Malam itu udara Jakarta terasa lebih lembab dari biasanya, tapi aku justru menyukai sensasi itu di kulitku. Aku berdiri sendirian di balkon lantai dua rumah megah kami di kompleks perumahan elite pinggir kota, segelas wine merah mahal di tangan kananku. Gaun tidur sutra hitam yang tipis menempel di tubuhku seperti kulit kedua, hampir transparan di bawah cahaya lampu taman.
Payudaraku yang besar dan masih kencang meski usiaku sudah 42 tahun terasa berat, putingku sudah mengeras sejak tadi, menonjol jelas di balik kain tipis itu. Pantatku yang montok dan paha dalamku yang mulus terasa panas, seolah tubuhku sendiri sedang memberontak karena terlalu lama kelaparan belaian.
Sudah tiga minggu suamiku, Nanda, pergi ke Singapura untuk urusan bisnis yang katanya “penting sekali”. Telepon seks kami yang dulu sempat sering kami lakukan, sekarang hanya tinggal janji kosong. “Sayang, besok aku pulang,” katanya dua hari lalu, tapi besok selalu jadi lusa, dan lusa jadi minggu depan. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku hanya bisa merebahkan diri di ranjang yang terlalu luas, memeluk bantal, dan berusaha tidur sambil memejamkan mata. Tapi tidur tak kunjung datang. Memekku terus berdenyut, basah tanpa alasan, haus akan sesuatu yang tebal, panjang, dan keras yang bisa menyodokku sampai aku menjerit.
Aku menyesap wine lagi, mataku tanpa sengaja melirik ke halaman sebelah. Rumah baru itu akhirnya dihuni orang. Dan pemiliknya…
Irfan.
Aku sudah mendengar namanya dari gosip tetangga siang tadi. Pemuda 24 tahun, baru lulus kuliah, dan sekarang kerja sebagai personal trainer pribadi untuk orang-orang kaya di kompleks ini. Tapi yang aku lihat sekarang bukan sekadar pemuda biasa. Dia sedang olahraga tanpa baju di halaman belakangnya yang terbuka, hanya memakai celana pendek ketat hitam yang menempel sempurna di pinggul rampingnya. Setiap kali dia melakukan push-up, otot perut six-pack-nya menegang sempurna, keringat mengalir deras di lekuk-lekuk dada bidangnya yang keras seperti batu. Lengan atasnya berotot tebal, bahunya lebar, punggungnya V-shape yang sempurna.
Dan yang paling membuat napasku tertahan adalah tonjolan di antara pahanya. Kontolnya… ya Tuhan. Bahkan dalam keadaan setengah tegang pun, kontol itu terlihat sangat tebal dan panjang, menekan kain celana hingga hampir transparan. Aku bisa membayangkan betapa berat dan panasnya benda itu kalau sudah benar-benar berdiri.
Memekku langsung bereaksi. Cairan hangat dan licin menetes pelan dari bibir memekku yang sudah membengkak, membasahi paha dalamku. Aku menggigit bibir bawahku keras-keras, tangan kiriku tanpa sadar merayap ke dada, meremas payudara kananku pelan sambil memilin puting yang sudah keras seperti batu.
“Astaga… kontolnya kelihatan gede banget di balik celana itu,” gumamku pelan, suaraku bergetar.
“Berapa lama ya aku nggak disentuh seperti itu? Dua bulan? Tiga bulan? Suamiku cuma bisa ngentot dua menit lalu langsung mendengkur seperti babi. Sementara pemuda ini… astaga, dia pasti bisa ngentot aku berjam-jam sampai memekku bengkak dan banjir creampie berkali-kali.”
Aku merapatkan paha, menggesek-gesekkan klitorisku yang sudah membengkak ke kain gaun sutra yang tipis. Bayanganku semakin liar. Aku membayangkan Irfan naik ke balkon ini, merobek gaunku dengan kasar, lalu menjilati memekku yang sudah basah ini sampai aku squirt di wajahnya. Aku membayangkan tangan besar dan kasarnya meremas payudaraku, mulutnya mengisap putingku sambil kontol tebalnya menggesek bibir memekku dari luar, menggoda sebelum akhirnya menyodok masuk dalam-dalam.
“Irfan… kamu baru pindah ya?” bisikku dalam hati, seperti sedang berbicara langsung dengannya.
“Badanmu… kok bisa segitu kerasnya? Kalau kamu pegang memek tante, pasti langsung banjir. Tante sudah haus banget, Irfan. Tante Tiara ini sudah nggak tahan lagi. Setiap malam tante cuma bisa colok memek sendiri sambil bayangin kontol muda yang gede kayak punya kamu.”
Dia seolah merasakan tatapan laparku. Tubuhnya berhenti bergerak. Kepalanya mendongak ke arah balkonku. Mata kami bertemu di bawah cahaya lampu taman. Senyumnya lebar, ramah, tapi ada kilatan nakal di matanya yang tajam. Aku tidak menunduk. Malah aku tersenyum balik, sengaja menyibak rambut panjangku ke belakang sehingga payudaraku yang besar dan berat terlihat lebih jelas, putingku menonjol jelas di balik kain tipis.
“Hai, Tante!” serunya dari bawah, suaranya dalam, maskulin, dan sedikit serak karena baru selesai olahraga. “Maaf kalau saya ganggu ketenangan Tante. Saya baru pindah kemarin malam. Nama saya Irfan.”
Aku tertawa kecil, suaraku sengaja dibuat lembut dan manja. Aku meletakkan gelas wine di meja balkon lalu berjalan mendekati pagar pembatas, pinggulku bergoyang pelan. Gaun sutraku melambai, hampir tak menutupi paha atasku yang putih mulus.
“Iya, aku lihat kok dari tadi,” jawabku sambil menatapnya dari atas ke bawah tanpa malu-malu.
“Namaku Tiara. Selamat datang di kompleks ini, Irfan. Wah… badanmu keren sekali. Kamu personal trainer ya? Pasti banyak ibu-ibu di sini yang berebut mau latihan privat sama kamu.”
Irfan tertawa rendah, tangannya menyeka keringat di dada dengan handuk kecil. Otot perutnya ikut bergerak, membuat tonjolan di celananya semakin terlihat.
“Iya, Tante Tiara. Baru mulai kerja di sini minggu ini. Kalau Tante butuh latihan… saya siap kok. Badan Tante kelihatan masih sangat fit dan… wow, sangat seksi.”
Pujian itu langsung membuat memekku berdenyut lebih kuat. Aku merasa pipiku panas, tapi bukan karena malu—karena nafsu yang sudah tak tertahankan.
“Seksi? Kamu bisa aja, Irfan,” kataku sambil memiringkan kepala, mata sengaja turun ke bawah, menatap kontolnya yang sekarang jelas-jelas mulai mengeras di balik celana pendek.
“Tante sudah 42 tahun, tapi masih suka jaga tubuh. Cuma… olahraga yang tante butuhin sekarang agak berbeda dari yang biasa kamu ajarin di gym.”
Dia mengangkat alis, senyumnya semakin lebar dan penuh arti.
“Oh ya? Olahraga apa dong, Tante?” Tanya dia.
Aku mendekatkan tubuhku ke pagar, suaraku turun menjadi bisikan mesra yang penuh godaan.
“Olahraga yang bikin badan berkeringat deras, napas ngos-ngosan, memek banjir, dan akhirnya tante menjerit puas. Kamu ngerti maksud tante, kan, Irfan? Suami tante lagi di luar negeri, dan tante sudah lama sekali nggak merasakan kontol yang bener-bener bisa memuaskan. Kamu lihat sendiri… kontol kamu sudah tegang gara-gara tante, ya?”
Irfan menelan ludah keras. Jakunnya naik-turun. Kontolnya sekarang benar-benar tegang, kain celananya menonjol jelas.
“Tante Tiara… langsung terang-terangan banget. Tapi… saya nggak bisa bohong. Badan Tante bikin saya susah konsentrasi olahraga dari tadi. Payudara Tante… pantat Tante… semuanya sempurna.”
Aku terkikik nakal, tanganku menyentuh lengannya sekilas lewat pagar. Kulitnya panas, ototnya keras dan berkeringat.
“Besok pagi tante panggil kamu ke sini ya? Katanya ada sesi latihan privat di rumah. Tante mau lihat seberapa kuat kamu bisa ‘latih’ tante… di ranjang, di sofa, bahkan di meja makan kalau perlu. Dan Irfan… jangan pakai baju besok. Tante mau lihat semuanya. Kontol gede itu juga.”
Dia mengangguk cepat, matanya sudah gelap karena nafsu.
“Siap, Tante Tiara. Saya tunggu panggilan Tante besok pagi. Saya janji… akan latih Tante sampai puas.”
Aku berbalik perlahan, sengaja membiarkan pantatku yang montok bergoyang sensual saat aku berjalan kembali ke dalam rumah. Sebelum menutup pintu balkon, aku menoleh sekali lagi dan mengedipkan mata.
“Jangan sampai tante kecewa ya, Irfan. Tante sudah sangat haus.”
Kembali ke kamar tidur, aku langsung merebahkan diri di ranjang. Gaun sutra aku singkap sampai pinggang. Kedua kakiku aku buka lebar, tangan kananku langsung menyusup ke memekku yang sudah banjir. Dua jari aku masukkan pelan sambil memejamkan mata, membayangkan kontol Irfan yang tebal itu menggesek bibir memekku.
“Ahh… Irfan… masukin kontolmu ke memek tante… pelan dulu… ahh, gede banget… lebih dalam lagi… ya gitu… entot tante keras-keras!” desahku sendirian, jari-jari semakin cepat, ibu jariku menggosok klitorisku yang sudah membengkak.
Aku orgasme dalam hitungan menit. Tubuhku mengejang hebat, cairan memekku menyembur deras membasahi sprei dan tanganku. Tapi itu masih belum cukup. Jauh dari cukup.
Ini baru pertemuan pertama.
Besok pagi… Aku akan dapat yang asli. Dan Aku akan buat pemuda itu ketagihan memekku selamanya.
ns216.73.216.253da2


