Aku masih merasakan getaran dari malam di rumah Zahra ketika percakapan kami semakin dalam. Chat malam-malam kami kini lebih sering, meski Zahra selalu mengingatkan, “Jangan terlalu lama ya Kak.Umi suka tiba-tiba cek HP.” Setiap pesan darinya membuat hatiku hangat, tapi juga ada ketegangan yang semakin kuat. Saya tahu ini berbahaya, tapi rasa suka itu sudah terlalu dalam untuk dihentikan.
6781Please respect copyright.PENANAqDZdoGbee7
Suatu Kamis sore, setelah aku pulang kerja, dialog chat kami semakin intens. Zahra mengirim pesan saat kami baru saja sampai di rumah masing-masing:
6781Please respect copyright.PENANAFWTS6KcS0W
"Kak, besok sore umi lagi di rumah. Mau kenalin Kak Rafi sebagai teman kajian? Umi mulai nanya-nanya kenapa aku sering pulang agak malam dari kampus. Lebih baik dikenalin dulu biar nggak curiga."
6781Please respect copyright.PENANAEQjC7dP9QZ
Aku cepat balas sambil melepas dasi di kosan: “Boleh. Aku siap. Jam berapa?”
6781Please respect copyright.PENANAohcQxYwjFV
"Besok aku kuliah sampe jam 4 sore, Kak kerja juga pulang jam 5-an kan? Kita ketemu di depan kampusku jam setengah 6, terus langsung ke rumah. Umi biasanya masak sore-sore."
6781Please respect copyright.PENANAwSsUplXIxB
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Ini langkah besar. Selama ini kami hanya bertemu di majelis kajian atau sebentar di rumah saat umi tidak ada. Besok aku akan bertemu langsung dengan Bu Siti, ibu Zahra yang selama ini hanya kudengar cerita dari percakapan malam kami.
6781Please respect copyright.PENANAp0vFYlzL3e
Pagi harinya di kantor, Farhan langsung menyadari wajahku yang agak tegang. “Lo kenapa, Raf?”
6781Please respect copyright.PENANA3ath1twuEL
Aku hanya tertawa garing. “Biasa aja, Han. Besok mau ke rumah Zahra, dikenalin ke uminya sebagai temen kajian.”
6781Please respect copyright.PENANADyglIoOwi0
Farhan mengangkat alis. "Wah, hati-hati ya. Uminya tegas banget. Dari dulu jagain Zahra kayak berlian."
6781Please respect copyright.PENANAomY0mhae26
Aku mengangguk. Saya sudah siap dengan cerita yang aman: saya karyawan kantoran di bidang pemasaran, ingin belajar agama lebih dalam lewat kajian, orang tua di kampung, tinggal di kosan Tebet. Tidak ada yang mencurigakan.
6781Please respect copyright.PENANALuVRZ2DRwS
Aku menunggu Zahra di depan kampusnya jam setengah 6 sore keesokan harinya. Aku baru pulang kerja, masih memakai kemeja lengan panjang yang sudah agak kusut. Zahra keluar dari gerbang kampus dengan abaya hitam panjang dan tas kuliah di bahu. Wajahnya terlihat lelah tapi ada senyum kecil di balik cadar.
6781Please respect copyright.PENANAYBrbQ1ky84
“Kak, maaf lama. Dosennya keasyikan nambah materi,” katanya pelan sambil naik ke boncengan motor.
6781Please respect copyright.PENANAexPxBX8Y3z
“Nggak apa-apa. Yuk langsung ke rumah.”
6781Please respect copyright.PENANAf3Bu6IVpeE
Rumahnya terlihat sama seperti malam hujan itu: kecil, kucing putih pudar, halaman depan dengan pot bunga mawar yang dirawat rapi. Lampu ruang tamu sudah menyala terang. Zahra turun dari motor dengan tangan sedikit gemetar.
6781Please respect copyright.PENANA9ZR5Qg05Tr
“Masuk, Kak.Umi sudah di dalam.Santai aja ya,” bisiknya sebelum membuka pintu.
6781Please respect copyright.PENANAHZlO7tO5pS
Aku mengikuti di belakangnya. Begitu pintu terbuka, aroma masakan rumah langsung menyambut — bau rendang dan sayur asam yang menggugah selera. Ruang tamu kecil itu rapi, sofa dua dudukan, meja kayu dengan batik taplak, dan foto ayah Zahra masih tergantung di dinding.
6781Please respect copyright.PENANAgEb5DIp3bh
Dari dapur, terdengar suara lembut tapi tegas. "Zahra, pulang ya? Siapa yang antar? Kok lama sekali hari ini?"
6781Please respect copyright.PENANA6S5doeK8uV
Zahra menjawab cepat, “Ini temen kajian, Mi. Namanya Rafi. Kak Rafi, ini umi.”
6781Please respect copyright.PENANAX6stvcZaNu
Bu Siti keluar dari dapur sambil menyeka tangan dengan kain lap. Dan saat itu aku tertegun.
6781Please respect copyright.PENANAZBE05d1MKf
Uminya Zahra, Bu Siti, berusia 40 tahun tapi terlihat jauh lebih muda. Kulitnya putih mulus seperti perempuan 30-an awal, rambut yang sedikit terlihat di ujung hijab hitam masih hitam pekat dan berkilau. Tubuhnya tinggi sedang, postur masih kencang dan padat. Yang paling mengesankan adalah gamis lebar yang dikenakannya.
6781Please respect copyright.PENANAJrBSdpvIGK
Gamisnya berwarna krem polos, longgar dan menutupi seluruh tubuh, tapi sama seperti Zahra, kain itu tidak mampu menyembunyikan lekuk dada yang sangat besar dan montok. Payudaranya terlihat hampir sebesar milik Zahra — penuh, berat, dan bulat sempurna. Setiap kali dia bergerak mengambil langkah keluar dari dapur, kain gamis di bagian dada itu bergoyang pelan, menempel sebentar lalu melonggar lagi, menampilkan siluet yang jelas dan menggoda. Dadanya naik-turun pelan sambil bernapas, membuat gamis lebar itu seolah ketat di satu titik saja. Aku langsung menunduk, merasa bersalah karena tertegun begitu lama. Bagaimana mungkin ibu dan anak memiliki bentuk tubuh yang begitu mirip di bagian atas? Kulit Bu Siti terlihat lebih cerah, dan meski terdapat kerutan halus di sudut mata, wajahnya masih cantik dengan bibir tipis dan hidung mancung yang diturunkan ke Zahra.
6781Please respect copyright.PENANAQ02NwyMZLm
“Waalaikumsalam,” kataku cepat, berusaha menguasai diri. “Saya Rafi, temen kajian Zahra”
6781Please respect copyright.PENANAqOQuMK2cAa
Bu Siti memandangku dari atas ke bawah dengan mata yang tajam namun sopan. “Waalaikumsalam. Tumben Zahra bawa teman cowok pulang. Biasanya cuma akhwat doang yang datang, apalagi kuliah habis.”
6781Please respect copyright.PENANABQGMqn2KhV
Zahra langsung menjelaskan dengan suara pelan dan gugup, "Mi, Kak Rafi temen baru di kajian. Dia rajin ikut setelah kerja, dan sering tanya-tanya materi sama aku. Jadi aku ajak mampir sebentar setelah pulang kuliah, sekalian kenalan."
6781Please respect copyright.PENANAugFbKEEjZ9
Bu Siti mengangguk pelan, tapi aku bisa melihat ada kualitas buruk di matanya. Dia tidak langsung tersenyum. “Oh begitu.Kerja di mana, Nak Rafi?”
6781Please respect copyright.PENANAPFzCQkDomi
“Saya bekerja di perusahaan swasta di Sudirman, Bu.Bagian pemasaran.Orang tua saya di kampung, saya tinggal di kosan Tebet,” jawabku sejelas mungkin.
6781Please respect copyright.PENANA7N8TPwIWOG
Bu Siti mengajak kami duduk di sofa. Dia duduk di kursi tunggal di depan kami. Gamis kremnya kembali menarik perhatianku. Saat dia duduk, kain di dada itu sedikit meregang, memperlihatkan betapa besar dan padatnya payudaranya. Bahkan lebih berat terlihat dibandingkan Zahra karena usia dan pengalaman melahirkan dua anak. Aku cepat alihkan pandangan ke foto ayah Zahra di dinding, berusaha fokus.
6781Please respect copyright.PENANApaMfQTbQel
“Zahra jarang sekali punya temen cowok. Dari kecil umi ajarin dia untuk menjaga diri, apalagi sekarang lagi kuliah,” kata Bu Siti sambil melihat lurus. Suaranya tenang tapi ada nada peringatan halus. "Kamu ikut belajar karena apa? Beneran mau belajar agama atau cuma ikut-ikutan setelah kerja?"
6781Please respect copyright.PENANADXKGlxgLnR
Aku menjawab dengan tenang, "Beneran, Bu. Awalnya diajak Farhan, teman kantor. Tapi setelah itu, saya merasa banyak manfaatnya. Hidup saya di kantor monoton, kajian ini bikin lebih tenang setelah seharian bekerja."
6781Please respect copyright.PENANAaYjMIAn28V
Zahra duduk di sebelahku dengan jarak aman, tangannya memegang ujung abaya erat-erat. Matanya melirik sekilas pada uminya dengan gugup. Aku bisa merasakan ketegangan darinya. Dia takut umi curiga lebih dalam.
6781Please respect copyright.PENANA1Auztpbakz
Bu Siti mengangguk pelan. "Bagus kalau begitu. Tapi ingat, Nak Rafi, Zahra itu anak gadis yang masih kuliah. Dia masih harus dijaga. Kalau mau tanya materi, tanya di majelis saja atau lewat grup kajian. Jangan sering-sering berduaan ."
6781Please respect copyright.PENANAx0BcwWUT1t
“Iya Bu.Saya mengerti,” jawabku sopan.
6781Please respect copyright.PENANA9kmVO6kMZQ
Suasana agak canggung. Bu Siti lalu bangkit dan ke dapur. “Makan dulu ya. Umi masak rendang, masih hangat. Habis kerja dan kuliah pasti laper.”
6781Please respect copyright.PENANAO6VjEpJYQw
Zahra langsung mengikuti uminya ke dapur untuk membantu menata piring. Aku duduk sendirian di ruang tamu, napasku masih agak cepat. Gambaran Bu Siti dengan gamis lebar itu terus terbayang. Dadanya yang sebesar Zahra, bahkan mungkin lebih penuh karena usia, membuat takjub tadi. Kulitnya yang masih mulus, postur tubuh yang masih kencang meski sudah 38 tahun, dan aura tegas namun feminin membuat sadar kenapa Zahra begitu dijaga. Bu Siti seperti versi dewasa dari Zahra — cantik, berisi, dan sangat protektif.
6781Please respect copyright.PENANA6zHQgvbcbz
Makan malam berlangsung singkat. Kami makan di meja makan kecil. Bu Siti banyak bertanya tentang pekerjaanku, kuliah Zahra, dan seberapa sering aku ikut kajian. Aku menjawab semua dengan jujur tapi aman. Zahra hanya diam banyak, sesekali menimpali dengan suara pelan. Setiap kali Bu Siti bergerak mengambil lauk, gamisnya kembali menonjolkan lekuk dada besarnya. Aku berusaha tidak melihat, tapi sulit. Zahra juga sempat melirikku dengan mata khawatir, seolah berkata “jangan dilihat”.
6781Please respect copyright.PENANAPEOEO3MjHW
Selesai makan, Bu Siti bilang, "Sudah malam. Rafi pulang ya. Besok masih kerja dan Zahra masih kuliah. Terima kasih sudah antar Zahra."
6781Please respect copyright.PENANAR7g7cf6suO
Aku pamit dengan sopan. Zahra mengantarkan aku sampai pintu depan. Di ambang pintu, dia berbisik pelan, "Maaf ya, Kak. Umi memang begitu. Tapi alhamdulillah Kakak diterima sebagai teman kajian. Besok-besok bisa mampir lagi kalau umi pergi."
6781Please respect copyright.PENANAkXnscAQmU1
Aku mengangguk. “Nggak apa-apa. Kamu istirahat ya, capek kuliah seharian.”
6781Please respect copyright.PENANAICa1vh7UH9
Dalam perjalanan pulang ke kosan, pikiranku campur aduk. Pertemuan dengan Bu Siti berjalan cukup lancar, tapi kecerahan di matanya jelas terasa. Dan gambaran tubuh uminya yang mirip sekali dengan Zahra — gamis lebar yang tidak bisa menutupi payudara besar dan montok itu — membuat takjub lama. Seperti melihat masa depan Zahra, atau versi lebih matang dari gadis yang mulai kusukai.
6781Please respect copyright.PENANA3MKCRgA0vW
Malam itu di kosan, Zahra chat aku:
6781Please respect copyright.PENANA5iOwaEaZuK
“Umi bilang Kak Rafi kelihatannya sopan dan sudah kerja. Tapi umi pesan jangan sering berduaan . Kak, kita harus lebih hati-hati.”
6781Please respect copyright.PENANA4CjCknK08o
Aku membalas: “Iya, aku paham. Tapi aku senang sudah dikenalin. Kamu istirahat yang cukup ya, capek kuliah.”
6781Please respect copyright.PENANAhsOQAJKxyK
Obrolan malam kami berlanjut seperti biasa, tapi sekarang ada bayangan Bu Siti yang selalu mengawasi. Aku tahu kedekatan kami dengan Zahra harus lebih rahasia. Tapi rasa suka itu semakin kuat, terutama setelah melihat betapa miripnya ibu dan anak itu dalam hal kecantikan dan bentuk tubuh mereka.
6781Please respect copyright.PENANAMyoT3XYUTs
Beberapa hari kemudian, kesempatan itu datang lagi. Bu Siti memberi tahu Zahra bahwa akhir pekan ini dia akan pergi ke Depok untuk urusan warisan keluarga, menginap satu malam. Zahra langsung chat aku dengan pesan yang membuat napasku tersengal:
6781Please respect copyright.PENANAdG3ZON1wZx
“Kak, umi pergi besok sore sampai lusa pagi.… mau main ke rumah?
6781Please respect copyright.PENANACjkWhNynaz
Saya tahu ini langkah selanjutnya. Pertemuan dengan umi sudah lewat, suasana masih ada, tapi rumah kosong menanti.
6781Please respect copyright.PENANAtgq5IYfmrB
Dan benih rasa yang tumbuh itu mulai menuntut lebih dari sekedar percakapan malam.
Cerita lengkap ada disini 23 bab
https://lynk.id/silviylstory
https://victie.com/novels/zahra-dan-uminya
6781Please respect copyright.PENANAC8qGscXAMM
6781Please respect copyright.PENANAtSHYp8hCrc


