! bentar!"
1600Please respect copyright.PENANAbBMSMMY6qs
"Kamu seharian dikamar, sesekali keluarlah! Ini adalah hari libur, bersenang-senanglah diluar"
1600Please respect copyright.PENANAwDit3fueFP
Dinda kemudian bangkit dari bangkunya, melangkah membuka pintu, "Oke! setelah projek ku selesai aku akan kerumah teman-temanku" jawab Dinda sembari memalas. Pria tersebut hanya tersenyum lantas mengelus lembut rambut anaknya.
1600Please respect copyright.PENANA9zNlGFYF8i
Mereka berdua akhirnya menuju meja makan, menyediakan makanan yang kiranya cukup untuk mereka nikmati bersama. Sederhana, namun berkesan. Tak ada yang spesial dari sajian malam itu, terkecuali obrolan hangat antara ayah dan anak. Tawa keduanya cukup membuat keheningan berubah jadi kehangatan.
1600Please respect copyright.PENANAou8QH7uHUu
Waktu telah menunjukan jam 9 Malam. Dinda terhenti sejenak dari tawanya akan lelucon yang diberikan sang ayah. Ia termenung sejenak lantas bergumam, "Ibu masih kerja? Bahkan di jam segini?"
1600Please respect copyright.PENANAQewmRIxutR
"Iya.. Sepertinya dia sangat sibuk. Atau bahkan dia sudah pulang tapi terkena macet" Bima berusaha berpikir positif dan menenangkan Dinda.
1600Please respect copyright.PENANAfAjTjkMy9H
Keduanya kembali dengan obrolan yang kiranya bisa menghilangkan kerisauan akan keterlambatan pulang sang Ibu. Bima bertanya kegiatan sekolah, hobi atau bahkan kekasih hati. "JIka kamu sudah punya seseorang yang kamu suka, jangan lupa lapor ke Ayah" Bima berwanti-wanti.
1600Please respect copyright.PENANAJptK60Z4fJ
"Apa sih! aku tak memikirkan itu!" Dinda menyangkal, seperti malu terhadap ayahnya itu.
1600Please respect copyright.PENANA3Ak3hYfkJO
Bima sendiri merupakan ayah sambung setelah perceraian antara Ayunda dan suaminya dulu. Meski hanya berstatus Ayah tiri, namun kedekatan antara keduanya sudah seperti darah daging sendiri.
1600Please respect copyright.PENANA5zdp7BkhTd
Pada saat kehadiran Bima, Adinda masih berumur 12 Tahun dan masih belum bisa mencerna masalah yang dihadapi kedua orang tuanya. Pertemuan Ayunda dan Bima juga seolah seperti takdir, dimana Ibu Dinda saat itu terpukul atas sepeninggalnya anak kedua mereka, yakni adik Dinda yang lahir prematur.
1600Please respect copyright.PENANAMd9ucSQpOf
Setelah meninggalnya anak kedua, mantan suami Ayunda terlihat frustasi dan seringkali melakukan kekerasan fisik baik terhadap istrinya atau bahkan kepada anaknya sendiri. Terlebih lagi masalah ekonomi yang menghimpit dan kecanduan akan minuman keras.
tak tahan akan hal itu, Ayunda pun memilih untuk berpisah dan mengurus Dinda seorang diri hingga akhirnya bertemu dengan Bima dan jatuh cinta.
1600Please respect copyright.PENANAwBI8YJwcvX
Mereka menikah setelah Lima Bulan pacaran setelah sebelumnya Ayunda memperkenalkan kehidupannya kepada Bima, termasuk anaknya Dinda. Awalnya Dinda ragu akan kehadiran Bima, ia takut jika lelaki tersebut akan menyakiti dirinya seperti yang dilakukan ayah kandungnya dulu.
1600Please respect copyright.PENANAO0GFXig7ay
Beberapa bulan telah berlalu, setelah menjalani masa perkenalan yang sungguh melelahkan, Dinda akhirnya luluh dan mulai terbuka terhadap ayah barunya. Bahkan di Minggu pertama setelah ke akraban tersebut, Dinda telah memanggilnya Ayah.
1600Please respect copyright.PENANApeX5kMbk9h
Melihat kebahagian anaknya bersama Bima, Ayunda pun merasa bersyukur telah bertemu lelaki tersebut. Lelaki yang menariknya dari lubang yang penuh dengan lumpur kesedihan menuju taman yang penuh kebahagiaan.
1600Please respect copyright.PENANArO7IfoXuY7
Bima sendiri bekerja disebuah pabrik cabang dari perusahaan Ayunda bekerja, meski masih sebagai pegawai rendahan dengan gaji minim, namun Ayunda bersyukur memilikinya. Ia bisa membahagiakan dirinya, dan juga anaknya dan itu sudah cukup baginya.
1600Please respect copyright.PENANA20NUi73HuN
Malam semakin larut. Bima dan Dinda tengah sibuk menysun puzzle yang telah ia beli Seminggu yang lalu. Kegiatan yang menguras pikiran itu memang telah menjadi rutinitas serta hobi Dinda. Segala hal yang memusingkan dan dihindari oleh kebanyakan orang malah menjadi suatu kegemaran dari gadis manis itu.
1600Please respect copyright.PENANAbPMgMgToz2
Sesekali mereka terdiam, berpikir sejenak disaat potongan puzzle ditempatkan di posisi yang salah. Sampai akhirnya mereka saling menyalahkan, beradu argumen untuk menyelesaikan masalah yang ada di hadapannya.
1600Please respect copyright.PENANAieI0yCYZ3f
Kebisingan tersebut kemudian teralihkan ketika suara decit pintu terbuka menampilkan Ayunda yang tengah masug tergopoh-gopoh.
1600Please respect copyright.PENANAzvJiruG1AD
"ibu pulang!!" teriak Dinda berlari meninggalkan Bima. Ia kemudian memeluk ibunya yang kelelahan.
1600Please respect copyright.PENANATkmSyukPaT
"Ibu sangat lelah..." ujar Ayunda seperti tak peduli dengan sambutan anaknya. Ia melepaskan kaos kakinya sembari bertumpuh pada dinding, seperti sudah tak ada energi lagi untuk meladeni tingkah Dinda yang terlampau kegirangan.
1600Please respect copyright.PENANAFI86ep5TIe
Seperti sudah rutinitas, Bima meraih tas kantor isterinya itu dan menanyainya jika malam ini apakah ia sudah makan. Ayunda hanya mengangguk lantas berlalu menuju kamar.
1600Please respect copyright.PENANAaAyHRDDQlO
Ayunda melepaskan semua helai pak4iannya. Meraih handuk lantas menuju bilik untuk membersihkan diri.
1600Please respect copyright.PENANAZhnEVhQ9pX
Kucuran air diatas kepalanya seperti melunturkan semua beban hidup dan masalah yang ia rasakan. Cicilan, tagihan serta biaya sekolah anaknya memang seperti ia tanggung sendiri. Penghasilan dari Bima tak cukup untuk menanggung semua itu dan hanya bisa membantunya dengan mengurus Dinda atau bahkan beberes rumah layaknya Bapak rumah tangga.
1600Please respect copyright.PENANAhA5H3dToWc
Sejauh ini Ayunda lah yang jadi tumpuan hidup mereka, terlebih lagi semenjak Bima terkena potongan gaji keluarga tersebut menjadi kurang pemasukan, namun biaya hidup masih terus mengalami kelonjatan.
1600Please respect copyright.PENANAm6E65gNFai
Maka dari itu, Bima tak bisa mengeluh atas kurangnya waktu Ayunda bersama keluarga. Ia juga tak bisa marah terhadap isterinya dan hanya bisa sesekali menasehati namun dengan tanggapan cuek dari Ayunda. Ayunda sendiri mengerti akan hal itu, namun kondisi mengharuskannya untuk lebih banyak menjalani hari di kantor demi kelangsungan hidup mereka bertiga.
1600Please respect copyright.PENANADxuEJaNAUU
Pernah sekali mereka bertengkar akibat kesalah pahaman diantara keduanya; Bima melihat Ayunda tengah berbincang mesra dengan seorang pria di salah satu kafe. Pada saat itu ia tak menghampiri, namun Bima menunggu kepulangan isterinya lantas menyambar dengan pertanyaan yang seakan menghakiminya.
1600Please respect copyright.PENANAesoYH2t2dO
Awalnya Ayunda berusaha menjelaskan bahwa lelaki yang ditemuinya itu hanyalah seorang klien perusahaan, namun kecemburuan suaminya membuat dirinya jenuh, tertekan dan seperti memancing amarah. Pertengkaranpun tak bisa terhindari, masalah yang awalnya hanya sebatas kecemburuan buta mulai merembet ke masa lalu, tanggung jawab dan ekonomi. Cacian dan umpatan terlontar dari mulut mereka yang membuat Dinda kembali merasakan trauma.
1600Please respect copyright.PENANAOG5wneKTh0
Dinda yang merasa terpojok oleh perkelahian kedua orang tuanya hanya bisa mengintip dibalik tembok dan berlari menuju kamar. Ia tak ingin kebahagian keluarganya kembali hancur akibat kesalah pahaman belaka.
1600Please respect copyright.PENANA9A17VAgAof
Melihat kesedihan Dinda, Bima lantas menurunkan ego dan mengalah dalam kegaduhan argumen tersebut. Ia meninggalkan isterinya lantas berlari menuju kamar Dinda.
1600Please respect copyright.PENANAQyiXqRd3Hz
Tak ada yang lebih penting dari kebahagiaan seorang anak dimatanya. Ia memasuki kamar Dinda yang tengah duduk menghadap jendela, matanya sembab akibat tangisan. Beni memeluknya erat, "Aku dan Ibumu hanya salah paham. Kita adalah keluarga" Bima berusaha menenangkan.
1600Please respect copyright.PENANAlb5bgShhWl
Ayunda yang melihat di ambang pintu seperti ikut luluh dan terharu. Dirinya kemudian masuk menghampiri suami dan anaknya. ikut memeluk, menenangkan.
1600Please respect copyright.PENANAkFC1zwG2bh
Semenjak pertengkaran dan takutnya trauma yang dirasakan oelh Dinda, pasangan tersebut pun sebisa mungkin menghindari pertikaian. Dan jika memang keduanya kembali mengalami kesalahpahaman, keduanya lebih memilih untuk berbicara baik-baik atau bahkan tidak saling menyapa.
1600Please respect copyright.PENANAV4VcSQbDfk
Mungkin saat inilah keharmonisan keluarga tersebut seperti sudah terkikis dan keheningan mulai terasa, disebabkan tak ada pelampiasan amarah diantara keduanya dan lebih memilih untuk saling berdiam diri. Hambatan ekonomi pun juga menjadi pemacu untuk lebih mengutamakan realita daripada perasaan.
1600Please respect copyright.PENANASLpL1Hdc1S
Selepas mandi, kelelahan dari riuk-riuk piuknya pekerjaan dan suasana kantor seketika sirna. Dengan rambut terurai basah, Ayunda duduk di depan cermin hiasnya. Sekilas iaa menatap tubuhnya yang sudah memasuki akhir tiga puluhan. 'Aku sudah tak muda lagi' batinnya.
1600Please respect copyright.PENANAKqnpiWf1w6
Sementara disisi lain, Bima berada di dalam kamar Dinda. berbincang dan akhirnya tertidur setelah lelah berceloteh, membahas hal yang disenangi anaknya dan juga sedikit cerita dongeng atau bahkan cerita lelucon yang membuat mereka saling terkekeh.
1600Please respect copyright.PENANAY9ud74oRax
Bima memang seringkali kelepasan tidur dikamar anaknya setelah seharian bersama Dinda. Bahkan Ayunda sendiri sudah terbiasa akan kesendirian dirinya dikamar pada malam hari. Namun dengan demikian, Ayunda malah menjadi lebih bebas untuk beristirahat, kasur lebih luas dan bebas melakukan apa saja sebelum tidur.
1600Please respect copyright.PENANApv4akmtdIC
Terkecuali jika Ayunda menginginkan kepuasan batin, ia akan memanggil Bima untuk sementara dan jika telah selesai ia membebaskannya untuk lanjut tidur sersamanya atau menemani Dinda. Bima seperti sebuah barang bagi isterinya yang hanya dibutuhkan disituasi tertentu.
1600Please respect copyright.PENANAPUUPXGzOg7
Berbeda dengan Dinda, ia seperti tak ingin lepas dari ayahnya. Meski bukan dari darah dagingnya, namun Bima mencintai Dinda sepenuh hati. Apapun yang diinginkan oleh anak tirinya itu sebisa mungkin ia wujudkan. Namun Dinda juga seperti mengerti akan kondisi ekonomi, ia tak jarang menunda pembelian barang yang dibutuhkannya hanya demi tak memberatkan sang Ayah atau bahkan jika memang mendesak, ia lebih memilih membeli barang murah atau bahkan bekas sekalipun dari tabungannya sendiri.
1600Please respect copyright.PENANAIEgItwXdLy
Keharmonisan keduanya terjalin semata hanya sebatas keluarga, tak ada rasa diantara mereka meski keduanya terpaut umur 16 tahun. Bima sendiri terbilang cukup mudah untuk status sebagai Ayah. dirinya baru menginjak usia 30 Tahun, jauh lebih muda dari ayunda. Namun begitu jiwa orang tuanya sudah tertonjol kepada dirinya.
1600Please respect copyright.PENANAde7jis73y6
Pernah beberapa kali Bima mendampingi Dinda saat acara sekolah. Beberapa orang tua yang ada disana sekilas melihatnya kagum, bahkan guru wanita sempat mendekatinya yang membuat Dinda risih dan cemburu. Awalnya mereka mengira bahwa Bima adalah kakak dari Dinda hingga mereka akhirnya tahu bahwa Bima adalah ayah sambung.
1600Please respect copyright.PENANACPhPvZRTaV
Kemesraan keduanya memang sekilas seperti bak kekasih jika di lihat dari sudut pandang orang lain. Dinda pun juga perlahan menjadi gadis yang tumbuh dengan sempurna, d4danya mulai terbentuk dan tubuhnya mulai terpahat sempurna.
1600Please respect copyright.PENANAxeGSJcLsKD
Malam yang dingin itu setelah mereka saling bertukar cerita, Dinda pun akhirnya tertidur didampingi ayah. Seperti terbangun oleh sapuan angin malam, Bima kemudian terjaga dan bangkit menutup jendela kamar lantas berlalu menutup pintu meninggalkan anaknya. Ia hendaknya menuju kamar untuk beristirahat, hingga sesaat ia terhenti didepan pintu kamar ketika dirinya mendengar percakapan Ayunda melalui telepon;
1600Please respect copyright.PENANAQmmtJdZsFc
'Aku sangat lelah! sel4ngk4nganku sampai merah. Lain kali jangan bawa temanmu, aku tidak bisa melayani kalian berdua!'
1600Please respect copyright.PENANA3IsQlUc4hE
Mendengar percakapan ambigu tersebut, seketika dunia Bima runtuh.
1600Please respect copyright.PENANAA6H03OntIE
BERSAMBUNG...
Cerita lengkapnya disini: https://lynk.id/shark95
1600Please respect copyright.PENANAzTmbM5OA7i
1600Please respect copyright.PENANAOwhHPyfFcf
1600Please respect copyright.PENANAdeDiSrf33k
1600Please respect copyright.PENANApYElFD8oKX
1600Please respect copyright.PENANAtKgxrPjL3k
1600Please respect copyright.PENANALjGK65Yhwm
1600Please respect copyright.PENANAvneQfaXFLa
1600Please respect copyright.PENANAk5BKKVhYmu


