Sore itu, Adam bergegas meninggalkan kantor.
Langkahnya cepat, seolah ada sesuatu yang mengejarnya dari belakang. Di layar ponselnya, sebuah pesan baru dari tunangannya muncul singkat.
5469Please respect copyright.PENANAlINFT2h1gU
“Jangan lupa bawa martabak, ya.”
5469Please respect copyright.PENANAnfNeGhwBVX
Ia hanya membaca sekilas, lalu memasukkan ponsel ke saku tanpa banyak berpikir. Setelah memastikan semua barangnya aman, ia berlari kecil menuju parkiran.
5469Please respect copyright.PENANAQqi3KkWgw5
Sebelum masuk ke mobil, Adam sempat mendongak.
Langit tampak mulai menggelap.
5469Please respect copyright.PENANA0EB2eRN4dz
“Sepertinya akan hujan,” gumamnya pelan.
5469Please respect copyright.PENANAw5ApxJEsPS
Di perjalanan, pikirannya tak benar-benar tenang.
Hari Sabtu seharusnya menjadi hari istirahat, tapi ia masih harus membagi waktu—antara dirinya sendiri, pekerjaannya, dan Siska…
tunangannya yang terlalu sering ingin segalanya berjalan sesuai keinginannya.
5469Please respect copyright.PENANAlfUkIGU2L4
Kadang Adam berpikir untuk mengakhiri semuanya.
Namun selalu ada sesuatu yang menahannya. Entah karena kebiasaan, atau karena terlalu lama terjebak dalam hubungan yang sudah terlanjur dibangun bertahun-tahun. Pertunangan itu bukan hal kecil—ada janji, ada rencana pernikahan yang sudah mulai disusun.
Dan Adam… belum benar-benar berani menghancurkannya.
5469Please respect copyright.PENANAtJyPiHKwHN
Rumah Siska berdiri di kawasan perumahan yang tenang dan cukup elit di pinggiran kota.
5469Please respect copyright.PENANAi2b7iGEiv8
Tok. Tok. Tok.
Pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya dengan daster longgar dan wajah yang sudah sangat familiar baginya.
5469Please respect copyright.PENANAJeusPJcBJG
“Eh, Adam. Masuk.”
5469Please respect copyright.PENANAMXQ5tos3WU
“Siska minta martabak, Tante. Ini aku bawakan,” ucap Adam sambil menyerahkan bungkusan di tangannya.
Wanita itu tersenyum kecil, setengah mengeluh.
5469Please respect copyright.PENANASrSx2eDx4c
“Dia itu memang suka seenaknya. Masuk dulu saja.”
5469Please respect copyright.PENANAozkpNRqoka
“Iya, Tante.”
5469Please respect copyright.PENANAVr2n3GOHI5
Adam melangkah masuk.
Rumah itu terasa luas, terlalu luas untuk hanya dihuni dua perempuan. Sunyi yang tertata rapi, seolah setiap sudutnya menyimpan rutinitas yang sama setiap hari.
5469Please respect copyright.PENANAiaR2JTH6Dt
Maya, ibu Siska, sudah lama hidup sendiri sejak kepergian suaminya tiga tahun lalu. Kecelakaan yang merenggutnya perlahan, setelah tiga bulan terbaring tanpa sadar.
Sejak itu, hidup mereka berjalan dengan cara yang berbeda—lebih sunyi, tapi tetap bertahan.
5469Please respect copyright.PENANAQXIWltlaWZ
Tak lama, suara langkah terdengar dari arah tangga.
Siska muncul dengan rambut basah yang dibungkus handuk, pakaian santai menempel di tubuhnya setelah mandi.
5469Please respect copyright.PENANACh5fI9WuVH
“Habis mandi?” Adam membuka percakapan ringan.
5469Please respect copyright.PENANAJCTZWEOUFr
“Iya. Gerah banget habis olahraga,” jawab Siska santai.
5469Please respect copyright.PENANAzflhKxn2LE
Maya yang baru saja kembali ke ruang tamu langsung menyela.
5469Please respect copyright.PENANAdbUSRV3DRN
“Siska, martabaknya dibawa Adam tuh.”
5469Please respect copyright.PENANAAcgJZ2IEkh
“Aku tahu, Ma. Aku yang suruh dia beli.”
5469Please respect copyright.PENANAsJwELpxLFa
Maya menghela napas pelan, menggeleng kecil.
“Kamu itu ya… lain kali jangan terlalu menyuruh Adam macam-macam.”
Lalu ia pergi ke dapur, meninggalkan keduanya.
Adam dan Siska hanya saling pandang dan tertawa kecil, tidak terlalu memikirkan omelan itu.
5469Please respect copyright.PENANAiZJ9PaxGuf
“Hujannya makin deras…” Siska menatap ke luar jendela. “Malam ini kamu menginap saja, ya.”
Adam ragu sejenak. “Aku masih bisa pulang.”
5469Please respect copyright.PENANAaClL3u0wZI
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, suara petir menggelegar di luar.
DDAAARRR!
5469Please respect copyright.PENANAjJz16ESgWy
Siska tersenyum tipis. “Nah.”
5469Please respect copyright.PENANAHisswbdpXB
Adam menghela napas, menyerah.
“Sepertinya aku memang harus bermalam.”
5469Please respect copyright.PENANAut8x8O7MRG
Malam turun perlahan.
Lampu ruang tamu diredupkan. Suara hujan di luar menjadi latar yang konstan, seperti detak waktu yang berjalan lambat.
Adam berbaring di sofa dengan selimut dan bantal dari Siska. Sesekali ia menatap ponselnya, namun tidak ada yang benar-benar menarik perhatiannya… sampai satu pesan tanpa nama muncul.
5469Please respect copyright.PENANAwWQfqV2jhB
“Dia sudah tidur?”
5469Please respect copyright.PENANA2RG6z5fovH
“Sepertinya…” balas Adam singkat.
5469Please respect copyright.PENANAE1vHt5aTHG
“Kamu ingin bermain?”
5469Please respect copyright.PENANAvcu54rkxbZ
Jeda kecil.
5469Please respect copyright.PENANASe1Pt2cOBI
“Masuk ke kamar. Aku menunggumu.”
5469Please respect copyright.PENANA2Gfuat6xlB
Adam menghela napas pelan.
Senyumnya muncul tanpa ia sadari.
Seperti ada sisi dirinya yang selama ini selalu menunggu pesan seperti itu.
5469Please respect copyright.PENANAFThQicP1lq
Dengan hati-hati, ia bangkit dari sofa. Rumah sudah sunyi. Hanya jam dinding yang berdetak pelan, dan suara hujan yang semakin rapat.
Ia berjalan menuju dapur.
Di sampingnya, pintu kamar lama yang kini kosong berdiri diam.
5469Please respect copyright.PENANA3Nr6Pv7Oh4
Adam ragu sejenak, lalu mengetuk pelan.
5469Please respect copyright.PENANAtqcAn9ptOB
Tok...
5469Please respect copyright.PENANAC1ENx8rQoq
Tok...
5469Please respect copyright.PENANAccBYEpSWyD
Pintu terbuka perlahan.
Dan di sana, berdiri seorang wanita dewasa dengan pakaian yang menggoda dalam kesederhanaannya—seolah malam itu memang diciptakan hanya untuk mereka berdua.
5469Please respect copyright.PENANAyyHQty3UQl
“Masuklah, sayang,” ucap Maya pelan.
Suaranya lembut, tapi cukup untuk membuat batas antara “seharusnya” dan “tidak seharusnya” perlahan runtuh.
5469Please respect copyright.PENANA9ZSBAV4cIm
BERSAMBUNG...
Kisah lengkapnya: https://lynk.id/shark95
5469Please respect copyright.PENANAXgCrP7KOFh


