Bab 1: Malam yang Salah
1594Please respect copyright.PENANAAoqME5ul57
Malam itu udara kampus terasa lebih panas dari biasanya. Lampu-lampu neon dari gedung auditorium berkelap-kelip, musik elektronik menggelegar hingga ke pelosok parkiran. Nadia Putri menarik napas dalam-dalam sambil menggenggam tali tas selempangnya. Gadis berusia 20 tahun itu baru saja selesai presentasi kelompok yang melelahkan. Teman-temannya memaksa ia ikut pesta ulang tahun salah satu senior. “Cuma sebentar, Nad. Santai aja,” kata mereka. Nadia yang biasanya lebih suka pulang ke kosan, membaca novel, atau menonton drama Korea, akhirnya menyerah.
1594Please respect copyright.PENANAu3EJ8mjrME
Ia berdiri di pintu masuk aula, tubuh mungilnya yang tingginya hanya 158 cm terlihat rapuh di antara kerumunan mahasiswa yang lebih tua. Rambut hitam panjang lurusnya tergerai indah di punggung, kulit putih mulusnya bersinar di bawah cahaya lampu. Payudaranya yang kencang berukuran C-cup tersembunyi rapi di balik atasan crop top hitam sederhana, dipadukan rok jeans pendek yang menonjolkan pinggul lebarnya. Wajah imut tipe girl next door membuat banyak cowok melirik, tapi Nadia selalu menunduk malu.
1594Please respect copyright.PENANAeUjBCB3I3p
“Eh, lo Nadia kan? Yang semester 4 jurusan Sastra?” Suara berat yang karismatik menyapa tiba-tiba.
1594Please respect copyright.PENANAnrErvuDRBL
Nadia menoleh. Di depannya berdiri seorang pria tinggi, 182 cm, dengan senyum miring yang membuat jantungnya berdegup kencang. Reyhan. Semua orang di kampus tahu siapa dia — ketua geng yang disegani sekaligus ditakuti. Badan atletisnya terbalut kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengan dan dada. Matanya tajam, penuh aura dominan.
1594Please respect copyright.PENANAX50KPKEVku
“I-iya, Kak,” jawab Nadia pelan, pipinya langsung memerah.
1594Please respect copyright.PENANAcSzbBPvSBj
Reyhan tersenyum lebar, tangannya dengan santai menyentuh bahu Nadia. Sentuhan itu ringan, tapi ada kekuatan tersembunyi di baliknya. “Panggil Rey aja. Malam ini pesta gue. Lo datang sendirian?”
1594Please respect copyright.PENANA5JdIEkJhGA
Sebelum Nadia sempat menjawab, dua teman Reyhan sudah mendekat. Dika yang bertubuh besar seperti beruang, Farel yang ganteng bersih dengan senyum licik, dan Bagas yang tersenyum ramah tapi matanya penuh nafsu. Mereka mengelilingi Nadia seperti serigala mengitari domba kecil.
1594Please respect copyright.PENANAyjpj8BKFMz
Mereka mengajak Nadia ke pojok VIP yang lebih sepi. Musik masih terdengar, tapi suasana di sana lebih intim. Reyhan menyodorkan segelas cocktail merah menggoda. “Minum dulu biar rileks. Ini spesial buat cewek cantik kayak lo.”
1594Please respect copyright.PENANAiQsdgdaqxO
Nadia ragu. Ia hampir tidak pernah minum alkohol. Tapi tatapan Reyhan yang intens dan tekanan dari teman-temannya membuatnya menyerah. Cairan itu manis di lidah, ada sedikit rasa pahit yang aneh, tapi Nadia mengabaikannya. Panas mulai merayap di perutnya setelah beberapa teguk. Tubuhnya terasa hangat, kulitnya sensitif. Setiap kali Reyhan menyentuh lengannya, getaran kecil menjalar ke bawah.
1594Please respect copyright.PENANAqFcXCe3s2t
“Lo imut banget, Nad,” bisik Reyhan di telinganya. Napas hangat pria itu menyapu daun telinga Nadia. “Kulit lo halus. Pasti enak disentuh.”
1594Please respect copyright.PENANAW82fk8vmPb
Nadia menggigit bibir. Ia merasa pusing, tapi juga anehnya… basah. Sesuatu di dalam dirinya berdenyut pelan. “Kak… aku pulang dulu ya,” gumamnya lemah.
1594Please respect copyright.PENANAKkCDiH1Hc4
Reyhan tertawa pelan. “Belum boleh. Malam masih panjang.” Ia merangkul pinggang Nadia, tangannya turun sedikit ke pinggul lebar gadis itu, meremas pelan. Nadia tersentak, tapi obat perangsang yang sudah bercampur di darahnya membuat lututnya lemas. Sensasi panas menyebar dari perut ke dada, membuat puting (putingnya) mengeras di balik bra tipis.
1594Please respect copyright.PENANAVHT1Rv3kwS
Mereka membawa Nadia keluar aula tanpa perlawanan berarti. Mobil Reyhan yang mewah meluncur ke arah villa di pinggir kota. Sepanjang perjalanan, tangan Reyhan tak lepas dari paha Nadia. Jari-jarinya naik turun, semakin dekat ke rok jeans pendek itu. Nadia bernapas cepat, pikirannya berkabut. “Ini salah… aku harus pulang,” batinnya, tapi tubuhnya justru merespons. Celana dalamnya sudah lembab.
1594Please respect copyright.PENANA8XAELg7nAs
Sesampainya di villa mewah yang terpencil, pintu ditutup dengan keras. Lampu redup menyala. Reyhan mendorong Nadia ke sofa empuk. Gadis itu jatuh terduduk, napasnya tersengal.
1594Please respect copyright.PENANATlELKYLGx6
“Rey… Kak, please… aku mau pulang,” pinta Nadia dengan suara gemetar. Matanya berkaca-kaca.
1594Please respect copyright.PENANAB2rfMX7mzj
Reyhan berlutut di depannya, tangan besarnya memegang kedua lutut Nadia dan membukanya perlahan. “Lo sudah minum obat spesial tadi, Nad. Tubuh lo sekarang haus. Lihat, lo sudah basah kan?”
1594Please respect copyright.PENANAk7y4iBNlmm
Ia mengangkat rok Nadia, menatap celana dalam putih yang sudah tembus basah. Bau manis tubuh gadis polos itu memenuhi udara. Reyhan menunduk, mencium paha dalam Nadia yang mulus. Lidahnya menjilat pelan, meninggalkan jejak basah dan panas. Nadia menggeliat, tangannya mencoba mendorong kepala Reyhan, tapi tenaganya lemah.
1594Please respect copyright.PENANAH7HbIsYt1p
“Jangan… ahh…” erangnya pelan. Sensasi lidah Reyhan membuat memek pink-nya berdenyut kuat. Cairan hangat mulai meleleh lebih banyak.
1594Please respect copyright.PENANAGDqR1a6xAs
Dika, Farel, dan Bagas berdiri mengelilingi, tersenyum puas. Farel sudah mengeluarkan ponsel, mulai merekam dengan diam-diam. “Cantik banget ekspresinya,” gumam Farel.
1594Please respect copyright.PENANA0II6XKnNH3
Reyhan menarik celana dalam Nadia ke samping. Jarinya menyentuh bibir memek yang rapat dan pink itu, mengusap naik-turun pelan. Setiap gesekan membuat Nadia tersentak. kristoriskecil di atasnya sudah membengkak, sangat sensitif. Reyhan menekan kristorisitu dengan ibu jempol, memutar pelan.
1594Please respect copyright.PENANAyXtdJb16oI
“Aaahh! Kak… sakit… enak… ahh!” Nadia tak bisa mengontrol suaranya. Air mata mengalir di pipinya, campuran malu dan kenikmatan yang aneh. Tubuhnya yang sangat responsif mulai gemetar. Kakinya yang putih mulus terbuka lebar, jari kakinya menekuk.
1594Please respect copyright.PENANAAC5ghsxXVu
Reyhan tertawa rendah. “Lihat ini, bro. Memeknya sudah banjir. Lo emang slut alami, Nad.” Ia memasukkan satu jari ke dalam, merasakan dinding hangat yang ketat dan berdenyut. Nadia melengkungkan punggung, payudaranya naik-turun cepat.
1594Please respect copyright.PENANAURBFX7yz4g
Bagas mendekat, tangannya meremas payudara kencang Nadia dari atas baju. “putingnya keras banget.” Ia mencubit pelan melalui kain, membuat Nadia menjerit kecil. Sensasi sakit bercampur nikmat membuat otaknya berkabut semakin parah.
1594Please respect copyright.PENANAbvXll9KAT9
Reyhan menambah satu jari lagi, mengaduk-aduk di dalam dengan ritme lambat tapi dalam. Suara basah “slosh… slosh…” terdengar jelas di ruangan sunyi. Cairan Nadia menetes ke sofa. Bau tubuh perempuan muda yang terangsang memenuhi udara, bercampur aroma parfum Reyhan yang maskulin.
1594Please respect copyright.PENANAWVV0zwadC1
“Lo suka ya? Bilang jujur,” bisik Reyhan sambil mempercepat gerakan jarinya. Ibu jempolnya terus memijat kristorisNadia tanpa henti.
1594Please respect copyright.PENANAvukcCNQVSM
Nadia menggeleng lemah, tapi pinggulnya justru bergerak maju mundur mengikuti jari Reyhan. “Ti… tidak… ahh… Kak Rey… pelan… aku mau… mau keluar…”
1594Please respect copyright.PENANAmgWRCzPgam
Reyhan tersenyum kejam. Ia menarik jarinya keluar tiba-tiba, meninggalkan Nadia menggantung di ambang klimaks. Gadis itu menangis frustrasi, kakinya gemetar hebat. “Belum boleh keluar. Lo harus minta dulu dengan manis.”
1594Please respect copyright.PENANApaocRS1Xt5
Farel mendekat, tangannya memegang dagu Nadia, memaksa gadis itu menatap kamera ponsel. “Katakan, ‘Aku haus kontol Kak Rey’.”
1594Please respect copyright.PENANA54E2oqJ2i4
Nadia menggigit bibir hingga berdarah kecil. Air matanya mengalir deras. Tapi obat dan sensasi di tubuhnya terlalu kuat. Suaranya pecah saat berbisik, “Aku… haus… kontol Kak Rey…”
1594Please respect copyright.PENANAHTfHz2ROeH
Reyhan membuka resleting celananya. kontolnya yang 19 cm tebal melompat keluar, sudah berdenyut keras, ujungnya mengkilap. Bau maskulin kuat menyengat hidung Nadia. Reyhan mengusapkan kepala kontol itu ke bibir memek Nadia yang basah, menggesek naik-turun tanpa memasukkan.
1594Please respect copyright.PENANA8UJQMswE4Z
Sensasi panas dan tebal itu membuat Nadia hampir gila. Ia merasa kosong, haus diisi. Pinggulnya bergerak sendiri mencoba menelan.
1594Please respect copyright.PENANAX0jy2gNgA7
“Bagus. Sekarang minta dengan benar,” perintah Reyhan sambil menampar pelan paha Nadia. *Plak!*
1594Please respect copyright.PENANAM0KKqcGXZi
“Ahh!” Nadia tersentak. Rasa panas dari tamparan menyebar. “Masukkan… please… kontol Kak Rey… aku butuh…”
1594Please respect copyright.PENANAGbv8xFSwbX
Reyhan mendorong pelan. Hanya kepala kontolnya yang masuk, meregang dinding memek Nadia yang sempit. Gadis itu menjerit, campuran sakit dan nikmat luar biasa. Tubuhnya meregang, bergetar hebat. Kakinya menggantung di udara, gemetar tak terkendali.
1594Please respect copyright.PENANAfy9Z1NXYbv
Reyhan berhenti di situ, hanya menggerakkan pinggulnya sedikit, menggoda. “Malam ini baru permulaan, Nad. Lo akan jadi milik kami berempat.”
1594Please respect copyright.PENANAbatVU9TqcI
Nadia menangis tersedu, tapi memeknya berdenyut kuat menggenggam kepala kontol Reyhan. Cairan bening terus mengalir keluar, membasahi paha dan sofa. Pikirannya berantakan — malu, takut, tapi juga ada kenikmatan gelap yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
1594Please respect copyright.PENANAbZlpf0ZKnv
Di luar villa, angin malam berhembus dingin. Tapi di dalam, api sudah menyala. Malam itu baru permulaan dari kehancuran sekaligus kebebasan baru bagi Nadia Putri.
1594Please respect copyright.PENANAsh0QM29ZdI


