Malam sudah sangat larut, jarum jam di dinding kamar menunjukkan pukul 01.17 dini hari. AC kamar berhembus dingin, tapi tubuhku terasa panas seperti sedang demam. Aku berbaring telentang di ranjang king-size yang empuk, hanya memakai gaun tidur katun tipis berwarna krem yang sudah naik sampai pinggang. Suamiku, Andi, tidur pulas di sebelahku, mendengkur keras dengan mulut sedikit terbuka. Bau alkohol samar masih menempel di napasnya setelah minum-minum dengan rekan bisnis tadi malam. Dia tidak akan bangun meski aku menjerit sekeras mungkin.3835Please respect copyright.PENANA5HsAtXYf8w
Sudah hampir setahun ini ranjang kami seperti kuburan—dingin, sepi, dan tanpa gairah. Andi cuma bisa memasukkan kontolnya sebentar, keluar dalam waktu dua-tiga menit, lalu langsung balik tidur seperti orang mati. Sementara aku, Siska, 39 tahun, masih punya tubuh yang banyak pria idamkan: payudara besar dan berat yang masih kencang, pinggang ramping, pinggul lebar, pantat montok yang bergoyang setiap kali aku berjalan, dan memekku yang masih sempit, pink, dan selalu siap banjir kalau ada yang benar-benar bisa membangkitkan nafsuku.
Malam ini, nafsuku sudah meledak-ledak. Aku tidak bisa tidur. Memekku berdenyut-denyut sejak sore tadi, basah tanpa henti.
Semuanya gara-gara dia.
Irfan.
Pemuda baru yang pindah ke kompleks kemarin. Aku melihatnya di gym kompleks sore tadi saat aku pura-pura latihan yoga. Tubuhnya…Astaga, seperti idamanku. Tinggi, berotot sempurna, dada bidang yang berkeringat mengkilap di bawah lampu gym, perut six-pack yang terukir jelas, lengan tebal penuh urat, dan yang paling membuat lututku lemas adalah tonjolan besar di celana olahraga ketatnya. Kontolnya kelihatan tebal, panjang, dan berat bahkan saat tidak sepenuhnya tegang. Aku yakin sekali benda itu bisa memenuhi memekku sampai penuh, sampai dinding-dinding dalamku terasa terentang maksimal, sampai aku tidak bisa berjalan normal besok paginya.
Aku menggigit bibir bawahku keras-keras, tangan kananku pelan-pelan merayap turun ke bawah gaun tidur. Jari-jariku sudah menyentuh bibir memekku yang licin dan panas. Sudah sangat basah. Cairan beningku keluar tanpa henti, membasahi paha dalamku yang empuk. Aku membuka kaki sedikit lebih lebar di bawah selimut tebal, takut suamiku terbangun, tapi dia tetap mendengkur seperti mesin.
“Ya ampun… Irfan…” bisikku dalam hati, suaraku hampir tak terdengar. “Kamu baru pindah, tapi sudah bikin Aku sange gini. Memekku sudah banjir hanya karena ingat badanmu tadi sore. Nafsuku sampai kayak gadis remaja yang baru pertama kali lihat kontol gede.”
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan Irfan langsung muncul begitu jelas, seolah dia berdiri di depan ranjang ini sekarang. Dalam fantasi itu, Irfan tersenyum nakal sambil menatap tubuhku yang montok dari atas ke bawah.
“Tante Siska… tante montok sekali. Payudara tante besar dan berat banget, pantatnya empuk dan kenyal. Memek tante sudah basah ya? Tante haus kontol muda yang tebal, ya? Tante ingin Irfan jilati memek tante sampai tante menjerit?”
Aku mengangguk dalam pikiran, jari tengahku mulai menggosok klitorisku yang sudah membengkak dan sensitif. 3835Please respect copyright.PENANAnx75YTCxXz
“Iya, Irfan… tante sudah lama banget nggak disentuh yang bener. Suami tante cuma bisa ngentot sebentar lalu tidur. Kamu… kamu mau jilati memek tante dulu nggak? Tante pengen lidahmu yang panas dan basah itu menjilat klitorisku sampai tante squirt di mulut kamu. Tante mau kamu hisap cairan tante sampai tandas.”
Dalam fantasi, Irfan merangkak naik ke ranjang, tangan besar dan kasarnya meremas paha dalamku yang montok, lalu membuka kakiku lebar-lebar. Wajahnya turun ke memekku. Aku bisa merasakan napas hangatnya di bibir memekku yang licin. Lidahnya menjilat pelan dari bawah ke atas, menyapu seluruh cairan yang keluar, lalu berputar di klitorisku dengan gerakan memutar yang membuat seluruh tubuhku mengejang.
“Ahh… Irfan… jilati memek tante lebih dalam lagi… ya gitu… lidahmu enak sekali! Hisap klitorisku… ahh, lebih kuat! Jangan berhenti… tante mau cum di mulut kamu!” desahku dalam hati, jari-jari di memekku sekarang sudah dua sekaligus, menggerakkan masuk-keluar pelan sambil ibu jariku terus menggosok klitorisku.
Fantasi semakin panas. Irfan mengangkat wajahnya yang basah oleh cairanku, senyumnya penuh nafsu. “Memek tante enak banget,Tante Siska. Manis dan banyak cairannya. Sekarang tante hisap kontol Irfan dulu ya? Lihat ini… sudah tegang banget gara-gara memek tante.”
Dalam bayanganku, Irfan berdiri di depanku, menurunkan celana olahraganya. Kontolnya melompat keluar—tebal, panjang, berurat menonjol, ujungnya sudah basah oleh precum yang bening. Aku membayangkan aku meraihnya dengan dua tangan, merasakan panas dan denyutannya yang kuat. Mulutku membuka lebar, lidahku menjilat ujungnya dulu, mengecap rasa asin maskulin itu.
“Kontolmu tebal banget, Irfan… tante takut tapi pengen banget. Masukin ke mulut tante ya? Tante mau ngisep sampai tenggorokan penuh,” gumamku dalam fantasi.
Irfan memegang kepalaku pelan, kontolnya masuk pelan-pelan ke mulutku sampai batas tenggorokan. Aku mengisap kuat, lidahku berputar-putar di batangnya, tanganku meremas bola-bolanya yang berat dan penuh sperma. 3835Please respect copyright.PENANApxGRyC0ekl
“Enak, Tante Siska… mulut tante empuk dan hangat banget. Hisap lebih dalam lagi… ya gitu… tante jago ngisep kontol. Tante mau Irfan entot mulut tante kasar nggak?”
Aku mengangguk cepat dalam imajinasi. Irfan mulai menggerakkan pinggulnya, kontolnya keluar-masuk mulutku dengan ritme yang semakin cepat. Air liurku menetes-netes, bunyinya basah dan mesum. Aku merasakan memekku semakin banjir di dunia nyata—tiga jari sekarang aku masukkan sekaligus, menggerakkan cepat seperti sedang di-entot.
Tiba-tiba dalam fantasi Irfan menarik kontolnya, membalik tubuhku hingga aku berlutut di ranjang, pantat montokku terangkat tinggi, wajahku menempel bantal. 3835Please respect copyright.PENANAhufeZYCu4f
“Sekarang tante mau di-entot dari belakang ya? Memek tante sudah siap banget, basah dan menggoda. Tante mau kontol Aku yang gede ini masuk pelan dulu atau langsung keras?”
“Masukin pelan-pelan dulu, Irfan… ahh… gede banget… pelan… ya… lebih dalam… entot tante keras-keras sekarang! Tante mau diisi penuh sama kontol muda kamu! Tampar pantat tante! Tante mau jadi pelacur kamu malam ini!” jeritku dalam hati.
Irfan memegang pinggulku yang lebar, lalu menyodok kontolnya masuk dalam satu hentakan kuat. Memekku terasa penuh, terentang maksimal. Setiap dorongan membuat payudaraku bergoyang-goyang liar, pantatku bergetar, bunyi ketipak-ketipuk daging bertemu daging terdengar jelas. Dia menampar pantatku keras berkali-kali sampai memerah.
“Memek tante sempit dan enak banget,Tante Siska! Basah sekali… bunyinya enak… … tante suka ya dikentot kasar gini? Tante mau Aku creampie memek tante berulang kali?”
“Iya, Irfan! Entot tante lebih keras! Lebih dalam! Tante mau squirt di kontolmu! Isi memek tante penuh sperma panas kamu… ahh… sekarang… tante mau cum!”
Aku membayangkan dia menghunjam tanpa ampun, kontolnya keluar-masuk cepat. Dalam dunia nyata, jari-jari aku gerakkan secepat mungkin, tubuhku mengejang hebat. Orgasme pertama datang seperti gelombang tsunami. Memekku menyembur cairan hangat yang deras, membasahi tanganku sampai pergelangan, membasahi sprei, dan bahkan sedikit mengenai paha suamiku. Aku menggigit bantal keras agar tidak menjerit nama Irfan.
Tapi fantasi belum berhenti. Irfan membalik tubuhku lagi, kali ini aku di atas, menunggangi kontolnya yang masih keras. Aku membayangkan aku menggesekkan memekku di batangnya dulu, lalu menurunkan tubuhku pelan sampai kontolnya tenggelam sepenuhnya. Aku naik-turun cepat, payudaraku bergoyang liar di depan wajahnya. Irfan meremas dan mengisap putingku bergantian.
“Naik-turun lebih cepat, Tante Siska… tante montok sekali… memek tante menggigit kontol Irfan… tante mau cum lagi bareng Irfan?”
“Iya… bareng… ahh… tante mau lagi… isi memek tante lagi… tante haus sperma kamu!”
Orgasme kedua datang lebih kuat. Tubuhku kejang-kejang di ranjang asli, cairan memekku menyembur lagi, kali ini lebih banyak. Kakiku gemetar, napasku tersengal-sengal.
Setelah fantasi selesai, aku terbaring lemas, tangan masih di memekku yang masih berdenyut. Tapi rasa haus itu belum hilang sepenuhnya. Fantasi ini hanya membuatku semakin ingin yang asli.
Aku menoleh ke suamiku yang masih mendengkur tak sadar. “Maaf, Sayang… tapi Aku sudah nggak tahan lagi,” gumamku pelan sambil tersenyum kecil.
Besok pagi aku harus cari cara untuk dekat dengan Irfan. Di gym, di kolam renang, di rumah. Aku saat ini sudah terlalu haus belaian pemuda itu. Dan aku akan buat dia ketagihan memek Aku selamanya.
ns216.73.216.253da2


