Bab 1: Tawaran Gila
794Please respect copyright.PENANAugHBZcmbHN
Malam itu udara di kost kecil Fani terasa pengap, meski AC menyala pelan. Lampu kamar tidur hanya menyala redup dari lampu meja, menerangi tubuh Fani yang sedang berbaring telanjang di atas tempat tidur. Wanita berusia 21 tahun itu menatap langit-langit dengan napas yang masih tersengal. Payudaranya yang montok berukuran F-cup naik turun mengikuti irama napasnya. Puting pink-nya masih mengeras, sisa kenikmatan dari sesi masturbasi yang baru saja ia lakukan.
794Please respect copyright.PENANAhdM7GuSn8F
Fani menggigit bibir bawahnya. Sudah hampir dua bulan ia merasa bosan. Seks dengan para HTS-nya memang selalu panas, tapi semuanya terasa itu-itu saja. Sentuhan yang sama, posisi yang itu-itu, orgasme yang akhirnya terasa biasa. Ia ingin sesuatu yang lebih. Sesuatu yang gelap, liar, dan membuatnya benar-benar kehilangan kendali.
794Please respect copyright.PENANAn2XZFVrMHZ
Dengan tangan masih sedikit gemetar karena sisa kenikmatan, Fani meraih ponselnya. Ia membuka grup chat yang berisi sepuluh pria — semua HTS-nya selama setahun terakhir. Jari-jarinya berhenti sejenak di atas layar sebelum mengetik pesan yang mungkin akan mengubah segalanya.
794Please respect copyright.PENANAR6pOYABMHn
Fani:
“Malam ini aku bosan banget. Kalian semua selama ini cuma numpang enak di tubuh aku. Sekarang aku mau kasih tawaran serius. Mulai sekarang, tubuhku boleh kalian pakai sebebas yang kalian mau. Aku serius. Lakukan apa saja padaku. Aku ingin merasa jadi milik kalian. Kalau kalian mau, datang ke kost aku sekarang juga. Pintu tidak aku kunci.”
794Please respect copyright.PENANA1t0rMsTc5X
Pesan itu langsung terkirim. Tanda centang biru muncul hampir seketika.
794Please respect copyright.PENANAMnoPaLqM0t
Fani meletakkan ponsel di dada telanjangnya, merasakan getaran dingin layar di kulit putihnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia pemarah dan tegas selama ini, tapi malam ini ia merasa ada sisi lain yang mulai bangun di dalam dirinya — sisi yang ingin didominasi, dipermainkan, dan dipakai habis-habisan.
794Please respect copyright.PENANAEKHH5FhJxu
Tak sampai sepuluh menit, pintu kostnya diketuk. Fani tersenyum kecil, bangkit dari tempat tidur, dan berjalan telanjang menuju pintu. Kulit putihnya berkilau di bawah cahaya lampu koridor yang redup. Bokongnya yang bulat besar bergoyang lembut saat ia melangkah.
794Please respect copyright.PENANAX8X9AmANNh
Ia membuka pintu. Di depannya berdiri tiga pria sekaligus: Raka, Dimas, dan Gilang.
794Please respect copyright.PENANAS1WxXf5L7C
Raka adalah yang paling tinggi, berpostur atletis dengan kontol berukuran 19 cm yang Fani sudah hafal betul betapa tebalnya. Dimas lebih berotot, kontolnya 17 cm tapi sangat keras dan suka kasar. Gilang yang paling pendiam tapi paling nakal, kontolnya 18 cm dengan kepala yang besar.
794Please respect copyright.PENANA2ND9l35Hzk
“Masuk,” kata Fani tegas, suaranya masih sedikit gemetar meski ia berusaha terdengar percaya diri.
794Please respect copyright.PENANAOCGlEtpbYF
Ketiga pria itu masuk tanpa banyak bicara. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah panas. Raka langsung meraih pinggang Fani dari belakang, tangannya yang besar meremas bokong montok itu dengan kuat.
794Please respect copyright.PENANASBXl6O19ew
“Jadi beneran nih tawaran lo?” tanya Raka di telinga Fani, suaranya rendah dan berat.
794Please respect copyright.PENANArkiRcAgRaA
Fani mengangguk, napasnya sudah mulai memburu. “Iya. Aku capek main biasa-biasa aja. Malam ini… kalian boleh lakuin apa aja sama aku.”
794Please respect copyright.PENANAtUl0IJ6z0G
Dimas tersenyum lebar sambil menatap payudara besar Fani yang bergoyang pelan. “Hati-hati lo ngomong gitu, Fan. Kita bisa jadi nggak bisa berhenti.”
794Please respect copyright.PENANAfK8byEQ86I
“Bagus,” balas Fani sambil menatap mata Dimas dengan tatapan menantang. “Aku justru mau kalian nggak berhenti.”
794Please respect copyright.PENANAcJCbyVQ80c
Gilang yang berdiri di depan Fani langsung menunduk, mulutnya menyambar salah satu puting pink yang sudah mengeras. Ia mengisapnya pelan tapi kuat, lidahnya berputar di sekitar puncak sensitif itu.
794Please respect copyright.PENANAPu5Bbt0jQR
“Ahh…” desah Fani, tangannya langsung meraih rambut Gilang.
794Please respect copyright.PENANALgcjNKD6n3
Raka dari belakang meremas bokong Fani lebih keras, jari-jarinya menyusup ke celah bokong yang hangat. “Bokong lo emang selalu enak diremas. Besar, kenyal, dan putih banget.”
794Please respect copyright.PENANAxEYfe2kMIV
Dimas tidak mau kalah. Ia berlutut di depan Fani, membuka paha langsing wanita itu lebar-lebar. Bau harum cairan kewanitaan Fani langsung memenuhi hidungnya. Lidahnya menyentuh kristoriskecil di puncak vagina Fani, menjilat pelan dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat.
794Please respect copyright.PENANAUXE0keL04A
Fani menggigit bibirnya kuat. Sensasi lidah Dimas di kristoris membuat lututnya lemas. “Nghh… pelan dulu… ahh!”
794Please respect copyright.PENANAuMfAnO3awF
Tapi mereka tidak berniat pelan. Raka mendorong Fani ke tempat tidur hingga wanita itu telentang. Ketiganya langsung mengepungnya. Gilang kembali mengisap putingnya bergantian, sesekali menggigit pelan hingga Fani mendesah kesakitan bercampur nikmat.
794Please respect copyright.PENANAFF4vobNVWs
Dimas membuka paha Fani lebar, lidahnya kini menjilat lebih dalam, mengecap sperma yang sudah mulai mengalir deras dari dalam vaginanya. Sementara Raka mengeluarkan kontolnya yang sudah keras sepenuhnya. Batang tebal 19 cm itu menjulang di depan wajah Fani.
794Please respect copyright.PENANALcrrnjzuTg
“Hisap,” perintah Raka singkat.
794Please respect copyright.PENANAFDK81hKId3
Fani membuka mulutnya patuh. Kepala kontol Raka masuk perlahan ke dalam mulut hangatnya. Ia mulai menggerakkan kepalanya maju mundur, lidahnya menjilat di sepanjang batang yang berdenyut.
794Please respect copyright.PENANA9ibmc1FH5I
“Suara lo enak banget, Fan,” puji Gilang sambil terus menggoda puting Fani dengan jari dan lidahnya.
794Please respect copyright.PENANAqwMHy0jKyw
Dimas kini memasukkan dua jarinya ke dalam vagina Fani yang sudah sangat basah. Gerakannya cepat dan dalam, membuat suara basah “plok plok” terdengar jelas di kamar kecil itu. Fani menggeliat, pinggulnya terangkat sendiri mencari kenikmatan lebih.
794Please respect copyright.PENANAkZ0RvxbbEo
Raka memegang kepala Fani dan mulai mendorong kontolnya lebih dalam. “Dalam lagi. Bisa lebih dalam dari itu, kan?”
794Please respect copyright.PENANA2AJUevLx6x
Fani mengerang di sekitar kontol Raka. Air matanya mulai menggenang karena sensasi penuh di mulutnya, tapi ia tetap berusaha menelan lebih dalam. Bau maskulin dan rasa asin kontol Raka memenuhi indra penciuman dan pengecapannya.
794Please respect copyright.PENANAB3y6dod2kp
Setelah beberapa menit, mereka menukar posisi. Gilang yang kini berdiri di depan wajah Fani, memasukkan kontolnya yang berkepala besar ke dalam mulut Fani dengan gerakan pelan tapi dalam. Dimas naik ke tempat tidur, menggesekkan kepala kontolnya di celah vagina Fani yang licin.
794Please respect copyright.PENANAcIo2bYEjHe
“Masuk ya, Fan,” bisik Dimas.
794Please respect copyright.PENANAczdaln2FWm
Tanpa menunggu jawaban, ia mendorong pinggulnya. kontolnya masuk perlahan ke dalam vagina hangat Fani hingga pangkal. Fani mengerang keras di sekitar kontol Gilang.
794Please respect copyright.PENANACDun4g8PLb
“Ahhh… besar… pelan… nghhh!”
794Please respect copyright.PENANAvr0h2VTA7Q
Dimas mulai bergerak, awalnya pelan, lalu semakin cepat. Setiap hantaman membuat payudara Fani bergoyang hebat. Raka kini berada di samping, tangannya meremas payudara yang satu sambil sesekali menampar pelan permukaan putingnya.
794Please respect copyright.PENANA29RHwUgP5E
“Plak! Plak!”
794Please respect copyright.PENANAUtgfHx0cTT
Suara tamparan ringan itu membuat Fani semakin basah.
794Please respect copyright.PENANAnNxcTQlqzt
Gilang menarik kontolnya keluar dari mulut Fani, memberi kesempatan wanita itu bernapas. Fani langsung mendesah panjang, “Lebih keras… aku mau lebih kasar malam ini…”
794Please respect copyright.PENANAY5KZQqheIz
Ketiga pria saling pandang. Senyum nakal muncul di wajah mereka.
794Please respect copyright.PENANA8j2bSkDeEJ
“Lo minta sendiri ya,” kata Raka.
794Please respect copyright.PENANAa39QZ04kHX
Mereka membalik tubuh Fani hingga posisi doggy. Bokong bulat besarnya terangkat tinggi. Raka langsung memasukkan kontolnya dari belakang ke dalam vagina Fani dengan satu hantaman kuat.
794Please respect copyright.PENANAOQFPTdPGsT
“AAHHH!” jerit Fani. Sensasi penuh dan dalam membuat matanya terbeliak.
794Please respect copyright.PENANAvakRxO1sxM
Dimas berlutut di depan wajah Fani, memasukkan kontolnya ke mulut wanita itu lagi. Gilang berada di samping, tangannya meremas bokong Fani dan sesekali menamparnya keras.
794Please respect copyright.PENANAGF5nVWeM2p
“Plak! Plak! Plak!”
794Please respect copyright.PENANAL1ql7SfyBZ
Bokong putih Fani mulai memerah karena tamparan. Raka terus menghantam dari belakang dengan ritme cepat dan kuat. Suara benturan kulit “plok plok plok” memenuhi ruangan.
794Please respect copyright.PENANAc6DOEVw7t1
Fani merasa dirinya seperti mainan seks hidup. Mulutnya penuh, vaginanya penuh, dan tubuhnya dipermainkan sesuka hati. Sensasi itu justru membuatnya semakin basah. Cairan orgasminya mulai mengalir deras di sepanjang paha dalamnya.
794Please respect copyright.PENANASsAAWUDhOa
“Jangan keluar dulu,” perintah Raka sambil terus menggoyang pinggulnya. “Tahan orgasme lo malam ini.”
794Please respect copyright.PENANAYeAJLbyoey
Fani mengerang protes, tapi suaranya teredam oleh kontol Dimas di mulutnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia sudah sangat dekat, tapi perintah itu membuatnya berusaha menahan.
794Please respect copyright.PENANAmysYlZvj3W
Setelah hampir dua puluh menit bergantian menghantam, akhirnya Raka mengerang keras. kontolnya berdenyut di dalam vagina Fani, menyemburkan sperma panasnya jauh ke dalam. Hampir bersamaan, Dimas juga meledak di mulut Fani. Fani berusaha menelan sebanyak mungkin, tapi sebagian sperma masih menetes dari sudut bibirnya.
794Please respect copyright.PENANAw65y480XIO
Gilang yang terakhir naik ke tubuh Fani. Ia membalik Fani kembali ke posisi telentang, lalu memasukkan kontolnya ke dalam vagina yang sudah penuh sperma orang lain. Sensasi licin dan penuh membuat Fani mendesah nikmat.
794Please respect copyright.PENANAM4NQTJgWNw
“Lo benar-benar basah banget sekarang,” bisik Gilang sambil bergerak pelan tapi dalam.
794Please respect copyright.PENANAyivc14nLQM
Fani memeluk punggung Gilang, kuku jarinya mencakar kulit pria itu. “Terus… jangan berhenti… aku mau lagi…”
794Please respect copyright.PENANA7BYgK7KfRI
Malam itu baru permulaan. Ketiga pria bergantian lagi dan lagi hingga Fani kehilangan hitungan berapa kali ia hampir mencapai puncak tapi dilarang meledak. Tubuhnya penuh keringat, rambut hitam panjangnya acak-acakan, dan vaginanya sudah bengkak karena terus dipakai.
794Please respect copyright.PENANATwf0dWmJvG
Saat subuh mulai menyingsing, ketiga pria akhirnya berhenti. Fani berbaring lemas di tengah tempat tidur, tubuhnya penuh bekas tamparan merah di bokong dan payudara, serta sperma yang menetes dari vaginanya.
794Please respect copyright.PENANA4T6WBfpHp2
Raka mengusap rambut Fani dengan lembut, meski suaranya masih tegas.
“Besok kita panggil yang lain. Kalau lo serius dengan tawaran lo tadi… siap-siap aja, Fan. Kita nggak akan main-main lagi sama tubuh lo.”
794Please respect copyright.PENANAM2pEo29w8o
Fani tersenyum lemah, matanya setengah terpejam karena kelelahan dan kepuasan. Suaranya serak saat menjawab:
794Please respect copyright.PENANArQVz6dnURj
“Aku siap…
Aku mau jadi milik kalian semua.”
794Please respect copyright.PENANAGUTTV0bJ3C
Di luar jendela, kota besar Jakarta mulai bangun. Tapi di dalam kost kecil itu, Fani baru saja membuka pintu menuju dunia baru yang jauh lebih gelap, lebih panas, dan lebih bebas dari yang pernah ia bayangkan.
794Please respect copyright.PENANAAX76GJo4GM


