Seminggu telah berlalu.
592Please respect copyright.PENANAixtn8dsdDC
Maya berusaha menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan rumah demi menjernihkan pikirannya. Namun semakin ia mencoba melupakan masalah yang dihadapi, semakin kuat kegelisahan itu menghantuinya. Dalam batinnya, rasa panik dan kebingungan terus beradu, memaksanya memikirkan jalan keluar yang hingga kini belum ia temukan.
592Please respect copyright.PENANAWqFfJKa1LY
Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang melelahkan. Menyapu lantai, membereskan rumah, mencuci pakaian, hingga menjemurnya di bawah terik matahari. Namun semua kesibukan itu tak mampu mengusir beban yang menyesakkan dadanya.
592Please respect copyright.PENANAmv6A3mrXr0
Ia membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita. Seseorang yang dapat mendengarkan keluh kesahnya, memberinya ketenangan, atau setidaknya membantu mencari solusi atas masalah yang tengah ia hadapi.
592Please respect copyright.PENANAXGu2sqcWU6
Sayangnya, ia tak memiliki siapa pun.
592Please respect copyright.PENANAk16xExxUcc
Semua ketakutan itu ia pendam seorang diri.
592Please respect copyright.PENANABdWE8j1O2h
Beberapa kali tubuhnya terlihat semakin lemah. Nafsu makannya berkurang, wajahnya tampak pucat, dan pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Hingga pada suatu siang, di tengah kesibukannya, tubuh Maya akhirnya tak mampu bertahan lagi. Ia terjatuh dan tak sadarkan diri di rumah yang sunyi itu.
592Please respect copyright.PENANAI9KifPJxsZ
Entah berapa lama waktu berlalu.
592Please respect copyright.PENANACXEWCB16wM
Saat tersadar, suara dering ponsel terdengar berulang kali dari atas meja. Ada beberapa pesan masuk dari Adam yang sejak tadi belum sempat ia baca.
592Please respect copyright.PENANAl8iswW0jRw
Maya tidak langsung meraihnya.
592Please respect copyright.PENANAmgp2rQru8D
Dengan tubuh yang masih lemas, ia berjalan menuju dapur dan menuangkan segelas air minum. Setelah meneguknya perlahan, pandangannya tanpa sadar jatuh ke arah perutnya sendiri. Di sanalah sumber dari seluruh ketakutannya berada.
592Please respect copyright.PENANAtLOAbWq454
Ia meyakini bahwa ada kehidupan yang tengah tumbuh di dalam dirinya. Kehidupan yang kelak akan lahir ke dunia, sekaligus menjadi pengingat atas semua kesalahan yang berusaha ia lupakan.
592Please respect copyright.PENANAaRlq6mpLuF
Dalam diam, begitu banyak penyesalan memenuhi benaknya. Ia menyesali pilihan-pilihannya. Menyesali kelemahannya. Bahkan membenci dirinya sendiri atas semua yang telah terjadi.
592Please respect copyright.PENANAALw21YMIq0
Andai waktu bisa diputar kembali, Maya berharap tak pernah mengenal Adam. Atau setidaknya, ia tak akan pernah merestui hubungan putrinya dengan pria itu.
592Please respect copyright.PENANAZ5CR6fjiUw
Namun semuanya sudah terlambat.
592Please respect copyright.PENANAebvY3fTdmp
Takdir telah membawa mereka terlalu jauh. Meski saat ini ia dipenuhi kemarahan dan kekecewaan terhadap Adam, Maya tidak bisa memungkiri satu hal: di tengah seluruh kebencian itu, masih ada bagian dari dirinya yang diam-diam merindukan kehadiran pria tersebut.
592Please respect copyright.PENANAykN4yMWafc
Sementara itu, di sisi lain, hubungan Siska dan Beni semakin hari semakin dekat.
592Please respect copyright.PENANAkGtLdWPRLb
Pria itu selalu menemukan alasan untuk hadir dalam kehidupan Siska. Terkadang hanya sekadar menyapa, terkadang membawakan makanan, atau menemaninya menghabiskan waktu di sela kesibukan. Pendekatannya begitu terang-terangan hingga sulit untuk tidak disadari. Meski dibungkus dengan alasan menjaga silaturahmi, jauh di dalam hati, Beni memiliki tujuan yang lebih dari sekadar pertemanan.
592Please respect copyright.PENANAtV0GaeFA3x
Perlahan, batas yang dahulu dijaga mulai memudar.
592Please respect copyright.PENANAmntcL58Qly
Beni tak lagi sungkan menggenggam tangan Siska saat mereka berbincang. Sesekali ia merapikan rambut yang tertiup angin atau menunjukkan perhatian yang membuat hati wanita itu bergetar.
592Please respect copyright.PENANAIaIpUueFYN
Awalnya Siska merasa risih. Ia berusaha menjaga jarak dan mengingat statusnya sebagai tunangan Adam. Namun seiring waktu, pertahanan itu mulai retak sedikit demi sedikit. Perhatian yang terus diberikan Beni membuatnya merasa dihargai, didengarkan, dan diinginkan.
592Please respect copyright.PENANAYZhk4sv4AB
Sesuatu yang belakangan mulai jarang ia rasakan.
592Please respect copyright.PENANAd0penleEE3
Beni pun mulai membawa Siska masuk ke dalam kehidupannya. Beberapa kali wanita itu berkunjung ke tempat tinggalnya. Sebuah kontrakan sederhana yang tidak terlalu besar, namun tertata rapi dan terasa nyaman.
592Please respect copyright.PENANAysZJUfEdqC
Pada kunjungan pertama, mereka hanya mengobrol seperti biasa. Siska mengamati setiap sudut ruangan yang dihuni pria itu. Sebuah lukisan tua tergantung di dinding, sementara beberapa alat musik tersusun rapi di lorong menuju kamar.
592Please respect copyright.PENANA8EBdKruMVq
Tak ada hal istimewa yang terjadi hari itu.
592Please respect copyright.PENANAtbDWRPPBvI
Namun hari-hari berikutnya berjalan berbeda.
592Please respect copyright.PENANAV2aQ8kXo8c
Pertemuan demi pertemuan membuat keduanya semakin dekat. Batas yang dahulu terasa tegas kini berubah menjadi samar. Kini mereka telah tidur bersama, saling memuaskan nafsu birahi.
592Please respect copyright.PENANAQkrNFYraXt
Perasaan yang sempat terkubur perlahan muncul kembali ke permukaan, membawa mereka pada hubungan yang jauh lebih rumit dari yang pernah dibayangkan Siska.
592Please respect copyright.PENANABN3MrL3vs8
Pada awalnya, ia dihantui rasa bersalah. Setiap kali pulang, bayangan Adam muncul dalam pikirannya. Namun rasa bersalah itu perlahan kalah oleh kenyamanan yang ia temukan bersama Beni. Hingga tanpa sadar, apa yang dahulu ia sesali justru berubah menjadi sesuatu yang terus ia cari.
592Please respect copyright.PENANAGLzshOuCYz
Sementara itu, hubungannya dengan Adam semakin renggang. Mereka masih bertemu dan saling menyapa seperti biasa, namun kehangatan yang dulu ada perlahan memudar. Kesibukan, jarak emosional, dan rahasia yang tak terucapkan mulai menciptakan celah di antara keduanya.
592Please respect copyright.PENANAGDtIWyTbXp
Adam sendiri tenggelam dalam pekerjaannya. Di luar itu, perhatiannya juga tersita oleh Maya yang tengah menghadapi masalah besar dalam hidupnya.
592Please respect copyright.PENANAg6UeP7MBFD
Tanpa mereka sadari, ketiga orang itu kini sedang berjalan menuju badai yang sama—badai yang perlahan terbentuk dari kebohongan, kerinduan, dan keputusan-keputusan yang tak pernah mereka pikirkan akan membawa akibat sebesar ini.
592Please respect copyright.PENANAKDxQBj2MHz
Minggu demi minggu berganti menjadi bulan.
592Please respect copyright.PENANAsgbGCdl1Rz
Kehamilan Maya mulai menunjukkan perubahan yang sulit disembunyikan. Perutnya perlahan membesar, memaksanya mengenakan daster longgar untuk menutupi kondisi yang selama ini ia rahasiakan.
592Please respect copyright.PENANAbEtTA0qMbM
Setiap hari ia hidup dalam kecemasan. Ia takut tatapan Siska terlalu lama tertuju pada tubuhnya. Takut pertanyaan-pertanyaan sederhana berubah menjadi kecurigaan. Takut rahasia yang selama ini ia kubur akhirnya terbongkar.
592Please respect copyright.PENANA7i6LdoR2eg
Namun ketakutan itu tak kunjung menjadi kenyataan.
592Please respect copyright.PENANAuQTMGn8sBP
Siska yang lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah nyaris tidak memperhatikan perubahan pada ibunya. Ketika Maya mengalami mual di malam hari, gadis itu hanya mengira ibunya masuk angin atau kelelahan karena terlalu banyak bekerja.
592Please respect copyright.PENANAIXiTXVUeVf
Tak sedikit pun ia mencurigai hal yang sebenarnya.
592Please respect copyright.PENANA8jxnfkNueD
Hingga suatu pagi, tubuh Maya akhirnya menyerah.
592Please respect copyright.PENANAxPdT6RjDJB
Sejak subuh ia sudah merasa pusing dan lemas. Pandangannya berkunang-kunang, sementara tubuhnya terasa semakin berat untuk digerakkan. Saat mencoba berjalan menuju dapur, langkahnya goyah.
592Please respect copyright.PENANA5a9b1zwLT8
Bruk!
592Please respect copyright.PENANA1VqbNyPIRq
Tubuhnya ambruk ke lantai.
592Please respect copyright.PENANAmuXRnODmpa
"Ibu!" teriak Siska panik.
592Please respect copyright.PENANABw9i0h733F
Tanpa berpikir panjang, ia segera meminta bantuan tetangga untuk membawa Maya ke puskesmas terdekat.
592Please respect copyright.PENANAUfKUyoMf4A
Saat Maya membuka mata, ruangan itu tampak remang. Aroma obat-obatan memenuhi udara. Beberapa perawat terlihat berlalu-lalang, sesekali berbincang satu sama lain.
592Please respect copyright.PENANAlLmvRvM3VR
Kepalanya masih terasa berat.
592Please respect copyright.PENANAng73z26Trp
Dengan suara pelan, ia mencoba bertanya kepada perawat yang sedang memeriksa infusnya.
592Please respect copyright.PENANAkUrxPgy56W
"Aku... di mana?"
592Please respect copyright.PENANAxOFgKdLAqL
"Ibu berada di Puskesmas Mekar Sari," jawab perawat bertubuh gempal itu dengan ramah. "Anak Ibu yang mengantar ke sini. Saat ini dia sedang menerima penjelasan dari dokter."
592Please respect copyright.PENANAA79pTUk4C1
Jantung Maya seketika berdegup lebih cepat.
592Please respect copyright.PENANAZ0wmXURjS5
Penjelasan dari dokter.
592Please respect copyright.PENANAX3aRx6AW05
Kalimat itu membuat seluruh tubuhnya menegang.
592Please respect copyright.PENANAOdGThHWaFN
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka.
592Please respect copyright.PENANAyODdOfRmkw
Siska masuk bersama seorang perawat yang berjalan di depannya.
592Please respect copyright.PENANAMxwMGVA6mi
Maya langsung menatap wajah putrinya.
592Please respect copyright.PENANAy9xnkHzttp
Tidak ada tangisan. Tidak ada amarah. Tidak ada teriakan.
592Please respect copyright.PENANAE01TMnTKpE
Justru itulah yang membuatnya semakin takut.
592Please respect copyright.PENANAH3ZeIxncML
Siska hanya berdiri dalam diam dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajahnya sulit ditebak, sementara matanya menatap Maya dengan tatapan yang tak biasa.
592Please respect copyright.PENANAodv1nMZ7CB
Saat itulah Maya sadar.
592Please respect copyright.PENANA8a56aNwyw0
Rahasia yang selama ini berusaha ia sembunyikan kemungkinan besar telah terbongkar. Namun yang paling mengerikan bukanlah kemarahan Siska. Melainkan kenyataan bahwa putrinya memilih diam. Dan terkadang, diam jauh lebih menakutkan daripada amarah.
592Please respect copyright.PENANAQ5VD5MbsFA
Setelah seluruh urusan di puskesmas selesai, mereka berdua kembali ke rumah dalam keheningan yang terasa menyesakkan.
Sepanjang perjalanan, Maya beberapa kali melirik ke arah putrinya. Ia sudah mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu amarah Siska meledak. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Siska memilih diam, membiarkan suasana di dalam mobil dipenuhi ketegangan yang sulit dijelaskan.
592Please respect copyright.PENANAcvnNazspmE
Hingga akhirnya, sesampainya di rumah, satu pertanyaan keluar dari bibirnya.
592Please respect copyright.PENANAUlPqnnxm5c
"Siapa ayahnya?"
592Please respect copyright.PENANAWPTaMLdtbo
Maya seketika tertunduk. Tubuhnya terasa lemas. Ia hanya duduk di sofa tanpa berani menatap wajah anaknya.
592Please respect copyright.PENANA7iNS3cVY8w
"Ibu punya pacar?" tanya Siska lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
592Please respect copyright.PENANAOEpmsL517O
Maya tetap diam.
592Please respect copyright.PENANAtGCCrC6GaG
Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
592Please respect copyright.PENANAEwDywdjTHp
"Besok lelaki itu harus datang ke rumah!"
592Please respect copyright.PENANAdDhhyfbDhY
Suara Siska bergetar. Ia menyeka air mata yang mulai jatuh sebelum berbalik dan meninggalkan ruang tamu, membiarkan Maya menghadapi ketakutannya seorang diri.
592Please respect copyright.PENANAAnNlcxDVHK
Kekesalan memenuhi hati Siska.
592Please respect copyright.PENANArclaScEuaD
Dalam perjalanan menuju butik, beberapa kali ia menghentakkan tangannya ke setir mobil, melampiaskan emosi yang sedari tadi ia tahan.
592Please respect copyright.PENANAHt0lAS8cDv
Ia marah.
592Please respect copyright.PENANAMK7B5zWero
Bukan karena ibunya hamil.
592Please respect copyright.PENANAMGPxXuGprd
Melainkan karena seseorang telah masuk ke kehidupan Maya tanpa pernah ia ketahui.
592Please respect copyright.PENANAZJDodwyX6v
Dalam benaknya, terbayang sosok pria asing yang telah membuat hidup ibunya menjadi serumit ini. Sedikit pun ia tidak mengarahkan kecurigaannya kepada Adam. Baginya, pria itu adalah orang terakhir yang mungkin terlibat dalam masalah tersebut.
592Please respect copyright.PENANA0B5FSrVoG3
Sementara itu, Adam semakin gelisah.
592Please respect copyright.PENANA6yXFQtmHKP
Sudah berbulan-bulan ia tidak benar-benar berbicara dengan Maya. Pesan-pesannya jarang dibalas, teleponnya sering diabaikan. Ketidakpastian itu perlahan menggerogoti pikirannya.
592Please respect copyright.PENANAnHIHKTHnWW
Pada akhirnya, sepulang kerja, ia memutuskan untuk mendatangi rumah Maya.
592Please respect copyright.PENANASVAoSCcwW7
Apa pun yang terjadi, ia ingin mendapatkan jawaban.
592Please respect copyright.PENANAe32THDW7bK
Tepat pukul tujuh malam, Adam memarkirkan mobilnya beberapa meter dari rumah tersebut. Untuk terakhir kalinya ia mencoba menghubungi Maya.
592Please respect copyright.PENANAhYrXmTPnT8
Tetap tidak ada jawaban.
592Please respect copyright.PENANAF4u62fbGsW
Dengan perasaan campur aduk, ia turun dari mobil dan mengamati rumah itu dari kejauhan. Sesekali ia menoleh ke sekitar, memastikan keberadaan orang yang ingin ditemuinya.
592Please respect copyright.PENANAgQId2iUf8K
Namun tingkahnya yang terlalu berhati-hati justru menarik perhatian beberapa warga yang melintas.
592Please respect copyright.PENANAIw4rWQA2Q4
Adam berusaha terlihat santai. Ia melempar senyum dan sapaan singkat kepada orang-orang yang menatapnya dengan curiga. Sayangnya, hal itu justru membuat dirinya terlihat semakin mencurigakan.
592Please respect copyright.PENANAobgxg2U0tL
Merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian, Adam akhirnya memutuskan kembali ke mobil.
Namun sebelum sempat masuk, sebuah suara memanggilnya.
592Please respect copyright.PENANAwqgpyusBvN
"Adam?"
592Please respect copyright.PENANAZrV3zhvLlj
Ia menoleh dan mendapati Siska berdiri tak jauh darinya.
592Please respect copyright.PENANATc2SwQM3v1
"Mengapa kamu di sini?" tanya Siska heran.
592Please respect copyright.PENANA0WDV98BAwy
Adam segera menyusun alasan.
592Please respect copyright.PENANAAygQ1xNoBE
"Aku merindukanmu. Sudah lama kita tidak bertemu."
592Please respect copyright.PENANA5U2N9AjuZu
Siska tersenyum tipis.
592Please respect copyright.PENANAt8dnEkWY0p
"Aku juga kangen. Kenapa tidak langsung membunyikan bel? Aku bahkan tidak tahu kamu ada di luar."
592Please respect copyright.PENANARIW2kfAOqO
Ia kemudian mengajak Adam masuk ke dalam rumah.
592Please respect copyright.PENANADOKBgTkNnz
Di ruang tamu, percakapan mereka perlahan mengalir seperti biasa. Namun di balik senyumnya, Adam tampak gelisah. Beberapa kali matanya menyapu setiap sudut ruangan, berharap menemukan sosok yang sejak tadi ia cari.
592Please respect copyright.PENANAs8yn0GVOwB
Siska yang tidak menyadari kegelisahan itu mulai bercerita tentang kesibukannya mengurus butik. Ia berbicara panjang lebar mengenai pekerjaan dan aktivitas sehari-hari yang membuat waktunya tersita.
592Please respect copyright.PENANAb5kETQgYlW
Adam mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Namun pikirannya berada di tempat lain.
592Please respect copyright.PENANAmoz1gUv6BD
Malam itu, keduanya duduk berhadapan dalam satu ruangan, sama-sama menyimpan rahasia yang tidak diketahui oleh satu sama lain.
celotehan dari pacarnya hanya membuat Adam termangu-mangu, mengiyakan bahkan mempercayai kebohongan busuk itu. Tentunya ia juga memaklumi bahwa apabila Siska menyeleweng di belakang hal itu adalah kewajaran, mengingat perbuatannya kepada Siska lebih busuk dari apa yang Siska lakukan kini.
592Please respect copyright.PENANAcc0fzsz8b8
"Ibu di mana?" tanya Adam, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka. Ia berusaha terdengar biasa saja, meski rasa ingin tahunya mengenai kabar Maya sudah tidak bisa lagi disembunyikan.
592Please respect copyright.PENANALq9v6wWpPh
"Di kamar," jawab Siska singkat. Nada suaranya terdengar berbeda dari biasanya. Ada kekesalan yang belum sepenuhnya reda.
592Please respect copyright.PENANAGWUgrMgqy3
"Akhir-akhir ini Ibu sedang ada masalah."
592Please respect copyright.PENANAP6QEhat6sO
Jantung Adam seolah berhenti berdetak sesaat.
592Please respect copyright.PENANAFsUgWqIlyX
"Masalah apa?" tanyanya hati-hati.
592Please respect copyright.PENANASQKtiBTshE
Siska menghela napas panjang sebelum menjawab.
592Please respect copyright.PENANA7WiTG3Uzww
"Ibu hamil."
592Please respect copyright.PENANA7alxFupYDC
Seketika dunia terasa runtuh. Adam membeku di tempat. Wajahnya kehilangan warna, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang selama ini berusaha ia hindari.
592Please respect copyright.PENANAYxFlCvwgB2
Namun ia tidak bisa menunjukkan apa pun. Ia hanya menelan ludah dan memaksakan diri tetap tenang.
592Please respect copyright.PENANAKDYXCWe5HA
"Ibu juga belum mau memberitahu siapa ayahnya," lanjut Siska dengan nada kesal. "Sekarang dia lebih banyak mengurung diri di kamar. Mogok makan, menangis seharian, dan tidak mau bicara dengan siapa pun."
592Please respect copyright.PENANAK4wXTnZo80
Setiap kata yang diucapkan Siska terasa seperti hantaman yang menghantam dada Adam. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan kembali muncul, jauh lebih kuat dari sebelumnya.
592Please respect copyright.PENANAranMvUo0UK
"Apa... aku bisa menemuinya?" tanya Adam pelan.
592Please respect copyright.PENANAMSETGpczDE
Siska terdiam sejenak, mempertimbangkan permintaan itu.
592Please respect copyright.PENANAo9AuPbHAbs
Akhirnya ia mengangguk.
592Please respect copyright.PENANAeJrj9cI2aK
"Boleh."
592Please respect copyright.PENANAJZNJ6zS2jM
Adam segera berdiri dan berjalan menuju kamar Maya yang berada di ujung lorong lantai dua. Siska tetap berada di belakang, memperhatikannya dari kejauhan dengan kedua tangan terlipat di dada.
592Please respect copyright.PENANAPqgKdF3Qmr
Tak sedikit pun kecurigaan muncul dalam benaknya. Justru sebaliknya, ia masih menganggap Adam sebagai sosok yang mungkin dapat membuat ibunya sedikit lebih tenang.
592Please respect copyright.PENANAUnhPUUfjLT
Sesampainya di depan kamar, Adam mengetuk pintu perlahan.
592Please respect copyright.PENANAmG0NZH1mvZ
Tak ada jawaban.
592Please respect copyright.PENANAl3O0x9kYLo
Ia mengetuk lagi.
592Please respect copyright.PENANA6nFf8M4OPG
Masih sunyi.
592Please respect copyright.PENANAxePk7DzojS
Hingga akhirnya ia memberanikan diri bersuara.
592Please respect copyright.PENANAC2J7yZuK6P
"Ibu ada di dalam? Ini Adam, Bu."
592Please respect copyright.PENANAaCDDiFoxi5
Dari kejauhan, Siska hanya menggeleng pelan. Ia yakin usahanya akan sia-sia seperti orang-orang lain yang mencoba mengajak Maya berbicara.
592Please respect copyright.PENANAknKWDDFWCw
Tak lama kemudian, ia memilih turun ke lantai bawah.
592Please respect copyright.PENANAxKrmvwNzzG
Begitu langkah kaki Siska menghilang dari lorong, suasana kembali sunyi. Di dalam kamar, Maya yang sedari tadi terbaring lemah seketika membuka mata saat mendengar suara itu.
592Please respect copyright.PENANABeW9f928sy
Suara yang selama berbulan-bulan ingin ia dengar.
592Please respect copyright.PENANACQdAPsPrxU
Dengan tergesa ia bangkit dari ranjang, berjalan menuju pintu, lalu membukanya. Adam berdiri di hadapannya. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap.
592Please respect copyright.PENANAVe6VyVaCmh
Segala kerinduan, ketakutan, dan beban yang selama ini mereka pendam seolah bertemu dalam satu momen yang sama.
592Please respect copyright.PENANAM7LwUFJKNy
Maya meraih lengan Adam dan membawanya masuk sebelum kembali menutup pintu.
592Please respect copyright.PENANAzCbkRiGbay
Air matanya langsung jatuh.
592Please respect copyright.PENANAgmVYnOZ7Ij
"Aku merindukanmu..." bisiknya lirih.
592Please respect copyright.PENANAf4qz1muqd2
Adam menatap wajah wanita itu. Wajah yang kini terlihat jauh lebih lelah dibanding terakhir kali mereka bertemu.
592Please respect copyright.PENANAXIIuRYpCwO
"Aku juga merindukanmu," jawabnya pelan.
592Please respect copyright.PENANARMymV7rArn
Dan untuk sesaat, di tengah kekacauan yang mereka ciptakan sendiri, keduanya hanya berdiri dalam diam, membiarkan rasa rindu berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
592Please respect copyright.PENANAlOhJbKoHyn
Begitu pintu kamar tertutup, Maya dan Adam larut dalam pelukan yang telah lama mereka rindukan. Berbulan-bulan dipisahkan oleh ketakutan, kecemasan, dan rahasia yang mereka sembunyikan membuat keduanya seolah lupa pada segala risiko yang mengintai.
592Please respect copyright.PENANAgMkjZ8GysR
Untuk sesaat, dunia di luar kamar itu tidak lagi penting. Mereka hanya ingin menikmati kebersamaan yang selama ini dirampas oleh keadaan.
592Please respect copyright.PENANAcEHaOgZtJV
Sementara itu, Siska sama sekali tidak menaruh kecurigaan. Ia masih sibuk menatap layar laptop di ruang keluarga, menyelesaikan berbagai urusan butik yang tak kunjung selesai.
592Please respect copyright.PENANAJ7LBBHKIT4
Awalnya ia berniat membiarkan Adam dan ibunya berbincang berdua. Namun sebuah panggilan telepon dari salah satu karyawannya memaksanya untuk segera datang ke toko.
592Please respect copyright.PENANAins72rXQIR
Meski begitu, ia merasa tidak enak jika pergi begitu saja tanpa memberi tahu keduanya. Siska pun berjalan menuju lantai atas.
Beberapa saat kemudian, Adam keluar dari kamar Maya dan berpapasan dengannya di lorong.
592Please respect copyright.PENANAgU53pSsAc4
"Aku harus ke butik sebentar. Kamu masih mau di sini?" tanya Siska.
592Please respect copyright.PENANAbhPN707Bov
Adam berusaha terlihat tenang. "Kurasa tidak lama lagi aku juga akan pulang."
592Please respect copyright.PENANAGcvWk67APg
Siska melirik ke arah kamar ibunya yang masih setengah terbuka. Kekhawatiran kembali muncul di benaknya.
592Please respect copyright.PENANAKJl6un2s89
"Bisakah kamu tinggal sebentar? Aku tidak tega meninggalkan Ibu sendirian."
592Please respect copyright.PENANAF4WTsO5ybf
Permintaan itu membuat Adam terdiam sejenak. Ia menahan diri agar tidak terlihat terlalu cepat menyetujui.
592Please respect copyright.PENANAJuXSu3zNoW
"Oke. Tapi jangan terlalu lama," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Aku takut malah membuat Ibumu tidak nyaman."
592Please respect copyright.PENANAK3vyP6Zkuz
"Aku akan membelikanmu makanan nanti."
592Please respect copyright.PENANA7KQJiKXVqz
"Tidak usah. Fokus saja pada pekerjaanmu. Hati-hati di jalan."
592Please respect copyright.PENANACfmdasH6B8
Siska tersenyum lalu melambaikan tangan sebelum meninggalkan rumah.
592Please respect copyright.PENANAI5jUDhQAXo
Suara pintu yang tertutup membuat suasana mendadak sunyi.
592Please respect copyright.PENANAXs9nNpRKNE
Adam berdiri beberapa saat, memastikan mobil Siska benar-benar telah pergi. Ketika ia berbalik, Maya ternyata sudah berdiri di dekat tangga. Wanita itu rupanya mendengar seluruh percakapan mereka.
592Please respect copyright.PENANAMlwzFJgFwM
Tatapan keduanya bertemu.
592Please respect copyright.PENANARrHAYWP2K7
Ada kelegaan, kerinduan, sekaligus kecemasan yang bercampur menjadi satu.
592Please respect copyright.PENANAhfEtM24lQ5
Maya menuruni anak tangga perlahan, sementara Adam menghampirinya.
592Please respect copyright.PENANAmZXPBYS6Bw
"Malam ini setidaknya aku tidak sendirian," bisik Maya dengan senyum lemah.
592Please respect copyright.PENANAriDlKAcjIW
Adam menggenggam tangannya erat.
592Please respect copyright.PENANAHGeIoluOre
"Aku di sini."
592Please respect copyright.PENANAsGYMN718d8
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka merasa memiliki sedikit waktu untuk bernapas di tengah kekacauan yang terus membelit hidup mereka.
592Please respect copyright.PENANAteQT2DzzqN
BERSAMBUNG..592Please respect copyright.PENANAL8K1V0U0pe
Selengkapnya disini: https://lynk.id/shark95
ns216.73.216.38da2


