3247Please respect copyright.PENANAXHQmZUPzEC
Bab 1: Pertemuan Pertama di Lantai Eksekutif
3247Please respect copyright.PENANAqoYGmLWZDx
Rina Pratiwi berdiri di depan cermin lift privasi yang mengarah langsung ke lantai 38. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa mau meledak. Rok pensil hitam yang dikenakannya terasa sangat ketat, memeluk pinggul lebar dan bokong montoknya dengan sempurna. Setiap langkah membuat rok itu naik sedikit, memperlihatkan paha putih mulusnya yang halus. Kemeja putih tipis menempel di tubuhnya, menekan payudara E-cup yang berat dan penuh. Dua kancing atas sengaja dibuka seperti instruksi email dari Pak Budi di HRD. Bra hitam tipis yang dipakainya hampir tak mampu menahan putingnya yang sudah mengeras karena dingin AC gedung.
3247Please respect copyright.PENANAJeHxeewbVe
“Ya Tuhan… apa yang aku lakukan?” gumam Rina pelan sambil menatap pantulan dirinya. Wajah cantiknya dengan bibir merah muda, mata besar yang polos, dan rambut hitam lurus sebahu terlihat pucat karena gugup. Usianya baru 23 tahun. Baru lulus STAN dengan nilai memuaskan, tapi dunia kerja ternyata jauh lebih kejam dari yang dibayangkan. Hutang ibunya Bu Siti yang menderita gagal ginjal sudah mencapai ratusan juta. Pinjol online yang dia pakai untuk biaya cuci darah semakin mencekik leher. Gaji sebagai sekretaris pribadi CEO ini adalah satu-satunya harapan.
3247Please respect copyright.PENANAqulio1EWbF
Lift berdenting. Pintu terbuka langsung ke ruang resepsionis pribadi lantai eksekutif. Seorang wanita cantik berusia sekitar 25 tahun — Karina, sekretaris senior — menyambutnya dengan senyum yang aneh, campuran ramah dan iri.
3247Please respect copyright.PENANAF7DPiFVAQi
“Rina Pratiwi? Mr. Alex sudah menunggu. Masuklah. Dan… saran dariku, jangan terlalu kaku. Bos kita suka yang patuh.” Karina mengedipkan mata, lalu berbisik pelan, “Tubuhmu bagus. Pasti dia suka.”
3247Please respect copyright.PENANARAH5StWhcb
Rina hanya bisa mengangguk gugup sebelum berjalan menuju pintu ganda kayu mahoni yang megah. Ia mengetuk pelan.
3247Please respect copyright.PENANA8d0TBk8Asb
“Masuk.”
3247Please respect copyright.PENANAiEtGkULUPu
Suara itu rendah, berwibawa, dan langsung membuat bulu kuduk Rina berdiri. Ia mendorong pintu.
3247Please respect copyright.PENANA3xiMBuycGI
Ruangan itu luas sekali. Dinding kaca dari lantai ke langit-langit memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang sibuk di bawah sana. Meja kerja besar dari kayu hitam mengkilap berada di tengah. Di belakangnya berdiri Mr. Alex Wiratama — pria 38 tahun yang terlihat seperti dewa bisnis. Tinggi 185 cm, tubuh atletis dengan bahu lebar dan pinggang ramping. Kemeja putihnya menempel sempurna di dada bidang dan lengan berotot. Wajahnya tampan matang, rahang tegas, mata tajam, dan rambut hitam yang disisir rapi. Aroma cologne mahalnya langsung memenuhi indra penciuman Rina.
3247Please respect copyright.PENANAKJNk5An2w9
Alex menatap Rina dari atas ke bawah tanpa malu. Matanya berhenti lama di payudara besar gadis itu, lalu turun ke pinggul lebar dan kaki jenjangnya.
3247Please respect copyright.PENANAlver1h7BY6
“Rina Pratiwi,” katanya sambil tersenyum tipis. “Duduk.”
3247Please respect copyright.PENANA53ggbaKlTi
Rina duduk di kursi kulit di depan meja. Paha mulusnya saling menempel rapat, berusaha menutupi getaran yang mulai muncul.
3247Please respect copyright.PENANARjEXJpmXkl
Alex berjalan mendekat, berdiri tepat di samping kursinya. Tingginya membuat Rina harus mendongak. Pria itu mengulurkan tangan, pura-pura merapikan kerah kemeja Rina. Jari telunjuknya yang panas sengaja menyentuh kulit leher gadis itu, mengusap pelan ke bawah hingga ke tulang selangka.
3247Please respect copyright.PENANAvq3jtrO1Yo
“Kulitmu sangat putih dan mulus. Payudaramu juga… cukup besar. E-cup?” tanyanya langsung, suaranya tenang seolah sedang membahas cuaca.
3247Please respect copyright.PENANAAZGAs15HI9
Rina merasa wajahnya membara. “P-Pak… itu…”
3247Please respect copyright.PENANAUfjEQ9z5Dl
“Jawab saja.” Alex menekan bahu Rina pelan, memaksanya tetap duduk.
3247Please respect copyright.PENANASCo5dxEBGn
“I-iya, Pak… E-cup,” jawab Rina hampir berbisik. Memeknya yang masih perawan dan rapat tiba-tiba terasa hangat dan sedikit basah. Ia malu sekali.
3247Please respect copyright.PENANAt69558eotE
Alex tertawa pelan, suara berat yang membuat perut Rina melilit. “Bagus. Aku suka sekretaris yang… lengkap. Sekarang ceritakan tentang dirimu. Kenapa melamar posisi ini?”
3247Please respect copyright.PENANA8k8BVa5pmU
Rina mulai bercerita dengan suara gemetar. Tentang lulusan STAN, tentang ibunya yang sakit, tentang hutang yang menumpuk. Alex mendengarkan sambil sesekali menyentuh lengan Rina, pundaknya, bahkan sekali menyapu rambut gadis itu ke belakang telinga. Setiap sentuhan terasa seperti listrik.
3247Please respect copyright.PENANA3Qggaok4bi
“Jadi kamu putus asa,” simpul Alex. “Bagus. Orang putus asa biasanya lebih patuh.”
3247Please respect copyright.PENANA6qDkbK4BRe
Ia kembali ke kursinya, tapi kini memerintahkan Rina berdiri di sampingnya untuk mencatat jadwal. Saat Rina membungkuk sedikit untuk melihat layar komputer, rok pensilnya naik. Alex bisa melihat jelas garis celana dalam hitam tipis yang membungkus memek montok Rina.
3247Please respect copyright.PENANAbXuX4pizyA
“Rokmu terlalu panjang,” komentar Alex tiba-tiba. Tangannya terulur, merapikan rok Rina… tapi malah menariknya lebih ke atas hingga hampir sepertiga paha terbuka. Jari pria itu menyentuh kulit paha dalam Rina, naik perlahan mendekati selangkangan.
3247Please respect copyright.PENANAKq2qiy0jf7
“Pak…!” Rina tersentak, tapi tidak berani menjauh.
3247Please respect copyright.PENANAm3Q4OA9DTq
“Besok pakai yang lebih pendek. Dan jangan pakai bra. Aku mau melihat putingmu menonjol di balik kemeja saat kamu berjalan di kantor.” Alex berbisik di telinga Rina, napas panasnya menyapu daun telinga gadis itu. “Mengerti?”
3247Please respect copyright.PENANAG6VWPiufFD
Rina mengangguk lemah. Lututnya gemetar.
3247Please respect copyright.PENANAdosgqr1LS7
Sepanjang pagi, Alex sengaja menguji batas. Ia meminta Rina membungkuk berkali-kali untuk mengambil map di laci bawah meja. Setiap kali, pria itu berdiri di belakangnya, kontolnya yang sudah setengah tegang menekan bokong Rina pelan. Rina bisa merasakan panas dan ketebalan benda itu meski masih terbalut celana.
3247Please respect copyright.PENANAYTlw3Y0joO
Siang hari, saat membawakan kopi, Alex menarik Rina duduk di pangkuannya.
3247Please respect copyright.PENANAYPUn7bn5kF
“Duduk di sini sambil kita bahas laporan proyek villa di Bali.”
3247Please respect copyright.PENANAehDAUvU104
Rina duduk dengan gugup. Begitu pantat montoknya menyentuh pangkuan Alex, ia merasakan kontol pria itu yang sudah ngaceng keras menekan celah bokongnya. Besar sekali. Panas. Berdenyut pelan.
3247Please respect copyright.PENANAEhJljfPzXE
“Itu… kontol Bapak ya, Pak?” bisik Rina malu, suaranya bergetar.
3247Please respect copyright.PENANAxDQLostskj
“Ya. Sudah ngaceng dari tadi memikirkan memek perawanmu yang pasti sempit dan pink,” jawab Alex vulgar sambil merangkul pinggang ramping Rina. Tangan besarnya naik, meremas payudara kiri gadis itu dari luar kemeja. Ia meremas kuat, merasakan kenyal dan beratnya daging payudara muda itu.
3247Please respect copyright.PENANAQJQERwL8J3
“Aaahh… Pak… pelan…” erang Rina. Putingnya langsung mengeras menusuk kemeja.
3247Please respect copyright.PENANArADt85QLyM
Alex membuka dua kancing lagi, tangannya masuk ke dalam, menyentuh kulit telanjang payudara Rina. Jari-jarinya memilin puting cokelat muda yang sensitif, menarik pelan, memutar. Sensasi panas dan nyeri bercampur kenikmatan membuat Rina menggigit bibirnya kuat-kuat.
3247Please respect copyright.PENANAllDpORHpwe
“Basah belum memekmu?” tanya Alex sambil tangan satunya turun ke bawah rok. Ia menarik celana dalam Rina ke samping dengan kasar. Jari tengahnya langsung mengusap celah memek yang sudah banjir lendir bening.
3247Please respect copyright.PENANANVkvIQFqup
“Ngghh… Pak… jangan di situ…” Rina mencoba menutup kakinya, tapi Alex menahan paha gadis itu terbuka lebar.
3247Please respect copyright.PENANA0ntX6cmxui
Memek Rina sangat basah. Bibir memek pinknya yang rapat sudah mengembang, klitoris kecilnya membengkak. Alex mengusap klitoris itu dengan ibu jarinya perlahan, membuat Rina kejang kecil. Kemudian jari tengahnya mendesak masuk ke lubang sempit yang masih perawan.
3247Please respect copyright.PENANA7HPryKCokC
“Ketat sekali… Memek perawan ini belum pernah dimasuki kontol ya?” Alex memompa jarinya pelan, keluar masuk, sambil terus meremas payudara Rina dengan tangan satunya.
3247Please respect copyright.PENANAjAs4SumCYR
Rina sudah tidak bisa berpikir jernih. Tubuhnya panas. Kakinya gemetar hebat di atas pangkuan bosnya. Cairan memeknya menetes ke celana Alex.
3247Please respect copyright.PENANAmQzVJniNwR
“Pak… saya… mau keluar… aaahhh!!”
3247Please respect copyright.PENANABaTJ0yPPtZ
Orgasme pertama Rina datang dengan hebat. Tubuhnya mengejang, memeknya berdenyut kuat di sekitar jari Alex, squirt tipis menyembur membasahi telapak tangan pria itu. Air mata malu mengalir di pipinya.
3247Please respect copyright.PENANAzl2ZCzGAEA
Alex menarik jarinya, menjilat cairan Rina di depan gadis itu. “Manis. Rasa memek perawan. Besok aku mau lebih dari ini.”
3247Please respect copyright.PENANAZeisLmuDoi
Sore harinya, Alex memerintahkan Rina untuk tetap di ruangan sampai malam. Ia meminta gadis itu berlutut di bawah meja kerjanya sambil “membantu” membaca dokumen. Wajah Rina hanya beberapa senti dari kontol Alex yang sudah sangat tegang di balik celana. Aroma maskulin pria dewasa itu membuat kepala Rina pusing.
3247Please respect copyright.PENANADICWgic7J5
“Sentuh,” perintah Alex.
3247Please respect copyright.PENANAE81wVEoASH
Tangan Rina gemetar saat menyentuh tonjolan besar itu dari luar celana. Ia merasakan denyutan kuat, ketebalan yang gila, dan panjang yang tak masuk akal.
3247Please respect copyright.PENANA3ASlBhEm1U
“Ini akan masuk ke memekmu suatu hari nanti, Rina. Akan kuguncang sampai kamu lupa nama ibumu,” bisik Alex sambil mengelus rambut gadis itu seperti hewan peliharaan.
3247Please respect copyright.PENANAfu80HZn6YV
Malam tiba. Rina pulang ke apartemen kecilnya dengan tubuh lemas dan memek yang masih berdenyut. Bu Siti batuk-batuk di kamar. Daniel sedang belajar. Rina langsung masuk kamar mandi, melepas semua pakaiannya. Ia berdiri di depan cermin, melihat memeknya yang masih basah dan bengkak karena jari Alex.
3247Please respect copyright.PENANA7VrJpw9mm1
Ia menyentuh klitorisnya sendiri, membayangkan kontol besar bosnya. Tangan kirinya meremas payudara seperti yang dilakukan Alex tadi. Dalam hitungan menit ia orgasme lagi, kali ini lebih kuat, sambil berbisik nama bosnya.
3247Please respect copyright.PENANAouBAjlt4wA
“Pak Alex… kontol Bapak… mengguncang memekku…”
3247Please respect copyright.PENANAjVBZe6EVqw
Rina ambruk di lantai kamar mandi, napasnya tersengal. Ia tahu, ia sudah terjebak. Tapi entah kenapa, ketakutan itu bercampur dengan getaran aneh yang membuatnya basah lagi.
3247Please respect copyright.PENANAa4SMH1bhA5
Besok akan lebih intens.
3247Please respect copyright.PENANAhhjqVSwew3


