Malam itu apartemen kami di lantai 12 terasa pengap meski AC menyala full., Namaku Raffa, baru saja pulang dari kantor jam 9 malam. Badanku pegal, pikiranku penuh deadline. Andela, istriku yang cantik seksi berusia 26 tahun, sudah menunggu di sofa dengan gaun tidur tipis merah yang hampir transparan. Payudaranya yang besar kencang, ukuran 36D, terlihat jelas putingnya yang keras menonjol di balik kain satin. Pantatnya montok bulat, selalu membuatku gila setiap kali dia membungkuk.
“Aku kangen kamu, sayang,” bisik Andela manja sambil berdiri dan memelukku. Aromanya manis campur wangi vagina yang sudah basah, aku bisa menciumnya. Kami berciuman dalam, lidahku menari di mulutnya yang hangat. Tangan ku meremas payudaranya kasar, jempolku memilin putingnya sampai dia mendesah. “Uhh… Raffa… lebih keras…”
Kami langsung ke kamar. Aku dorong Andela ke tempat tidur king size. Gaun tidurnya ku robek ke atas, memamerkan memeknya yang sudah licin. Bulu kemaluannya dicukur rapi, bibir luar memeknya tebal merah jambu, klitorisnya sudah bengkak. Aku menunduk, menjilatnya pelan. Rasa asin-manis cairan vaginanya membanjiri lidahku. Andela menggelinjang, tangannya menekan kepalaku lebih dalam. “Ahh… jilati memekku… lidahmu enak…”
Aku hisap klitorisnya kuat-kuat sambil masukkan dua jari ke lubang vaginanya yang sempit dan panas. Memek Andela selalu ketat, seperti mengisap jariku. Dia mulai mengerang lebih keras, pinggulnya naik turun. “Ya… ya… di situ… aku mau cum…” Tapi entah kenapa, orgasmenya terasa dipaksakan. Tubuhnya mengejang sebentar, cairan keluar sedikit, tapi matanya tidak fokus penuh kenikmatan seperti biasanya.
Aku naik ke atas, kontolku yang ukuran sedang 14 cm sudah tegang keras. Aku gesekkan kepala kontol di bibir memeknya yang basah, lalu tusuk masuk pelan. “Ahh… enak sayang…” desah Andela. Aku pompa ritmis, tanganku meremas payudaranya. Keringat kami bercampur. Aku percepat, kontolku keluar masuk memeknya dengan bunyi “plok plok” cairan. Andela memejamkan mata, bibirnya bergerak bisik-bisik pelan. Aku kira dia bilang “lebih cepat”, tapi telingaku menangkap “Dika… kontolmu besar…”
Aku abaikan, anggap halusinasi. Lima menit kemudian aku keluar, menyemburkan sperma hangat ke dalam memeknya. Andela cuma mendesah pelan, bukan jeritan orgasme hebat seperti dulu. Aku ambruk di sampingnya, peluk dia erat. “Kamu puas, sayang?” tanyaku. Andela tersenyum, cium pipiku. “Iya… kamu terbaik.” Tapi senyumnya agak kosong.
Malam semakin larut. Aku tertidur lelap karena capek. Tapi Andela tidak. Jam 1 dini hari, dia bangun pelan, ambil ponsel dari meja samping. Cahaya layar menyinari wajahnya yang cantik dengan bibir tebal dan mata sipit seksi. Dia buka aplikasi chat. Nomor Dika, teman kantorku yang badannya atletis, kontolnya terkenal besar di gosip kantor.
Andela ketik cepat: “Dika, suamiku baru ngentot aku tapi memekku masih lapar. Kontolmu yang gede itu kapan mau isi memek istri orang ini lagi? Aku basah banget sekarang.”
Balasan Dika masuk cepat: “Gila lu Ndel, berani banget. Raffa tidur? Kirim foto memekmu yang basah.”
Andela tersenyum nakal. Dia buka kakinya lebar, cahaya lampu tidur menyinari memeknya yang masih menetes sperma Raffa. Dia foto close-up, bibir memeknya mengembang, lubangnya terbuka sedikit menunjukkan campuran cairan putih. Foto itu dikirim ke Dika.
Dika balas dengan foto kontolnya: tebal, panjang 18 cm, kepala kontol besar ungu, urat-urat menonjol, sudah ereksi penuh. “Ini lagi ngaceng mikirin memekmu yang ketat. Besok lembur ya, kita ke hotel.”
Andela menggigit bibir bawahnya, tangan kanannya turun ke memek. Jarinya putar di klitoris sambil baca chat. “Uhh… kontol Dika… lebih gede dari Raffa… aku mau dihajar…” bisiknya pelan. Dia masukkan tiga jari ke vaginanya, pompa cepat. Bunyi cairan “slosh slosh” terdengar pelan di kamar sunyi. Payudaranya bergoyang saat tubuhnya bergoyang. Putingnya keras banget.
Aku, Raffa, ternyata setengah sadar. Mataku terbuka sedikit, lihat istriku masturbasi ganas sambil bisik nama orang lain. Kontolku langsung mengeras lagi di balik celana boxer. Tapi aku pura-pura tidur, jantungku berdegup kencang. Andela semakin liar. Dia ambil vibrator dari laci, yang biasa kami pakai bareng. Vibrator itu tebal 5 cm, dia nyalakan mode kuat dan tusuk ke memeknya dalam-dalam. “Ahh… Dika… entot aku… kontolmu… pecahin memek istri Raffa ini!”
Tubuh Andela mengejang hebat. Dia squirt sedikit, cairan menyembur ke sprei. Orgasmenya panjang, bibirnya menggigit bantal agar tidak jerit keras. Setelah itu dia ambruk, napasnya tersengal. Dia hapus chat, simpan ponsel, lalu tidur dengan senyum puas.
Pagi harinya, aku bangun pura-pura biasa. Andela sudah di dapur, pakai apron tipis tanpa bra. Payudaranya bergoyang saat dia goreng telur. Aku peluk dari belakang, kontolku yang pagi ngaceng nempel di pantatnya. “Pagi sayang, semalem enak banget,” kataku. Andela balik badan, ciumku dalam. “Iya, kamu hebat. Hari ini aku lembur ya, proyek deadline.”
Aku angguk, tapi dalam hati curiga mulai muncul. Sepanjang hari di kantor, aku lihat Dika tersenyum-senyum sendiri. Siang itu Dika bilang ke tim, “Malam ini aku meeting penting sama Andela, jangan ganggu ya.” Teman-teman ketawa, tapi aku diam saja.
Pulang kantor, aku putuskan pulang lebih awal. Rumah sepi. Aku mandi, lalu duduk di sofa. Ponsel Andela ketinggalan di meja (biasanya dia bawa). Aku buka, passwordnya tanggal pernikahan kami. Chat dengan Dika masih ada meski di-archive. Ratusan pesan vulgar.
“Andela: Memekku masih penuh sperma Raffa, tapi aku mau kontolmu yang bikin aku ngiler.” “Dika: Besok aku creampie lagi, biar suamimu cium bau kontolku di memek istri dia.”
Foto-foto telanjang Andela, video pendek dia jari memek sambil sebut nama Dika. Kontolku mengeras sakit. Aku marah, tapi juga excited aneh.
Jam 11 malam Andela pulang. Rambutnya acak-acakan, lipstik luntur, baju kusut. Bau parfum pria melekat. “Capek banget sayang,” katanya sambil cium pipiku. Aku cium lehernya, bau sperma samar. Aku tarik dia ke kamar, buka bajunya. Memeknya merah bengkak, menetes cairan putih kental. “Andela… ini apa?”
Dia tersenyum genit, dorong aku duduk di tepi tempat tidur. “Ini… rahasia. Tapi kamu suka kan lihat memekku penuh?” Andela naik ke pangkuanku, memeknya yang basah gesek kontolku. “Dika ngentot aku tadi. Kontolnya gede, lama, bikin aku cum berkali-kali. Kamu mau denger detailnya sambil ngentot aku?”
Aku mengangguk, kontolku masuk ke memeknya yang licin penuh sperma orang lain. Rasanya panas, longgar tapi sangat basah. Andela naik turun pelan sambil cerita. “Dia ajak aku ke hotel dekat kantor. Di lift sudah hisap kontolnya… tebal banget, aku hampir mual tapi enak. Di kamar dia robek celana dalamku, jilatin memekku sampai squirt di mulutnya. Lalu dia entot doggy… keras… pukul pantatku sampai merah. Aku jerit ‘Dika… aku pelacurmu!’”
Aku pompa lebih cepat, bayangan Andela dikentot Dika bikin aku gila nafsu. “Dia creampie dua kali… sperma banyak banget… kamu rasain kan sekarang?”
Andela orgasme lagi, memeknya kejang mengisap kontolku. Aku menyembur di dalam, campur dengan sperma Dika. Kami ambruk berpelukan. “Ini baru awal, Raffa,” bisik Andela di telingaku. “Aku suka seks dengan pria lain. Tapi aku tetap istri kamu.”
Malam itu aku tidak tidur. Pikiran penuh campuran cemburu, marah, dan nafsu aneh yang mulai bangkit. Andela tidur pulas di sampingku, memeknya masih menetes. Aku sentuh pelan, bayangkan besok dia akan ketemu pria lain lagi.
Pernikahan kami yang dulu sempurna mulai retak. Tapi retakan itu membuka pintu ke dunia baru yang panas dan gelap. Andela bukan lagi istri biasa. Dia istri yang haus kontol berbagai pria. Dan aku… mulai menikmati rahasianya.
ns216.73.217.22da2


