Malam itu kami berdua hampir tidak tidur. Setelah creampie ketiga, Yunita masih menggeliat di pelukanku, memeknya yang penuh sperma masih sesekali mengejang pelan di sekitar kontolku yang mulai lembek. Dia menciumi dada ku, lidahnya menjilat keringatku sambil berbisik nakal.
“Aku masih basah banget, Bayu… besok sore aku mau yang lebih gila. Aku mau kamu ajarin anal. Aku udah siapin lubang pantatku buat kamu.”
Aku hanya bisa mengangguk sambil meremas pantatnya yang masih memerah bekas tamparan. Kami mandi lagi bersama, saling sabun, saling sentuh, tapi kali ini lebih pelan — seperti janji untuk esok hari.
Keesokan sorenya, jam empat tepat, HP-ku bergetar lagi.
Yunita: “Pintu belakang terbuka. Langsung masuk. Aku nunggu di kamar.”
Aku datang dengan jantung berdegup lebih kencang dari kemarin. Rumah masih sepi. Orang tuanya katanya baru pulang besok malam. Aku masuk lewat pintu belakang, naik ke lantai dua tanpa suara.
Begitu membuka pintu kamar Yunita, pemandangan itu langsung membuat kontolku ngaceng keras.
Yunita berlutut di tengah kasur, hanya memakai lingerie hitam tipis yang super seksi. Bra push-up yang membuat payudaranya terlihat lebih besar dan menyembul, thong kecil yang nyaris tak menutupi apa-apa. Rambutnya dikuncir tinggi, bibirnya merah mengkilap. Di sampingnya ada botol baby oil dan handuk kecil.
“Aku sudah nunggu dari jam tiga,” katanya sambil tersenyum genit. “Memekku udah banjir dari tadi. Pantatku juga… aku sudah colmek pelan di lubang belakang sambil bayangin kontol gede kamu.”
Dia merangkak mendekat ke pinggir kasur, membalik badan, lalu mengangkat pantatnya tinggi-tinggi sambil menekuk punggung. Thong-nya ditarik ke samping. Dua lubangnya terpampang jelas di depanku: memeknya sudah mengkilap cairan, dan lubang pantatnya yang kecil, pink, dan berkedut pelan karena nervous sekaligus excited.
“Ajarin aku, Bayu… rusak pantat tetangga binal kamu ini.”
Aku melepas baju, kontolku sudah keras maksimal. Aku naik ke kasur, meraih baby oil, lalu menuang banyak-banyak ke celah pantatnya. Minyak mengalir turun, membasahi memek dan lubang pantatnya yang berkedut. Aku gosok-gosok kepala kontolku di sana, menggoda lubang belakangnya pelan.
“Pelan dulu ya…” bisikku.
Yunita mengangguk cepat, napasnya sudah tersengal. Aku tekan pelan. Kepala kontolku masuk sedikit, lubangnya sangat sempit dan panas.
“Ahh… sakit… tapi enak…” erangnya. “Terus… jangan berhenti…”
Aku dorong perlahan, senti demi senti. Yunita mencengkeram sprei kuat-kuat, tubuhnya gemetar. Setengah kontolku akhirnya masuk. Aku diam di situ, memberinya waktu menyesuaikan sambil tanganku meraih ke depan, mengusap klitorisnya yang bengkak.
“Uhh… penuh… pantatku penuh kontol Bayu…” desahnya.
Aku mulai gerak pelan. Keluar-masuk perlahan. Setiap kali masuk lebih dalam. Yunita mulai mendesah semakin keras, pinggulnya mulai bergerak mundur sendiri, meminta lebih.
“Lebih cepat… aku suka… entot pantatku lebih keras!”
Aku pegang pinggulnya, lalu mulai mengocok lebih cepat. Plok-plok basah minyak dan cairan memenuhi kamar. Payudaranya bergoyang liar di bra push-up. Aku tarik tali thong-nya sampai ke samping, lalu tampar pantatnya keras.
“Plak! Plak! Plak!”
“Kamu suka ya jadi pelacur anal tetangga?” tanyaku kasar.
“Iya… aku pelacur kamu… lubang pantatku milik kamu… aaahh! Dalemin!”
Aku tarik rambutnya ke belakang, membuat punggungnya melengkung. Kontolku sekarang masuk hampir sepenuhnya. Aku entot pantatnya dengan ritme kuat. Yunita orgasme pertama dari anal — tubuhnya kejang hebat, memeknya muncrat ke kasur meski kontolku ada di pantat.
“Aku cum… dari pantat… Bayuuu!!”
Aku keluarkan kontolku, balik badannya, lalu masukkan lagi ke memeknya yang banjir. Aku entot dia keras dalam posisi missionary sambil ciuman liar. Setelah itu aku angkat kedua kakinya ke bahuku, fold her, dan tusuk sangat dalam.
Kami pindah ke doggy lagi, tapi kali ini aku bergantian: memek → pantat → memek lagi. Yunita sudah tidak waras. Dia menjerit, menggigit bantal, memohon creampie.
“Aku mau cum di pantatmu…”
“Ya… isi pantatku… cum di dalam lubang belakangku, Bayu!!”
Aku hantam beberapa kali terakhir lalu menyembur deras di dalam pantatnya. Sperma panas memenuhi lubang sempit itu sampai meluber keluar. Yunita orgasme lagi, tubuhnya ambruk ke kasur sambil gemetar hebat.
Tapi dia belum puas.
Kami istirahat sebentar, minum air, lalu ronde kedua dimulai di balkon kamarnya saat matahari hampir terbenam. Angin sore meniup tubuh telanjang kami. Yunita membungkuk di pagar balkon, aku entot dia dari belakang sambil tanganku menutup mulutnya agar tidak terlalu keras menjerit. Risiko tetangga melihat membuat semuanya semakin panas.
Setelah itu kembali ke kamar. Ronde ketiga lebih lambat, lebih intim. Aku entot dia sambil berbaring menyamping, satu tanganku meremas payudaranya, tangan lain mengusap klitorisnya. Kami berciuman panjang sambil kontolku keluar-masuk pelan di memeknya yang sudah penuh sperma.
“Aku mau jadi milik kamu sepenuhnya,” bisik Yunita di sela desahan. “Tiap sore, tiap malam kalau rumah sepi… kamu boleh pakai aku sesuka hati. Aku sex slave tetangga kamu.”
Aku creampie lagi di memeknya untuk penutup. Sperma kami bercampur, mengalir deras ke kasur.
Kami berpelukan lemas, keringat bercampur, napas tersengal. Yunita mengusap pantatnya yang bengkak dan memerah, tersenyum puas.
“Besok… aku mau di garasi mobil. Aku mau kamu entot aku di atas kap mobil papa sambil orang tua kita mungkin lagi ngobrol di depan rumah.”
Dia menatapku dengan mata masih penuh api.
“Kamunya berani nggak, Bayu?”
"Tentu" Jawabku dengan tegas.2886Please respect copyright.PENANAMo5YWEpaUM
2886Please respect copyright.PENANA87pcJJGcFw
Pagi harinya aku bangun dengan tubuh pegal tapi kontolku sudah setengah keras lagi hanya mengingat malam kemarin. Pantat Yunita yang sempit, creampie di dalam lubang belakangnya, jeritannya yang tertahan di balkon… semuanya masih terasa nyata. HP-ku bergetar saat aku sedang sarapan.
Yunita: “Orang tua kita lagi ngobrol di teras depan rumah kamu. Mereka bilang mau masak bareng malam ini. Tapi garasi belakang rumah aku kosong. Pintu garasi terbuka sedikit. Datang jam 3 sore. Aku sudah basah dari sekarang.”
Aku menelan ludah. Risikonya gila. Orang tua kami sedang di depan rumah, tapi dia malah mengajak di garasi yang hanya berjarak beberapa meter. Tapi nafsuku sudah terlalu kuat.
Jam tiga sore tepat, cuaca masih panas menyengat. Aku menyelinap lewat samping rumah, masuk ke garasi Yunita melalui pintu belakang. Garasi itu cukup luas, ada mobil Avanza papa Yunita di tengah, sepeda motor, dan tumpukan kardus di sudut. Lampu garasi dimatikan, hanya cahaya sore yang masuk dari celah pintu garasi yang sengaja hanya dibuka 30 cm.
Yunita sudah menunggu di atas kap mobil yang masih hangat terkena matahari. Dia hanya memakai tanktop hitam ketat tanpa bra dan rok denim super pendek. Rambutnya diikat ponytail tinggi. Begitu melihatku, dia langsung merangkak ke pinggir kap mobil, membuka kakinya lebar, dan menarik roknya ke atas. Tidak ada celana dalam. Memeknya sudah mengkilap cairan yang menetes ke kap mobil.
“Aku udah nunggu dari jam dua,” bisiknya sambil menggigit bibir. “Tiap kali denger suara papa kamu ngobrol di depan, memekku semakin banjir. Cepat, Bayu… entot aku di sini. Aku mau kasar.”
Aku langsung mendekat, membuka resleting celana. Kontolku sudah ngaceng keras. Aku gosok-gosok kepalanya di bibir memek Yunita yang licin, lalu mendorong masuk sekaligus sampai pangkal.
“Uhhggg… besar… dalem banget…” erangnya pelan, berusaha menahan suara.
Aku mulai mengocok cepat. Plok-plok-plok basah terdengar jelas di garasi yang sepi. Payudaranya bergoyang-goyang di dalam tanktop. Aku tarik tanktopnya ke atas, menghisap putingnya keras sambil terus menghantam memeknya. Setiap hentakan, mobil di bawah tubuhnya bergoyang pelan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di luar garasi. Suara papa Yunita dan papa ku sedang berjalan ke arah belakang rumah sambil ngobrol.
“…Ya, mobilnya lagi dicuci Yunita katanya. Eh, pintu garasinya kok agak terbuka?”
Jantungku hampir copot. Yunita malah tersenyum nakal, memeknya mencengkeram kontolku lebih erat. Dia berbisik di telingaku, “Jangan berhenti… entot aku lebih dalam.”
Aku menutup mulutnya dengan tangan sambil terus mengocok pelan tapi kuat. Suara plok-plok masih terdengar, tapi tertutup oleh obrolan mereka di luar. Keringat kami berdua bercucuran. Yunita orgasme pertama di atas kap mobil sambil menggigit jemariku kuat-kuat, tubuhnya kejang hebat, cairannya muncrat ke kap mobil yang mengkilap.
Begitu langkah kaki menjauh, aku tarik kontolku keluar, balik badannya, dan dorong lagi dari belakang. Doggy style di atas kap mobil. Aku tarik ponytail-nya seperti tali kekang, tampar pantatnya keras berulang kali sampai memerah.
“Plak! Plak! Plak!”
“Kamu emang gila ya? Hampir ketahuan bapak kita,” desisku kasar.
“Iya… aku pelacur gila kamu… entot aku lebih keras… aku mau cum lagi!”
Aku hantam lebih cepat. Mobil bergoyang lebih keras. Aku basahi jempolku dengan ludah lalu masukkan ke lubang pantatnya yang masih agak longgar dari kemarin. Yunita menggeleng-geleng kepala karena kenikmatan ganda.
Kami pindah posisi. Aku duduk di kursi depan mobil yang pintunya terbuka, Yunita naik ke pangkuanku menghadap aku (cowgirl). Dia naik-turun liar, payudaranya bergoyang di depan mukaku. Aku hisap putingnya bergantian sambil menampar pantatnya.
Tiba-tiba terdengar suara mama Yunita memanggil dari depan rumah, “Yunitaaa… kamu di mana? Tolong ambilin garam di dapur!”
Yunita malah semakin cepat naik-turun, memeknya menelan kontolku sampai pangkal setiap kali. “Jawab… cepat…” bisikku panik.
“Iya Ma… aku di garasi… lagi… ahh… lagi bersihin mobil!” jawabnya dengan suara yang hampir pecah karena nafsu.
Aku menutup mulutnya lagi dan menghantam dari bawah dengan kuat. Yunita orgasme kedua sambil menggigit bahuku kuat-kuat agar tidak menjerit. Memeknya mencengkeram kontolku seperti ingin memerahnya.
Aku angkat tubuhnya, baringkan di kap mobil lagi dalam posisi missionary. Kakinya aku buka lebar ke samping. Aku tusuk dalam-dalam sambil menatap matanya yang sudah berkaca-kaca karena kenikmatan.
“Aku mau creampie di sini,” desisku.
“Isi memekku… cum di dalam… biarin spermamu netes-netes pas aku ketemu orang tua nanti…”
Aku menyembur deras di dalam memeknya. Sperma panas memenuhi rahimnya sampai meluber keluar dan menetes ke kap mobil. Yunita orgasme ketiga bersamaku, tubuhnya gemetar hebat.
Kami diam beberapa detik, napas tersengal. Aku cepat-cepat membersihkan kap mobil dengan lap sementara Yunita merapikan bajunya yang berantakan. Sperma masih menetes pelan dari memeknya ke paha dalamnya.
Baru saja kami selesai, pintu garasi didorong lebih lebar. Papa Yunita muncul.
“Eh, Bayu? Kamu lagi bantuin Yunita bersihin mobil ya?”
Aku berusaha biasa, meski jantungku mau meledak. “Iya, Om. Keran kemarin masih bermasalah, jadi sekalian bantu bersihin.”
Yunita berdiri di belakangku, wajahnya merah, tapi tersenyum manis. “Makasih ya, Bayu. Nanti sore kalau ada waktu, tolong bantu lagi di… dalem rumah.”
Papa Yunita mengangguk tanpa curiga dan pergi.
Begitu kami sendirian lagi, Yunita mendekat, meremas kontolku yang masih basah dari luar celana.
“Malam ini… aku mau di kamar aku dengan pintu sedikit terbuka. Aku mau kamu entot aku sambil denger suara orang tua kita ngobrol di ruang tamu. Berani?”
Dia menjilat bibirnya, matanya penuh api yang semakin gila.
“Aku sudah nggak bisa berhenti lagi, Bayu. Aku mau kamu rusak aku setiap hari.”
ns216.73.216.134da2


