Dua minggu berlalu sejak malam hujan itu. Proyek besar Andra sudah mulai berjalan, dan suasana di apartemen mereka sedikit lebih cerah. Andra pulang lebih awal beberapa hari, bahkan sempat membawa pulang bunga dan mengajak Sarah makan malam romantis di luar. Tapi di ranjang, tetap sama — cepat, biasa, dan meninggalkan Sarah dengan rasa lapar yang semakin menggerogoti.
Malam ini adalah puncaknya. Perusahaan mengadakan dinner party mewah di ballroom hotel bintang lima di kawasan Sudirman untuk menyambut bos baru, Pak Sakamoto. Tema formal, tapi Sarah tahu ini kesempatan untuk tampil maksimal.
Sarah berdiri di depan cermin besar kamar tidur, memutar tubuhnya perlahan. Dia memakai dress hitam ketat selutut yang sengaja dipilihnya dengan hati-hati. Kainnya mengkilap lembut, membalut tubuh semoknya seperti kulit kedua. Belahan dada sangat dalam — hampir sampai pertengahan payudara E-cupnya yang montok, membuat belahan dada putihnya terpampang jelas. Punggungnya terbuka sampai pinggang, hanya diikat dua tali tipis. Bagian bawah dressnya ketat di pinggul dan bokong, setiap langkah membuat kain bergesekan dengan kulitnya dan hampir menampakkan garis bokong yang bulat sempurna.
Dia memakai stiletto hitam 12 cm yang membuat kakinya terlihat lebih panjang dan bokongnya semakin terangkat. Makeupnya smoky eyes, lipstick merah gelap, dan rambut digelung tinggi dengan beberapa helai jatuh di leher. Parfum mahal yang dia semprotkan di belakang telinga, di antara payudara, dan di paha dalam.
Andra keluar dari kamar mandi, sudah pakai setelan jas hitam baru. Dia terpana melihat Sarah.
“Sayang… kamu… gila banget malam ini. Aku takut bos-bos lain pada ngeliatin kamu.”
Sarah tersenyum manis, berputar sekali. “Kenapa? Nggak boleh? Ini kan buat rayain kenaikan gajimu.”
Andra mendekat, memeluk pinggang Sarah dan mencium lehernya. “Kamu terlalu seksi. Aku nggak tahan nanti di mobil pulang.”
Sarah hanya tertawa kecil. Dalam hati dia berpikir, Kalau kamu aja nggak pernah bisa puasin aku, buat apa janji di mobil?
Mereka tiba di hotel tepat jam 7 malam. Ballroom sudah ramai dengan karyawan dan keluarga mereka. Lampu kristal menyala terang, musik jazz pelan mengalun, meja-meja bundar penuh makanan mewah dan wine mahal.
Begitu Sarah dan Andra masuk, hampir semua mata pria di ruangan itu menoleh. Sarah bisa merasakan tatapan lapar itu di kulitnya. Andra bangga, memegang pinggang Sarah posesif.
Lalu Sarah melihatnya.
Di tengah ruangan, dikelilingi beberapa direktur, berdiri Pak Sakamoto. Tinggi — minimal 185 cm — badan atletis dengan dada bidang yang terlihat jelas di balik kemeja putih dan jas hitam mahal. Rambutnya sedikit beruban di pelipis, rahang tegas, mata sipit tajam khas Jepang. Umur 45 tahun, tapi auranya seperti pria 35 tahun yang penuh kuasa dan nafsu.
Mata Sakamoto langsung mengunci ke Sarah sejak pintu masuk. Tatapannya tidak malu-malu. Dia menatap dari ujung kaki Sarah yang berstiletto, naik ke paha, pinggul, lalu lama sekali di belahan dada, sebelum akhirnya ke wajah Sarah. Senyum tipis muncul di bibirnya — senyum predator yang tahu persis apa yang dia lihat.
Andra menarik Sarah mendekat untuk salam resmi.
“Pak Sakamoto, ini istri saya, Sarah,” kata Andra dengan bangga.
Sakamoto mengulurkan tangan besarnya. Sarah menyambut. Genggaman tangan itu kuat, hangat, dan agak lama. Jempol Sakamoto mengusap punggung tangan Sarah pelan.
“Sarah… pantas Andra kerja keras setiap hari,” suaranya rendah, berat, dengan aksen Jepang yang sedikit terdengar. “Kalau punya istri secantik dan seksi ini, saya juga bakal capek tiap malam… mengurus rumah tangga.”
Kata-kata itu sopan di permukaan, tapi nada suaranya penuh makna mesum. Sarah merasa ada panas yang langsung turun ke perut bawahnya. Memeknya berdenyut pelan.
“Terima kasih, Pak,” jawab Sarah dengan suara lembut, tapi pipinya sedikit memerah.
Sepanjang acara, Sakamoto sering melirik Sarah. Saat makan, saat foto bersama divisi, saat pidato singkat. Setiap kali mata mereka bertemu, Sarah merasa seperti ditelanjangi.
Saat Andra pergi ke toilet, Sakamoto bergerak cepat. Dia mendekat ke Sarah yang sedang berdiri di dekat meja minuman, mengambil segelas wine merah.
“Sendirian?” tanya Sakamoto pelan di belakangnya.
Sarah menoleh. Sakamoto berdiri sangat dekat. Aromanya maskulin — campuran parfum mahal dan bau pria dewasa yang kuat.
“Iya, Pak. Andra ke toilet sebentar.”
Sakamoto tersenyum. Matanya turun ke belahan dada Sarah tanpa malu. “Dress ini… berbahaya. Bikin saya susah konsentrasi sejak tadi.”
Sarah tertawa kecil, gugup tapi juga excited. “Pak bisa bercanda.”
“Bukan bercanda.” Sakamoto mengambil gelas wine dari tangan Sarah, sengaja menyentuh jari Sarah lama. “Saya serius. Tubuh seperti ini… pinggul lebar, payudara besar, kulit putih… jarang saya lihat di Indonesia. Andra beruntung sekali.”
Lalu dia melangkah lebih dekat. Saat berfoto bersama beberapa karyawan lain, Sakamoto berdiri persis di belakang Sarah. Tangan kanannya memeluk pinggang Sarah “resmi”, tapi jarinya merayap turun pelan ke pinggul, lalu ke atas bokongnya yang montok. Dia meremas pelan, hampir tidak terlihat orang lain.
Sarah menegang. Napasnya tertahan. Jari Sakamoto yang tebal dan kasar itu meremas bokongnya dengan kuat sebentar, lalu naik lagi ke pinggang. Sarah merasa memeknya langsung basah. Celana dalam tipisnya sudah lembab.
“Kulitnya lembut sekali,” bisik Sakamoto di telinga Sarah saat flash kamera menyala. “Bayangkan kalau saya remas lebih keras… di tempat yang lebih privat.”
Sarah tidak menjawab, tapi lututnya agak gemetar.
Andra kembali dari toilet. Sakamoto langsung mundur dengan senyum profesional, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi sebelum pergi, dia berbisik sekali lagi ke Sarah:
“Kalau ada yang kurang puas di rumah… kabari saya. Saya bisa tanggung jawab.”
Sepanjang sisa acara, Sarah sulit konsentrasi. Setiap kali Sakamoto bicara di panggung, dia membayangkan tangan besar itu meremas payudaranya, mulut itu menghisap putingnya, dan kontol yang pasti besar itu menusuk dalam-dalam.
Di mobil pulang, Andra mengemudi sambil tersenyum lebar.
“Bosnya suka banget sama kamu, Sayang. Dia bilang kamu cantik sekali dan anggun. Katanya istri seperti kamu bikin semangat kerja naik.”
Sarah duduk di kursi penumpang, kakinya menyilang. Dressnya naik sedikit, memperlihatkan paha mulus. Memeknya masih basah. Dia bisa merasakan cairannya yang lengket di celana dalam.
“Iya… dia ramah,” jawab Sarah pelan.
Andra meletakkan tangan di paha Sarah. “Malam ini aku mau banget sama kamu. Dress ini bikin aku nggak tahan.”
Sarah tersenyum tipis. Tapi dalam hati dia berpikir lain.
Kalau kamu tahu tadi bokongku diremas bosmu… apa yang bakal kamu lakukan?
Sesampainya di apartemen, Andra langsung horny. Dia mencium Sarah di pintu masuk, tangannya meremas payudara Sarah. Tapi Sarah menolak halus.
“Capek sayang… besok aja ya. Hari ini banyak berdiri.”
Andra kecewa, tapi tidak memaksa. Dia tidur lebih dulu.
Sarah lagi-lagi ke kamar mandi. Malam ini vibrator tidak cukup. Dia duduk di closet, membuka kakinya, dan memainkan memeknya sambil membayangkan Sakamoto.
Bayangan tangan besar itu meremas bokongnya tadi terulang. Dia membayangkan Sakamoto menekannya ke dinding toilet, menarik dress ke atas, dan memasukkan kontolnya yang besar dari belakang sambil berbisik, “Istri Andra… sekarang jadi milik Bos.”
Sarah orgasme keras malam itu. Cairannya muncrat cukup banyak. Dia menggigit tangannya agar tidak berteriak.
Saat kembali ke ranjang, Sarah membuka ponsel. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal.
+62xxxx (Sakamoto): “Malam ini dressnya sangat menggoda, Sarah. Besok saya tunggu dokumen penting dari Andra di kantor. Kalau bisa, tolong antar sendiri. Saya ada di ruangan saya jam 9 malam.”
Sarah menatap pesan itu lama. Jantungnya berdegup kencang. Memeknya kembali berdenyut.
Dia membalas dengan tangan agak gemetar:
Sarah: “Baik, Pak. Saya usahakan.”
Lalu dia mematikan lampu, tersenyum di kegelapan.
Awal yang manis sudah mulai retak. Dan retakan itu terasa… sangat nikmat.3194Please respect copyright.PENANAX07da6mPh9
3194Please respect copyright.PENANAR75LPYlQtG
versi PDF: lynk.id/bande41/gkem0jkp58x5
ns216.73.216.250da2


