Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta tanpa henti. Air mengalir deras di jendela apartemen kelas menengah di kawasan Kuningan, menciptakan suara ritmis yang seolah menyamarkan desahan kecil yang mungkin keluar dari dalam kamar. Lampu kota memantul samar di genangan air, memberikan cahaya kuning redup yang menembus tirai tipis kamar tidur.
Sarah berdiri di depan cermin kamar mandi yang agak berembun, menatap bayangan dirinya sendiri dengan tatapan yang campur aduk antara bosan dan lapar. Usianya baru 27 tahun, tapi tubuhnya sudah matang sempurna seperti buah yang siap dipetik paksa. Kulitnya putih mulus, hampir tanpa cela, hasil perawatan rutin yang dia lakukan setiap hari karena dulu masih aktif kerja. Rambut hitam panjangnya tergerai basah setelah mandi, menempel di punggungnya yang ramping. Matanya sipit dengan bulu mata lentik, selalu terlihat sedikit mengantuk tapi penuh godaan tersembunyi. Yang paling mematikan adalah tubuhnya: pinggul lebar menggoda, perut rata dengan sedikit lekukan lembut di pinggang, dan payudara E-cup yang masih kencang, montok, dengan puting kecil berwarna pink kecokelatan yang mudah mengeras hanya karena hembusan AC.
Dia hanya memakai tank top tipis berwarna putih yang hampir tembus pandang dan celana pendek satin hitam yang ketat membalut bokongnya yang bulat sempurna. Putingnya samar menonjol karena dingin, dan setiap gerakan kecil membuat kain satin di selangkangannya bergesekan dengan bibir memeknya yang halus.
Sarah menghela napas panjang, menyisir rambutnya perlahan. “Andra… kamu lagi-lagi pulang malam,” gumamnya pelan, suaranya lembut tapi ada nada kecewa yang tersembunyi.
Baru saja dia meletakkan sisir, pintu apartemen terdengar terbuka diikuti suara kunci berderit. Langkah basah kuyup mendekat.
“Sayang! Aku pulang!” seru Andra dengan suara penuh semangat yang agak dipaksakan.
Sarah keluar dari kamar mandi dengan senyum manis yang sudah dia latih bertahun-tahun sebagai istri baik. Andra berdiri di depan pintu, jas kerjanya basah kuyup, tas laptop tergantung di bahu, rambut acak-acakan, tapi wajahnya cerah seperti anak kecil yang baru menang lotre.
“Kenapa basah banget sih? Cepat mandi, nanti kamu sakit,” kata Sarah sambil mendekat dan membantu melepas jas suaminya. Tubuh Andra yang sedang-sedang saja terasa dingin saat Sarah memeluknya sekilas.
Andra malah memeluk pinggang Sarah erat dari depan, mencium lehernya yang harum. “Nggak apa-apa, Sayang. Hari ini luar biasa! Bos baru kita, Pak Sakamoto, kasih aku proyek besar banget. Gajiku naik 40% mulai bulan depan! Kita bisa beli mobil baru, mungkin cicilan apartemen bisa kita percepat. Hidup kita bakal lebih enak!”
Sarah tersenyum lebar, memeluk leher Andra dan mencium bibirnya sekilas. Ciuman itu lembut, biasa saja. “Serius? Wah, hebat dong suamiku. Aku bangga sama kamu.”
Mereka berdua makan malam di meja makan kecil yang Sarah siapkan dengan telaten. Ayam goreng kremes yang renyah, tumis kangkung pedas, sup ikan salmon kesukaan Andra, dan nasi hangat. Andra makan dengan lahap sambil bercerita panjang lebar tanpa henti. Tentang meeting berjam-jam, tentang Pak Sakamoto yang “tinggi besar, aura Jepang-nya kuat, tapi ngomongnya santai dan berwibawa”, tentang target proyek yang katanya “pasti bikin aku naik jabatan lagi dalam waktu dekat”.
Sarah mendengarkan sambil mengangguk-angguk, sesekali tertawa kecil di tempat yang tepat. Tapi di dalam kepalanya, pikiran lain terus berputar.
Proyek besar… gaji naik… tapi apa gunanya kalau di ranjang kamu tetap sama?
Setelah makan, Andra mandi cepat. Sarah sudah menunggu di kamar tidur, duduk di tepi ranjang dengan lingerie tipis warna merah maroon yang dia beli diam-diam dua bulan lalu. Bra push-up yang membuat payudaranya naik dan hampir tumpah, celana dalam tali yang hanya ada seutas benang di belakang, nyaris tidak menutupi apa-apa. Dia sengaja menyemprotkan sedikit parfum di belakang telinga dan di antara payudaranya.
Andra keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk di pinggang. Tubuhnya biasa-biasa saja — tinggi 172 cm, agak kurus karena terlalu banyak duduk di depan komputer, dada datar, perut sedikit lembek. Dia melihat Sarah, matanya langsung berbinar.
“Wah… istriku malam ini seksi banget. Mau rayain kenaikan gaji ya?”
Dia naik ke ranjang dengan cepat, langsung mencium Sarah dengan penuh semangat. Ciumannya basah, agak kasar karena terburu-buru. Lidahnya masuk tapi tanpa irama, hanya menjilat-jilat. Tangan Andra meremas payudara Sarah melalui bra, meremasnya kuat tapi tanpa kelembutan atau teknik. Sarah mendesah pelan, berusaha menikmati, berusaha membayangkan ini adalah sesuatu yang luar biasa.
“Andra… pelan-pelan malam ini ya… aku mau lama,” bisik Sarah di telinga suaminya sambil menggigit cuping telinga Andra.
Andra mengangguk cepat, tapi nafsunya sudah memuncak. Dia melepas bra Sarah dengan kasar, menghisap putingnya sebentar — hanya sekitar 15 detik — lalu langsung menurunkan celana dalam Sarah. Jarinya menyentuh memek Sarah yang masih agak kering.
“Sudah basah ya,” kata Andra senang, padahal Sarah tahu itu hanya sedikit lendir alami.
Andra membuka handuknya. Kontolnya sudah setengah tegang, ukuran sedang, sekitar 13 cm saat ereksi penuh. Dia memposisikan diri, lalu mendorong masuk dalam satu gerakan. Sarah menggigit bibir bawahnya. Rasanya… penuh, tapi tidak cukup. Tidak ada tekanan di dinding memeknya, tidak ada gesekan yang membuatnya menggeliat nikmat.
Andra mulai menggerakkan pinggulnya. Cepat. Terlalu cepat dari awal.
“Uh… Sarah… memekmu enak banget… selalu ketat…” desahnya di leher Sarah.
Sarah memeluk punggung Andra, mengangkat pinggulnya sedikit, mencoba mencari sudut yang lebih enak. Tapi Andra sudah terengah-engah berat. Hanya tiga setengah menit berlalu, tubuh Andra menegang hebat.
“Aku… mau keluar… Sayang…!!”
“Keluar di dalam aja,” jawab Sarah dengan suara datar, hampir tanpa emosi.
Andra mengerang pendek, tubuhnya kejang beberapa kali. Sperma tipisnya menyembur lemah ke dalam rahim Sarah — hanya beberapa denyut kecil. Lalu dia ambruk di atas tubuh Sarah, napasnya tersengal-sengal seperti habis lari maraton.
“Maaf… hari ini capek banget. Besok aku usaha lagi ya, Sayang,” bisik Andra sambil mencium pipi Sarah sekilas. Dalam dua menit, dia sudah mendengkur pulas di sebelah Sarah.
Sarah menatap langit-langit kamar yang gelap. Memeknya masih terasa kosong. Sperma Andra yang encer menetes pelan keluar dari bibir memeknya ke seprai. Dia merasa hampa. Lapar. Bukan lapar makanan. Lapar sentuhan kasar, lapar hantaman dalam yang menyentuh rahim, lapar digigit, diremas, dan dihancurkan sampai air matanya keluar karena kenikmatan.
Dia menunggu sampai dengkuran Andra benar-benar teratur dan dalam. Lalu pelan-pelan turun dari ranjang, berjalan tanpa suara ke kamar mandi. Dia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu kecil di atas cermin yang memberikan cahaya temaram merah muda.
Sarah mengunci pintu kamar mandi. Dia duduk di closet toilet, membuka kakinya lebar-lebar sampai otot pahanya terasa tegang. Dari balik tumpukan handuk bersih, dia mengeluarkan vibrator hitam besar yang dibelinya secara online dengan nama palsu — panjang 20 cm, tebal menggiurkan, dengan urat-urat palsu yang realistis dan kepala bergetar kuat.
Dia menyalakannya. Suara dengung rendah yang sudah familiar memenuhi ruangan kecil itu.
Sarah memejamkan mata, kepalanya bersandar ke dinding keramik yang dingin.
Dalam bayangannya muncul sosok pria yang belum pernah dia temui secara langsung, tapi sudah dia lihat di foto perusahaan suaminya: Pak Sakamoto. Tinggi besar, bahu bidang, dada atletis meski berusia 45 tahun, lengan kekar, kulit sawo matang, rahang tegas, dan tatapan mata tajam penuh kuasa.
Sarah mengusapkan ujung vibrator yang sudah bergetar di bibir memeknya yang masih lengket sisa sperma Andra.
“Ahh… fuck…” desahnya pelan.
Dalam fantasinya, Sakamoto berdiri telanjang di depannya, kontolnya yang monstrous muncul tegak — tebal seperti pergelangan tangan, panjang 22 cm, kepala kontolnya mengkilap, urat-uratnya menonjol kuat.
“Kamu istri Andra yang cantik itu ya? Tubuh semok begini terlalu sayang cuma buat dientot cowok lemah kayak suami kamu,” kata bayangan Sakamoto dengan suara berat.
Sarah memasukkan vibrator perlahan ke dalam memeknya yang lapar. Rasanya langsung penuh, meregangkan dindingnya dengan nikmat.
“Ahh… besar…” erangnya.
Dia mulai memompa vibrator dengan ritme semakin cepat. Satu tangannya meremas payudaranya sendiri, memilin putingnya keras sampai terasa sakit — persis seperti yang dia bayangkan Sakamoto lakukan.
Dalam kepalanya, Sakamoto mendorongnya ke meja kantor, membuka kakinya lebar, lalu menghantamkan kontolnya dalam satu entakan brutal.
“PLAK!” “AAHHH!!” Sarah menekan vibrator lebih dalam, getarannya membuat klitorisnya berdenyut gila.
Dia membayangkan Sakamoto menarik rambutnya, memukul bokongnya keras sambil mengentot tanpa ampun. “Bilang, kontol Bos lebih enak dari kontol suami kamu yang payah itu!”
“Lebih enak… Bos… kontol Bos jauh lebih enak!! Aku nggak mau kontol Andra lagi…!!” Sarah berbisik gemetar di kamar mandi, suaranya hampir menangis karena kenikmatan.
Orgasme datang seperti tsunami. Tubuh Sarah kejang hebat, lututnya gemetar tak terkendali. Cairan squirt kecil muncrat membasahi vibrator dan lantai keramik. Getarannya berlangsung hampir 25 detik — jauh lebih kuat, lebih lama, lebih basah dari apa pun yang pernah Andra berikan selama tiga tahun pernikahan mereka.
Sarah terengah-engah, dada naik turun cepat. Vibrator masih bergetar di dalam memeknya yang berkedut-kedut. Dia mencabutnya perlahan, melihat cairannya yang melimpah membasahi alat itu.
Dia tersenyum tipis di tengah napas tersengal. “Kalau aja… besok malam di dinner party aku benar-benar ketemu kamu, Pak Sakamoto…”
Sarah membersihkan diri dengan telaten, menyembunyikan vibrator kembali ke tempat rahasianya, lalu kembali ke ranjang. Andra masih tidur pulas, tidak tahu apa-apa.
Sebelum tertidur, Sarah membuka ponsel sebentar. Dia membuka Instagram perusahaan suaminya dan melihat story terbaru: foto sambutan bos baru besok malam.
Foto close-up Pak Sakamoto. Pria itu menatap kamera dengan senyum tipis yang dingin tapi penuh karisma. Sarah memperbesar foto itu, menatap lama ke mata tajam tersebut. Jantungnya berdegup lebih kencang. Memeknya yang baru saja puas kembali berdenyut pelan.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Sarah tertidur dengan senyum kecil di bibir… dan fantasi yang semakin gelap di kepalanya.
ns216.73.216.250da2


