Panas sore itu seperti selimut tebal yang menempel di kulit. Jam menunjukkan pukul empat lewat, tapi matahari masih ganas. Udara lembab membuat segalanya lengket. Kompleks perumahan sepi sekali. Kebanyakan rumah tetangga pintunya tertutup rapat — orang-orang sedang libur akhir pekan atau masih terjebak di kemacetan pulang kerja.
Aku, Bayu, 24 tahun, hanya mengenakan kaos oblong abu-abu yang sudah basah keringat di dada dan punggung, serta celana pendek hitam yang longgar tapi mulai terasa sesak di selangkangan karena pikiran yang tak bisa kuhentikan. Aku rebahan di sofa ruang tamu, HP di tangan, tapi mataku kosong. Sudah hampir setahun ini aku berperang dengan diri sendiri.
Yunita.
Anak tetangga sebelah rumah. Umur 21 tahun. Kulitnya putih mulus seperti susu, rambut hitam panjang bergelombang, dan tubuh yang… Tuhan, tubuh itu seperti diciptakan untuk menyiksa. Payudaranya besar, montok, dan selalu bergoyang pelan setiap dia berjalan. Pinggulnya lebar, pantatnya bulat kencang. Dia tahu persis efek yang ditimbulkannya padaku.
Tiap pagi dia jogging pakai sports bra ketat dan hotpants yang nyaris tak menutupi apa-apa. Tiap sore dia “kebetulan” mencuci mobil dengan tanktop putih yang basah, putingnya jelas terlihat. Malam hari, jendela kamarnya yang menghadap kamarku selalu terbuka sedikit. Aku sering mendengar erangan pelannya — “Bayu… ahh… lebih dalam…” — sambil dia colmek. Aku tahu itu sengaja. Tapi aku selalu menahan diri. Orang tua kami berteman dekat. Kalau ketahuan, skandal besar.
Sampai sore itu.
HP-ku bergetar. Nama “Yunita Tetangga” muncul di layar.
Aku mengangkat setelah dering ketiga, berusaha suaraku biasa.
“Halo?”
“Bayuuu…” suaranya manja, agak terengah-engah seperti baru lari. “Tolong… keran air dapur jebol parah. Airnya muncrat ke mana-mana. Rumah aku sudah banjir. Aku sendirian, papa mama ke luar kota sejak kemarin, kakak lembur malam. Kamu jago benerin beginian kan? Please… cepetan ya…”
Jantungku langsung berdegup kencang. Ada nada aneh di suaranya. Terlalu manja. Terlalu… lapar.
“Oke. Aku ke sana sekarang.”
Aku berdiri, mengusap wajah. Kontolku sudah setengah keras hanya karena mendengar suaranya. Aku berjalan ke rumah sebelah, pintu depan sudah terbuka sedikit.
Begitu aku mendorong pintu, serangan itu datang.
Yunita berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang jelas-jelas dirancang untuk menghancurkan kendaliku. Tanktop putih tipisnya basah kuyup, menempel sempurna ke tubuhnya. Tanpa bra. Dua payudaranya yang besar dan berat terlihat jelas, puting cokelat mudanya mengeras menonjol seperti dua titik undangan. Rok jeans pendeknya hanya menutupi sepertiga pantatnya yang bulat dan kencang. Rambutnya basah acak-acakan, bibirnya mengkilap lipgloss merah muda, dan matanya… matanya tidak lagi genit biasa. Matanya gelap penuh nafsu.
“Masuk,” bisiknya sambil menggigit bibir bawah. Dia memutar tubuh pelan, pantatnya bergoyang menggoda saat aku mengikutinya masuk. Aroma langsung menyerang: parfum vanila manis, keringat segar, dan bau memek yang sudah basah. Wangi yang membuat kepalaku pusing.
Dapur sudah seperti danau kecil. Air menyembur deras dari keran. Lantai keramik licin mengkilap.
Aku jongkok di depan wastafel, basah dalam hitungan detik. Yunita berdiri tepat di belakangku. Payudaranya yang empuk sengaja menempel di punggungku setiap kali aku bergerak. Napasnya panas di tengkuk.
“Bayu…” bisiknya tepat di telinga. “Aku bohong soal keran.”
Tubuhku membeku.
“Aku sengaja jebolin tadi siang,” lanjutnya, suaranya bergetar. “Aku capek nunggu. Setahun ini aku gila sama kamu. Tiap malam aku colmek sambil bayangin kontol kamu ngebor memekku. Aku liat kamu di teras, kontolku… eh, memekku langsung banjir. Aku mau kamu sekarang, Bayu. Aku nggak peduli lagi.”
Tangannya merayap ke depan celanaku, meremas batangku yang sudah keras maksimal dari luar kain. Aku berbalik cepat, mendorongnya ke meja dapur dengan kasar. Ciuman kami meledak. Lidah kami saling menjilati rakus, air liur bercampur. Aku menyingsing tanktopnya. Dua payudara besar itu melompat keluar, berat, lembut, hangat. Aku menghisap puting kirinya kuat-kuat, menggigit pelan, menjilat areolanya yang halus sambil tangan kananku meremas payudara satunya, memilin putingnya.
“Ahh… iya… gigit lebih keras, Bayu… aku suka yang kasar,” erangnya sambil menekan kepalaku ke dadanya. Aroma payudaranya manis asin keringat membuatku semakin gila.
Aku menarik roknya ke pinggang. Tidak ada celana dalam. Memeknya sudah sangat basah, bibirnya mengembang merah muda mengkilap, klitoris bengkak. Aku memasukkan dua jari, lalu tiga, mengaduk pelan tapi dalam sambil ibu jariku menekan klitorisnya.
“Uhh… dalemin… aduk memek tetangga kamu yang sange ini…” desahnya. Suara byor-byor basah terdengar mesum di dapur sepi.
Yunita orgasme pertama dengan hebat. Tubuhnya kejang, memeknya mencengkeram jariku, cairannya muncrat kecil ke lantai.
Aku berdiri, menurunkan celana. Kontolku melompat keluar, tebal, berurat, kepala sudah basah precum. Yunita berlutut di lantai basah, matanya berbinar. Dia langsung melahapnya. Mulutnya panas dan basah. Lidahnya menjilati setiap urat, tangannya memompa pangkal yang tak muat masuk. Dia deepthroat sampai tenggorokannya bergetar, air liurnya menetes ke payudaranya.
“Gluk… gluk… gluk…” suara mesum itu menggema.
Aku angkat dia ke meja, buka kakinya lebar, lalu mendorong kontolku masuk perlahan sampai pangkal.
“AAHHH… besar… enak banget… isi memekku penuh…” jeritnya.
Aku mulai mengocok. Lambat dulu, menikmati setiap senti. Lalu semakin cepat. Plok-plok-plok basah memenuhi ruangan. Payudaranya bergoyang liar. Aku menghisap putingnya bergantian sambil terus menghantam.
Dia orgasme kedua sambil mencakar punggungku.
Kami pindah ke sofa ruang tamu. Yunita naik ke pangkuanku (cowgirl), memeknya menelan kontolku sampai pangkal. Dia naik-turun liar, pantatnya menampar paha ku. Aku menampar pantatnya keras berulang kali sampai memerah.
“Kamu emang pelacur ya?” bisikku kasar.
“Iya… pelacur rahasia kamu… entot aku tiap rumah sepi… aaahh! Tampar lagi!”
Kami naik ke kamar tidurnya di lantai dua saat langit mulai jingga. Di kasur king-size yang empuk, aku entot dia missionary dalam-dalam sambil ciuman. Lalu doggy style — aku tarik rambutnya, tampar pantatnya. Lalu prone bone, tubuhku menindihnya sepenuhnya, kontolku menusuk sangat dalam.
Yunita orgasme ketiga sambil menjerit nama ku.
“Aku mau creampie…” desahku.
“Isi rahimku… cum di dalam… aku mau hamil sama tetangga aku sendiri…” pintanya sambil menggoyang pinggulnya.
Aku menyembur deras, panas, banyak. Sperma memenuhi memeknya sampai meluber keluar. Yunita gemetar hebat, orgasme bersamaku.
Kami tergeletak lemas. Tapi Yunita masih menggoyang pinggul pelan, memainkan kontolku yang masih setengah keras di dalam memeknya yang penuh.
“Belum selesai…” bisiknya nakal. “Mandi bareng yuk.”
Di kamar mandi, di bawah shower air hangat, dia membersihkan kontolku dengan mulutnya lagi. Lalu aku angkat satu kakinya, entot dia berdiri sambil menekannya ke dinding. Air membuat semuanya semakin licin. Aku creampie kedua di dalamnya di bawah guyuran shower.
Kembali ke kasur, ronde ketiga lebih lambat tapi lebih intim. Aku entot dia pelan sambil bisik kotor di telinganya. Yunita menceritakan semua fantasinya: mau di entot di balkon malam-malam, di garasi mobil, di mobilku, bahkan di teras belakang saat orang tua kami sedang ngobrol di depan.
“Aku mau jadi budak seks kamu, Bayu… semua lubangku milik kamu. Mulut, memek, pantat… kapan saja kamu mau.”
Akhirnya kami orgasme bareng lagi. Creampie ketiga yang tebal dan panas.
Kami berpelukan, tubuh lengket keringat dan cairan. Yunita mengusap perutnya yang sedikit buncit, tersenyum puas.
“Kerannya masih jebol lho,” katanya sambil tertawa kecil. “Besok sore… datang lagi ya? Kali ini ajarin aku anal. Aku mau kamu rusak semua lubang pelacur binal kamu ini.”
Dia mendekat, menjilat cuping telingaku pelan.
“Dan jangan pernah kasih ampun lagi.”
ns216.73.216.134da2


